<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5277617973649974022</id><updated>2011-07-07T13:19:41.793-07:00</updated><category term='Cerpen'/><title type='text'>Sang Jelata</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://hermawan-aksan.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5277617973649974022/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hermawan-aksan.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Hermawan Aksan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06299037799823191218</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>56</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5277617973649974022.post-1384799046373260039</id><published>2008-12-19T22:49:00.000-08:00</published><updated>2008-12-19T22:53:25.667-08:00</updated><title type='text'>From Cat Stevens to Yusuf Islam</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_OGfaUEk5vIA/SUyWJKXseRI/AAAAAAAAAD8/hE22Odw49do/s1600-h/Cat_Stevens.jpeg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5281761547145476370" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 247px; CURSOR: hand; HEIGHT: 320px" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_OGfaUEk5vIA/SUyWJKXseRI/AAAAAAAAAD8/hE22Odw49do/s320/Cat_Stevens.jpeg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Ini buku baruku, terbit Desember ini. Tebal: 192 halaman. Harga: Rp 34.000. Berikut ini deskripsinya: &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Dalam usia sangat belia, Cat Stevens telah meraih hampir semua yang diimpi-impikan orang modern: kaya, terkenal, dan dikagumi banyak orang. Kegigihannya telah membuatnya berhasil menjadi musisi yang menghasilkan banyak karya legendaris dan menjadi panutan banyak musisi lainnya.&lt;br /&gt;Namun, ternyata semua itu tak membuatnya menemukan kedamaian. Lingkungan glamour menyeretnya ke dalam gaya hidup yang merusak; ia terjebak dalam kecanduan narkotika dan minuman keras. Setelah nyawanya beberapa kali nyaris melayang akibat kebiasaan buruknya, ia memutuskan untuk mencari makna hidup. Beberapa tahun kemudian, dunia dikejutkan oleh keputusannya menjadi Muslim dan berganti nama menjadi Yusuf Islam. Lebih mengejutkan lagi, tak lama kemudian ia mengumumkan pengunduran dirinya dari dunia musik. Konser perpisahannya dihadiri ribuan penggemar yang menangisi kepergiannya.&lt;br /&gt;Apa alasan Cat Stevens memilih Islam? Mengapa ia memutuskan meninggalkan dunia musik? Mengapa ia pernah dituduh menyetujui hukuman mati untuk Salman Rushdie? Mengapa ia akhirnya memutuskan kembali ke dunia musik? Buku ini merunut perjalanan hidup seorang manusia yang rela meninggalkan gemerlap dunia untuk menemukan panggilan batin sejatinya. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;"Yusuf Islam adalah 'duta besar' dari agama yang sering disalahpahami."&lt;br /&gt;-Pangeran Charles&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5277617973649974022-1384799046373260039?l=hermawan-aksan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hermawan-aksan.blogspot.com/feeds/1384799046373260039/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5277617973649974022&amp;postID=1384799046373260039' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5277617973649974022/posts/default/1384799046373260039'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5277617973649974022/posts/default/1384799046373260039'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hermawan-aksan.blogspot.com/2008/12/from-cat-stevens-to-yusuf-islam_3568.html' title='From Cat Stevens to Yusuf Islam'/><author><name>Hermawan Aksan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06299037799823191218</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_OGfaUEk5vIA/SUyWJKXseRI/AAAAAAAAAD8/hE22Odw49do/s72-c/Cat_Stevens.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5277617973649974022.post-8877189678021565052</id><published>2008-12-19T22:45:00.000-08:00</published><updated>2008-12-19T22:48:06.828-08:00</updated><title type='text'>From Cat Stevens to Yusuf Islam</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_OGfaUEk5vIA/SUyUocYbNqI/AAAAAAAAADs/80lVgkLHw_8/s1600-h/Cat_Stevens.jpeg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5281759885533066914" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 247px; CURSOR: hand; HEIGHT: 320px" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_OGfaUEk5vIA/SUyUocYbNqI/AAAAAAAAADs/80lVgkLHw_8/s320/Cat_Stevens.jpeg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; Ini buku baruku, terbit Desember ini. Tebal: 192 halaman. Harga: Rp 34.000. Berikut ini deskripsi isinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam usia sangat belia, Cat Stevens telah meraih hampir semua yang diimpi-impikan orang modern: kaya, terkenal, dan dikagumi banyak orang. Kegigihannya telah membuatnya berhasil menjadi musisi yang menghasilkan banyak karya legendaris dan menjadi panutan banyak musisi lainnya.  Namun, ternyata semua itu tak membuatnya menemukan kedamaian. Lingkungan glamour menyeretnya ke dalam gaya hidup yang merusak; ia terjebak dalam kecanduan narkotika dan minuman keras. Setelah nyawanya beberapa kali nyaris melayang akibat kebiasaan buruknya, ia memutuskan untuk mencari makna hidup. Beberapa tahun kemudian, dunia dikejutkan oleh keputusannya menjadi Muslim dan berganti nama menjadi Yusuf Islam. Lebih mengejutkan lagi, tak lama kemudian ia mengumumkan pengunduran dirinya dari dunia musik. Konser perpisahannya dihadiri ribuan penggemar yang menangisi kepergiannya.  Apa alasan Cat Stevens memilih Islam? Mengapa ia memutuskan meninggalkan dunia musik? Mengapa ia pernah dituduh menyetujui hukuman mati untuk Salman Rushdie? Mengapa ia akhirnya memutuskan kembali ke dunia musik? Buku ini merunut perjalanan hidup seorang manusia yang rela meninggalkan gemerlap dunia untuk menemukan panggilan batin sejatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yusuf Islam adalah ‘duta besar’ dari agama yang sering disalahpahami.”&lt;br /&gt;—Pangeran Charles&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5277617973649974022-8877189678021565052?l=hermawan-aksan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hermawan-aksan.blogspot.com/feeds/8877189678021565052/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5277617973649974022&amp;postID=8877189678021565052' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5277617973649974022/posts/default/8877189678021565052'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5277617973649974022/posts/default/8877189678021565052'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hermawan-aksan.blogspot.com/2008/12/from-cat-stevens-to-yusuf-islam_19.html' title='From Cat Stevens to Yusuf Islam'/><author><name>Hermawan Aksan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06299037799823191218</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_OGfaUEk5vIA/SUyUocYbNqI/AAAAAAAAADs/80lVgkLHw_8/s72-c/Cat_Stevens.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5277617973649974022.post-705045411447945447</id><published>2008-11-27T22:50:00.000-08:00</published><updated>2008-11-27T23:02:45.282-08:00</updated><title type='text'>Buku suntingan baru</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_OGfaUEk5vIA/SS-W7RAt2UI/AAAAAAAAACc/2X7aq3TGPYY/s1600-h/Last_Window_Giraffe.jpeg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5273599633596995906" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 243px; CURSOR: hand; HEIGHT: 320px" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_OGfaUEk5vIA/SS-W7RAt2UI/AAAAAAAAACc/2X7aq3TGPYY/s320/Last_Window_Giraffe.jpeg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Sudah lama sekali tak memposting di blog ini. Selama Agustus hingga November ada beberapa bukuku yang terbit, baik karya sendiri maupun karya yang kuterjemahkan dan kusunting. Bulan November terbit hampir bersamaan dua buku yang aku berposisi sebagai penyunting, yaitu &lt;em&gt;The Last Window-Giraffe&lt;/em&gt; karya pengarang Hongaria, Peter Zilahy, dan &lt;em&gt;Morality for Beautiful Girls&lt;/em&gt; karya Alexander McCall Smith. Dua-duanya diterbitkan Bentang Pustaka. TLWG unik dan menarik karena novel dengan gaya penulisan seperti kamus, bercerita tentang hari-hari akhir diktator Yugoslavia, Slobodan Milosevic. Morality tetap memperlihatkan gaya cerita khas McCall Smith yang bernada komedi dengan latar kehidupan Afrika yang kental. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5277617973649974022-705045411447945447?l=hermawan-aksan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hermawan-aksan.blogspot.com/feeds/705045411447945447/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5277617973649974022&amp;postID=705045411447945447' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5277617973649974022/posts/default/705045411447945447'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5277617973649974022/posts/default/705045411447945447'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hermawan-aksan.blogspot.com/2008/11/buku-suntingan-baru.html' title='Buku suntingan baru'/><author><name>Hermawan Aksan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06299037799823191218</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_OGfaUEk5vIA/SS-W7RAt2UI/AAAAAAAAACc/2X7aq3TGPYY/s72-c/Last_Window_Giraffe.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5277617973649974022.post-2842248720102041262</id><published>2008-08-31T22:22:00.000-07:00</published><updated>2008-08-31T22:26:09.114-07:00</updated><title type='text'>Negeri Para Maling, Rampok, Bandit, dll</title><content type='html'>PADA 2005, terbit buku berjudul &lt;em&gt;Kiai di Republik Maling&lt;/em&gt; oleh Munawar Fuad Noeh. Ada yang menilai kehadiran buku ini sangat signifikan sebagai saripati pengalaman, kesadaran, kebaikan, dan nurani. Tapi bukan soal itu inti tulisan ini. Sebab, tahun ini juga terbit buku lain, seakan-akan menjadi "antitesis", &lt;em&gt;Bukan Kampung Maling Bukan Desa Ustadz&lt;/em&gt;, sebuah memoar politik mantan jaksa agung Abdul Rahman Saleh.&lt;br /&gt;Melalui buku ini, Abdul Rahman mencoba meluruskan kesalahpahaman mengenai insiden "ustad di kampung maling" antara Jaksa Agung dan DPR secara objektif dan transparan. Sekaligus menceritakan perjalanan kariernya sejak menjadi wartawan, pembela, bintang film, notaris, Ketua Muda Mahkamah Agung. Buku ini pun sekaligus merupakan laporan kinerja selama menjadi Jaksa Agung, yaitu pembaruan kejaksaan dan pemberantasan korupsi.&lt;br /&gt;Nah, mengenai kaitan antarar negara, korupsi, dan permalingan ini, pernah dipentaskan sebuah lakon berjudul &lt;em&gt;Korupsi di Republik Maling&lt;/em&gt;. Ceritanya, bekas menteri urusan &lt;em&gt;iwak lan segara&lt;/em&gt; (ikan dan laut), Rom Dalu, disidang karena korupsi. Rom ternyata tidak makan duit sendiri, tapi terjadi bancakan ramai-ramai. Lewat anak buahnya, Rom membagi-bagikan uang kepada semua orang penting, calon penguasa, politikus, ormas, hingga pemuka agama di negara antah berantah. Sebuah tulisan juga sempat dipublikasikan. Judulnya &lt;em&gt;Indonesia Negeri Para Perampok&lt;/em&gt;. Tampaknya tulisan itu dibuat ketika terjadi heboh penjualan BUMN ke tangan asing. Menurut tulisan itu, pemindahan kepemilikan BUMN, yang merupakan milik sah rakyat Indonesia, ke tangan asing tidak lain dari upaya perampokan terhadap rakyat yang dibantu para penguasa, yang terdiri dari para pengelola negara yang memang memiliki sikap mental kera, rakus! Tak peduli pada tanggung jawabnya sebagai orang yang diberi amanah, baik dia sebagai pejabat publik maupun para wakil rakyat yang terhormat. "Masih banyak saja para pejabat yang memiliki mental rampok. Negeri para perampok, itulah kira-kira keadaan negeri ini."&lt;br /&gt;Pada suatu waktu, Ahmad Syafii Maarif pernah menyebut Indonesia sebagai RGI (Republik Garong Indonesia) karena semakin panjangnya deretan para penggarong dan perampok harta negara bergentayangan, dari pusat sampai daerah. Tidak itu saja, kata Syafii melalui tulisannya &lt;em&gt;Masalah Bangsa: Tidak Sederhana&lt;/em&gt;, sebagian aparat penegak hukum pun telah memasukkan dirinya ke dalam daftar warga hitam itu.&lt;br /&gt;Ada juga yang menulis di sebuah blog, bahwa negeri ini pantas disebut sebagai republik copet. "Negara ini dikuasai dan diperintahi oleh tukang copet nan garong terus-menerus!" Begitu kata si penulis.&lt;br /&gt;Kemudian, &lt;em&gt;Kompas&lt;/em&gt; edisi 6 Agustus lalu memuat opini berjudul &lt;em&gt;Inilah Zaman Bandit Berkeliaran&lt;/em&gt;, yang ditulis I Wibowo. Tulisan ini dipicu oleh kasus suap yang melibatkan 52 anggota DPR. "Banyak orang mengatakan mungkin lebih banyak lagi. Mungkin semuanya. Masyarakat yang tak lagi percaya kepada anggota DPR mengusulkan agar DPR dibubarkan. Ketika 10 tahun lalu penguasa tunggal dijatuhkan, orang berharap kejadian korupsi sejenis yang dilakukan Soeharto tak akan lagi terjadi karena rakyat akan mengawasinya. Ternyata si pengawas sendiri terlibat korupsi," tulis Wibowo.&lt;br /&gt;Mau tambahan? Coba saja bikin sendiri. Negeri pencopet, kalau kita ambil padan katanya, bisa juga disebut negeri congo, negeri kabit, negeri kadet, negeri pencecak, negeri penceluk, negeri pencilok. Republik maling juga bisa kita ganti dengan istilah republik alap-alap, republik pencoleng, republik penjambret, republik pencuri. Dan republik perampok tak lain sama saja dengan republik begal, republik kecu, republik penyamun, republik bajak laut, republik lanun, republik perompak.&lt;br /&gt;Duh, begitu parahkah negeri ini?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5277617973649974022-2842248720102041262?l=hermawan-aksan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hermawan-aksan.blogspot.com/feeds/2842248720102041262/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5277617973649974022&amp;postID=2842248720102041262' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5277617973649974022/posts/default/2842248720102041262'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5277617973649974022/posts/default/2842248720102041262'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hermawan-aksan.blogspot.com/2008/08/negeri-para-maling-rampok-bandit-dll.html' title='Negeri Para Maling, Rampok, Bandit, dll'/><author><name>Hermawan Aksan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06299037799823191218</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5277617973649974022.post-5141528425715316226</id><published>2008-06-01T08:32:00.000-07:00</published><updated>2008-06-01T08:34:01.166-07:00</updated><title type='text'>Zaini</title><content type='html'>ADA banyak musabab orang menjadi gila. Ada banyak bentuk kegilaan. Dan banyak cara pula orang berbuat gila. Majnun menjadi gila karena cinta terhadap Laila. Pada mulanya, cinta kedua anak muda itu tumbuh dan berkembang dengan sempurna. Masalah muncul saat cinta mereka diketahui orang tua. Laila dikurung oleh keluarganya agar tak keluar rumah ke mana pun sedetik pun. Dan Majnun perlahan-lahan menjadi gila.&lt;br /&gt;Orang gila, atau kegilaan, memang menjadi objek menarik dalam pelbagai khazanah, termasuk dalam sastra. Mungkin Nazami Gandavi dari Persia, pengarang kisah &lt;em&gt;Laila Majnun&lt;/em&gt;, bukan yang pertama. Dan jelas bukan yang terakhir. Nikolai Gogol dari Rusia dan Lu Hsun dari Cina sama-sama menulis kisah dengan judul &lt;em&gt;Buku Harian Seorang Gila&lt;/em&gt;. Muhammad Ali dari Surabaya pun pernah menulis kisah &lt;em&gt;Si Gila&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;Majnun dan lain-lain gila karena berbeda dengan orang kebanyakan. Ahmad Zaini pun (dianggap) gila karena berbeda. Namun kegilaan Ahmad Zaini dan Majnun sangatlah berbeda. Ahmad Zaini juga bukan bagian dari fiksi, melainkan kisah nyata.&lt;br /&gt;Sebagaimana umumnya orang gila, yakni menimbulkan kegemparan, meskipun kadang sesaat saja, Ahmad Zaini pun menimbulkan kegemparan. Ahmad Zaini mengaku memiliki kekayaan 18 ribu triliun rupiah. Ia mengaku memiliki harta tersebut sebagai warisan dari orang tuanya, Suparta, yang mempunyai kolateral emas yang disimpan di sejumlah bank di AS, Cina, dan Eropa. Dana itu, kata Zaini, baru diketahui 1.000 hari setelah kematian orang tuanya. Ratusan pengusaha, bankir, dan pejabat pemerintah pun memenuhi Villa Istana Bunga, Parongpong, Kabupaten Bandung Barat, Kamis (29/5). Mereka menunggu kepastian dana belasan triliun yang dikatakan akan dikucurkan untuk membiayai proyek ratusan miliar.&lt;br /&gt;Delapan belas ribu triliun tentu saja angka fantastis. Seribu triliun adalah angka satu dengan lima belas nol di belakangnya. Berapa banyak? Kalau semua kekayaan itu dibelikan emas, dengan harga katakanlah 250 ribu rupiah per gram, maka emas yang akan diperoleh adalah 72.000 ton. Kalau semua kekayaan itu berupa tumpukan uang kertas seratus ribu rupiah, dan dengan asumsi uang sepuluh juta membentuk ketebalan 1 sentimeter, maka uang sebanyak 18 ribu triliun akan membentuk tumpukan setinggi 18 ribu kilometer, atau hampir separuh keliling planet Bumi.&lt;br /&gt;Bagaimana kalau kalau uang 18 ribu triliun rupiah itu dibagikan kepada semua orang Indonesia secara sama rata? Maka masing-masing akan menerima lebih dari 80 juta rupiah.&lt;br /&gt;Masuk akalkah? Kalau tidak masuk akal, kita akan menyebut orang yang mengklaim memiliki kekayaan demikian itu gila. Orang terkaya di dunia, Bill Gates, pun ditaksir memiliki kekayaan "hanya" 58 miliar dolar AS (sekitar Rp 500 triliun), hanya satu per tiga puluh enam "kekayaan" Ahmad Zaini.&lt;br /&gt;Polisi sudah menduga bahwa Ahmad Zaini gila dan apa yang diklaimnya adalah penipuan. Kalangan pengamat menilai bahwa bangsa Indonesia tengah dilanda kebingungan. Namun, apa pun yang terjadi, Indonesia memang negeri yang aneh. Jangan-jangan, karena aneh itulah kemunculan orang-orang gila menjadi tidak aneh. Kalau semua orang menjadi gila, maka orang waras akan dianggap gila. Tempo hari, sempat heboh soal harta karun Bung Karno. Pernah ditulis, sang Proklamator disebut-sebut mempunyai harta karun berupa batangan emas/platina senilai Rp 36 triliun. Ada yang bilang harta itu adalah pampasan perang, tapi ada juga yang bilang kekayaan itu titipan dari Chiang Kai Sek, pemimpin Cina pada waktu itu. Sampai-sampai, kabarnya, Presiden (waktu itu) Soeharto membentuk tim "Mission Impossible" untuk menelusuri keberadaan harta tersebut.&lt;br /&gt;Seperti kisah-kisah tentang orang gila, kisah-kisah tentang harta karun pun sangat menarik. &lt;em&gt;King Solomon's Mines&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;National Treasure&lt;/em&gt;, dan serial &lt;em&gt;Indiana Jones &lt;/em&gt;hanyalah beberapa judul film Hollywood (sebelumnya berbentuk buku) yang terkenal. Di Indonesia, ES Ito menerbitkan sebuah novel yang hebat, &lt;em&gt;Rahasia Meede (Misteri Harta Karun VOC)&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;Qorun, yang di Indonesia berubah menjadi karun, pun menjadi sebuah contoh kisah menarik dalam Alquran untuk menjadi peringatan bagi manusia. Bermula dari pengikut setia, Qorun kemudian menjadi penentang Musa setelah meraih kekayaan yang melimpah. Konon kekayaannya tak bisa diukur karena kunci-kunci gudang kekayaannya tak bisa dipikul seorang lelaki kuat mana pun.&lt;br /&gt;Satu hal, kalau kekayaan Ahmad Zaini benar, tak ada yg bisa mengalahkan kekayaannya, termasuk Qorun. Mungkin kecuali satu, yakni tokoh fiksi yang digemari (sekaligus dibenci) anak-anak: Paman Gober.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5277617973649974022-5141528425715316226?l=hermawan-aksan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hermawan-aksan.blogspot.com/feeds/5141528425715316226/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5277617973649974022&amp;postID=5141528425715316226' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5277617973649974022/posts/default/5141528425715316226'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5277617973649974022/posts/default/5141528425715316226'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hermawan-aksan.blogspot.com/2008/06/zaini.html' title='Zaini'/><author><name>Hermawan Aksan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06299037799823191218</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5277617973649974022.post-1256176135277880308</id><published>2008-05-31T05:50:00.001-07:00</published><updated>2008-05-31T05:55:38.181-07:00</updated><title type='text'>Sendratari Dyah Pitaloka</title><content type='html'>Ketika iseng surfing di gelombang internet, aku menemukan sebuah berita berikut ini (apa adanya, tanpa kuedit):&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SENDRATARI "DYAH PITALOKA", PEMAKSAAN POLITIK YANG MENJATUHKAN MARTABAT&lt;br /&gt;Magelang, 25/5 (ANTARA) - Pementasan sendratari bertajuk "Dyah Pitaloka" ingin menggambarkan simbol bahwa pemaksaan kepentingan politik para petinggi akan menjatuhkan martabat bangsa dan berakibat menyengsarakan rakyat.&lt;br /&gt;"Melalui sendratari ini tergambar bahwa sikap politik para elit yang bertendensi untuk memaksakan kehendak akhirnya membuahkan kesengsaraan rakyat dan merendahkan martabat," kata Koreografer Sendratari "Dyah Pitaloka", Dwi Anugrah, usai pementasan itu, di Magelang, Minggu.&lt;br /&gt;Sendratari berdurasi sekitar 40 menit itu dimainkan puluhan pelajar SMA Pangudi Luhur "Van Lith" Muntilan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah dalam puncak apresiasi seni, memeringati perintis sekolah unggulan di daerah itu dengan sistem pendidikan asrama.&lt;br /&gt;Lakon itu bersumber dari Kitab Negarakertagama, karya Empu Prapanca, dan Novel Senja di Langit Majapahit, karya Hermawan Aksan, dengan produser Br. Albertus Suwarto, FIC, penata iringan Purwadi, dan kemasan gerak tari tradisional Jawa.&lt;br /&gt;Sendratari "Dyah Pitaloka" yang terdiri tiga adegan itu menuturkan ambisi penaklukan wilayah-wilayah nusantara oleh Patih Gajah Mada (Ardi) dari Kerajaan Majapahit yang dipimpin Raja Hayam Wuruk (Didi) dalam seni gerak tari.&lt;br /&gt;Alkisah, Majapahit belum berhasil menaklukan Kerajaan Sunda Galuh di bawah Raja Linggabuana (Johan) melalui beberapa kali peperangan. Raja itu memiliki seorang puteri bernama Dyah Pitaloka (Elok).&lt;br /&gt;Raja Hayam Wuruk ingin melamar Pitaloka dan menjadikannya sebagai permaisuri Kerajaan Majapahit yang dipimpinnya. Lamaran Hayam Wuruk diterima Linggabuana dan Pitaloka pun dengan pengawalan sejumlah prajurit berangkat menuju Majapahit.&lt;br /&gt;Di Lapangan Bubat yang dikisahkan berada di kawasan perbatasan antara wilayah Majapahit dengan Sunda Galuh, Gajah Mada dengan pasukan tempurnya menjebak rombongan Pitaloka yang memang tidak disiapkan untuk berperang.&lt;br /&gt;"Gajah Mada memaksa Sunda Galuh harus tunduk kepada Majapahit dan menjadikan Pitaloka sebagai puteri persembahan kepada Raja Hayam Wuruk," kata Anugrah.&lt;br /&gt;Pertempuran antara kedua pihak di Lapangan Bubat berlangsung seru ditandai jatuh korban di kedua pihak dan kesengsaraan rakyat di sekitar tempat perang itu, namun akhirnya dimenangi pasukan di bawah pimpinan Gajah Mada.&lt;br /&gt;Hayam Wuruk yang mendengar tindakan Gajah Mada itu dikisahkan dalam sendratari tersebut sebagai marah.&lt;br /&gt;"Tindakan patihnya itu telah menurunkan martabat kerajaan dan mengakibatkan kesengsaraan rakyat. Pesan yang ingin disampaikan dalam sendratari ini, bagaimana seorang pemimpin saat ini mengambil kebijakan yang tepat, yang tidak mengakibatkan rakyat menderita dan selalu berkomitmen mengangkat martabat bangsa dan negara," kata Dwi Anugrah. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah, sebagai penulis &lt;em&gt;Dyah Pitaloka, Senja di Langit Majapahit&lt;/em&gt;, aku sama sekali tidak diberi tahu mengenai pementasan ini. Senang-senang saja karyaku diangkat menjadi sendratari. Setidaknya, karyaku mendapat pengakuan, justru di tanah Jawa. Mengejutkan. Hanya saja, mungkin akan lebih membuatku bangga kalau panitia setidaknya memberi tahu. Itu saja.&lt;br /&gt;Namun, tabik buat pementasan ini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5277617973649974022-1256176135277880308?l=hermawan-aksan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hermawan-aksan.blogspot.com/feeds/1256176135277880308/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5277617973649974022&amp;postID=1256176135277880308' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5277617973649974022/posts/default/1256176135277880308'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5277617973649974022/posts/default/1256176135277880308'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hermawan-aksan.blogspot.com/2008/05/sendratari-dyah-pitaloka.html' title='Sendratari Dyah Pitaloka'/><author><name>Hermawan Aksan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06299037799823191218</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5277617973649974022.post-8377641063159230274</id><published>2008-05-20T07:23:00.000-07:00</published><updated>2008-05-20T07:26:52.109-07:00</updated><title type='text'>Tung</title><content type='html'>ADA kesalahan dalam pendidikan di Indonesia, yakni orang disuruh belajar, tapi tak pernah diajari caranya belajar. Kita disuruh berpikir, tapi kita tak pernah diajari bagaimana caranya berpikir.&lt;br /&gt;Begitulah pendapatnya mengenai pendidikan di Indonesia.&lt;br /&gt;Namanya mungkin aneh di telinga sebagian kita: Tung Desem Waringin. "Apa itu?" bukan "Siapa itu?" kata seorang teman ketika suatu hari saya mengucapkan nama ini. &lt;em&gt;Walah&lt;/em&gt;. Padahal, orang tuanya tentu punya maksud baik dengan memberinya nama demikian. Dan memang begitulah. Tung adalah nama keluarga, &lt;em&gt;she&lt;/em&gt; Tionghoa. Desem diambil dari Desember, bulan kelahirannya. Dan Waringin diambil dari kata bahasa Jawa yang berarti beringin. Orang tuanya mengharapkan anak ketiga dari lima bersaudara ini menjadi pelindung, tempat berteduh.&lt;br /&gt;Menurut lelaki kelahiran Solo 40 tahun lalu ini, proses pendidikan di negeri ini memang aneh. "Kalau orang disuruh berenang, mestinya kan harus belajar bagaimana berenang. Disuruh belajar, mestinya belajar bagaimana caranya belajar. Seperti pengalaman saya, atau kita semua di sini, guru-guru kita selalu menyuruh, ayo belajar, ayo belajar, ayo berenang, ayo berenang. Caranya? Harus fokus. Bagaimana caranya fokus? Tak pernah diajarkan," ujar Tung Desem dalam percakapan dengan saya di Sekolah Mutiara Nusantara, Jalan Sersan Bajuri, Bandung, beberapa waktu lalu.&lt;br /&gt;Tung mengakui, ketika di SD hingga SMA, ia bukanlah anak yang istimewa di kelas. "Saya bahkan termasuk &lt;em&gt;oon&lt;/em&gt;, goblok," kata Tung, yang kemudian tertawa.&lt;br /&gt;Tung kemudian bertutur, ketika di SMA nilai mata pelajaran Bahasa Indonesianya biasa-biasa saja. "Pada sebuah acara reuni SMA bertemu dengan guru Bahasa Indonesia saya. Bu Tuti, ingat saya? Waktu itu Bahasa Indonesia saya dikasih lima, karena saya nggak bisa ngarang. Sekarang, Bu Tuti, terima kasih, saya Tung Desem Waringin tercatat memecahkan rekor MURI sebagai pengarang yang di hari pertama bukunya laku 10 ribu lebih. Saya juga bertemu dengan Pak Guru PMP, waktu itu saya juga dikasih nilai lima. Untungnya waktu itu semester ganjil. Kalau pas kenaikan kelas dua mata pelajaran itu dapat lima, nggak naik saya. Saya sering naik kelas dengan status diakui. Saking parahnya. Nah, saya juga pernah ikut les Kimia, ini &lt;em&gt;true story&lt;/em&gt;, saya ikut les dengan juara satu, juara kelas, dengan para juara, hanya saya yang tidak juara. Saya ingat pada waktu les pernah dikasih seratus soal. Saya selesai cuma 20 soal, dari 20 itu, yang bener hanya dua. Saking baiknya guru les itu, dia berkata, 'Tung, kamu datang lebih awal ya. Lesnya jam tiga, kamu datang setengah tiga. Nanti saya kasih les lebih dulu, nanti kamu bisa ngejar yang lain.' Saya setuju. Begitu diajari, tetap saja saya nggak bisa. Gurunya nanya begini, sampai ngomong sorry tiga kali. 'Tung, kamu dulu waktu kecil pernah setep?' &lt;em&gt;Asem tenan&lt;/em&gt;, ha-ha-ha."&lt;br /&gt;Ketika kuliah di Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, ia menjadi mahasiswa teladan. Berbagai gelar juara dalam ajang lomba akademis pun ia menangi. "Saya bergaul dengan para mahasiswa cerdas, kemudian melihat bagaimana cara mereka belajar. Saya terapkan cara mereka, dan akhirnya saya berhasil meraih prestasi tinggi," kata Tung.&lt;br /&gt;Tung tampil sebagai lulusan terbaik, kemudian sukses berkarier di BCA, sebuah bank swasta terbesar di negeri ini, punya kedudukan bagus, punya keluarga yang baik dan istri yang cantik, tapi ketika ayahnya sakit, gaji Tung sebulan tak mampu menutupi biaya semalam di kelas 3 RS Mount Elizabeth di Singapura!&lt;br /&gt;"Pasti ada yang salah dengan hidup saya," pikirnya. Maka ia keluar dari BCA lalu merintis karier dan kemudian sukses di bidang lain: menjadi seorang motivator. Oleh majalah &lt;em&gt;Marketing&lt;/em&gt;, Tung dinobatkan sebagai "pelatih sukses nomor satu Indonesia".&lt;br /&gt;Jadi, apa sebenarnya rahasia suksesnya? "Saya selalu belajar dari yang terbaik. Untuk menjadi pelatih sukses terbaik pun, saya belajar dari yang terbaik, antara lain dari Anthony Robbins, pelatih sukses terbaik di dunia," katanya. (*)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5277617973649974022-8377641063159230274?l=hermawan-aksan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hermawan-aksan.blogspot.com/feeds/8377641063159230274/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5277617973649974022&amp;postID=8377641063159230274' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5277617973649974022/posts/default/8377641063159230274'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5277617973649974022/posts/default/8377641063159230274'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hermawan-aksan.blogspot.com/2008/05/tung.html' title='Tung'/><author><name>Hermawan Aksan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06299037799823191218</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5277617973649974022.post-5645889726460245200</id><published>2008-05-05T01:16:00.000-07:00</published><updated>2008-05-05T03:15:42.275-07:00</updated><title type='text'>Selebritas</title><content type='html'>SEBUAH tabloid olah raga edisi Selasa, 29 April 2008, menulis salah satu judul beritanya "Ditantang Selebritas Dadakan". Tulisan itu bercerita tentang rencana pertarungan tinju antara Oscar De La Hoya dan Steve Forbes. De La Hoya bukan nama asing di ring tinju, sedangkan Forbes belum terdengar, kecuali disebutkan bahwa ia baru tampil dalam acara &lt;em&gt;reality show&lt;/em&gt; tinju "The Contender". Penampilan itulah yang membuat Forbes disebut "selebritas dadakan".&lt;br /&gt;Yang menarik, tabloid ini merupakan salah satu di antara sangat sedikit media massa yang menggunakan bentuk kata selebritas, bukan selebriti. Salah satu media yang memelopori pemakaian bentuk selebritas adalah majalah &lt;em&gt;Jakarta-Jakarta&lt;/em&gt;, yang sayangnya sekarang sudah almarhum.&lt;br /&gt;Mana yang benar, selebritas atau selebriti? Atau mungkin selebritis sebagaimana yang sering kita lihat (dengar) di sejumlah media, termasuk televisi, dan dalam percakapan sehari-hari?&lt;br /&gt;Menurut pedoman penulisan unsur serapan, akhiran &lt;em&gt;-ty&lt;/em&gt; (Inggris) atau &lt;em&gt;-teit&lt;/em&gt; (Belanda) berubah menjadi &lt;em&gt;-tas&lt;/em&gt; dalam bahasa Indonesia. Contohnya, &lt;em&gt;university&lt;/em&gt; atau &lt;em&gt;universiteit&lt;/em&gt; menjadi &lt;em&gt;universitas&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;quality&lt;/em&gt; atau &lt;em&gt;kwaliteit&lt;/em&gt; menjadi &lt;em&gt;kualitas&lt;/em&gt;. Kita bisa menambahkan kata-kata lain seperti &lt;em&gt;activity&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;solidarity&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;actuality&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;validity&lt;/em&gt;, dan &lt;em&gt;morality&lt;/em&gt;, yang berubah menjadi &lt;em&gt;aktivitas&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;solidaritas&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;aktualitas&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;validitas&lt;/em&gt;, dan &lt;em&gt;moralitas&lt;/em&gt;. Tentu daftar ini masih bisa diperpanjang.&lt;br /&gt;Dalam bahasa Inggris, kata &lt;em&gt;celebrity&lt;/em&gt; berarti seorang yang terkenal/masyhur (lihat &lt;em&gt;Kamus Inggris-Indonesia&lt;/em&gt; karya John M. Echols dan Hassan Shadily). Bentuk jamaknya adalah &lt;em&gt;celebrities&lt;/em&gt;. Bentuk jamak inilah yang kerap kita temukan dipakai oleh pengguna bahasa Indonesia menjadi &lt;em&gt;selebritis&lt;/em&gt;. Tentu saja ini bentuk yang keliru, sama kelirunya ketika kita menulis &lt;em&gt;tips &lt;/em&gt;atau &lt;em&gt;fans&lt;/em&gt; dalam bahasa Indonesia.&lt;br /&gt;Dengan pedoman penulisan unsur serapan di atas, jelaslah bahwa kata &lt;em&gt;celebrity&lt;/em&gt; harus berubah menjadi &lt;em&gt;selebritas&lt;/em&gt;, bukan &lt;em&gt;selebriti&lt;/em&gt; atau (apalagi) &lt;em&gt;selebritis&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;Sampai edisinya yang kedua (cetakan ke-10 tahun 1999), &lt;em&gt;Kamus Besar Bahasa Indonesia&lt;/em&gt; (&lt;em&gt;KBBI&lt;/em&gt;) belum memasukkan lema selebriti ataupun selebritas. &lt;em&gt;KBBI&lt;/em&gt; kalah langkah dari &lt;em&gt;Kamus Kontemporer&lt;/em&gt; karya Peter Salim, misalnya, yang pada cetakan tahun 1995 pun sudah memasukkan lema selebritas (bukan selebriti). Baru pada edisi ketiga, &lt;em&gt;KBBI&lt;/em&gt; memasukkan lema selebriti (bukan selebritas), yang diberi arti orang yang terkenal atau masyhur (biasanya tentang artis).&lt;br /&gt;Saya termasuk pemakai bahasa Indonesia yang kecewa karena &lt;em&gt;KBBI&lt;/em&gt; justru mengakui bentuk selebriti, bukan selebritas. Jelas bahwa penyusun &lt;em&gt;KBBI&lt;/em&gt; (Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia) tidak konsisten terhadap pedoman yang mereka susun sendiri. Apa dasar yang digunakan &lt;em&gt;KBBI&lt;/em&gt;? Apakah &lt;em&gt;KBBI&lt;/em&gt; mengikuti analogi &lt;em&gt;sekuriti&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;komoditi&lt;/em&gt;? Jika demikian, &lt;em&gt;KBBI&lt;/em&gt; keliru karena bentuk &lt;em&gt;sekuriti&lt;/em&gt; (keamanan) bisa diterima untuk membedakannya dengan &lt;em&gt;sekuritas&lt;/em&gt; (surat berharga) meski kedua bentuk ini berasal dari bentuk yang sama &lt;em&gt;security&lt;/em&gt;. Adapun &lt;em&gt;komoditi&lt;/em&gt; bukan bentuk baku seperti diakui sendiri oleh KBBI karena bentuk bakunya adalah &lt;em&gt;komoditas&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;Apakah karena masyarakat lebih banyak yang memakai &lt;em&gt;selebriti&lt;/em&gt; (dan &lt;em&gt;selebritis&lt;/em&gt;) daripada &lt;em&gt;selebritas&lt;/em&gt;? Kabarnya, Pusat Bahasa memasukkan lema tertentu berdasarkan frekuensi pemakaiannya di masyarakat. Jika demikian, selain melanggar aturannya sendiri, &lt;em&gt;KBBI&lt;/em&gt; kerap tidak konsisten mengenai soal ini. Satu contoh saja, &lt;em&gt;KBBI&lt;/em&gt; terus-menerus mencantumkan kata &lt;em&gt;zarafah&lt;/em&gt; sebagai bentuk baku, bukan &lt;em&gt;jerapah&lt;/em&gt;. Padahal, kita yakin bahwa masyarakat seluruh Indonesia lebih akrab dengan kata &lt;em&gt;jerapah&lt;/em&gt;, bukan &lt;em&gt;zarafah&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;Kalau &lt;em&gt;KBBI &lt;/em&gt;terus-terusan tidak konsisten, benar apa kata Tendy K. Somantri, salah seorang Koordinator Forum Bahasa Media Massa Jabar, bahwa kita pemakai bahasa berkali-kali "babak belur" justru ketika mencoba mengikuti kebenaran yang ditawarkan Pusat Bahasa.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(naskah ini dimuat di harian &lt;em&gt;Pikiran Rakyat&lt;/em&gt;, 3 Mei 2008&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5277617973649974022-5645889726460245200?l=hermawan-aksan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hermawan-aksan.blogspot.com/feeds/5645889726460245200/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5277617973649974022&amp;postID=5645889726460245200' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5277617973649974022/posts/default/5645889726460245200'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5277617973649974022/posts/default/5645889726460245200'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hermawan-aksan.blogspot.com/2008/05/selebritas.html' title='Selebritas'/><author><name>Hermawan Aksan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06299037799823191218</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5277617973649974022.post-2960295069355388098</id><published>2008-05-04T08:18:00.000-07:00</published><updated>2008-05-04T08:29:59.350-07:00</updated><title type='text'>Lagi, Buku Baru</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_OGfaUEk5vIA/SB3Vw1RUe3I/AAAAAAAAACU/kii9JSEiE2A/s1600-h/Jangan_bunuh_Obama.jpeg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5196544579965582194" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://bp2.blogger.com/_OGfaUEk5vIA/SB3Vw1RUe3I/AAAAAAAAACU/kii9JSEiE2A/s320/Jangan_bunuh_Obama.jpeg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Buku ini baru terbit, dan sudah kulihat di stan Mizan pada Pameran Buku Islami di Gedung Landmark, Bandung. Sampai hari ini, aku malah belum dapat bukunya. Aku mau ke kantor Mizan ah, besok. Sekalian mengembalikan SPK untuk (calon) buku mengenai Steve Jobs.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Keterangan tentang buku ini bisa dilihat di&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://www.mizan.com/index.php?fuseaction=buku_baru_full&amp;amp;id=7245"&gt;http://www.mizan.com/index.php?fuseaction=buku_baru_full&amp;amp;id=7245&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5277617973649974022-2960295069355388098?l=hermawan-aksan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hermawan-aksan.blogspot.com/feeds/2960295069355388098/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5277617973649974022&amp;postID=2960295069355388098' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5277617973649974022/posts/default/2960295069355388098'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5277617973649974022/posts/default/2960295069355388098'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hermawan-aksan.blogspot.com/2008/05/lagi-buku-baru.html' title='Lagi, Buku Baru'/><author><name>Hermawan Aksan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06299037799823191218</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_OGfaUEk5vIA/SB3Vw1RUe3I/AAAAAAAAACU/kii9JSEiE2A/s72-c/Jangan_bunuh_Obama.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5277617973649974022.post-2105834441862765126</id><published>2008-03-30T07:35:00.000-07:00</published><updated>2008-03-30T07:52:17.551-07:00</updated><title type='text'>Buku baru lagi</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_OGfaUEk5vIA/R--oM7ZmykI/AAAAAAAAACE/qwkNhjpL6ZQ/s1600-h/Mukesh_Ambani.jpeg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5183546636183718466" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://bp2.blogger.com/_OGfaUEk5vIA/R--oM7ZmykI/AAAAAAAAACE/qwkNhjpL6ZQ/s320/Mukesh_Ambani.jpeg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Ini buku baruku. Aku sendiri belum punya bukunya. Saat search namaku di Google, muncul informasi bahwa buku ini sudah terbit. Setidaknya aku tahu di situs Mizan, Inibuku.com, dan beberapa lainnya.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5277617973649974022-2105834441862765126?l=hermawan-aksan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hermawan-aksan.blogspot.com/feeds/2105834441862765126/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5277617973649974022&amp;postID=2105834441862765126' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5277617973649974022/posts/default/2105834441862765126'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5277617973649974022/posts/default/2105834441862765126'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hermawan-aksan.blogspot.com/2008/03/buku-baru-lagi.html' title='Buku baru lagi'/><author><name>Hermawan Aksan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06299037799823191218</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_OGfaUEk5vIA/R--oM7ZmykI/AAAAAAAAACE/qwkNhjpL6ZQ/s72-c/Mukesh_Ambani.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5277617973649974022.post-4230876819865348051</id><published>2008-03-15T05:27:00.000-07:00</published><updated>2008-03-15T05:51:35.239-07:00</updated><title type='text'>Buku Terbaru: Pendidikan Olahraga</title><content type='html'>Buku terbaruku kali ini diberi judul &lt;em&gt;Pendidikan Olahraga, Pengalaman 17 Tahun dalam Pelembagaan dan Penyelenggaraan Mata Kuliah Olahraga di ITB&lt;/em&gt;, diterbitkan oleh Kelompok Keahlian Ilmu Keolahragaan Sekolah Farmasi Institut Teknologi Bandung, bekerja sama dengan Penerbit ITB, Februari 2008.&lt;br /&gt;Buku ini memang tidak kutulis sendiri, tapi bersama Deni Ahmad Fajar (asisten redaktur &lt;em&gt;Tribun Jabar&lt;/em&gt;) dan Hawe Setiawan (sastrawan, penulis, editor). Dan sayangnya, nama kami bertiga tidak tampil di sampul muka, tapi hanya di halaman dalam, di bawah Tim Pengarah, yang terdiri dari para dosen ITB, termasuk mantan rektor ITB Wiranto Arismunandar. Juga tak ada data sesingkat apa pun tentang kami sebagai penulis.&lt;br /&gt;Proses terbitnya buku ini terhitung lama, sejak pertemuan pertama dengan Prof Wiranto dkk, pada 1 Juli 2007. Salah satu anggota tim pengarah ternyata adalah Didi Sunadi, yang ternyata teman seangkatan adikku di FPOK IKIP (sekarang UPI).&lt;br /&gt;Cukup banyak pula hambatan yang kami temui, terutama minimnya data yang bisa kami telusuri dari sejumlah narasumber.&lt;br /&gt;Aku lebih dulu tahu buku ini sudah terbit justru dari tabloid &lt;em&gt;Bola &lt;/em&gt;edisi 7 Maret 2008. Sehari menjelang peluncuran, dua temanku, Deni dan Hawe, mendapat SMS dari Didi yang mengharap kehadiran kami sebagai tim penulis hadir pada hari Minggu, 9 Maret 2008. Aku sendiri tidak dapat SMS. Karena bentrok dengan sebuah acara, aku dan Deni tidak hadir. Hawe hadir, tapi aku belum sempat mendapat cerita mengenai bagaimana acaranya.&lt;br /&gt;Kami mendapat buku itu masing-masing satu eksemplar! (Padahal, penerbit umumnya memberikan jatah buat penulis itu minimal sepuluh eksemplar.) Memang ditambah masing-masing satu kaus. Tapi kaus itu tak ada hubungannya dengan buku itu atau ITB. Kaus itu terkesan pembagian dari Telkomsel.&lt;br /&gt;Pada laman Sekolah Farmasi ITB, kubaca berita mengenai peluncuran buku tersebut sebagai berikut (apa adanya, termasuk salah ketiknya dsb):&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelompok Keilmuan Keolahragaan Sekolah Farmasi ITB, meluncurkan buku Pendidikan Olahraga: Pengalaman 17 Tahun dalam Pelembagaan dan Penyelenggaraan Matakuliah Olahraga di ITB di acara Dies Natalis ke-49 ITB, hadir pada acara tersebut Rektor ITB, Wakil Rektor, pimpinan UKA dan UKP, juga dihadiri oleh mantan Rektor ITB, Wiranto Arismunandar. Dalam sambutannya Rektor ITB melihat pentingnya olahaga dalam pembangunan bangsa ini. Karena itu, ITB konsisten memberikan mata kuliah olahraga yang ditangani oleh Kelompok Keilmuan Keolahragaan. Untuk pengembangan ke depan,kelompok Ilmu Keolahragaan ingin menjadi yang terdepan dalam riset riset olahraga. “Idealnya di setiap partisipasi Indonesia di ajang multievent diimbangi dengan riset yang berkaitan dengan prestasi maupun kegagalannya. Jika itu dilakukan, niscaya kelemahan olahraga prestasi akan segera diketahui,” ungkap Dekan Sekolah Farmasi , Dr Tutus Gusdinar Kartawinata. Kita juga berharap bias menjadi sport center yang memiliki kekuatan di bidang riset olahraga. Saat ini kami mengupayakan berbagai effort ke sana,” tambah Tutus Gusdinar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5277617973649974022-4230876819865348051?l=hermawan-aksan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hermawan-aksan.blogspot.com/feeds/4230876819865348051/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5277617973649974022&amp;postID=4230876819865348051' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5277617973649974022/posts/default/4230876819865348051'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5277617973649974022/posts/default/4230876819865348051'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hermawan-aksan.blogspot.com/2008/03/buku-terbaru-pendidikan-olahraga.html' title='Buku Terbaru: Pendidikan Olahraga'/><author><name>Hermawan Aksan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06299037799823191218</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5277617973649974022.post-8385602518764424488</id><published>2008-03-03T05:04:00.000-08:00</published><updated>2008-03-03T05:09:54.674-08:00</updated><title type='text'>Tanpa Judul</title><content type='html'>Tulisanku di rubrik Coffee Break &lt;em&gt;Tribun Jabar&lt;/em&gt;, Minggu 2 Maret, yang juga kuposting di sini dengan judul "Kisah (Para) Penyair Nekat", ternyata mendapat respons dari sang penyair. Respons itu dikirimkan lewat &lt;em&gt;e-mail&lt;/em&gt; ke &lt;em&gt;Tribun Jabar&lt;/em&gt;. Di sini kuposting respons itu, seadanya (termasuk semua salah ketiknya), berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;banyak seniman di bandung yang kemudian terlempar dan&lt;br /&gt;tersisihkan dari sejarah sastra,untuk kembali eksis&lt;br /&gt;tentu bukan hal yang mudah,karena berbagai&lt;br /&gt;hal.misalnya tidak berkarya lagi, atau karyanya tidak&lt;br /&gt;bermutu, atau kahayangaya ka euweuh euweuh, jadi&lt;br /&gt;ketika ada seniman lain tetap eksis ia hanya bisa&lt;br /&gt;kumetap lalu caci maki tak keruan.&lt;br /&gt;terimakasih atas resensi buku puisisaya di tribun,&lt;br /&gt;saya sadar bahwa sebuah karya bukan lagi milik&lt;br /&gt;pengranagnya ika sudah berada di tangan pmbaca, tapi&lt;br /&gt;bahayanya kalau pembaca itu kemudian adalah seniman&lt;br /&gt;yang terlemparkan dari sejarah sastra..&lt;br /&gt;sehingga pengetahuannya ttg sastra nol besar, tidak&lt;br /&gt;memahami perkembangan sastra yang tengah berlangsung.&lt;br /&gt;kaciaaaaaaaaan dech...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;terimakasih&lt;br /&gt;terimaksih&lt;br /&gt;nuhu&lt;br /&gt;nuhun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;matdon&lt;br /&gt;matazibril@yahoo.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5277617973649974022-8385602518764424488?l=hermawan-aksan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hermawan-aksan.blogspot.com/feeds/8385602518764424488/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5277617973649974022&amp;postID=8385602518764424488' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5277617973649974022/posts/default/8385602518764424488'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5277617973649974022/posts/default/8385602518764424488'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hermawan-aksan.blogspot.com/2008/03/tanpa-judul.html' title='Tanpa Judul'/><author><name>Hermawan Aksan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06299037799823191218</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5277617973649974022.post-3750303964180561547</id><published>2008-03-02T00:53:00.001-08:00</published><updated>2008-03-02T00:55:24.488-08:00</updated><title type='text'>Kisah (Para) Penyair Nekat</title><content type='html'>TAMPAKNYA sulit menjadi penyair di negeri ini kalau tidak nekat. Karena itu, banyak orang yang nekat menjadi penyair, atau banyak penyair yang nekat. Tapi, sebentar, penyair pun terbagi menjadi dua: penyair serius dan penyair dadakan karena suatu alasan. Alasan itu bisa saja sedang dilanda asmara, atau sedang marah-marah terhadap pihak lain, atau apa saja.&lt;br /&gt;Beberapa kali saya bertemu dengan penyair (atau merasa diri penyair) yang nekat menerbitkan buku kumpulan puisi, baik melalui penerbit tertentu maupun menerbitkan sendiri--tentu saja dengan biaya sendiri.&lt;br /&gt;Pernah ada seorang teman (yang merasa diri) penyair menerbitkan buku kumpulan puisi dengan menyeting sendiri, kemudian mencetaknya melalui &lt;em&gt;printer&lt;/em&gt; sebanyak dua puluhan eksemplar, menjilidnya sendiri, mengedarkannya sendiri kepada teman-temannya, dan akhirnya mengadakan diskusi di antara mereka untuk membahas puisi-puisi dalam buku itu. Maka dalam &lt;em&gt;curriculum vitae&lt;/em&gt;-nya, ia menulis pernah menerbitkan buku berjudul anu, yang tak lain buku yang dicetak 20-an eksemplar itu.&lt;br /&gt;Saya tentu saja tidak antipati terhadap para penyair nekat itu. Sebaliknya, saya angkat topi. Buku kumpulan puisi adalah komoditas yang termasuk rendah nilai jualnya. Hanya satu dua judul buku kumpulan puisi di negeri ini yang bisa dikatakan termasuk &lt;em&gt;best-seller&lt;/em&gt;, misalnya buku-buku karya Joko Pinurbo, &lt;em&gt;Kibaran Sarung&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;Celana&lt;/em&gt;, dan &lt;em&gt;Pacar Kecilku&lt;/em&gt;. Maka sukses mereka untuk menerbitkan buku kumpulan puisi patut dicatat dengan nilai tersendiri.&lt;br /&gt;Beberapa hari lalu saya menerima sebuah buku kumpulan puisi dari Kang Yusran Pare, Pemimpin Redaksi &lt;em&gt;Tribun Jabar&lt;/em&gt;. Kang Yusran menerimanya dari Matdon, sang penyair, dan meminta saya membuat ulasannya. Judul bukunya, yang ditulis dengan huruf-huruf putih dengan latar belakang blok hitam, terasa menghantam: &lt;em&gt;Kepada Penyair Anjing&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;Secara fisik, buku yang terbitan Ultimus ini menarik. Di bawah judul pada sampul, terpampang sebuah drawing karya Andi Sopiandi yang menggambarkan komposisi beberapa ekor anjing bergaya agak surealis. Secara keseluruhan, desain sampul depan oleh Ucok ini pun mengesankan sebuah upaya yang serius.&lt;br /&gt;Buku ini, saya kira, terbit tidak dengan biaya sendiri, apalagi hanya dicetak dalam jumlah eksemplar yang bisa dihitung dengan jari. Ultimus adalah penerbit yang sudah menelurkan sejumlah buku bermutu. Karena itu, upaya Ultimus untuk menerbitkan buku kumpulan puisi sangat patut dihargai.&lt;br /&gt;Bagaimana dengan puisi-puisinya? Hmm...&lt;br /&gt;Buku setebal xviii + 90 halaman ini berisi 80 judul puisi. Sebagian besar adalah puisi pendek, yang terdiri dari beberapa baris dan hanya mengisi kurang dari sepertiga halaman. Hanya enam puisi yang masing-masing mengisi lebih dari satu halaman. Tentu saja puisi pendek tidak berarti buruk dan puisi panjang tidak berarti indah. Sitor Situmorang pernah menciptakan puisi pendek yang hanya berisi satu baris, tapi terus bergema melewati tahun-tahun dan dasawarsa.&lt;br /&gt;Dari sisi gaya, sebagian konvensional, sebagian berupaya mendobrak tradisi, meski belum benar-benar menghasilkan pengucapan baru. Bahkan ada pula sejumlah puisi yang bergaya &lt;em&gt;mbeling&lt;/em&gt; seperti yang pernah berkibar tahun 1970-an melalui Remi Silado dan kawan-kawan. Beberapa puisi dalam buku ini mengesankan sebuah proses pengendapan yang intens, beberapa berpeluang untuk menjadi puisi yang bagus, tapi banyak pula yang terkesan dibuat dengan tergesa-gesa--dan kemudian malah terjebak menjadi sekadar pamflet.&lt;br /&gt;Menurut Afrizal Malna, puisi tercipta melalui proses yang berdarah-darah. Bagi Afrizal, puisi adalah sebuah posisi rawan kesenian. Untuk menulis sekaligus memahami dibutuhkan "pengorbanan" besar sehingga tak hanya sanggup mengubah pandangan seseorang, bahkan mungkin menggerakkan sebuah energi tak terlihat yang kelak membuat massa bergerak. Puisi dapat pula mencapai fungsinya yang paling sederhana sebagai jejak sang penyair yang menyeret setiap peristiwa dalam sejarah hidupnya. Ia lantas menjadi semacam kesaksian yang dapat menengarai perubahan zaman, menjadi petunjuk bagi generasi berikutnya, selain sebagai catatan sunyi peradaban.&lt;br /&gt;Toto Sudarto, Rendra, Taufik Ismail pernah menempatkan diri pada posisi kesaksian. Sutardji lebih menekuni bongkar-pasang estetika, menggali yang terpendam dalam rahasia akar bahasa. Sapardi memberikan eksistensi pada ujaran sehari-hari menjadi "prasasti" monumental. Adapun Goenawan Mohamad dengan metafora mewahnya mengisi bagian elegan dalam sastra Indonesia.&lt;br /&gt;Di mana posisi &lt;em&gt;Kepada Penyair Anjing&lt;/em&gt; dalam peta puisi negeri ini? Ah, mungkin pertanyaan yang terlampau jauh. Kebanyakan puisi dalam buku ini belum mengesankan tercipta melalui proses yang berdarah-darah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5277617973649974022-3750303964180561547?l=hermawan-aksan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hermawan-aksan.blogspot.com/feeds/3750303964180561547/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5277617973649974022&amp;postID=3750303964180561547' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5277617973649974022/posts/default/3750303964180561547'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5277617973649974022/posts/default/3750303964180561547'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hermawan-aksan.blogspot.com/2008/03/kisah-para-penyair-nekat.html' title='Kisah (Para) Penyair Nekat'/><author><name>Hermawan Aksan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06299037799823191218</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5277617973649974022.post-6646797862163785809</id><published>2008-02-28T04:08:00.000-08:00</published><updated>2008-02-28T04:12:34.006-08:00</updated><title type='text'>Kontroversi Penghargaan Budaya</title><content type='html'>(Ini sebetulnya tulisan agak lama, beberapa hari setelah tahun baru. Kukirimkan ke &lt;em&gt;Kompas Jabar&lt;/em&gt;, tapi rupanya tidak layak muat.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TERPILIHNYA W.S. Rendra sebagai salah satu penerima Penghargaan Budaya Sunda dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat, pada malam Tahun Baru 2008, mengejutkan dan menimbulkan sejumlah pertanyaan. Apa posisi penting seniman berjuluk “Si Burung Merak” ini pada peta budaya Sunda?&lt;br /&gt;Perjalanan panjang kiprah Rendra dalam peta seni dan budaya Indonesia, tentu saja, tak perlu diragukan lagi. Willibrordus Surendra Broto Rendra (lahir di Solo, 7 November 1935) sudah berkarya sejak pertengahan 1950-an. Ia mendirikan Bengkel Teater di Yogyakarta pada tahun 1967 dan kemudian Bengkel Teater Rendra di Depok. Karya-karyanya (drama) antara lain &lt;em&gt;Orang-orang di Tikungan Jalan&lt;/em&gt; (1954), &lt;em&gt;Sekda&lt;/em&gt; (1977), dan &lt;em&gt;Mastodon dan Burung Kondor&lt;/em&gt; (1972), sedangkan puisi-puisinya terangkum dalam &lt;em&gt;Jangan Takut Ibu&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;Balada Orang-Orang Tercint&lt;/em&gt;a, &lt;em&gt;Empat Kumpulan Sajak&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;Bersatulah Pelacur-Pelacur Kota Jakarta!&lt;/em&gt;, dan lain-lain.&lt;br /&gt;Rendra telah menerima banyak penghargaan, antara lain Hadiah Pertama Sayembara Penulisan Drama dari Bagian Kesenian Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Yogyakarta (1954), Hadiah Sastra Nasional BMKN (1956), Anugerah Seni dari Pemerintah Republik Indonesia (1970), Hadiah Akademi Jakarta (1975), Hadiah Yayasan Buku Utama, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1976), Penghargaan Adam Malik (1989), The S.E.A. Write Award (1996), dan Penghargaan Achmad Bakri (2006).&lt;br /&gt;Namun, penghargaan yang penyerahannya dilakukan di Gedung Merdeka, Jalan Asia-Afrika, Bandung, itu, sekali lagi, bertajuk “budaya Sunda”. Nama atau lembaga lain yang menerima penghargaan ini, antara lain mantan Menteri Luar Negeri, Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja, budayawan Dr. Saini KM, Majalah Mangle (majalan bahasa Sunda), Kampung Cipta Gelar (kampung adat), harian Pikiran Rakyat Bandung, tokoh pencak silat paguron Tadjimalela (alm.) Djadjat Kusumahdinata (Djadjat Paramor) sebagai legenda, dalang Mamat Tahmat Tambi (dalang wayang kulit), Bi Raspi (seniman ronggeng), bolehlah diterima menurut “rasa kesundaan”.&lt;br /&gt;Dengan jejak langkah yang sudah dijalani Rendra dan pemahaman mengenai “budaya Sunda”, terpilihnya Rendra memang terkesan kontroversial. Kontribusi Rendra terhadap budaya Sunda masih bisa diperdebatkan. Apakah Rendra terpilih karena ia tinggal di Depok, Jawa Barat?&lt;br /&gt;Para juri tentu saja punya kriteria sendiri sehingga menganggap Rendra layak menerima penghargaan budaya Sunda. Namun ada dua hal yang juga patut menjadi catatan.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Pertama&lt;/em&gt;, Rendra terpilih dalam kategori &lt;em&gt;diva&lt;/em&gt;. Kalau benar demikian, sungguh menggelikan. Sebab, &lt;em&gt;diva&lt;/em&gt; berarti penyanyi opera wanita, atau primadona, seperti Renata Tebaldi, Joan Sutherland, Leontyne Price, Maria Callas, atau Kiri te Kanawa. Namun istilah &lt;em&gt;diva&lt;/em&gt; juga digunakan untuk penyanyi wanita yang hebat, misalnya Whitney Houston, Madonna, Patti Labelle, Cher, Mariah Carey, Beyonce, Celine Dion, dan Aretha Franklin (lihat &lt;em&gt;Wikipedia&lt;/em&gt;). Di Indonesia, penyanyi yang disebut-sebut sebagai &lt;em&gt;diva&lt;/em&gt; antara lain Vina Panduwinata, Krisdayanti, dan Ruth Sahanaya. (Sebagai tambahan, di Barat, istilah &lt;em&gt;diva&lt;/em&gt; sering dipakai dengan konotasi negatif karena para bintang itu dinilai arogan, sulit bekerja sama, manipulatif, cerewet, dan banyak menuntut.)&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Kedua&lt;/em&gt;, asumsikan Rendra tetap layak menerima penghargaan Sunda, benarkah tak ada lagi nama yang lebih layak menerima penghargaan yang sama, tokoh yang benar-benar memiliki peran penting dalam perkembangan budaya Sunda dan Jawa Barat?&lt;br /&gt;Benar saja, sejumlah tokoh budayawan Cirebon langsung bereaksi. Mereka memprotes keras pemberian penghargaan budaya itu. Pasalnya, tidak ada satu pun tokoh Pantura yang mendapat penghargaan tersebut. Ketua Dewan Kesenian Cirebon Ahmad Syubhanuddin Alwy, misalnya, menilai, tidak adanya tokoh Pantura yang dilibatkan, bahkan tidak mendapat penghargaan tersebut, merupakan suatu tindakan marginalisasi budaya oleh pemerintah. Alwy menuding tidak adanya tokoh budaya Pantura yang diberi penghargaan ini mungkin terkait politisasi Pilgub Jabar 2008 atau terkait politisasi wacana pemisahan Pantura sehingga para penilai penghargaan lebih mementingkan unsur politis daripada ketulusan dalam penilaiannya. Alwy pun menunjuk betapa kayanya wilayah Pantura dengan seni dan budaya, misalnya tari topeng, keraton, dan tokoh‑tokoh seni budaya setempat.&lt;br /&gt;Tudingan senada diungkapkan Putra Mahkota Keraton Kasepuhan, PRA Arief Natadiningrat. Menurut dia, keputusan meniadakan figur dari Cirebon terkait pelestarian budaya Sunda sangat melecehkan masyarakat Cirebon dan sekitarnya. Hal ini, kata Arief, sama saja dengan tidak mengakui Cirebon dan sekitarnya sebagai bagian masyarakat Sunda atau seolah‑olah budaya Cirebon bukan budaya Jabar.&lt;br /&gt;Baik Alwy maupun Pangeran Aref mengatakan, kalau masyarakat Pantura terus dimarginalkan, apalagi sekarang sudah menusuk pada marginalisasi unsur budaya, bukan suatu halangan bagi masyarakat Pantura untuk memisahkan diri dari Jabar.&lt;br /&gt;Pemberian penghargaan apa pun kerap memunculkan ketidakpuasan. Bahkan pemberian hadiah Nobel pun tak jarang dinilai terlalu memanjakan negara-negara tertentu. Bagaimanapun, pemilihan seperti ini bukanlah lomba atletik atau angkat besi yang penentuan pemenangnya bisa dilihat secara kasat mata.&lt;br /&gt;Pada awal Desember lalu, sebagai perbandingan, penghargaan yang diberikan oleh Akademi Jakarta (AJ) kepada penyair Sutardji Calzoum Bachri diprotes oleh sejumlah sastrawan. Alasannya, Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) pernah memberikan penghargaan kepada Sutardji melalui hadiah Chairil Anwar, padahal AJ adalah lembaga yang menginspirasi lembaga-lembaga seperti DKJ. Dengan demikian, penghargaan ini dinilai sebagai pekerjaan mendulang masa lalu, involutif, serta merupakan duplikasi nilai. Jadi, menurut mereka yang memprotes, pemberian penghargaan terhadap Sutardji tidak edukatif dan tidak kondusif untuk kemajuan kebudayaan Indonesia.&lt;br /&gt;Kontroversi seputar penghargaan untuk Rendra dan protes para tokoh Pantura hendaknya menjadi catatan bagi Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Penghargaan budaya adalah pengakuan atas kerja para tokoh atau lembaga budaya. Dan memang sudah sepantasnyalah penghargaan diberikan kepada siapa dan pihak mana pun yang sudah terbukti memberikan kontribusi bagi perkembangan budaya. Oleh karena itu, pemerintah hendaknya tidak melakukan blunder dalam melakukan pemilihan. Pemerintah harus melakukannya secara objektif, lepas dari unsur politis, dan merangkul semua pihak.Sebagai tambahan, pemberian penghargaan umumnya lebih menonjol nuansa simbolis dan seremonialnya. Oleh karena itu, yang lebih penting adalah apa saja langkah konkret setelah pemberian penghargaan seperti itu. Pemberian penghargaan hendaknya merupakan langkah awal yang diikuti langkah lain, yaitu memberikan kesempatan dan fasilitas seluas-luasnya bagi para pelaku seni dan budaya untuk mengekspresikan potensi mereka.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5277617973649974022-6646797862163785809?l=hermawan-aksan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hermawan-aksan.blogspot.com/feeds/6646797862163785809/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5277617973649974022&amp;postID=6646797862163785809' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5277617973649974022/posts/default/6646797862163785809'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5277617973649974022/posts/default/6646797862163785809'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hermawan-aksan.blogspot.com/2008/02/kontroversi-penghargaan-budaya.html' title='Kontroversi Penghargaan Budaya'/><author><name>Hermawan Aksan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06299037799823191218</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5277617973649974022.post-4869417837070334227</id><published>2008-02-19T05:54:00.001-08:00</published><updated>2008-02-19T05:55:15.383-08:00</updated><title type='text'>Cinta</title><content type='html'>(Cerpen ini dimuat di harian &lt;em&gt;Seputar Indonesia&lt;/em&gt;, Minggu 17 Februari 2008)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I&lt;br /&gt;PISAU lipat itu bergetar di genggamanku. Ah, pasti karena denyut jantungku yang kian kencang, seperti pegas di ambang retas. Pisau itu baru kubeli di toko kecil tak jauh dari rumahku. Hijau pupus warna tangkainya—seperti warna gaun kesukaannya, entah dari bahan apa, dan kecil saja ukurannya. Harganya pun tak seberapa. Dalam keadaan terlipat, paling-paling lima sentimeter pan&amp;shy;jangnya. Dalam keadaan terbuka, tajam ujungnya berkilat tatkala memantulkan cahaya.&lt;br /&gt;Kalau kita berkaca, akan tampak wajah kita yang sebenarnya: mengerikan seperti denawa.&lt;br /&gt;Tiap malam, keletak-keletuk sepatunya yang beradu dengan lapisan beton jalan gang kompleks perumahan memukul-mukul keheningan. Memukul-mukul jantung. Mula-mula samar, seperti ketukan ujung jari di tembok, makin lama makin nyaring. Iramanya selalu sama. Seperti nyanyian dua per dua, dengan tempo alegro.&lt;br /&gt;Selalu ingin kusibakkan tirai jendela, kuintip remang jalan di muka, dan kunikmati sumber bunyi yang menggetarkan lebih dari komposisi Tchaikovski. Bila perlu, akan kubuka pintu kamarku, lalu keluar dan kutunggu dia di pintu pagar. Akan kusapa dia dengan ucapan selamat malam. Dan aku yakin dia akan menoleh dengan senyumnya yang paling mendebarkan. Udara akan tersaput dengan harum magnolia.&lt;br /&gt;Seandainya waktu berkurang lima atau enam tahun, aku bahkan akan menunggunya di ujung jalan.&lt;br /&gt;Aku akan menyapanya dengan segala kesopanan. Aku yakin dia akan menarik bibir merahnya dengan senyuman yang ramah. Kalaupun tidak, dia tentu akan menjawab sapaanku dengan lirik mata yang mendebarkan atau suara yang mendesis seperti bisik angin. Kalaupun tidak juga, aku akan memaksanya berjalan merendenginya di sepanjang gang yang sunyi. Bila perlu merangkulkan tanganku di pundaknya.&lt;br /&gt;Tapi sampai ketukan itu larut di udara malam, aku masih terempas dalam kesunyian yang makin mengimpit.&lt;br /&gt;Aku hanya bisa membelai permukaan bilah pisauku, pelan-pelan dari pangkal, dan aku merasainya seakan-akan jemariku menyusuri permukaan punggungnya—duhai, aku bahkan belum tahu namanya.&lt;br /&gt;Tak lama lagi dia, setelah lelah sejak sore menghibur para lelaki yang kelelahan, akan sampai di rumahnya. Tepatnya, salah satu kamar di rumah mewah hampir di ujung jalan. Dia akan membuka pagar besi rumah itu, lalu akan terdengar derit yang menyilet hening, membuka kunci pintu samping, menutupnya kembali, berjalan menaiki tangga, dan membuka pintu kamar depan di lantai dua. Ketika pintu terbuka, pasti akan meruap wangi yang tak kalah segar dari dalam kamar. Mungkin dia akan langsung merebahkan tubuh rampingnya di kasur yang empuk dengan seprai merah muda yang harum. Mungkin juga dia akan membuka dulu bajunya, mengambil handuk, lalu membasuh tubuh telanjangnya dengan air yang sejuk.&lt;br /&gt;Setelah itu, akan ia kenakan gaun tidur hijau pupus yang lembut. Sama lembutnya dengan hijau tangkai pisauku. Dia pasti sangat menyukai warna hijau. Gaun hijau sutra itu halus dan tipis sehingga akan menerawangkan warna kulitnya yang pualam dan bentuk tubuhnya yang mengingatkanku pada sosok Dewi Supraba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II&lt;br /&gt;OH, kenapa kamu selalu gelisah, lelaki? Kamu ingin keluar mencegat perempuan malam itu? Keluarlah. Muncratkan semua kepenatan dalam dadamu. Aku tak ingin menjadi penjara bagimu. Kalau kauanggap bahwa apa yang ada dalam pikiranmu akan membuatmu menjadi laki-laki, ayolah kumpulkan keberanianmu, buka pintu hati-hati supaya kamu yakin tak akan membangunkanku. Dan aku tak akan membuka mata seandainya pun aku bangun dan mengetahuinya. Bukalah pintu, menyelinaplah keluar seperti kucing. Bukankah laki-laki itu memang kucing? Tutup lagi pintu. Kalau perlu, kuncilah dari luar biar aku terkurung di dalam, dalam ketidaktahuan—setidaknya tidak tahu menurut anggapanmu.&lt;br /&gt;Senyampang keletak-keletuk suara sepatunya masih menggema di telinga, keluarlah melalui pintu muka. Sapalah dia dengan segala kesopanan. Aku yakin dia akan menarik bibir merahnya dengan senyuman yang ramah. Kalaupun tidak, dia akan menjawab sapaanmu dengan lirik mata yang mendebarkanmu atau suara yang mendesis seperti bisik angin. Tapi, kalaupun tidak juga, jangan memaksanya berjalan merendenginya di sepanjang gang yang sunyi, apalagi merangkulkan tanganmu di pundaknya.&lt;br /&gt;Pasti dia terlalu lelah karena sejak sore menghibur para lelaki yang kelelahan. Temani saja sampai rumahnya. Tepatnya, salah satu kamar di rumah mewah hampir di ujung jalan. Bukakan pagar besi rumah itu, hati-hati, pasti akan terdengar derit yang menyilet hening. Antar dia membuka kunci pintu samping, menutupnya kembali, berjalan menaiki tangga, dan membuka pintu kamar depan di lantai dua. Kamu pasti akan suka karena ketika pintu terbuka, akan meruap wangi yang tak kalah menyegarkan dari dalam kamar. Kamu pasti akan lebih suka kalau dia akan langsung merebahkan tubuh rampingnya di kasur yang empuk dengan seprai merah muda yang harum, apalagi kalau dia membuka dulu bajunya, mengambil handuk, lalu membasuh tubuh telanjangnya dengan air yang sejuk.&lt;br /&gt;Bukankah kamu selalu membayangkan indahnya pemandangan itu?&lt;br /&gt;Hei, kamu masih gelisah di sini, lelaki?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III&lt;br /&gt;KELETAK-keletuk bunyi sepatuku yang beradu dengan lapisan beton memukul-mukul hening malam. Dan memukul-mukul dadaku. Aku seperti menjadi manusia soliter, sendirian hidup ketika alam semesta tidur. Dan sebentar pagi aku akan menjadi satu-satunya manusia yang mati ketika alam semesta hidup disiram matahari.&lt;br /&gt;Oh, tidak, aku yakin, di sebuah kamar, seorang lelaki tengah gelisah. Hampir tiap malam aku merasakan sepasang mata memandang dari kegelapan seperti hendak menelanku. Aku tak pernah melihat mata itu. Tapi aku merasakan sorotnya, seperti sepasang garis sinar sejajar yang memancar dari sudut malam yang pudar.&lt;br /&gt;Dasar lelaki, ayolah sibakkan tirai jendelamu, intiplah keremangan jalan ini. Akan lebih baik lagi kalau kau tidak terus-menerus sembunyi, tapi bukalah pintu kamarmu, lalu keluar dan menungguku di pintu pagar. Sapalah aku dengan ucapan selamat malam. Atau selamat pagi. Aku akan menoleh sambil kuberikan sisa senyumku.&lt;br /&gt;Tapi sampai kulewati kamarmu yang temaram, aku hanya menjumpai kesunyian yang makin mengimpit.&lt;br /&gt;Aku memang lelah karena sejak sore menghibur para lelaki yang mengaku kelelahan. Namun aku senang melakukannya karena dengan demikian aku menjadi makin tahu bahwa semua lelaki memang tolol.&lt;br /&gt;Mereka saling berebut kekayaan sepanjang siang seperti binatang yang berebut makanan, hanya untuk dibuang dalam beberapa kejapan malam harinya, dengan alasan untuk mengusir kelelahan.&lt;br /&gt;Ah, ayolah, lelaki, bukankah kamu sama dengan semua lelaki itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IV&lt;br /&gt;AH, perempuan, maafkan aku. Kau terlalu indah, karena itu izinkan aku melukis tubuhmu, untuk bisa kunikmati sendiri lukisannya. Kamu terlalu indah untuk juga dimiliki lelaki lain.&lt;br /&gt;Telah kusiapkan kuas yang khusus. Ujungnya memang tajam mengilat, dan tak perlu cat jenis apa pun untuk melukis tubuhmu. Mungkin aku akan memulai dengan ujung telunjuk kiriku sebagai semacam garis kasar, yang akan diikuti dengan ujung pisau lipatku. Ya, ya, akan kumulai dari bawah tengkuk lehermu. Bukankah di sana ada tato kupu-kupu yang membentangkan sayapnya yang biru? “Kenapa kau senang tato kupu-kupu?” begitulah aku akan bertanya lebih dulu. “Karena indah sekaligus rapuh,” pasti demikian jawabmu. Ironi yang indah, bukan?&lt;br /&gt;Dari gambar kupu-kupu di tengkukmu, perlahan-lahan akan kususuri dengan ujung jariku, sekaligus ujung pisauku, lekukan di tengah punggungmu yang melandai dan bera&amp;shy;khir di lembah di antara tonjolan bokongmu yang membukit.&lt;br /&gt;Lukisan Rembrant atau Monet, repertoar Beethoven atau Mozart, puisi Keats atau apalagi sekadar Goenawan, hanyalah ujung kuku dibanding keindahanmu.&lt;br /&gt;Dan aku ingin menikmati sendiri.&lt;br /&gt;“Aku ingin memilikimu selama hidupku. Dengan cinta.” Begitulah aku akan berbisik, sebelum kau meregang nyawa di puncak cinta. Mungkin kau akan tertawa, disertai air mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;V&lt;br /&gt;HEI, lelaki, apa artinya cinta?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;VI&lt;br /&gt;Ha-ha-ha!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5277617973649974022-4869417837070334227?l=hermawan-aksan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hermawan-aksan.blogspot.com/feeds/4869417837070334227/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5277617973649974022&amp;postID=4869417837070334227' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5277617973649974022/posts/default/4869417837070334227'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5277617973649974022/posts/default/4869417837070334227'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hermawan-aksan.blogspot.com/2008/02/cinta.html' title='Cinta'/><author><name>Hermawan Aksan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06299037799823191218</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5277617973649974022.post-3545649800082158988</id><published>2008-02-17T22:43:00.001-08:00</published><updated>2008-02-17T22:47:18.152-08:00</updated><title type='text'>Republik Bodor</title><content type='html'>(Carpon ini dimuat di majalah &lt;em&gt;Mangle&lt;/em&gt; No 2156, 12-20 Pebruari 2008)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IEU téh carita ngeunaan hiji nagara. Lain nagara urang tangtuna gé. Ngaranna téh nagara Aratnasun. Aya ogé nu pada nyebut Aisénodni. Tapi kulantaran pangeusi nagara téh bodor wungkul, éta nagara leuwih sohor ku ngaran nagri bodor.&lt;br /&gt;Ngaranna gé nagri bodor, atuh présidénna, para menteri, anggota déwan, gupernur, bupati, walikota, camat, tepi ka para kapala désa, kabéh gé bodor wungkul. Kitu deui para bos pausahaan, para artis sinétron tur panyanyina. Para guru, murid, mahasiswa, wartawan, tukang baso, jeung nu séjénna, sarua kabéh gé bodor kénéh. Cindekna mah, sakabéh rahayat éta nagara téh bodor wungkul.&lt;br /&gt;Kulantaran bodor téa, pagawéan maranéhanana téh sapopoéna nya ngabalodor. Paripolahna paripolah bodor. Beuteung burayut jiga balon, beungeut bodas kawas kapas, irung buleud beureum jiga kueh apem. Dibaju polkadot rupa-rupa warnana, atawa kumaha waé rupana, maranéhanana ting réngkénék di mana jeung iraha baé. Maranéhanana ngabodor ti saprak hudang isuk-isuk tepi ka reup saré peuting-peuting, di imah, di pasar, di mal, di kampus, di kantor-kantor, pokona mah di mana baé.&lt;br /&gt;Da puguh bodor, atuh sistim politik éta nagara téh sakadaék wé, kumaha anu jadi pamingpin harita. Aya éta gé nu pada nyarebut ku maranéhna undang-undang dasar nagri bodor, tur tétéla pisan disebutkeun di dinya yen bentuk nagarana téh républik. Tapi da kanyataanana mah présidén bodor bet boga kalakuan sakumaha umumna para raja, malah osok leuwih ti éta: maharaja, najan tangtu wé maharaja bodor. Kitu deui para menterina, teu béda jeung para hulubalang raja. Ku sabab sistimnya teu puguh téa, présidén bodor bisa wé asalna ti partéy mana waé, kaasup partéy nu aya ngaranna wungkul.&lt;br /&gt;Baheula, basa présiden bodor nu ti heula lungsur ku para mahasiswa nu geus bosen jaradi bodor, timbul harepan bakal aya perobahan. Harita teuing ti mana jolna, loba jelema anu ngusulkeun sangkan aya réformasi dina sagala widang.&lt;br /&gt;Ngan hanjakal, para bodor jumlahna leuwih loba batan jelema. Kitu deui kakawasaanana leuwih kuat. Ku kituna, sora-sora anu ngusulkeun perobahan téh beuki lila beuki pareum. Antukna, nu kadenge mah angger wé sora ting cikikik jeung kecap-kecap anu teu puguh hartina. Sawaréh, loba jelema anu ahirna ngagabung jeung para bodor, ngajadi bodor. Sawaréh deui mah teuing ka marana lesna.&lt;br /&gt;Ti saprak harita loba bodor anu dibaju sakumaha umumna jelema: maké jas seungit, pantalon rapih, dasi warna-warni, sapatu hérang ngagenclang, tur buuk diminyak fresh look téa. Ngan hanjakal, haténa jeung kalakuanana mah angger wé bodor.&lt;br /&gt;Matak teu héran, basa maranéhanana ngarasa geus ngalakukeun réformasi, sihoréng ngan ukur api-api réformasi, nya réformasi bodor téa. Kitu deui, maranéhanana ngarasa geus milih jelema sina dilungguhkeun jadi présidén, tapi sihoréng nyalahan. Sabab, anu dipilih jadi présidén téh bodor pituin najan dibaju jiga jelema gé. Para menterina sarua kénéh, paripolahna angger bodor najan beungeut jeung pakéanana kawas jelema.&lt;br /&gt;Bari seuri ting cikikik, para pajabat nagri bodor ngahakanan naon waé nu bisa dihakan, ngalegut naon waé nu bisa diinum, tur nyokotan naon waé nu kahontal, teu paduli éta téh lain anu maranéhanana. Di nagri manusa mah éta téh kasebutna korupsi. Tapi di nagri bodor mah lain. Teuing naon ngaranna. Nu puguh mah lain korupsi. Sabab, tacan kacaritakeun aya pajabat nagri bodor anu enya-enya dihukum kulantaran maokan duit nagara. Enya gé maranéhanana pada nyarebut koruptor, maranéhanana bet kalahka malik bungah. Teuing ku naon. Meureun pédah kabéh koruptor geuningan bisa kénéh jadi pajabat.&lt;br /&gt;Malah mah para bos bodor anu nelegan duit nepi ka triliunan gé masih bisa kénéh bébas ka mana-mendi, bari euweuh tanda-tanda maranéhanana bakal dibui. Rék dibui kumaha, sagala bukti nu aya bisa laleungitan teuing ka mana.&lt;br /&gt;“Abdi mah teu gaduh artos sapérak-pérak acan,” cenah ceuk salah sahiji pajabat bodor manten. Kituna téh bari imut, bangun anu teu boga dosa nanaon.&lt;br /&gt;Heuheuy.&lt;br /&gt;Ngan anéhna, sanajan dipaokan ku lobaan, sumber duit nagri bodor mah weléh ngocor waé. Mun diibaratkeun tangkal mah, subur pisan. Tangkal para pajabat bodor, tangtuna gé. Da ari tangkal rahayat bodor mah beuki lila beuki garing, euweuh daunan.&lt;br /&gt;Nu ramé deui mah mun geus tepi kana waktuna lima taun sakali, nyaéta anu pada nyarebut pésta démokrasi téa. Pésta démokrasi rahayat bodor.&lt;br /&gt;Leuh, saméméh pésta téa, hiji-hiji para inohong bodor naék kana panggung, ngabalodor pikeun narik haté rahayat bodor. Maranéhanana teu kudu éra ngawadul lantaran mun teu kitu mah cenah moal matak narik. Para koruptor ngawadul sual kumaha carana ngabasmi korupsi. Para pajabat bodor anu biasa ngaheureuykeun hukum pagedé-gedé wadul pikeun nanjeurkeun hukum. Para tukang ngawadul patarik-tarik sora ngeunaan cara pikeun nanjeurkeun kajujuran.&lt;br /&gt;Ari pésta geus lekasan mah, naha éta para pajabat bodor inget kénéh atawa henteu kana sagala jangji maranéhanana, teu penting. Ngaranna gé bodor, maranéhanana ngarasa teu boga kawajiban pikeun ngalaksanakeunana.&lt;br /&gt;Para pajabat bodor téh euweuh kaéra kitu? (Naon? Éra?)&lt;br /&gt;Enya, é-r-a, atawa i-s-i-n. Di nagri bodor mah jigana geus lila pisan éta kekecapan téh ngaleungit, teuing ka mana.&lt;br /&gt;Tingali wé geura barudak sakolana. Maranéhanana ukur sura-seuri lamun guru-guruna keur ambek ku lantaran teu maliré kana aturan sakola. Di imah nya kitu deui, barudak téh ukur ting séréngéh lamun kolotna ambek ku lantaran kanyahoan ngalakukeun kasalahan.&lt;br /&gt;Tapi da uyah mah tara téés ka luhur. Barudak bodor mah boga kalakuan kitu gé tangtuna ngala ka indung-bapa jeung guru-guru bodor.&lt;br /&gt;Sok wé tingali deui dina acara telepisi, loba pisan kajadian jelema teu uyahan nu umurna geus meh tunggang gunung ngagadabah barudak leutik bari jeung bangun anu teu ngarasa salah.&lt;br /&gt;Tingali geura, dina acara-acara nu biasana disiarkeun tengah peuting, éta pangalaman nu kuduna disumput-sumput téh dibolékér-bolékérkeun sajalantrahna. Kahirupan marenahna mun keur dugem. Bobogohan kawas sato, teu boga ka éra. Ngahaja patukeur-tukeur pamajikan. Jeung réa-réa deui.&lt;br /&gt;Tuh geura, para pajabat bodor anu ku saréréa pada nyaho ngalakukeun korupsi milyaran gé bet kalah ka ngahaja harayang diékspos dina surat kabar jeung telepisi, bari dibarung ku imut mun dipotrét atawa dirékam kaméra téh. Ceuk maranéhna mah, kalakuan maranéhna téh lain kalicikan, da teu ngarempak kana aturan tinulis atawa undang-undang.&lt;br /&gt;Enya gé aya sababaraha kali pajabat bodor anu dibui alatan korupsi, lain hartina maranéhanana asup bui cara para maling kelas kambing. Maranéhanana mah di jero bui gé lir ibarat mondok di kamar suite hotél bintang genep, tur dilayanan jiga para putra raja. Maranéhanana bisa kénéh boga kabébasan ngalakukeun naon baé cara keur bébas kénéh. Para narapidana bodor téh masih bisa kénéh ngatur kabéh pausahaan maranéhanana, ngarasakeun kahirupan biasa, malah mah bisa kénéh jadi pamingpin organisasi maén bal nagara bodor. Sanajan préstasi maén bal éta nagri téh angger tikusruk, tur loba pihak anu ngusulkeun ngarah éta pamingpin téh lungsur tina korsi katua, éh, da keukeuh wé. Tuda éta, anak buahna siap ngabéla tohpati jiwaraga.&lt;br /&gt;Geus kitu, para anggota déwan perwakilan rakyat bodor mah nurus tunjung teu katulungan. Maranéhanana unggal bulan tutuluyan ménta naék gajih jeung tunjangan hirup. Mun teu kitu, aya waé istilahna téh. Umpamana baé ménta sangkan tunjangan komunikasi téh ditaékkeun. Naon nu disebut tunjangan komunikasi, rahayat bodor mah teu nyarahoeun.&lt;br /&gt;Para anggota déwan perwakilan rakyat bodor tuluy ngayakeun sidang istiméwa, paripurna, kabéh anggota haladir, da anu dibahasna gé pasualan anu pohara pentingna. Penting pikeun para anggota déwan bodor téa, nyaéta maranéhna merelukeun laptop. Alesanana kieu cenah: ayeuna téh apan jaman supra-modéren tur laptop téh geus jadi kabutuhan penting pisan ibarat pakéan. Ceuk maranéhanana téh, mun teu boga laptop, maranéhanana teu bisa ngalaksanakeun tugas ngabéla kapentingan rahayat sakumaha kuduna. Rék katepi ku akal atawa henteu, teu jadi sual, da bodor mah tara mikir. Ku kituna, ayana laptop geus jadi kawajiban. Laptopna gé lain laptop sambarangan, tapi produk pang anyarna kalawan spésifikasina gé pang canggihna. Hargana mahal saeutik mah teu nanaon. Kumaha mun aya rahayat bodor nu protés? Bejakeun wé yen éta téh pikeun karaharjaan rahayat. Naha enya para anggota déwan bodor téh bisa maké laptop, teu kudu ditanyakeun. Apan Tukul Arwanabodor gé bisa mamawa laptop bari sanajan teu bisa makéna. Heuheuy!&lt;br /&gt;Tah, éta téh kabéh gé ngagambarkeun yén saenyana mah ti baheula gé para anggota déwan bodor mah teu kungsi ngalaksanakeun tugasna pikeun ngawakilan rahayat bodor. Kuduna mah apan ngadedengékeun naon saenyana aspirasi rahayat téh. Éta mah bet kalahka mikiran diri sorangan, paduli teuing nasib rahayat mah. Kuduna mah apan maranéhanana téh ngawaskeun para pajabat éksekutif. Éta mah bet kalahka ngadukung naon baé kaputusan pajabat éksekutif, da geus puguh beubeunanganana: Volvo, Mercy, atawa Toyota Auris.&lt;br /&gt;Kadieunakeun nagri bodor téh katalangsara ku alatan bencana alam di mana-mana. Mun keur usum halodo, panas éréng-éréngan lir ibarat sagara keusik pabeubeurang. Walungan jeung talaga sararaat, leuweung kahuruan. Sabalikna, lamun keur usum hujan, walungan ngagalura di mana-mana, ngeueum ti désa nepi ka kota-kota. Pasir arurug. Bumi eundeur ku lini, gunung-gunung olab ngutahkeun lahar jeung lava. Lautan ngagolak nelegan mangratus rébu jelema.&lt;br /&gt;Salian ti bencana alam, beuki loba waé kacilakaan téh. Kapal udara ragrag, kapal laut kalebuh, karéta api tisolédat tina rélna, beus tabrakan jeung treuk, jeung réa-réa deui. Korban mah geus teu kaitung deui jumlahna.&lt;br /&gt;Ngan anéhna, para pajabat bodor mah angger pating barakatak bari ngabaheuhay. Ceuk pikiran maranéhanana, nu penting mah sagala mamala téh euweuh pakaitna jeung diri sorangan. Kari ngodok pésak wé, beulikeun kana indomi saratus dus, bikeun ka para korban, bari diliput ku média massa. Bérés.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;HIJI poé, aya sababaraha urang rahayat bodor nu beuki teu sugema ningali kaayaan kawas kitu. Maranéhanana tuluy ka ditu ka dieu néangan manusa. Manusa enyaan, nu teuing di mana ayana. Maranéhanana neangan jelema anu pada nyarebut satria piningit téa, nu dipiharep pisan bisa ngaropéa kaayaan.&lt;br /&gt;Ngan hanjakal néangan manusa modél kitu téh lir ibarat néangan jarum di jero walungan. Sababaraha kali maranéhanana yakin geus manggihan satria piningit. Tapi teu lila maranéhanana sadar yén nu kapanggih téh sihoréng… satria piningit bodor.&lt;br /&gt;“Geus atuh lah. Nagri bodor mah da kuduna gé diparéntah ku bodor. Mun ku jelema, meureun nagri urang moal lucu deui,” kitu cenah ceuk salah sahiji pajabat bodor. Éta pamadegan téh pada satuju ku sakabéh pajabat bodor séjénna.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Right or wrong is my clown country&lt;/em&gt;, ceuk maranéhanana bari ngabarakatak. Dasar bodor.&lt;br /&gt;Heuheuy deudeuh.&lt;br /&gt;***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5277617973649974022-3545649800082158988?l=hermawan-aksan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hermawan-aksan.blogspot.com/feeds/3545649800082158988/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5277617973649974022&amp;postID=3545649800082158988' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5277617973649974022/posts/default/3545649800082158988'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5277617973649974022/posts/default/3545649800082158988'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hermawan-aksan.blogspot.com/2008/02/republik-bodor.html' title='Republik Bodor'/><author><name>Hermawan Aksan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06299037799823191218</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5277617973649974022.post-4377640350853238735</id><published>2008-02-11T00:09:00.000-08:00</published><updated>2008-02-11T00:22:16.057-08:00</updated><title type='text'>Bewara Kupas Tuntas</title><content type='html'>Bewara ini kudapatkan justru dari milis kisunda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DI ATAS LAPANGAN BUBAT, TERBURAI LUKA DUA PERADABAN.&lt;br /&gt;ANTARA KEJAYAAN MAJAPAHIT DAN KEHORMATAN SUNDA GALUH.&lt;br /&gt;DEMARKASI BUDAYA MEMBUNCAHKAN PRASANGKA JAWA-SUNDA.&lt;br /&gt;BAGAIMANA KINI SUNDA DAN JAWA MELIHAT TRAGEDI BUBAT?&lt;br /&gt;BAGAIMANA PANDANGAN LANGIT KRESNA HARIADI (PENGARANG NOVEL"PERANG BUBAT") DAN HERMAWAN AKSAN (PENGARANG NOVEL "DYAHPITALOKA") MENGENAI PERISTIWA TERSEBUT?&lt;br /&gt;SAKSIKAN EPISODE "SANDYAKALANING LANGIT BUBAT"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;K U P A S  T U N T A S&lt;br /&gt;SELASA, 12 FEBRUARI&lt;br /&gt;2008 PUKUL 23.30 WIB&lt;br /&gt;HANYA DI TRANS7&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5277617973649974022-4377640350853238735?l=hermawan-aksan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hermawan-aksan.blogspot.com/feeds/4377640350853238735/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5277617973649974022&amp;postID=4377640350853238735' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5277617973649974022/posts/default/4377640350853238735'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5277617973649974022/posts/default/4377640350853238735'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hermawan-aksan.blogspot.com/2008/02/bewara-kupas-tuntas.html' title='Bewara Kupas Tuntas'/><author><name>Hermawan Aksan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06299037799823191218</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5277617973649974022.post-4820201927382230257</id><published>2008-02-07T22:34:00.000-08:00</published><updated>2008-02-07T22:40:00.353-08:00</updated><title type='text'>Ucapan Terima Kasih untuk Editor</title><content type='html'>SAHABAT saya, Endah Sulwesi (seorang penulis ulasan buku di sebuah blog internet, dan belakangan di media cetak juga), beberapa waktu lalu dengan nada penuh rasa kasihan bercerita tentang peluncuran sebuah buku: “Her, nama kamu sama sekali tidak disebut-sebut oleh penulisnya. Jangankan berterima kasih, menyebut sekali pun tidak.”&lt;br /&gt;Buku itu adalah sebuah memoar dan saya merasa mendapat kehormatan menjadi penyunting naskahnya sebelum diterbitkan. Meski masih muda, penulisnya memang sudah dikenal banyak orang. Peluncuran itu pun berlangsung secara mewah di sebuah hotel megah, dihadiri banyak tokoh penting, mulai dari selebritas, wartawan senior, dan tokoh pendidikan, serta diliput pers secara cukup luas.&lt;br /&gt;Sehari sebelumnya, Endah sempat bertanya: “Kamu dapat undangan peluncuran buku itu?” Saya menjawab tidak. “Memangnya kapan diluncurkan?” tanya saya. “Besok,” jawab Endah.&lt;br /&gt;“Bahkan dalam bukunya, di antara deretan orang yang diberi ucapan terima kasih, namamu tidak disebut-sebut,” kata Endah. Waktu itu saya memang belum melihat bukunya. Dan tulisan pengantar dari sejumlah orang serta beberapa lampiran memang di luar tugas penyuntingan saya.&lt;br /&gt;“Tapi namaku sebagai penyunting tercantum, kan?” seloroh saya.&lt;br /&gt;“Ya, tentu saja itu sih ada.”&lt;br /&gt;Saya kurang yakin waktu itu, apakah saya merasa sedih, kecewa, atau biasa-biasa saja ketika saya berkomentar: “Ya, sudah, enggak apa-apa. Aku cuma editor, editor lepas pula, dan seorang editor biasanya memang tidak pernah banyak disebut-sebut. Editor adalah orang yang katakanlah cukup berada di belakang layar. Editor mungkin bagian penting dari sebuah proses penerbitan, tapi tak perlu berharap banyak untuk bisa dianggap sebagai berperan penting kalau dibandingkan dengan misalnya pemberi kata pengantar, apalagi penulisnya.”&lt;br /&gt;Belakangan saya sempat berpikir, seberapa penting sebenarnya peran editor sehingga layak, atau tidak layak, mendapat ucapan terima kasih dari penulis buku? Tak ada pihak lain yang bisa mengukur seberapa penting peran sang editor. Apakah setelah mendapat sentuhan editor sebuah naskah akan menjadi lebih baik, sama saja, atau lebih buruk, hanya si penulis dan Tuhan saja yang tahu.&lt;br /&gt;Editor, atau redaktur di sebuah media massa, berhak memoles tulisan seseorang yang hendak dimuat. Pembaca nyaris tak pernah tahu apakah tulisan yang kemudian dimuat itu lebih baik, atau lebih buruk, daripada tulisan aslinya. Pembaca hanya tahu tulisan itu karya si penulis dan hampir pasti tidak berpikir sejauh mana peran si redaktur. Redaktur, sekali lagi, hanyalah orang yang ada di belakang layar. Sebagai tambahan, kalau tulisan itu menjadi lebih baik, belum tentu si penulis mengucapkan terima kasih. Sebaliknya, kalau tulisan itu menjadi lebih buruk (setidaknya menurut sudut pandang si penulis), si penulis pasti marah-marah, setidaknya bersungut-sungut. Jangan lupa, banyak penulis kita yang enggan tulisannya diedit meskipun sekadar titik atau koma.&lt;br /&gt;Pada proses penerbitan buku pun, editor harus berperan untuk memoles sebuah naskah menjadi buku yang baik. Baik di sini, tentu saja, bukan hanya persoalan titik dan koma, tapi juga—diharapkan—sukses di pasaran. Bersama penulis, &lt;em&gt;layouter&lt;/em&gt;, dan &lt;em&gt;marketer&lt;/em&gt;, editor tergabung dalam sebuah tim yang menentukan sukses sebuah buku. Karena itu, editor harus memiliki kemampuan tidak hanya pada titik-koma atau pengetahuan kata baku dan tidak baku. Menurut Bambang Trimansyah, seorang praktisi perbukuan, editor semestinya profesi yang serba bisa, yaitu punya kemampuan sebagai &lt;em&gt;problem solver&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;decision maker&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;public speaker&lt;/em&gt;, serta &lt;em&gt;effective people&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;Sayangnya, memang, belum banyak editor penerbitan di Indonesia yang memiliki kemampuan serba bisa seperti itu. Sapardi Djoko Damono pernah mengatakan bahwa editing merupakan salah satu kelemahan terbesar penerbit di Indonesia. “Tidak pernah ada editing yang sungguh‑sungguh. Saya sering bilang, editor itu seharusnya lebih pintar dari pengarangnya karena ia harus mengolah kembali naskah dari si pengarang itu. Misalnya kita diminta menerjemahkan, karena diminta, kita mengerjakannya cepat sekali. Nah, tugas editorlah yang kemudian menjadikannya sebagai karya yang benar‑benar bagus untuk diterbitkan,” kata sang penyair.&lt;br /&gt;Tentang kerja editor ini, Sapardi punya pengalaman yang cukup baik dengan editor penerbit Obor yang menerbitkan terjemahannya, &lt;em&gt;Amarah&lt;/em&gt; karya John Steinbeck. “Kalau ada hal‑hal yang mengganggu dalam terjemahan saya itu, si editor menghubungi saya. Kadang menanyakan soal konsistensi penulisan. Saya senang dengan proses seperti itu. Soalnya, hasil terjemahan itu kan tidak untuk saya. Saya menerjemahkan untuk orang lain, pembaca, karena itu orang lain harus bisa baca,” kata Sapardi.&lt;br /&gt;Menurut saya, editor memang perlu terus-menerus berkomunikasi dengan penulis. Penulis pastilah bukan nabi, yang nyaris tak melakukan kesalahan. Dan tugas editorlah untuk menemukan kesalahan, kemudian memperbaikinya, tentu atas perkenan sang penulis.&lt;br /&gt;Ketika menyunting sebuah naskah novel, editor mestinya tak segan-segan memberikan usulan perbaikan kalau sekiranya menemukan kesalahan atau kekurangan, lebih-lebih jika berkaitan dengan logika. Banyak novel Indonesia yang ceritanya tidak masuk akal. Dan, menurut saya, editor turut menyumbang terhadap terbitnya karya yang ceritanya tak masuk akal itu.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;NAH, nyaris secara iseng saya membuka-buka sejumlah buku. Yang pertama adalah salah satu &lt;em&gt;best seller&lt;/em&gt; yang tentu tak asing lagi bagi para penggemar buku, yakni &lt;em&gt;Da Vinci Code&lt;/em&gt; karya Dan Brown. Beginilah Brown menulis pada bagian awal buku itu: “Pertama-tama dan yang utama, bagi sahabat dan editorku, Jason Kaufman, karena bekerja amat berat untuk proyek ini, dan terima kasihku untuk pemahaman yang sungguh-sungguh pada makna dari buku ini.” Setelah itu, barulah Brown menghaturkan ucapan terima kasih untuk agennya, tim risetnya, dan seterusnya.&lt;br /&gt;Kemudian saya membuka buku &lt;em&gt;Memoirs of a Geisha&lt;/em&gt;. Di bagian akhir bukunya ini, Arthur Golden pertama-tama memberikan ucapan terima kasih kepada Mineko Iwasaki, seorang geisha top Gion tahun 1960 dan 1970-an. Kemudian kepada istrinya, Trudy. Lalu, “Robin Desser dari Knopf adalah jenis editor yang diimpikan setiap pengarang: penuh gairah, berwawasan luas, bertanggung jawab, selalu siap membantu—dan lagi pula sangat menyenangkan.” Baru kemudian ia berterima kasih kepada agen, sahabat, dan seterusnya.&lt;br /&gt;Dalam &lt;em&gt;Spring Moon&lt;/em&gt;, Bette Bao Lord mengucapkan terima kasih “Untuk Orang tua Cina dan Amerika-ku, suamiku, Winston Lord, dan editorku, Corona Machemer. Untuk segala kebaikan yang takkan terbalaskan.”&lt;br /&gt;Sonia Nazario, pemenang Pulitzer 2003 melalui buku &lt;em&gt;Enrique’s Journey&lt;/em&gt;, mengakui dalam bukunya itu bahwa ia tak akan mampu mengerjakan buku ini tanpa dukungan para editor &lt;em&gt;Los Angeles Times&lt;/em&gt;, surat kabar yang pertama kali memuat tulisan bersambung &lt;em&gt;Enrique’s Journey&lt;/em&gt;, yang menjadi dasar buku ini. Ia mengungkapkan terima kasihnya yang pertama untuk Rick Meyer dan John Carroll, dua editor &lt;em&gt;LA Times&lt;/em&gt;. Kemudian, di penerbit Random House, “saya ingin berterima kasih kepada editor saya, Dan Menaker, yang masukan dan kegairahannya untuk buku ini membuat setiap bagian dari cerita ini lebih baik, dan editor Stephanie Higgs serta editor produksi Evan Camfield atas kehati-hatian yang mereka tunjukkan dalam bekerja untuk membuat yang terbaik dari masing-masing bagian buku.”&lt;br /&gt;Banyak buku lain, terutama buku terjemahan, memuat ucapan terima kasih yang sama. Buku-buku karya penulis Indonesia, di pihak lain, tak banyak yang memuat ucapan serupa. Yang menarik, beberapa di antara buku penulis kita memuat kata pengantar dari orang-orang penting, termasuk pejabat. Tapi ini soal lain. Di antara sedikit penulis yang mengucapkan terima kasih buat editor bukunya adalah Dewi Lestari (Dee). Dalam &lt;em&gt;Supernova, Akar&lt;/em&gt;, Dee berterima kasih kepada sederet banyak orang, kemudian kepada “Erwinthon Napitupulu, editor saya yang teliti dan membangun.” Setelah itu kepada sahabat dan teman kerja.Mengucapkan terima kasih, tentu saja, bukanlah sebuah keharusan, melainkan sekadar menunjukkan apakah seseorang bisa bersikap rendah hati atau tidak, mengakui atau tidak bahwa ia memiliki sejumlah keterbatasan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5277617973649974022-4820201927382230257?l=hermawan-aksan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hermawan-aksan.blogspot.com/feeds/4820201927382230257/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5277617973649974022&amp;postID=4820201927382230257' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5277617973649974022/posts/default/4820201927382230257'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5277617973649974022/posts/default/4820201927382230257'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hermawan-aksan.blogspot.com/2008/02/ucapan-terima-kasih-untuk-editor.html' title='Ucapan Terima Kasih untuk Editor'/><author><name>Hermawan Aksan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06299037799823191218</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5277617973649974022.post-1092381789996616763</id><published>2008-02-06T03:10:00.000-08:00</published><updated>2008-02-06T03:40:19.370-08:00</updated><title type='text'>Cerpen Nirwan Dikritik Habis</title><content type='html'>Tampaknya banyak yang tidak menyukai "kubu" Teater Utan Kayu (TUK), termasuk di dalamnya Nirwan Dewanto, yang dinilai memosisikan diri sebagai pembawa bendera sastra paling berkualitas di negeri ini.&lt;br /&gt;Aku ingat dalam sebuah diskusi di CCF, mungkin setahun lalu, Nirwan bilang begini: tak ada puisi bagus di Indonesia. Duh, sombongnya orang ini, pikirku waktu itu. Kata-kata Nirwan menyulut "kemarahan", antara lain, Soni Farid Maulana.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://terpelanting.blogspot.com/2007/12/cerpen-nirwan-salah-fatal.html"&gt;Berikut ini&lt;/a&gt; sebuah postingan di sebuah blog tentang kritik terhadap Nirwan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5277617973649974022-1092381789996616763?l=hermawan-aksan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hermawan-aksan.blogspot.com/feeds/1092381789996616763/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5277617973649974022&amp;postID=1092381789996616763' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5277617973649974022/posts/default/1092381789996616763'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5277617973649974022/posts/default/1092381789996616763'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hermawan-aksan.blogspot.com/2008/02/cerpen-nirwan-dikritik-habis.html' title='Cerpen Nirwan Dikritik Habis'/><author><name>Hermawan Aksan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06299037799823191218</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5277617973649974022.post-1436446205144189025</id><published>2008-02-06T03:02:00.000-08:00</published><updated>2008-02-06T03:10:09.422-08:00</updated><title type='text'>Saut vs TUK</title><content type='html'>Aku "menemukan" sebuah tulisan hasil wawancara dengan Saut Situmorang, yang dengan &lt;em&gt;boemipoetra&lt;/em&gt;-nya bertekad menghancurkan Teater Utan Kayu (TUK). Bacalah &lt;a href="http://hanyaudin.blogspot.com/2007/12/perang-sastra-boemipoetra-vs-teater.html"&gt;di sini&lt;/a&gt;.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5277617973649974022-1436446205144189025?l=hermawan-aksan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hermawan-aksan.blogspot.com/feeds/1436446205144189025/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5277617973649974022&amp;postID=1436446205144189025' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5277617973649974022/posts/default/1436446205144189025'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5277617973649974022/posts/default/1436446205144189025'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hermawan-aksan.blogspot.com/2008/02/saut-vs-tuk.html' title='Saut vs TUK'/><author><name>Hermawan Aksan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06299037799823191218</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5277617973649974022.post-8135737948386295991</id><published>2008-02-05T23:31:00.000-08:00</published><updated>2008-02-05T23:55:48.919-08:00</updated><title type='text'>Kisah Aluminium Foil Seribu Rupiah</title><content type='html'>Selasa, 5 Februari, aku naik buskota AC dari terminal Leuwipanjang, pada siang yang cukup membakar aspal. Bus masih berhenti menunggu penumpang, dan aku naik dari pintu depan. Aku duduk di kursi deretan ketiga atau keempat dari depan. Aku baru duduk beberapa detik saja, seorang pengasong membagi-bagikan sesuatu, yang ternyata berupa aluminium foil dalam bungkus plastik, seukuran kira-kira 5x20 cm persegi.&lt;br /&gt;Namun kursi yang kududuki terasa terlalu dekat dengan kursi di depannya sehingga kakiku tersiksa. Lutut harus beradu dengan kerasnya kursi depan. Maka aku memutuskan pindah ke kursi di deretan agak belakang. Aku tidak menyadari bahwa ketika aku pindah, si pengasong yang berjualan aluminium foil itu sedang mengambili dagangannya. Yang berniat membeli ya langsung bayar, yang tidak ya mengembalikan.&lt;br /&gt;Ketika aku sudah menemukan tempat duduk yang lebih nyaman, si tukang asong itu sudah turun dari bus. Dari jendela kaca, aku celingukan mencari-cari, tapi ternyata tak kelihatan. Ah, betapa kejamnya aku, kenapa tidak turun dan mencarinya di bawah?&lt;br /&gt;Di balik lembaran aluminium itu terbaca harganya: Rp 1000. Juga manfaat dan cara memakainya: aluminium ini bermanfaat untuk menambal barang yang bocor, semisal panci, talang, wajahn, dan sebangsanya. Cara memakainya sangat mudah: bersihkan dulu barang yang akan ditambal, lepaskan lapisan belakang aluminium, lalu tempelkan bagian yang ada perekatnya ke permukaan barang.&lt;br /&gt;Sempat bingung juga aku. Apa nanti kutinggalkan saja di kursi bus? Kalau demikian, ada kemungkinan barang ini diambil orang lain entah siapa, dan kemungkinan besar tak akan pernah kembali ke si pengasong. Atau kubawa saja ke rumah? Toh harganya cuma seribu. Mungkin aku bisa memanfaatkannya untuk apa saja. Mungkin juga untuk semacam koleksi atau apa lah namanya.&lt;br /&gt;Namun dua kemungkinan ini terasa membentur sesuatu dalam hati. Aku bukanlah orang yang terlalu peduli pada orang lain. Tapi kali itu aku sempat membayangkan: si pengasong itu mungkin membawa 20 atau 30 lembar dagangannya. Katakanlah dari satu lembarnya ia mendapat keuntungan 500 rupiah, maka kalau semua jualannya laku, ia memperoleh keuntungan 10-15 ribu rupiah. Dengan hilangnya salah satu dagangannya, ia sudah jelas rugi seribu rupiah. Aku yakin, nilai seribu ini sangat berarti baginya.&lt;br /&gt;Ketika bus sudah berjalan dan kondektur mulai menariki uang dari penumpang, tiba-tiba aku punya gagasan. Saat si kondektur sampai di tempatku, dengan cepat kusodorkan aluminium foil itu.&lt;br /&gt;"Kang, tolong saya titip ini buat dikembalikan lagi ke si pengasong. Tidak sempat terambil sama dia," kataku.&lt;br /&gt;Kondektur itu tersenyum ramah. "Oh, iya," katanya seraya menerima barang itu dan menyimpannya di saku bajunya.&lt;br /&gt;Setelah itu, dadaku benar-benar lega. Aku berdoa semoga aluminium foil itu kembali ke tangan yang berhak.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5277617973649974022-8135737948386295991?l=hermawan-aksan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hermawan-aksan.blogspot.com/feeds/8135737948386295991/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5277617973649974022&amp;postID=8135737948386295991' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5277617973649974022/posts/default/8135737948386295991'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5277617973649974022/posts/default/8135737948386295991'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hermawan-aksan.blogspot.com/2008/02/kisah-aluminium-foil-seribu-rupiah.html' title='Kisah Aluminium Foil Seribu Rupiah'/><author><name>Hermawan Aksan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06299037799823191218</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5277617973649974022.post-7169024241623911065</id><published>2008-02-04T22:43:00.000-08:00</published><updated>2008-02-05T00:33:39.717-08:00</updated><title type='text'>Tampil di Majalah Gatra</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp0.blogger.com/_OGfaUEk5vIA/R6gfAzd7k4I/AAAAAAAAAB8/5dqtSY6YNsY/s1600-h/Hermawan_di_Gatra.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5163411071456482178" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://bp0.blogger.com/_OGfaUEk5vIA/R6gfAzd7k4I/AAAAAAAAAB8/5dqtSY6YNsY/s320/Hermawan_di_Gatra.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Kali ini aku tampil di majalah &lt;em&gt;Gatra&lt;/em&gt;, edisi 31 Januari-6 Februari 2008, pada rubrik Buku halaman 84, dalam tulisan berjudul &lt;em&gt;Obat Dahaga Rumah Ketidakpastian&lt;/em&gt;, hasil wawancara beberapa waktu lalu, dan tentu saja digabung dengan narasumber lain, yakni Langit Kresna Hariadi, E.S. Ito, Asvi Warman Adam, dan lain-lain. Fotoku juga nampang di sana, hasil pemotretan di Taman Ganesha, ITB.&lt;br /&gt;Demikianlah kutipan dari tulisan yang disusun Rita Triana Budiarti itu (tentu saja yang menyangkut diriku, hehehe!):&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;... "Perang Bubat itu kan terjadi karena kesalahpahaman, multitafsir atas peristiwa sebenarnya," tutur Hermawan, yang wartawan surat kabar &lt;em&gt;Tribun Jabar&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;Dalam novelnya, Hermawan menampilkan Dyah Pitaloka, putri Raja Linggabuana dari Kerajaan Sunda Galuh (Pajajaran), sebagai sosok feminis pada masanya. Ia tak hanya rupawan, melainkan juga cendekia yang pandai berdebat.&lt;br /&gt;... Dalam versi Hermawan, Linggabuana ingin Hayam Wuruk menjemput calon istrinya. "Sudah merendahkan diri, masak &lt;em&gt;nggak&lt;/em&gt; dijemput?" kata lelaki asal Brebes, Jawa Tengah, itu.&lt;br /&gt;Tapi Hermawan tidak menempatkan Hayam Wuruk sebagai tokoh yang layak divonis bersalah. Biang keladinya justru ambisi Gajah Mada.&lt;br /&gt;... "Hayam Wuruk tidak berani menolak Gajah Mada," Hermawan menambahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja itu sekelumit. Tulisan keseluruhan, plus beberapa foto, memakan empat halaman. Pokoknya, tulisan Rita keren deh. &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5277617973649974022-7169024241623911065?l=hermawan-aksan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hermawan-aksan.blogspot.com/feeds/7169024241623911065/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5277617973649974022&amp;postID=7169024241623911065' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5277617973649974022/posts/default/7169024241623911065'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5277617973649974022/posts/default/7169024241623911065'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hermawan-aksan.blogspot.com/2008/02/tampil-di-majalah-gatra.html' title='Tampil di Majalah Gatra'/><author><name>Hermawan Aksan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06299037799823191218</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_OGfaUEk5vIA/R6gfAzd7k4I/AAAAAAAAAB8/5dqtSY6YNsY/s72-c/Hermawan_di_Gatra.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5277617973649974022.post-9182931564638990276</id><published>2008-02-04T03:37:00.000-08:00</published><updated>2008-02-04T04:23:49.769-08:00</updated><title type='text'>Teganya Menipu Teman</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp1.blogger.com/_OGfaUEk5vIA/R6cDvTd7k3I/AAAAAAAAAB0/VjFJsWlllCU/s1600-h/The_March.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5163099609018110834" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://bp1.blogger.com/_OGfaUEk5vIA/R6cDvTd7k3I/AAAAAAAAAB0/VjFJsWlllCU/s200/The_March.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Pameran buku kali ini kurang membuatku antusias. Sabtu lalu aku ke sana, dan hanya membeli satu buku, &lt;em&gt;Pasar Jawa, Abad VIII-XI&lt;/em&gt;, diskon 50 persen menjadi Rp 12.500, dari stan Penerbit Kiblat Buku Utama.&lt;br /&gt;Ketemu Yus R. Ismail, temanku sesama penulis. Ia cerita tentang betapa beratnya membangun penerbit buku. Masalah paling berat adalah penipuan yang dilakukan para agen. Salah satu nama yang disebutnya adalah Doddy Achmad Fauzi, salah satu penulis asal Bandung yang pernah menjadi wartawan &lt;em&gt;Media Indonesia&lt;/em&gt;. Nilainya puluhan juta rupiah. Doddy kini tak bisa dihubungi lagi. Aku geleng-geleng kepala. Kok tega-teganya menipu teman sendiri.&lt;br /&gt;Yus kini lebih banyak menerbitkan buku yang sudah pasti dibeli. Misalnya buku karya Usman Supendi, teman kami yang juga dosen di Universitas Islam Nusantara (Uninus) Bandung. Buku ini pasti dibeli, setidaknya 300-an eksemplar, sesuai dengan jumlah mahasiswanya, yang pasti menurut kalau diwajibkan membeli.&lt;br /&gt;Aku juga ketemu Erwan Juhara dan temannya (aku lupa namanya). Si teman ini menanyakan apakah aku punya naskah Sunda. Aku segera membatin: wah, ini pasti ada hubungannya dengan proyek Bapusda, hehehe.&lt;br /&gt;Pada hari terakhir, Senin, 4 Februari, aku ke Landmark lagi, juga dengan niat tak akan beli (banyak) buku. Eh, begitu lewat stan Pustaka Hidayah, ternyata banyak buku bagus dan murah. Maka aku melupakan niatku, dan meraup enam buku, seharga Rp 99.000, ditambah bonus 1 buku. Buku novel &lt;em&gt;The March&lt;/em&gt; karya E.L. Doctorow harganya 15 ribu saja, dari aslinya 49.900. Novel &lt;em&gt;Praha&lt;/em&gt; karya Arthur Phillips&lt;em&gt; &lt;/em&gt;pun hanya 16.000, dari semula 54.900. Gimana tidak menggiurkan?&lt;br /&gt;Sayang uang di dompet hanya segitu. Aku sudah meniatkan diri kembali ke sana setelah menerima honor juri di kantor. Malang tak dapat ditolak, honor diberikan besok, kata Peppy. Alamak...&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5277617973649974022-9182931564638990276?l=hermawan-aksan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hermawan-aksan.blogspot.com/feeds/9182931564638990276/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5277617973649974022&amp;postID=9182931564638990276' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5277617973649974022/posts/default/9182931564638990276'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5277617973649974022/posts/default/9182931564638990276'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hermawan-aksan.blogspot.com/2008/02/teganya-menipu-teman.html' title='Teganya Menipu Teman'/><author><name>Hermawan Aksan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06299037799823191218</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp1.blogger.com/_OGfaUEk5vIA/R6cDvTd7k3I/AAAAAAAAAB0/VjFJsWlllCU/s72-c/The_March.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5277617973649974022.post-4917712291545705405</id><published>2008-02-01T23:33:00.000-08:00</published><updated>2008-02-01T23:43:56.171-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen'/><title type='text'>Pwahaci Rababu</title><content type='html'>Cerpen ini dimuat di harian &lt;em&gt;Pikiran Rakyat&lt;/em&gt; hari ini, Sabtu, 2 Februari 2008. Cerpen ini kumaksudkan merupakan petikan dari sebuah cerita panjang. Novel lah. Versi yang dimuat bisa disimak di &lt;a href="http://www.pikiran-rakyat.com/index.php?mib=beritadetail&amp;amp;id=10383"&gt;http://www.pikiran-rakyat.com/index.php?mib=beritadetail&amp;amp;id=10383&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;GALUH, tahun 582 Saka.&lt;br /&gt;Jalantara melangkah pelan seperti kucing, menyelinap waspada di antara bayangan gelap tiang-tiang ruang tengah. Langkah kakinya seringan kupu-kupu dan telapak kakinya sehalus kapas menapaki lantai kayu.&lt;br /&gt;Yang membuat langkahnya terhambat bukanlah rasa takutnya akan menimbulkan bunyi sepelan apa pun di tengah kesunyian malam yang tengah mencapai puncaknya. Sebagai lelaki yang kemampuannya sudah hampir mencapai sempurna, ia bisa membuat kesunyian tetaplah kesunyian. Yang membuatnya harus berkali-kali menahan langkah adalah bunyi debar di dadanya.&lt;br /&gt;Usianya sudah lewat dari pertengahan tiga puluhan. Namun selalu saja ia tak mampu meredam gejolak di dadanya setiap mengenang wajah Nay Pwahaci Rababu. Sudah belasa tahun. Semenjak ia dengan dada yang membara menatap sang dewi bersanding di pelaminan dengan kakaknya sendiri.&lt;br /&gt;Di pelaminan itu, ia ingat, Pwahaci Rababu tampak bersinar dalam kemudaan dan kecantikannya. Bersinar seperti purnama. Karena itu Jalantara lebih suka menyebut namanya Wulansari. Jalantara membayangkan seperti itulah wajah Sinta. Di sebelahnya, duduk kaku kakaknya sendiri, Sang Jatmika, dengan wajah yang entah kenapa tampak begitu suram dan tua. Jalantara tak tega membayangkan kakaknya sebagai, misalnya, Dasamuka. Namun tentu saja terlampau mengada-ada kalau ia membandingkannya dengan Rama. Bibirnya selalu mengerut seperti lelaki renta. Kakaknya memang sudah kehilangan banyak giginya sehingga nyaris semuanya tanggal. Dan ayah mereka sendirilah yang memanggil kakak sulungnya dengan nama Sempakwaja.&lt;br /&gt;Ah, mengapa bukan dia yang bersanding dengan Pwahaci Rababu? Ia pernah bertanya kepada sekian orang di istana. Jawabannya selalu sama: anak ketiga tak mungkin bersanding lebih dulu.&lt;br /&gt;Mengapa harus dengan Rababu? Apakah ada kesepakatan di antara Sang Rajaresi Wretikandayun dengan Resi Kendan, ayah Rababu? Atau sekadar kecurangan Sempakwaja yang telah menculik sang putri?&lt;br /&gt;Ia tak hendak memuji diri sendiri bahwa dialah yang sesungguhnya pantas dianggap sebagai Ramawijaya, satu-satunya lelaki yang berhak beristrikan Sinta. Jalantara lelaki yang tampan. Orang-orang berkata demikian. Mereka bahkan menyebut bahwa kulitnya bercahaya. Seperti kulit yang diselaputi minyak. Karena itu ia mendapat nama lain Mandiminyak.&lt;br /&gt;Meski hanya sekilas, Jalantara ingat, tatkala duduk di pelaminan, Pwahaci Rababu sempat menatapnya dan ia menatap balik perempuan itu. Mereka bersitatap dan dada Jalantara diselimuti gelenyar yang sangat membahagiakan. Jagat seperti memusat pada diri mereka berdua. Tak ada orang lain, apalagi sekadar Sang Jatmika, kakaknya.&lt;br /&gt;Berapa usia Pwahaci Rababu sekarang? Paling tinggi barulah tiga puluh. Namun, jarak waktu belasan tahun, dan dua anak lelaki yang beranjak remaja, tidak membuat Pwahaci Rababu kehilangan cahayanya.&lt;br /&gt;Di tengah pesta perjamuan &lt;em&gt;utsawakrama&lt;/em&gt; tadi, Pwahaci Rababu masih tetap menjadi pusat cahaya yang memancar gemilang ke seluruh ruang. Usia seperti tak pernah beranjak dari belasan tahun yang lalu. Tubuhnya tampak tetap semampai meski dibalut busana yang menutupi hampir seluruh tubuhnya, hanya menyisakan dua bentuk tangan yang langsat dan sejenjang leher yang mengilat, serta rambut separuh mengurai karena hanya sebagian yang diikat dengan pita ungu dan berselip seuntai melati putih.&lt;br /&gt;Pwahaci Rababu seakan memiliki kecantikan abadi. Seperti Dayang Sumbi. Seperti para dewi di langit tinggi.&lt;br /&gt;Duduk berseberangan dalam perjamuan, mata Jalantara tak juga lepas dari wajah Pwahaci Rababu. Berkali-kali pula mata sang Pwahaci menatapnya. Keduanya saling tatap seperti belasan tahun yang lalu. Seperti dulu, dada Jalantara berdebar kencang. Dan seperti dulu, jagat terpusat pada diri mereka.&lt;br /&gt;Bertahun-tahun ia memimpikan perempuan itu. Tentu saja tak mungkin: dia adalah kakak iparnya sendiri. Bertahun-tahun ia berusaha mencari perempuan yang sebanding dengan Pwahaci Rababu. Bukan hal yang sulit baginya, sebagai seorang putra mahkota, untuk menginginkan siapa pun perempuan di segenap pelosok negeri ini. Namun ia tak pernah menemukannya. Pwahaci Rababu adalah satu-satunya di dunia. Karena itu, bertahun-tahun ia belum juga menemukan perempuan yang bakal menjadi istrinya, mendampinginya dalam suka dan duka hingga nanti menjadi raja tanah Galuh.&lt;br /&gt;Jalantara tak pernah membayangkan bahwa mimpinya akan menjadi nyata dengan cara yang begitu sederhana.&lt;br /&gt;Atas persetujuan sang ayah, Rajaresi Wretikandayun, Jalantara mengadakan pesta perjamuan di istana Galuh. Namun secara resmi, ayahnya sendirilah yang menjadi pengundang. Ia memang menyukai pesta. Setidaknya, ia menyukai kegembiraan dan keramaian. Berbeda dengan dua kakaknya, Sang Jatmika dan Sang Jantaka, yang lebih suka hidup menyepi mendalami sisi kehidupan ruhani. Ia tidak tahu apakah kedua kakaknya benar-benar hidup hanya untuk agama atau karena mereka tak lagi punya hak atas takhta karena keterbatasan jasmani mereka. Jatmika cacat karena tak lagi bergigi, sedangkan Jantaka menderita kemir, sebuah penyakit yang cukup membuat nista sebagai pria. Keduanya pun tak mungkin menjadi &lt;em&gt;yuwaraja&lt;/em&gt; (putra mahkota) sebagai calon pengganti Sang Wretikandayun. Sempakwaja kemudian menjadi Resiguru di Galunggung, yang membawahkan sejumlah kerajaan kecil, dan mendapat gelar Batara Danghiyang Guru. Adapun Jantaka menjadi resiguru di Denuh, dekat sebuah telaga di kawasan Galuh Selatan, dan mendapat gelar Resiguru Wanayasa atau Rahiyang Kidul.&lt;br /&gt;Jalantara sendiri kemudian tidak hanya menjadi yuwaraja yang hanya menunggu saatnya memegang takhta. Ia sudah menjadi wakil raja, menguasai sejumlah menteri dan pejabat istana, dan menjadi pimpinan angkatan bersenjata Galuh.&lt;br /&gt;Perjamuan diadakan bertepatan dengan bulan purnama. Tiap tahun sebenarnya ia selalu merayakan tanggal ini, tanggal kelahirannya. Ia memang lahir di malam purnama, tiga puluh enam tahun yang lalu. Namun kali ini istimewa, karena ia ingin semua pembesar di negeri ini hadir. Semua pembesar dan pemuka Galuh, termasuk para penguasa kerajaan-kerajaan kecil di wilayah Galuh, hadir dalam perjamuan meriah ini. Semua mendapat undangan resmi, termasuk Sang Sempakwaja. Namun kakaknya itu berhalangan hadir karena sedang sakit. Mengingat undangan itu datang dari ayahnya, Sempakwaja mengutus istrinya untuk mewakili.&lt;br /&gt;Dan Pwahaci Rababu datang sendiri, hanya diiringi beberapa dayang dan pengawal. Dua anaknya, Purbasora dan Demunawan, lebih suka merawat dan menunggui ayahnya yang sakit dibanding datang ke pesta kakek mereka.&lt;br /&gt;Jalantara tak pernah merencanakannya. Barangkali alam semestalah yang telah mengaturnya, pikir Jalantara. Ia tak tahu kakaknya sakit. Ia tak menyangka Pwahaci Rababu akan datang sendiri. Ia juga tidak sengaja menempatkan diri dan semua tamunya sedemikan rupa sehingga ia berhadapan di meja perjamuan dengan Pwahaci Rababu. Dan keduanya berkali-kali bertukar tatap.&lt;br /&gt;Nyaris tak ada kata yang terucap. Mata merekalah yang bercakap-cakap.&lt;br /&gt;Ketika dadanya bergolak oleh sebuah hasrat, Jalantara tak bisa lagi menikmati riuh bunyi gamelan dan lenggok gemulai para penari. Musik dan kecantikan para penari lenyap oleh satu-satunya kecantikan sejati, Pwahaci Rababu.&lt;br /&gt;Jalantara benar-benar terlempar ke masa belasan tahun yang silam. Ia jatuh cinta. Ia tenggelam dalam jalinan asmara. Ia tergila-gila dalam pusaran sebuah &lt;em&gt;smarakarya&lt;/em&gt;. Cinta yang tak lagi peduli tatasusila.&lt;br /&gt;Ah.&lt;br /&gt;Istana senyap. Para tamu sudah masuk ke kamar masing-masing. Hanya tinggal beberapa orang yang harus berjaga sembari membereskan bekas-bekas perjamuan.&lt;br /&gt;Di taman yang terbuka, bayangan rumpun cempaka jatuh tegak lurus tertimpa purnama yang bertengger di puncak langit.&lt;br /&gt;Ia sejenak ragu-ragu sebelum mengetuk pintu.&lt;br /&gt;Sangat pelan.&lt;br /&gt;Sekali. Dua kali. Tak ada suara apa pun dari dalam kamar.&lt;br /&gt;Tiga kali.&lt;br /&gt;“Wulan…”&lt;br /&gt;Pintu terbuka perlahan. Mula-mula hanya bidang kecil, makin lama makin lebar, dan seraut wajah memancarkan cahaya dari dalam sana. Wajah yang selama ini diimpikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERJAMUAN itu berlangsung tiga malam, ketika bulan bulat menghias langit. Bukankah pesta tak pernah cukup kalau hanya semalam? Namun Pwahaci Rababu tinggal semalam lebih lama dibanding pestanya.&lt;br /&gt;Mengapa dia tak langsung pulang ketika pesta telah usai? Pwahaci Rababu tak bisa menjawab pertanyaan seperti ini. Atau mungkin dia ingin mengingkarinya. Tak ingin mengakuinya. Dia hanyalah perempuan, dan perempuan tak terbiasa banyak membuat pertimbangan dengan kepalanya.&lt;br /&gt;Apakah hatinya terpikat oleh Sang Mandiminyak? Dia ingin menggeleng untuk membuang perasaan seperti itu. Namun perasaan memang bersumber dari dalam dada, bukan dalam kepala. Belasan tahun lalu, dia sudah terpikat oleh ketampanan dan sorot mata tajam Jalantara. Belasan tahun lalu, ketika dia harus bersanding dengan seorang lelaki asing. Lelaki yang baru saja dikenalnya.&lt;br /&gt;Dia tengah tenggelam hingga separuh dada di telaga bersama kedua teman perempuannya ketika dia baru sadar bahwa pakaiannya sudah tak ada. Apakah kedua temannya itu sedang mempermainkannya?&lt;br /&gt;“Jangan bercanda. Mana bajuku?” tanya Wulansari.&lt;br /&gt;Kedua temannya menggeleng. Wajah mereka tidak menunjukkan bahwa mereka sedang bercanda. Lagi pula, Wulansari pun tahu bahwa sejak semula mereka tak pernah beranjak dari kesejukan air semenjak sama-sama menanggalkan busana dan menyampirkannya di atas gerumbul perdu di pinggir telaga. Hampir satu jam mereka bermain air, menciprat-ciprat, menyelam, saling membandingkan kehalusan kulit mereka, dan menentukan payudara siapa yang paling besar.&lt;br /&gt;Kini busana itu hanya tinggal dua. Tak ada lagi miliknya. Mana mungkin busananya lenyap tanpa sebab? Ketika kedua temannya sudah kembali berbusana, dia masih tenggelam di telaga.&lt;br /&gt;Tiba-tiba dia ingat akan sebuah dongeng yang pernah diceritakan ayahnya, Sang Resi Kendan, tentang si bungsu dari tujuh bidadari yang tertinggal di telaga karena selendangnya dicuri seorang lelaki.&lt;br /&gt;“Tolong carikan, ya,” pintanya memelas. Wajahnya pias.&lt;br /&gt;Kedua temannya hanya bisa berputar-putar di sekitar, tanpa bisa menemukan apa yang mereka cari.  Juga ketika mereka mencoba mencarinya lebih jauh dari telaga. Busana itu seperti lenyap di udara. Siapa yang tertarik busana sederhana itu? Bukan selendang warna-warni milik para bidadari. Hanya kain putih tanpa jahitan, yang biasanya pun sekadar dililitkan pada tubuhnya. Sama sekali tak bernilai walaupun sekadar untuk menjadi bahan curian.&lt;br /&gt;Satu jam lebih mereka berputar-putar mencari kain Wulansari.&lt;br /&gt;Gadis itu mengeluh dalam hati. Tentu saja tak mungkin dia pulang tanpa busana. Jarak dari telaga ke rumahnya ada ribuan langkah kaki. Apa nanti kata orang-orang? Dia bukan lagi gadis kecil. Dia sudah merasa dewasa. Payudaranya sedang tumbuh menuju kemekarannya, meskipun bukan yang terbesar di antara ketiga gadis muda itu.&lt;br /&gt;“Duh, Hyang di langit tinggi, tolong hamba ini. Kembalikan kain hamba. Kalau ia perempuan, biarlah ia menjadi saudaraku. Kalau ia laki-laki, aku rela menjadi istrinya,” bisik Wulansari.&lt;br /&gt;Entah dari mana kalimat itu muncul begitu saja di kepalanya. Apakah karena dia terlalu banyak mendengarkan dongeng dari ayah atau ibunya? Dan dia terkejut sekaligus menyesal. Bagaimana kalau yang datang kemudian adalah seekor anjing dengan pakaian di moncongnya? Namun dia tak bisa lagi menarik kata-kata yang sudah terucap.&lt;br /&gt;Wulansari tengah mengusapkan air di wajahnya ketika terdengar sapaan bersuara berat.&lt;br /&gt;“Ternyata tepat dugaanku.”&lt;br /&gt;Wulansari cepat mendongak.&lt;br /&gt;“Cantik sekali.”&lt;br /&gt;Wulansari cepat menutupi kedua dadanya yang terbuka dengan tangannya. Wajahnya memerah, bukan oleh rasa malu, melainkan oleh rasa marah.&lt;br /&gt;“Siapa kamu? Kurang ajar! Kembalikan pakaianku!”&lt;br /&gt;Lelaki itu tertawa dengan suara yang aneh. Di tangannya tergenggam kain putih milik Wulansari.&lt;br /&gt;Wulansari terpana. Mulut lelaki itu sama sekali tak bergigi. Mungkin karena itulah suara tawanya terdengar tak seperti orang-orang lain tertawa.&lt;br /&gt;“Aku akan mengembalikan pakaianmu, dan aku laki-laki.” Lelaki itu tertawa lagi, memperlihatkan gua gelap dalam mulutnya yang mengerikan.&lt;br /&gt;“Lelaki kurang ajar! Aku tadi cuma bercanda.”&lt;br /&gt;“Ha-ha-ha! Bahkan para penghuni langit pun bisa mendengar suaramu. Dan janji seperti itu tak bisa ditarik. Apakah kau ingin menderita seumur hidupmu karena melanggar sumpah terhadap dewata?”&lt;br /&gt;Wulansari mengeluh untuk kedua kalinya. Dia mengakui, manusia memang tak bisa main-main dengan kalimat sumpah.&lt;br /&gt;Kalau saja lelaki itu mirip dengan lelaki dalam dongeng…&lt;br /&gt;“Sudahlah, Nyi. Pakailah kain ini. Aku akan memboyongmu ke tempatku.”&lt;br /&gt;Wulansari sekali lagi menatap wajah lelaki itu dengan sorot penuh penyesalan.&lt;br /&gt;“Tentu saja aku akan lebih dulu melamar pada ayah-ibumu.”&lt;br /&gt;Itu terjadi belasan tahun yang lalu. Ya, kalau saja lelaki yang mengambil kainnya itu adalah Sang Mandiminyak, adik bungsu lelaki yang bersanding dengannya tak lama kemudian…&lt;br /&gt;Tatapan tajam Mandiminyak masih tetap seperti belasan tahun yang lalu, ketika diam-diam dia melirik dari tempat duduk di pelaminan. Dan Wulansari, yang kemudian lebih dikenal dengan nama Pwahaci Rababu, selalu tak bisa menahan gejolak hatinya. Terasa ada sengat aneh yang selalu membiusnya.&lt;br /&gt;Belasan tahun dia tak bisa melupakan sorot mata tajam itu. Belasan tahun dia menghabiskan malam-malam dengan mata terpejam, membayangkan bahwa lelaki yang selalu berada di pelukannya adalah Jalantara.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Oh, para dewi dan pohaci, ampunilah hamba… Mengapa kalian tumpahkan perasaan indah ini dalam situasi yang rumit?&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Ini bukan cinta yang seharusnya dan dia tak hendak menyelam di dalamnya. Namun apa daya? Dia selalu luluh seperti kapas tertiup angin. Terbang menuju sebuah tempat asing yang selalu dia dambakan.&lt;br /&gt;Pwahaci Rababu mencoba mengingat-ingat, barangkali dia pernah mendengar kisah, hikayat, atau dongeng seperti yang dia alami saat ini. Dia menggeleng. Dia akui, pengetahuannya akan dunia pasti terlalu sederhana, tapi dia yakin bahwa di negeri ini belum pernah dia dengar perempuan dengan derita asmara seperti yang melandanya.&lt;br /&gt;Boleh jadi, dialah yang pertama.&lt;br /&gt;Ya, dia menderita, sekaligus bahagia.&lt;br /&gt;“Jadilah permaisuriku. Hanya kau yang layak mendampingiku di istana ini,” bisik Jalantara pada malam keempat dia berada di istana Galuh.&lt;br /&gt;Pwahaci Rababu tersenyum dengan sudut-sudut mata yang basah.&lt;br /&gt;“Senang sekali aku mendengarnya…”&lt;br /&gt;“Apakah itu berarti bersedia?”&lt;br /&gt;“Sayang tidak. Aku punya dunia sendiri, dan kau memiliki dunia yang lebih gemilang. Temukanlah perempuan yang lebih pantas menjadi bunga negeri ini.”&lt;br /&gt;“Kaulah yang paling pantas.”&lt;br /&gt;“Bukalah matamu, edarkan tatapmu, lihatlah luasnya langit. Negeri ini jauh lebih luas daripada sekadar sampai aliran Citanduy atau puncak Galunggung.”&lt;br /&gt;Air mata Pwahaci Rababu membasahi dada telanjang Jalantara. Apakah empat malam di istana Galuh akan menjadi dosa asal bagi keturunannya?&lt;br /&gt;Di luar, bulan yang tak lagi bulat tampak pucat.&lt;br /&gt;***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5277617973649974022-4917712291545705405?l=hermawan-aksan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hermawan-aksan.blogspot.com/feeds/4917712291545705405/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5277617973649974022&amp;postID=4917712291545705405' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5277617973649974022/posts/default/4917712291545705405'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5277617973649974022/posts/default/4917712291545705405'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hermawan-aksan.blogspot.com/2008/02/pwahaci-rababu.html' title='Pwahaci Rababu'/><author><name>Hermawan Aksan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06299037799823191218</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5277617973649974022.post-8336616246454900216</id><published>2008-01-28T04:32:00.000-08:00</published><updated>2008-01-28T04:39:28.270-08:00</updated><title type='text'>Lurah Sajir dan OTB</title><content type='html'>Soeharto dan berbagai peristiwa dalam era pemerintahannya memberikan banyak gagasan bagi penulisan fiksi. Pada zaman itu, sangat sulit mengungkapkan kebenaran. Jurnalisme bungkam, kata Seno Gumira, maka sastra harus bicara.&lt;br /&gt;Ada sejumlah cerpenku yang juga diilhami Soeharto. Di antaranya yang berikut ini. Judulnya &lt;em&gt;Lurah Sajir dan OTB&lt;/em&gt;, dimuat di &lt;em&gt;Suara Pembaruan&lt;/em&gt;, 26 Mei 1996.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KETUKAN lemah di pintu ruang kantornya mengagetkan Lurah Sajir. Entah kenapa, akhir-akhir ini jantungnya lekas sekali berdegup kencang.&lt;br /&gt;“&lt;em&gt;Punten&lt;/em&gt;!”&lt;br /&gt;Pak Kebayan membukakan pintu.&lt;br /&gt;“&lt;em&gt;Mangga&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;mangga&lt;/em&gt;…”&lt;br /&gt;Lurah Sajir mengusap keringat di keningnya.&lt;br /&gt;Adut, lelaki kecil dan kurus itu! Belum tiga puluh, masih bujangan, sarjana ekonomi, tapi belum punya pekerjaan. Konon, ia lebih banyak membantu ibunya mengelola warung kecilnya. Sekilas memang cuma lelaki biasa.&lt;br /&gt;Tapi ini! Entah siapa yang meniupkan, seperti angin, kabar itu cepat menyebar: Adut berhasrat jadi lurah pada pemilihan mendatang. Walah, anak bau kencur ingusan begitu! Kalau diurut-urut, kamu itu masih terhitung cucuku! Pengalamanmu baru sedangkal Cibogo!&lt;br /&gt;Selama tiga windu ini, boro-boro menantang Lurah Sajir, sekadar adu pandang saja tak ada yang berani. Siapa yang berani! Dialah dulu tak lama setelah zaman kacau yang dengan gagah berani melawan kekuasaan si congkak Durno. Lurah lama yang mata keranjang, merasa diri paling ganteng, suka menggoda perawan dan janda bahenol (konon punya dua istri simpanan di kampung lain).&lt;br /&gt;Juga suka menyengsarakan rakyat. Minta upeti seperti raja-raja zaman baheula. Lurah yang menurut Sajir golongan kiri. Sajir pula yang menyulut sebuah predikat paling menakutkan saat itu, ah, bahkan sampai kini.&lt;br /&gt;“Durno pernah terlibat PKI! Durno PKI!”&lt;br /&gt;Dengan heroik Sajir menantang Durno berkelahi satu lawan satu. Tentu saja Durno keder. Siapa tak kenal jawara Sajir, jagoan yang masa mudanya habis untuk berkelana ke Cirebon, Tegal, Sumedang, Garut, sampai Banten. Jurus-jurus macam Cimande dan Cikalong bisa dia gunakan sambil merem. Cuma, lantaran harga diri merasa terinjak-injak dicap PKI dan ditantang terus-menerus, Durno melayaninya. Jelas bukan lawan yang sepadan. Baru dua tiga jurus, bertekuk lututlah dia.&lt;br /&gt;Sajir dielu-elukan pemuda. Diangkat-angkat tubuhnya seperti pencetak &lt;em&gt;hattrick&lt;/em&gt; ke gawang musuh. Diarak sepanjang jalan kampung sebagai pendekar penumpas angkara. Secara aklamasi, Sajir, yang SR pun tak tamat, jadi lurah baru. Yang kemudian dilakukannya, carik diganti. Kebayan diganti. Ulu-ulu juga. Semua untuk kerabat sendiri. Ya, jadi pahlawan jangan tanggung-tanggung. Agar pembangunan lancar, semua yang tak sepaham mesti dibungkam. Hanya kerabat sendiri yang bisa diajak bekerja sama.&lt;br /&gt;“Wah, ada angin apa, Nak?”&lt;br /&gt;“Ini, Pak Lurah. Ada sedikit keperluan.”&lt;br /&gt;“Ya, ya… silakan duduk.”&lt;br /&gt;“Katakanlah ada semacam dorongan impulsif untuk menyuarakan barang satu-dua aspiratif yang tengah berkecamuk di kalbu sebagian penduduk kampung kita tercinta ini.”&lt;br /&gt;Lurah Sajir menggeser duduknya. Merogoh kantong celananya, mencari saputangan.&lt;br /&gt;“Ya, ya… yang jelas saja, Nak Adut.”&lt;br /&gt;“Oh, mohon beribu maaf, Pak Lurah. Begini. Menurut opini subjektif saya, dalam sekitar dua puluh lima tahun kepemimpinan Pak Lurah Sajir, kampung kita berkembang maju. Dua kali juara lomba desa tingkat kabupaten, wow, bukan main. Sepakbola dan voli sering mendominasi kejuaraan Pordes tingkat kecamatan. Klompencapirnya juga maju sekali. Program pemberantasan buta huruf sukses. Banyak pelajar kita yang berhasil jadi sarjana.”&lt;br /&gt;“Ah, itu kan berkat kerja sama kita semua.”&lt;br /&gt;“Listrik telah masuk desa. Koran apalagi. Rumah-rumah penduduk berubah jadi mentereng dan terang benderang. Pakai beton segala. Banyak petani yang bisa beli televisi berwarna. Tip rekorder di mana-mana. Sepeda motor berseliweran. Kantor kelurahan ini pun begitu megah. Ada ruang serbaguna yang bisa untuk keperluan apa saja, termasuk bermain badminton. Taman di depannya sangat asri, dengan rumput manila dan bunga-bunga anggrek serta lampu hiasnya. Sungguh sedap dipandang mata.”&lt;br /&gt;“Ah, itu kan berkat partisipasi rakyat.”&lt;br /&gt;“Tapi…”&lt;br /&gt;“Ya!”&lt;br /&gt;“Selain itu, sekarang jalan-jalan dan gang-gang pada berlubang. Selokan macet. Kalau hujan, air mampet dan banjir. Jembatan Cibogo hampir runtuh. Bangunan SD Inpres nyaris ambruk. Pembangunan mesjid tidak tahu kapan selesainya. Hutan di bukit sebelah barat nyaris gundul. Sawah-sawah makin habis. Angka kriminalitas meningkat. Makin banyak terjadi pencurian. Bahkan ada anak kecil jadi korban perkosaan.”&lt;br /&gt;“Ya, belum semua tertangani…”&lt;br /&gt;Lurah Sajir menghapus lagi keringat di wajahnya. Rambut dan gumpalan kumisnya yang kelabu seperti layu, punggungnya kian membongkok.&lt;br /&gt;“Ya, tentu tak ada manusia yang sempurna, termasuk saya dan Pak Lurah. Masalahnya, bukan tak mungkin terjadi &lt;em&gt;depiasi&lt;/em&gt; dalam cara-cara Pak Lurah memanajemen kampung kita. Barangkali sudah terjadi akumulasi &lt;em&gt;powership&lt;/em&gt; yang operdosis. Seperti kata orang sana &lt;em&gt;power tends to corrupt&lt;/em&gt;.”&lt;br /&gt;“Wah, saya kurang paham…:&lt;br /&gt;Mulai terasa denyutan pada urat-urat di kepalanya.&lt;br /&gt;“Tampaknya makin banyak terjadi mismanajemen, tapi tak mau diakui. Contohnya kasus Wahab dan kawan-kawan.”&lt;br /&gt;“Pengacau pembangunan itu, ya?”&lt;br /&gt;“Mereka bukan pengacau, Pak Lurah.”&lt;br /&gt;“Tapi sikap mereka itu jelas bisa diartikan melawan pemerintah.”&lt;br /&gt;“Bukan melawan, kok, Pak Lurah. Mereka cuma mau minta ganti rugi yang wajar. Bukan ganti untung, lho, Pak. Tanah semeter &lt;em&gt;no ceng&lt;/em&gt;, kan, tak sepadan lagi dengan akselerasi harga-harga. Mana &lt;em&gt;inplasi&lt;/em&gt; sudah dua dijit. Depresiasi rupiah terhadap dolar terus berlangsung. Dengan harga nominal serendah itu, mereka mau beli apa? Buat substitusi perut juga tak representatif.”&lt;br /&gt;“Aduh, ngomongnya kok tambah njelimet!”&lt;br /&gt;Makin pening kepalanya, perut bagai diaduk mikser.&lt;br /&gt;“Belum lagi tempat berteduh. Mereka mau tinggal di mana nanti? Tanah lain tak ada. Katanya pembangunan untuk kepentingan umum. Siapa umum itu, Pak Lurah! Bikin real estat, kan, untuk beberapa gelintir elite saja, baik elite politis maupun elite ekonomis.&lt;br /&gt;Coba Pak Lurah pinjemin tuh tanah bengkok, buat mereka bikin gubuk dan sedikit menanam hortikultura. Pasti nggak boleh, kan! Kalau gitu, mereka sungguh &lt;em&gt;putureles&lt;/em&gt;, lho, Pak Lurah. Tuh, dua anak Kang Wahab nangis karena bakal kehilangan cita-cita. Istrinya meratapi peruntungan yang &lt;em&gt;gradiennya&lt;/em&gt; konstan &lt;em&gt;negatip&lt;/em&gt;…”&lt;br /&gt;“Wah…”&lt;br /&gt;“Apakah Pak Lurah tidak bisa sedikit turut berempati terhadap nasib mereka yang seperti jatuh terpuruk ke dalam sumur tanpa dasar? Apakah dalam hal ini telah terjadi kolusi antara elite kekuasaan dan elite bisnis, setidaknya pada level kelurahan? Atau apakah aparat tingkat kelurahan hanyalah wayang-wayang tak bernurani yang digerakkan oleh dalang-dalang mahasakti yang tak bisa dijamah?”&lt;br /&gt;“Sudah, sudah! Pusing saya…”&lt;br /&gt;Adut diam. Lurah Sajir bingung mau berkata apa. Keringat mencucuri wajahnya. Ia melirik Pak Carik dan Pak Kebayan. Keduanya serentak menegap-negapkan dada mereka. Akhirnya, Lurah Sajir bangkut dari kursinya.&lt;br /&gt;“Begini saja. Siapa sebenarnya yang jadi beking kamu?”&lt;br /&gt;Adut memandang Lurah Sajir dengan kening berkerut.&lt;br /&gt;“Nggak ada, Pak Lurah. Sumpah, ini murni &lt;em&gt;inisiatip&lt;/em&gt; saya sendiri. Soalnya saya merasa &lt;em&gt;konsern&lt;/em&gt; dengan nasib dan masa depan mereka. Sudah pantas hal itu diperjuangkan.”&lt;br /&gt;“Tak mungkin. Kamu begitu berani. Pasti ada oknum kuat di belakang kamu. Pak Camat? Danramil? Bupati?”&lt;br /&gt;“Tidak, ini murni buah pemikiran saya, sebagai masukan buat Pak Lurah. Demi kebaikan kita semua.”&lt;br /&gt;“Omong kosong!”&lt;br /&gt;“Sumpah, Pak Lurah!”&lt;br /&gt;“Sumpah, sumpah!”&lt;br /&gt;Kini Lurah Sajir berkacak pinggang.&lt;br /&gt;“Atau kamu OTB?”&lt;br /&gt;Kali ini Adut terdiam menatap Pak Lurah dengan kening makin berlipat-lipat. Lurah Sajir menyeringai.&lt;br /&gt;“Ya, bener kan, OTB? Lihat, Pak Carik! Lihat, Pak Kebayan! Bener nggak dugaan saya. Pasti bener. Anak muda ini pasti termasuk OTB. Kelihatan sekali dari caranya ngomong. Nggak jelas juntrungannya. Memang begitulah ciri OTB, suka memutarbalikkan fakta. Suka mengada-ada. Niat pembangunan malah dicurigai yang enggak-enggak. Ngomong seperti cuma dirinya sendiri yang bener. Orang lain semua salah! Dan, beraninya dia ngomong begitu sama aparat pemerintah.”&lt;br /&gt;“Pak Lurah…”&lt;br /&gt;“Pak Carik dan Pak Kebayan mau kan jadi saksi? Bagus. Di sini kita temukan seorang OTB. Nanti kita umumkan ke masyarakat.”&lt;br /&gt;“Pak Lurah, ampun! Saya bukan OTB! Sumpah!”&lt;br /&gt;Kecemasan membayang jelas di wajah Adut. Posisi Lurah Sajir kini di atas angin. Ia tertawa penuh kemenangan.&lt;br /&gt;“OTB ya OTB saja!”&lt;br /&gt;“Pak Lurah, sungguh, saya bersedia menarik semua kata-kata saya. Saya juga tak akan mencalonkan diri menjadi lurah, asalkan Pak Lurah tidak menganggap saya OTB. Sumpah mati, saya hanya anak muda biasa. Sama sekali bukan OTB…”&lt;br /&gt;Sepeninggal Adut, Lurah Sajir kembali tertawa lepas. Pak Carik dan Pak Kebayan saling pandang.&lt;br /&gt;“OTB, Pak Lurah?”&lt;br /&gt;“Ya, Otak Tidak Beres!”&lt;br /&gt;Tawa Lurah Sajir meledak lagi.&lt;br /&gt;***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5277617973649974022-8336616246454900216?l=hermawan-aksan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hermawan-aksan.blogspot.com/feeds/8336616246454900216/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5277617973649974022&amp;postID=8336616246454900216' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5277617973649974022/posts/default/8336616246454900216'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5277617973649974022/posts/default/8336616246454900216'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hermawan-aksan.blogspot.com/2008/01/lurah-sajir-dan-otb.html' title='Lurah Sajir dan OTB'/><author><name>Hermawan Aksan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06299037799823191218</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5277617973649974022.post-6184610298924237511</id><published>2008-01-27T03:09:00.000-08:00</published><updated>2008-01-28T02:35:47.126-08:00</updated><title type='text'>Selamat Jalan, Jenderal Besar...</title><content type='html'>Semua kata sudah tumpah dari berbagai arah&lt;br /&gt;dari yang ramah hingga yang marah&lt;br /&gt;Aku tak lagi kebagian&lt;br /&gt;Apa lagi yang bisa kukatakan?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5277617973649974022-6184610298924237511?l=hermawan-aksan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hermawan-aksan.blogspot.com/feeds/6184610298924237511/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5277617973649974022&amp;postID=6184610298924237511' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5277617973649974022/posts/default/6184610298924237511'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5277617973649974022/posts/default/6184610298924237511'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hermawan-aksan.blogspot.com/2008/01/selamat-jalan-jenderal-besar.html' title='Selamat Jalan, Jenderal Besar...'/><author><name>Hermawan Aksan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06299037799823191218</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5277617973649974022.post-5768087283750164918</id><published>2008-01-25T04:17:00.000-08:00</published><updated>2008-01-25T05:56:57.612-08:00</updated><title type='text'>Perang Bubat di Kupas Tuntas</title><content type='html'>Sebetulnya ini bukan yang pertama aku (akan) tampil di televisi. Sebelumnya, dua kali aku diajak menjadi salah satu narasumber pada acara &lt;em&gt;Golempang&lt;/em&gt; di &lt;em&gt;Bandung TV&lt;/em&gt;. Sudah hampir dua tahun lalu, saat bukuku&lt;em&gt; Dyah Pitaloka&lt;/em&gt; baru terbit. Yang pertama memang membicarakan buku ini (bersama sastrawan dua Sunda, Etty RS dan Aan Merdeka Permana), dan yang kedua tentang sastra Sunda untuk anak-anak (bersama sastrawan Sunda Dadan Sutisna). Dua-duanya dipandu oleh pengarang Sunda Dian Hendrayana. Acara &lt;em&gt;Golempang&lt;/em&gt; disiarkan secara langsung.&lt;br /&gt;Berarti ini kali ketiga aku muncul di televisi. Acaranya &lt;em&gt;Kupas Tuntas&lt;/em&gt;, yang bakal disiarkan &lt;em&gt;Trans 7&lt;/em&gt;. Tanggal tayangnya belum pasti. Acara ini dipandu Teguh. Temanya adalah Perang Bubat.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Taping&lt;/em&gt;-nya (rekaman) dilakukan sore hari ini di Saung Angklung Mang Ujo, Padasuka. Cuaca agak mendung, dan berkali-kali Teguh (adik Arya Gunawan) setengah berdoa: "Jangan hujan dulu, sepuluh menit saja."&lt;br /&gt;Dengan kru sekitar lima atau enam orang, pengambilan gambar (dan suara tentu) berlangsung lancar. Sengaja diambil di tempat terbuka, dengan latar belakang alat musik angklung dan orang-orang yang sedang membuat angklung di sebuah saung.&lt;br /&gt;Teguh menanyai aku sebagai narasumber yang memandang Perang Bubat dari kacamata orang Sunda. Sebelumnya, pendapat dari orang Jawa diminta dari Langit Kresna Hariadi (pengarang novel serial &lt;em&gt;Gajah Mada&lt;/em&gt;) dan seorang arkeolog yang aku lupa namanya.&lt;br /&gt;Bagaimana dan seperti apa tayangan acara itu berlangsung, aku sendiri tak sabar untuk melihatnya. Saat rekaman, aku sempat &lt;em&gt;blank&lt;/em&gt; sekali. Mudah-mudahan diedit, hehehe.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5277617973649974022-5768087283750164918?l=hermawan-aksan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hermawan-aksan.blogspot.com/feeds/5768087283750164918/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5277617973649974022&amp;postID=5768087283750164918' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5277617973649974022/posts/default/5768087283750164918'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5277617973649974022/posts/default/5768087283750164918'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hermawan-aksan.blogspot.com/2008/01/perang-bubat-di-kupas-tuntas.html' title='Perang Bubat di Kupas Tuntas'/><author><name>Hermawan Aksan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06299037799823191218</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5277617973649974022.post-6436463297669135193</id><published>2008-01-24T03:50:00.000-08:00</published><updated>2008-01-24T04:05:29.720-08:00</updated><title type='text'>Alya</title><content type='html'>Ketika aku berangkat ke Bandung, minggu lalu, si kecilku, Alya, tampak loyo. Tubuhnya panas dan ia mengaku pusing. Masih terbayang saat aku naik ojek untuk menuju terminal, ia seperti biasa tetap melambaikan tangan, tapi dengan sorot mata yang sendu dan hanya sedikit senyum di bibir.&lt;br /&gt;Beberapa hari ia lebih banyak terbaring di tempat tidur. Selain panas, dia juga batuk-batuk. Sedih rasanya tidak mendampingi dia ketika sakit. Namun dia tak mau bolos sekolah. Pada hari pertama sekolah, Senin lalu, dia masuk untuk kemudian dibubarkan pukul sembilan. Emang becak baru menjemput pukul 10, dan Alya harua menunggu di depan rumah orang sambil jongkok karena tak ada tempat duduk dan cuaca panas. Itu mungkin sebabnya tubuhnya panas lagi. Siangnya dia lebih banyak tidur. Beberapa hari dia makan sedikit. Berat badannya turun. "Jadi kelihatan tinggi," kata ibunya.&lt;br /&gt;Hari ini, di telepon, Alya sudah terdengar ceria.&lt;br /&gt;"Tadi apa pelajarannya?" tanyaku.&lt;br /&gt;"Hanya IPA. Alya ga ikut olahraga."&lt;br /&gt;"Bilang sendiri sama Bu Gurunya?"&lt;br /&gt;"Iya. Bu Guru, Alya ga ikut olahraga ya, masih sakit."&lt;br /&gt;Ada sesuatu yang menyesaki tenggorokanku. "Alya rangking pertama kan di sekolah?"&lt;br /&gt;"Iya," jawabnya.&lt;br /&gt;"Dapat hadiah nggak?"&lt;br /&gt;"Dapat."&lt;br /&gt;"Dari Bu Guru?"&lt;br /&gt;"Bukan, dari Bapak."&lt;br /&gt;Aku tertawa. "Emang mau hadiah apa?"&lt;br /&gt;"Bawa bronis ya, kayak yang kemarin. Tiramisu."&lt;br /&gt;"Iya, nanti dibawain."&lt;br /&gt;Entah sampai kapan aku harus berjauhan dengan orang-orang tercintaku.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5277617973649974022-6436463297669135193?l=hermawan-aksan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hermawan-aksan.blogspot.com/feeds/6436463297669135193/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5277617973649974022&amp;postID=6436463297669135193' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5277617973649974022/posts/default/6436463297669135193'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5277617973649974022/posts/default/6436463297669135193'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hermawan-aksan.blogspot.com/2008/01/alya.html' title='Alya'/><author><name>Hermawan Aksan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06299037799823191218</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5277617973649974022.post-2669414950152543565</id><published>2008-01-23T02:29:00.000-08:00</published><updated>2008-01-23T03:05:07.695-08:00</updated><title type='text'>Fiksi Sejarah</title><content type='html'>Pukul setengah satu lebih lima menit--terlambat dari kesepakatan pukul setengah satu--aku bertemu dengan Rita Achdris dari majalah &lt;em&gt;Gatra&lt;/em&gt;, di kafe CCF. Dia ditemani Malik, fotografer. Basa-basi sebentar, lalu ngobrol. Ceritanya sih aku diwawancara dengan tema fiksi sejarah, yang akan ditulis Rita di majalahnya, mungkin edisi mendatang ini.&lt;br /&gt;Sebetulnya aku sedikit kecewa karena Rita ternyata belum tamat baca &lt;em&gt;Dyah Pitaloka&lt;/em&gt;-ku. Jadinya, menurutku, wawancara ini agak timpang. Aku mesti menjelaskan sebagian alur cerita dalam novelku. Aku ingat cerita tentang Prof Mubyarto--kalau ga salah--yang suka lebih dulu menanyakan apakah wartawan yang mewawancarainya sudah membaca buku(-buku)nya. Kalau si wartawan bilang belum, pasti akan diusir. Aku tentu tidak seekstrem itu, hehehe. Siapa lah aku ini.&lt;br /&gt;Rita bertanya soal sumber data bagi penulisan &lt;em&gt;Dyah Pitaloka&lt;/em&gt;. Juga soal kontroversi Perang Bubat sendiri, yang oleh sebagian orang dianggap tidak pernah ada. Dst.&lt;br /&gt;Di luar wawancara, Rita juga menyinggung pendapat Andreas Harsono, yang mengaku tidak setuju dengan adanya fiksi sejarah. Menurut Andreas, seperti dikatakan Rita (dan juga Endah Sulwesi tempo hari), jangan campur adukkan fakta dan fiksi. Kalau mau menulis fiksi, menulislah seperti &lt;em&gt;Harry Potter&lt;/em&gt;. Penulisan fiksi sejarah dikhawatirkan Andreas akan "meracuni" pemikiran masyarakat. "Bagaimana kalau pada tahun-tahun mendatang masyarakat menganggap fiksi sejarah, misalnya &lt;em&gt;Da Vinci Code&lt;/em&gt;, sebagai sejarah?" kata Rita, menirukan Andreas.&lt;br /&gt;Sah-sah saja, tentu, Andreas berpendapat begitu. Dia berlatar jurnalistik dan (mungkin) sangat menyukai jurnalisme sastrawi, seperti yang ditonjolkannya pada diskusi novel &lt;em&gt;In Cold Blood&lt;/em&gt; karya Truman Capote beberapa waktu lalu.&lt;br /&gt;Menurutku sih, kekhawatiran Andreas berlebihan. Apakah karya-karya Shakespeare misalnya, yang banyak mengambil kejadian dalam sejarah, dianggap sebagai karya sejarah? Rasanya tidak. Saya juga yakin bahwa pembaca tidak bodoh dengan menganggap fiksi sejarah sebagai sejarah. Kalau saya balik, selain dongeng-dongeng (termasuk &lt;em&gt;Harry Potter&lt;/em&gt;), adakah karya yang tidak berdasarkan data faktual? Kalaupun bukan fiksi sejarah, fiksi-fiksi yang dibikin berlatar waktu saat ini akan menjadi fiksi sejarah pada tahun-tahun mendatang.&lt;br /&gt;Tentu saja, fiksi sejarah tidak bisa menjungkirbalikkan fakta sejarah. Kalau Perang Jawa berakhir saat Pangeran Diponegoro ditangkap pada 1830, kita tentu tak bisa menulis fiksi dengan latar 1835 dan Diponegoro masih berperang. Akurasi fakta tetap harus dimaksimalkan.&lt;br /&gt;Namun bagiku, setuju atau tidak setuju bukan soal penting. Yang penting adalah ini: TERUSLAH BERKARYA, jangan berhenti hanya karena orang berbeda pendapat dengan kita.&lt;br /&gt;Selesai ngobrol-wawancara, kami menuju Taman Ganeca, sebelah Mesjid Salman, ITB. Aku difoto di sana. Pose begini, begitu, dst. Duh, kayak artis beneran, hehehe.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5277617973649974022-2669414950152543565?l=hermawan-aksan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hermawan-aksan.blogspot.com/feeds/2669414950152543565/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5277617973649974022&amp;postID=2669414950152543565' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5277617973649974022/posts/default/2669414950152543565'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5277617973649974022/posts/default/2669414950152543565'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hermawan-aksan.blogspot.com/2008/01/fiksi-sejarah.html' title='Fiksi Sejarah'/><author><name>Hermawan Aksan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06299037799823191218</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5277617973649974022.post-4194652510552880343</id><published>2008-01-21T23:28:00.000-08:00</published><updated>2008-01-21T23:29:30.443-08:00</updated><title type='text'>Kucing Mak Icih</title><content type='html'>SEJAK semula saya sudah punya firasat bahwa kawasan Kebun Binatang bukanlah kawasan yang nyaman untuk tempat tinggal. Rumah-rumah berimpitan seperti kandang ayam. Hanya satu alasan mengapa saya memilih mengontrak kamar di kawasan ini: dekat kampus.&lt;br /&gt;Ada tiga kamar di loteng ini. Saya sendiri menempati yang paling belakang. Kamar tengah ditempati oleh Irwansyah, mahasiswa Planologi dari Aceh. Pemuda berbadan gempal bulat berotot ini mempunyai kebiasaan tidur sore-sore, untuk mempersiapkan bangun pukul tiga dini hari. Itu saya perhatikan setelah saya tinggal di situ beberapa hari. Sedangkan kamar yang paling depan dihuni oleh Mas Toto, mahasiswa Geodesi tingkat akhir. Ia berasal dari Lampung, tapi orang tuanya merupakan transmigran dari Jawa Timur. Belakangan saya tahu bahwa Mas Toto yang bertubuh tinggi kecil ini mempunyai kebiasaan ngalong, baru berangkat tidur selepas subuh. Bangun tengah hari. Sungguh bertolak belakang dengan Irwansyah. Mungkin karena itu kulitnya sepucat mayat.&lt;br /&gt;Janda pemilik rumah sendiri menempati bagian bawah, rumah yang hanya memiliki satu kamar tamu, satu kamar tidur, dan satu dapur sekaligus kamar makan, berderet ke belakang. Kamar mandi di pojok belakang, digunakan bersama oleh pemilik dan penyewa. Jalan menuju loteng di bagian kanan rumah menyerupai lorong yang sempit dan gelap. Suasana lembab dan gelap  karena di sebelah kanan dan kirinya tembok rumah orang lain.&lt;br /&gt;Dari cerita Mak Icih sendiri, demikian nama janda pemilik rumah itu, saya jadi tahu bahwa ia ditinggal mati suaminya lima belas tahun yang lalu karena kecelakaan mobil. Dulu suaminya pegawai kecil di kantor Walikotamadya. Kini ia mengandalkan hidupnya dari pensiun suaminya. Ia punya dua anak. Yang pertama, Ujang, sudah berkeluarga, tinggal di kawasan Cihampelas. Yang kedua, Nyai, anak perempuan yang masih menemaninya.&lt;br /&gt;Beberapa hari setelah saya mendiami salah satu kamar rumah milik Mak Icih, sepulang dari kuliah saya mendapati Mak Icih tengah marah-marah di depan Irwansyah. Seekor kucing meringkuk di pelukannya.&lt;br /&gt;“Kucing Ibu, Den, mau dibunuhnya! Ia menyiramnya dengan air panas! Untung Ibu lekas datang, kalau tidak…!”&lt;br /&gt;Irwansyah sementara itu berdiri tenang bersandar di pintu kamarnya. Ia tak menjawab.&lt;br /&gt;“Mungkin tak sengaja,” saya berusaha melerai.&lt;br /&gt;“Ah, sudah jelas sengaja!”&lt;br /&gt;Saya berusaha menenangkan Mak Icih dengan mengajaknya turun. Setelah berhasil, saya naik lagi ke kamar sendiri dan merebahkan diri tiduran. Namun saya masih mendengar omelan marah Mak Icih meledak-ledak seperti cambuk gembala kambing. Untuk mengatasai polusi suara itu, saya bunyikan radio kecil. Tentu lebih enak menikmati alunan merdu Mega Mustika daripada mendengarkan bunyi cambuk butut.&lt;br /&gt;Pada suatu malam, sehabis nonton dunia dalam berita, saya berniat mengerjakan tugas pendahuluan untuk praktikum esok harinya. Saya baru saja membaca sebentar buku petunjuk praktikum fisika itu ketika tiba-tiba saya mendengar suara-suara aneh di luar. Mula-mula saya mendengar lengkingan seperti bayi menangis. Kemudian terdengar suara menggeram laksana suara raksasa dalam wayang golek. Setelah itu suara mirip bayi menangis lagi, disusul suara menggeram. Begitu seterusnya. Saya sedang sibuk menebak-nebak ketika mendadak suara-suara itu menjadi riuh susul-menyusul, disertai bunyi gedebak-gedebuk. Tak salah lagi, pasti kucing berkelahi. Konsentrasi belajar saya kontan berantakan. Bajingan! Padahal besoknya praktikum pukul tujuh pagi. Sedangkan mengerjakan tugas pendahuluan biasanya membutuhkan waktu paling tidak dua jam. Tanpa pikir panjang saya bangkit mengambil sapu, membuka pintu, kemudian mengayunkan sapu sekuat tenaga ke arah kucing-kucing yang tengah bergumul. Sayang tak kena, sementara kedua kucing jahanam itu berlarian ke depan, menghilang entah ke mana. Saya mengumpat sumpah serapah.&lt;br /&gt;Saya sibuk memikirkan cara terbaik mencegah kegaduhan lebih lanjut yang dibikin kedua kucing itu. Ada gagasan terlintas untuk membeli golok. Saya akan membunuh kucing Mak Icih kalau lagi tidur siang hari. Kemudian saya cincang… Tapi ternyata saya merasa ngeri kalau hal itu saya lakukan. Sesungguhnyalah, saya tidak tahan melihat darah. Maka gagasan itu saya kubur dalam-dalam. Kemudian muncul rancangan lain, yaitu menjerat leher kucing itu. Saya akan memasang tali yang kuat ke lehernya untuk sedemikian rupa sehingga bila kedua ujung tali saya tarik, kucing itu akan menggelepar-gelepar kehabisan napas. Tetapi ternyata, saya tak punya nyali untuk itu. Tampaknya melakukan pembunuhan, meskipun hanya terhadap binatang, terlalu mengerikan.&lt;br /&gt;Sementara saya belum menemukan gagasan yang baik, suatu hari saya iseng meletakkan bangkai seekor tikus kecil yang saya temukan di pojok kamar, ke dekat kucing Mak icih yang tengah tidur di depan kamar Mas Toto seperti biasa. Saya berharap kucing itu akan melahap bangkai tikus. Tetapi ketika bangun, kucing itu hanya menatap bangkai tikus itu. Kemudian menciuminya. Lalu menyepaknya untuk kemudian didekati lagi. Kadang-kadang kucing itu berguling-guling kesenangan seperti memperoleh suatu mainan. Tentu saja saya terkesima. Baru kali itu saya menjumpai kucing tak berselera terhadap tikus. Saya pikir, sombong benar kucing ini!&lt;br /&gt;Tanpa saya ketahui, Mak Icih muncul dari belakang dan berkata dengan nada marah.&lt;br /&gt;“Aduh, Den! Kucing Ibu mah tak pernah dikasih tikus!”&lt;br /&gt;Mak Icih kemudian meraih kucingnya, membelai-belainya, dan menciumnya dengan mesra.&lt;br /&gt;Pada suatu hari Minggu pagi saya berjalan-jalan di Jalan Cikapundung, melihat-lihat buku-buku dan majalah bekas. Juga menyaksikan aksi para penjual obat, pakaian, kacamata, jam tangan, dan, yang paling banyak, penjual nomor buntut SDSB. Tiba-tiba saya tertarik kepada sebuah ramuan yang dilengkingkan si penjual hingga mulutnya berbusa: racun tikus! Inilah mungkin yang saya cari. Tanpa menawar saya langsung membeli sebungkus.&lt;br /&gt;Bukan untuk membasmi tikus, melainkan buat meracun kucing.&lt;br /&gt;Sore harinya saya membeli dua bungkus nasi dan ikan di warung tak jauh dari rumah. Sebungkus untuk diumpankan kepada kucing Mak Icih setelah dicampur dengan racun tikus. Yang sebungkus lagi, tentu saja, buat makan sore saya sendiri. Campuran nasi dan racun tikus, eh racun kucing, saya letakkan di depan kamar Mas Toto. Mudah-mudahan kucing Mak Icih sore ini kelaparan dan langsung melahan umpan saya. Malamnya saya tak mendengar kegaduhan seperti biasanya. Bahkan ketika saya nonton TV di bawah, Mak Icih sempat mengeluh kucingnya tak kelihatan sejak sore. Agak berdebar juga saya mendengar keluhan Mak Icih. Pagi harinya saya menuju ke tempat umpan saya letakkan. Saya terkejut bukan main ketika mendapati kucing Mak Icih lelap tidur melingkar sehat wal afiat tak kurang suatu apa. Sedangkan umpan saya telah raib entah ke mana.&lt;br /&gt;Baru kemudian saya mengetahui dari penuturan Mak Icih bahwa dia telah menemukan nasi campur ikan. Mak Icih menduga, makanan itu dicampur dengan racun, karena warnanya lain dengan makanan yang biasa ia sajikan.&lt;br /&gt;“Ini pasti perbuatan si Irwansyah!” teriak Mak Icih.&lt;br /&gt;Saya mengangguk-angguk, tentu saja tidak mengatakan hal yang sebenarnya. Namun saya sempat heran, ke mana gerangan kucing Mak Icih semalam. Dan kenapa sama sekali kucing itu tidak menyentuh nasi umpan.&lt;br /&gt;Gagal meracuni kucing Mak Icih, saya berpikir mencari cara lain untuk, kalau bisa, membunuh kedua kucing itu sekaligus. Rasanya semakin lama saya semakin gila oleh kegaduhan-kegaduhan yang terjadi. Bahkan yang lebih gila, kedua kucing itu sering berkejar-kejaran di atas genting rumah.&lt;br /&gt;Saya tak bisa memastikan bagaimana kesiapan saya menghadapi ujian semester nanti.&lt;br /&gt;Melalui seorang kenalan mahasiswa kedokteran, pada suatu hari saya berhasil memperoleh sebotol kecil cairan obat bius. Saya tidak bertanya bagaimana caranya memperoleh cairan itu. Dan ia juga seperti segan untuk menceritakan. Tak apalah, yang penting saya sudah punya gagasan baru dengan cairan itu.&lt;br /&gt;Begitulah, pada suatu siang yang panas, dengan hati-hati saya menuju depan kamar Mas Toto. Benarlah, kucing Mak Icih sedang terlelap dengan damai. Melihat damainya tidur kucing, mula-mula saya agak ragu. Tapi mengingat segala kegilaan yang dibuatnya, keraguan saya langsung menguap. Hati-hati saya mengambil kapas, kemudian meneteskan obat bius ke kapas hingga basah. Setelah itu kapas saya tempelkan ke lubang hidung kucing. Setelah beberapa saat, saya membalik-balikkan tubuh kucing, untuk meyakinkan bahwa binatang itu telah kena pengaruh bius. Setelah saya yakin, binatang malang itu saya masukkan ke dalam sebuah kantong yang sudah saya persiapkan. Kemudian saya bergegas mengunci kamar, turun, keluar rumah, berjalan menuju Jalan Taman sari, dan menyetop angkutan kota arah Cicaheum.&lt;br /&gt;Dari Cicaheum saya baik buskota jurusan Jatinangor.&lt;br /&gt;Akhirnya, di daerah yang sunyi di sekitar kampus AIK, saya mengeluarkan tubuh makhluk yang ternyata masih terbius. Kemudian tubuh makhluk tak berdaya itu saya buang begitu saja di semak-semak tepi jalan yang menuju kampus AIK. Lalu saya tinggalkan dengan perasaan amat puas. Selanjutnya saya menyetop kendaraan menuju Tanjungsari. Kebetulan saya punya janji mengunjungi seorang teman.&lt;br /&gt;Tiga hari saya di Tanjungsari.&lt;br /&gt;Ketika saya kembali ke kontrakan, saya terkejut sekali ketika Mas Toto memberitahukan bahwa Mak Icih di rumah sakit.&lt;br /&gt;“Tampaknya sakitanya parah,” tuturnya.&lt;br /&gt;Menurut cerita Mas Toto, sore itu Mak Icih ngamuk-ngamuk. Meja dan kursi dibanting-banting. Kepalanya dibentur-benturkan ke tembok. Ia selalu menjerit-jerit menanyakan kucingnya. Anaknya, Nyai, tak bisa berbuat apa-apa. Irwansyah yang kebetulan pulang kuliah segera mendekati. Tapi Mak Icih, menurut Irwansyah seperti dituturkan Mas Toto kepada saya, malah menunjuk-nunjuk Irwansyah seperti hendak menyatakan sesuatu. Saat itulah tubuh Mak Icih oleng dan ambruk. Untung Irwansyah cepat menangkao tubuh setengah renta itu. Besoknya Mak Icih belum bisa bangun. Nyai sesenggukan terus di sisinya. Ujang pun dipanggil. Kemudian Mas Toto, Irwansyah, Ujang, dan Nyai membawa Mak Icih ke Rumah Sakit Hasan Sadikin.&lt;br /&gt;Mendengar penuturan Mas Toto saya segera menuju rumah sakit. Di sana, Ujang dan Nyai tengah menunggui. Sementara Mak Icih tampak terbaring dengan mata terpejam semakin cekung. Kali ini saya benar-benar takut Mak Icih akan sungguh-sungguh menjadi mummi.&lt;br /&gt;Dua hari berikutnya, ketika Mak Icih masih di rumah sakit, ketika suasana rumah menjadi beku oleh keheningan, ketika saya semakin merasa amat berdosa, sekonyong-konyong saya mendengar lengkingan suara seperti bayi menangis. Kemudian saya bergegas turun. Benar, kucing berbulu putih dengan belang hitam, bertubuh agak kurus dan kotor: kucing Mak Icih!&lt;br /&gt;Gila! Bagaimana mungkin kucing itu dapat kembali? Menempuh jarak belasan kilometer dari Jatinangor, melalui jalan-jalan yang belum pernah dilewatinya?&lt;br /&gt;Sore itu juga saya bergegas ke rumah sakit menceritakan kembalinya kucing itu kepada Mak Icih. Mendengar penuturan saya wajah Mak Icih berubah ceria. Matanya berbinar, senyumnya mengembang memancarkan cahaya harapan hidup.&lt;br /&gt;Namun sementara itu, sepulang dari rumah sakit, di kamar saya segera mulai membereskan pakaian, buku-buku, dan sebagainya. Saya berpikir, lebih cepat pindah lebih baik. Yah, paling lambat setelah Mak Icih sembuh kembali dan pulang ke rumah nanti. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Ini cerpen pertamaku di &lt;em&gt;Pikiran Rakyat&lt;/em&gt;, lupa tanggalnya, th 1990)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5277617973649974022-4194652510552880343?l=hermawan-aksan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hermawan-aksan.blogspot.com/feeds/4194652510552880343/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5277617973649974022&amp;postID=4194652510552880343' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5277617973649974022/posts/default/4194652510552880343'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5277617973649974022/posts/default/4194652510552880343'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hermawan-aksan.blogspot.com/2008/01/kucing-mak-icih.html' title='Kucing Mak Icih'/><author><name>Hermawan Aksan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06299037799823191218</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5277617973649974022.post-7616373883794534227</id><published>2008-01-21T04:04:00.000-08:00</published><updated>2008-01-21T04:12:31.862-08:00</updated><title type='text'>Satu Episode</title><content type='html'>LELAKI itu selalu berdiri mematung. Tangannya bersedekap. Matanya menatap dunia lewat jendela nako kamarnya. Setiap detik, setiap menit, setiap hari, ia menyaksikan kejadian-kejadian sehari-hari di jalanan. Mobil-mobil dan becak berlalu. Manusia-manusia hilir-mudik. Angin berembus menggoyang pepohonan. Sinar matahari merejam aspal. Hujan mengguyur halaman.&lt;br /&gt;Kemudian semua itu ia rekam dalam angan. Kadang ia pindahkan dalam karangan. Atau ia simpan dalam lukisan. Meskipun setelah itu karangan serta lukisannya ia sobek menjadi serpihan kecil, untuk ia buang ke tempat sampah di pojok kamar.&lt;br /&gt;Syahdan, matahari belum sepenggalah. Mendadak ia dikejutkan suara ribut di luar. Tampak beberapa orang sibuk memapah seorang wanita hamil. Dan ia mendengar teriakan-teraiakan orang.&lt;br /&gt;“Panggil taksi cepat!”&lt;br /&gt;“Becak saja!”&lt;br /&gt;“Taksi, goblok!”&lt;br /&gt;“Gimana manggilnya?”&lt;br /&gt;“Telepon, tolol!”&lt;br /&gt;“Di mana telepon?”&lt;br /&gt;“Aduuuuh…!”&lt;br /&gt;Ia heran, kenapa untuk menolong orang melahirkan saja mesti ribut tak karuan begitu.&lt;br /&gt;Kemudian terdengar suara ayahnya dari ruang tamu. “Si Mince hendak melahirkan, Bu. Air ketubannya keburu pecah.”&lt;br /&gt;“Oooo…”&lt;br /&gt;Lantas ia mengambil mesin tik, memasang selembar kertas, menotok-notok huruf-huruf, membentuk kalimat: Seorang bayi lahir hari ini. Dunia bertambah satu penduduk.&lt;br /&gt;Ia menarik kertas itu dari mesin tik. Membacanya sejenak. Kemudian meremas-remasnya menjadi berbentuk bulatan kecil, untuk akhirnya melemparkannya tepat di tempat sampah.&lt;br /&gt;Lelaki muda itu kembali berdiri menatap kamar. Pikirannya tak pernah usai berputar-putar di langit kamar. Ia sendiri tak ingat lagi sejak kapan mengurung diri di kamarnya. Mungkin baru sepuluh hari yang lalu. Atau barangkali sepuluh bulan. Bahkan boleh jadi sejak sepuluh tahun yang lewat. Ia tak tahu pasti. Yang diingatnya adalah bahwa ia pernah mengalami peristiwa kecelakaan hebat.&lt;br /&gt;Ia kurang pasti, apakah waktu itu ia yang menabrak mobil itu ataukah mobil itu yang menabraknya. Tapi ia masih utuh seperti semula. Kaki, tangan, dan anggota tubuh lainnya tak ada yang hilang. Tapi ada sesuatu yang kurang. Ia sendiri tak mengerti dengan jelas. Yang pasti, sejak itu ia merasa dunia yang paling menyenangkan adalah dunia kamarnya.&lt;br /&gt;Siang, seusai lohor, ia menyaksikan suatu iring-iringan pengantin lewat di jalan depan rumahnya itu. Si lelaki sungguh tampan dengan stelan kain dan jas hitamnya. Di depan, si perempuan bagaikan bidadari dengan kebaya putih yang anggun. Tapi, tunggu! Rasanya ia pernah mengenal perempuan secantik itu. Tapi ia tak bisa mengingat lagi kapan dan di mana ia bertemu dengan perempuan itu. Rasanya ia pernah akrab dengan bidadari itu. Tapi juga rasanya terlalu jauh. Atau mungkin semua itu pernah ia alami dalam mimpi belaka.&lt;br /&gt;Dari ruang tamu yang letaknya bersebelahan dengan kamarnya, terdengar suara ibunya.&lt;br /&gt;“Pak, Pak, bukankah dia si Eti pacar anak kita dulu?”&lt;br /&gt;Kembali pemuda itu dudukk di kursi, menyelipkan kertas pada mesin tik, menotok-notok huruf demi huruf perlahan untuk menyusun kalimat: Sepasang manusia berhasil menggapai satu masa paling bahagia. Bagaikan pangeran dan putri raja yang menikah dan bahagia untuk selama-lamanya.&lt;br /&gt;Kemudian direnggutnya kertas itu, dibacanya sejenak, diremasnya menjadi berbentuk bola kecil, dan dilemparkannya ke tempat sampah. Napas lega diembuskannya dan mewujud uap air di nako.&lt;br /&gt;Sore kelam berhias gerimis tiba-tiba dikejutkan pengumuman yang mungkin berasal dari pengeras suara mesjid kampung yang terletak tak jauh dari rumahnya.&lt;br /&gt;“Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Telah meninggal dunia Bapak Sukram bin Waud. Jenazah akan dikebumikan sore ini juga.”&lt;br /&gt;Tak lama kemudian ia menyaksikan lewat jendela puluhan orang mengiringi sebuah keranda yang diusung oleh dua orang lelaki. Di belakang keranda beberapa orang mencoba menyusut air mata. Wajah-wajah mereka redup sekelam senja itu.&lt;br /&gt;Untuk ketiga kalinya ia memasang kertas di mesin tik, menotok-notok huruf-huruf, menyusun kalimat: Senja ini, satu nyawa meninggalkan dunia. Dunia berkurang satu orang.&lt;br /&gt;Kemudian ia merenggut kertas dari mesin tik, membacanya sejenak, meremasnya, dan membuangnya ke tempat sampah.&lt;br /&gt;Kali ini mukanya tertekuk, seperti sedang menekur.&lt;br /&gt;Kemudian malam mengambil alih suasana.&lt;br /&gt;Dan hari baru menjelang fajar ketika ibunya masuk ke kamarnya. Perempuanj setengah baya itu tertegun menyaksikan anak lelaki satu-satunya itu tengah khusyuk sembahyang dalam posisi tahiyat akhir. Ia mengenakan sarung polekat hitam, kemeja putih lengan panjang, dan kopiah hitam. Wajahnya tertunduk dalam-dalam. Telunjuknya lurus menunjuk ke arah barat. Kemudian wanita itu tertarik sehelai kertas di atas mesin tik. Nampaknya tulisan di kertas itu baru dibuat anaknya semalam atau pagi itu. Wanita itu mengambil kertas itu dan membacanya perlahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Manusia lahir&lt;br /&gt;manusia menikah&lt;br /&gt;manusia mati,&lt;br /&gt;alangkah singkatnya perjalanan&lt;br /&gt;adakah jarak waktu yang lebih pendek?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian wanita itu meletakkan lagi kertas di atas meja dan memandang anaknya yang masih tahiyat akhir. Ia menunggu dengan sabar. Ketika di luar cahaya fajar merekah, ia tengok lagi anaknya masih dalam posisi semula. Lama-lama ia curiga. Diguncang-guncangnya tubuh anaknya, sambil dipanggil-panggil pula namanya. Ketika terpegang tengkuk anaknya, ternyata dingin. Tangannya pun kaku.&lt;br /&gt;Wanita itu menjerit membelah pagi. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Ini cerpenku yang pertama kali dimuat di surat kabar, yaitu di &lt;em&gt;Mandala&lt;/em&gt;, 27 Mei 1990)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5277617973649974022-7616373883794534227?l=hermawan-aksan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hermawan-aksan.blogspot.com/feeds/7616373883794534227/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5277617973649974022&amp;postID=7616373883794534227' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5277617973649974022/posts/default/7616373883794534227'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5277617973649974022/posts/default/7616373883794534227'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hermawan-aksan.blogspot.com/2008/01/satu-episode.html' title='Satu Episode'/><author><name>Hermawan Aksan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06299037799823191218</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5277617973649974022.post-8865346235437727137</id><published>2008-01-20T02:47:00.000-08:00</published><updated>2008-01-20T02:51:00.978-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen'/><title type='text'>Air Mata Asih</title><content type='html'>ASIH menangis. Pipi putihnya dibelah sebutir air bening, ada sebagian pupur yang terhapus, menyusuri tepi bibirnya, lalu menggantung sejenak di dagunya yang runcing, mengilat disentuh cahaya neon, sebelum akhirnya menitik di gaun kebaya hitam pengantinnya. Aku yakin, di sisi sebelah sana, sebutir air bening serupa juga bergulir.&lt;br /&gt;Kutatap tepi matanya lembut.&lt;br /&gt;“Kenapa?” tanyaku berbisik.&lt;br /&gt;Asih menggeleng. Ia tak berusaha menghapus jejak aliran air matanya. Ia seolah membiarkannya mengering sendiri. Mukanya tertunduk. Dari pinggir semakin tegas bahwa ia memang memiliki wajah menarik. Saat itu aku barulah tahu, hidungnya panjang dan bagus, mengingatkanku pada ukiran wayang golek. Lekukan dari dagu ke leher makin menegaskan kemudaannya.&lt;br /&gt;Sesaat keringat terasa serentak membasahi kening, kuduk, dan punggungku. Perasaan bersalah mulai kembali mengoyak-ngoyak.&lt;br /&gt;Kuambil saputangan di tempat duduk pelaminan. Kugeserkan tubuhku dan kucoba menghapuskan bekas air matanya. Tapi Asih menghentikan gerakanku dengan tangannya. Dengan telapak tangannya. Telapak tangan yang tak terlalu halus.&lt;br /&gt;Asih menatapku dengan sudut matanya. Hanya sepersekian detik saja, matanya turun lagi. Aku belum bisa menerjemahkan arti sebutir air matanya yang sempat bergulir. Tetapi aku berharap tatapannya yang hanya sepersekian detik bukanlah manifestasi kebencian. Gusti, siapa mau memperoleh bencana kebencian di saat yang justru seharusnya kita mendapat anugerah kebahagiaan?&lt;br /&gt;Hiasan janur dan buah-buahan berdiri solah menjadi pengaping. Satu di kanan dan satu di kiri. Ruang tengah masih pikuk oleh kerabat. Satu dua wajah kukenal baik. Ibu duduk di tikar, berbincang dengan ibunya Asih dan beberapa perempuan sebaya lainnya, membentuk setengah lingkaran, dengan aku dan Asih hampir berada di titik pusat. Beberapa kali kutangkap pandangan ibuku. Beberapa kali pula ia menyiratkan senyum tipis yang berusaha dibagikannya kepadaku dan Asih.&lt;br /&gt;Ah, ibu.&lt;br /&gt;Kamu masih juga ingin mengecewakan ibumu? Masih suka dengan kesendirian? Tanya ibuku dalam suratnya beberapa waktu lalu. Pertanyaan yang selalu diulangnya.&lt;br /&gt;Aku belum siap, jawabku waktu itu.&lt;br /&gt;Ibu tidak pernah memaksamu untuk segera siap. Yang ibu ingin adalah agar kamu tak menjalani hidup tidak secara layaknya orang lain. Ibu tak ingin kamu macam-macam. Ah, apa bedanya, pikirku.&lt;br /&gt;Jangan kecewakan ibumu dan almarhum ayahmu, kata ibu pula.&lt;br /&gt;“Wah, Ibu ini. Kok ya begitu saja menyodorkan calon pasangan buatku,” kataku beberapa waktu kemudian, pada kesempatan pulang yang sebenarnya tidak kurencanakan.&lt;br /&gt;“Lho, apa salahnya jika seorang ibu mencarikan yang terbaik buat &lt;em&gt;anak lanangku si ragil&lt;/em&gt;?”&lt;br /&gt;“Tapi Ibu yakin Asih akan menerimaku?”&lt;br /&gt;“Siapa yang berani menolak lamaran pemuda cakap seperti kamu?” Ibu balik bertanya dengan nada gurau.&lt;br /&gt;“Maksudku, apakah kami pantas bersanding? Ingat, Bu, aku tiga puluh dua, sedangkan Asih baru sembilan belas tahun. Ketika aku mulai berpacaran, Asih baru bisa berlari.”&lt;br /&gt;Ibu tertawa.&lt;br /&gt;“Kamu ingin Ibu mencarikan yang sebaya denganmu? Oalah, &lt;em&gt;Le&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;Le&lt;/em&gt;. Kamu pikir stok yang begitu masih ada?”&lt;br /&gt;“Mungkin aku bisa mencari sendiri.”&lt;br /&gt;“Alaaah, omonganmu itu lho, dari dulu Ibu dengar.”&lt;br /&gt;Tak pernah bisa kutemukan jawaban mengapa pada akhirnya aku toh menerima begitu saja calon yang ibu pilihkan. Pada zaman yang sudah lama mengagung-agungkan cinta seperti ini aku justru seolah hidup pada tahun-tahun awal abad kedua puluh. Dari semula, aku ingin menyerahkan segalanya kepada Ibu. Apa alasannya, aku sendiri kurang yakin. Mungkin benar aku tidak mau mengecewakan Ibu. Mas Ario, kakak tertuaku, lalu Mas Yan, menikah pada usia-usia yang “wajar”. Mereka, yang masing-masing berada di Padang dan Banjarmasin, telah mempersembahkan cucu-cucu yang manis-manis buat Ibu. Mungkin pula benar bahwa aku seolah telah melupakan “kewajiban” yang satu ini.&lt;br /&gt;“Kamu masih selalu dibayangi Maryati,” kata Ibu.&lt;br /&gt;Aku tak berusaha menanggapi. Kata-kata Ibu tak sepenuhnya salah. Bukan, Maryati bukanlah cinta pertama. Bahkan aku sendiri tak ingat, apakah cinta pertamaku Tuti atau Nur. Namun Maryati adalah wanita pertama yang banyak memberiku pengertian tentang cinta yang sesungguhnya, menurut pemahamanku. Dia memang lebih tua. Karena itu aku merasa, waktu itu, ia banyak memahami. Tetapi apakah Ibu bermaksud menyindir atau sekadar ingin meneguhkan dugaan demi keinginannya, aku tak tahu. Toh tak akan bedanya.&lt;br /&gt;“Aku ragu bisa mencintai Asih.”&lt;br /&gt;“Cinta?”&lt;br /&gt;Ibu tersenyum. Entah bagaimana, aku seolah menangkap sumber cahaya di wajah Ibu. Mungkin karena rambutnya yang makin banyak diwarnai garis-garis keperakan, atau sorot matanya yang masih tajam, meski di bulatan hitamnya ada titik-titik warna putih.&lt;br /&gt;“Atau, apakah memang pilihan Ibu ini merupakan pilihan terbaik buatku?”&lt;br /&gt;Ibu mendehem.&lt;br /&gt;“Begini, &lt;em&gt;tho&lt;/em&gt;, Nak. Ibumu ini sudah merundingkan segala halnya dengan &lt;em&gt;pakde-pakde&lt;/em&gt;-mu, juga paman-pamanmu. Bahwa calon jodohmu itu kami teliti, kami nilai dari berbagai segi, ya keturunan, ya kecerdasan, ya penampilan. Sudah kami pertimbangkan &lt;em&gt;bibit&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;bebet&lt;/em&gt;, dan &lt;em&gt;bobot&lt;/em&gt;-nya. Percayalah, Asih bakal sangat cocok menjadi &lt;em&gt;sigarane nyawa&lt;/em&gt;-mu. Ia masih kerabat juga, meski sudah agak jauh. Baru lulus sekolah perawat tahun ini. Ia akan sangat sepadan dengan kedudukanmu sebagai guru SMA di kota. Nah, coba lihat, bahkan kamu lama-lama bakal bisa menangkap bahwa garis-garis wajah Asih tak jauh berbeda dengan garis-garis wajahmu. Itulah salah satu ciri jodoh, Nak.”&lt;br /&gt;Aku menatap hati-hati wajah Ibu.&lt;br /&gt;“Tapi, Bu, bukankah Asih telah lebih dulu mencintai dan dicintai orang lain? Maaf lho, Bu, cerita ini sempat kudengar. Ini sebenarnya masalah yang paling serius.”&lt;br /&gt;“Si Harso itu? Alaah, ia masih ingusan. Wong, kerjaan saja nggak punya. Lagi pula, mereka tak berani pacaran secara terbuka. Sembunyi-sembunyi di belakang. Apa memang zaman sekarang begitu carana pacaran? Lha, apa yang bisa diharapkan dari pacaran model begitu?”&lt;br /&gt;“Ibu jangan bicara begitu. Justru yang begitulah yang tidak pernah bisa kita duga. Coba, jika mereka benar saling mencintai, apa pun arti cinta di sini, tentu akan sangat sulit nantinya menumbuhkan kasih sayang di antara aku dan Asih.”&lt;br /&gt;“Kamu lagi-lagi ngomong soal cinta. Coba, apa pengertian kamu tentang cinta?”&lt;br /&gt;“Yang lebih gawat, bagaimana jika, misalnya, laki-laki itu punya rencana melarikan Asih?” kataku tak memedulikan pertanyaan Ibu.&lt;br /&gt;“Hush! Jangan sembarangan ngomong kamu. Nanti kedengaran setan, bisa jadi beneran.”&lt;br /&gt;Aku menatap Ibu dengan kening berkerenyit.&lt;br /&gt;Tetapi aku tak tahu apakah Ibu sudah lama menatapku dengan kening berkerut pula.&lt;br /&gt;O, ya, ternyata sudah waktunya untuk potret bersama. Aku tidak sempat menyadari berapa lama aku berdiam diri. Ibu berada di sebelah kananku. Di sebelahnya lagi Mas Ario, sebagai pengganti Ayah. Di sebelah kiri Asih berdiri kedua orang tuanya. Kulihat wajah ibu &lt;em&gt;sumringah&lt;/em&gt;, bercahaya, juga wajah kedua orang tua Asih. Tetapi aku tak bisa menebak, apakah senyum Asih adalah penampakan kebahagiaannya. Aku belum bisa menangkap garis-garis yang sebenarnya.&lt;br /&gt;Aku juga turut tersenyum sebelum lampu blitz menyala.&lt;br /&gt;Setelah itu, berturut-turut minta berfoto bersama &lt;em&gt;pakde-pakde&lt;/em&gt;-ku, paman-paman, kerabat, baik dari pihakku maupun dari pihak Asih. Bahkan setelah itu turut serta Pak Kepala Desa, Pak Carik, dan beberapa tokoh masyarakat.&lt;br /&gt;Semua kulihat tersenyum.&lt;br /&gt;Hanya kemudian, sekilas, wajah Asih seperti menegang.&lt;br /&gt;**&lt;br /&gt;“KAMU sakit?” tanyaku.&lt;br /&gt;Asih menggeleng.&lt;br /&gt;Matanya menunduk, jemarinya bermain-main di pangkuannya. Rambut yang tadi disanggul kini tergerai di punggungnya, sebagian menutupi pipinya. Tetapi kebaya dan kainnya masih yang tadi.&lt;br /&gt;Aroma melati dan warna putih menguasai kamar pengantin kami. Bungkusan-bungkusan kado bertumpuk di meja dekat pintu. Pintu telah terkunci. Tetapi mulutku juga seperti selalu sulit untuk membuka. Alangkah kikuk malam pengantin seperti itu, peristiwa sangat asing yang tak pernah kubayangkan bakal terarungi.&lt;br /&gt;Keningku basah.&lt;br /&gt;Kutarik napas dan kuusap wajah.&lt;br /&gt;“Kamu pucat.” Kataku.&lt;br /&gt;“Tak apa,” jawabnya. Pelan sekali dan tetap menunduk.&lt;br /&gt;Dari luar kamar, ruang tengah, masih terdengar ramainya kerabat yang turut lek-lekan. Suara tawa, atau bantingan kartu, juga sedikit adu mulut.&lt;br /&gt;Tetapi di luar jendela, bunyi serangga mulai mengantarkan malam.&lt;br /&gt;Jam dinding menunjuk setengah sebelas.&lt;br /&gt;“Tidurlah, kamu pasti lelah.”&lt;br /&gt;Aku beranjak, membuka pintu, menuju ruang tengah, bergabung dengan yang begadang. Tetapi aku tak turut bermain.&lt;br /&gt;Kunyalakan rokok. Aku terbatuk. Beberapa jenak aku baru sadar bahwa aku telah dua bulan berhenti merokok.&lt;br /&gt;Kumatikan rokok.&lt;br /&gt;Tiba-tiba kudengar bunyi seperti daun jendela dipukul. Lalu teriakan dari arah kamar. Asih!&lt;br /&gt;Aku melompat.&lt;br /&gt;“Ada apa? Apa yang terjadi?”&lt;br /&gt;Asih berdiri dekat jendela. Mukanya pias. Matanya menatapku dengan ragu.&lt;br /&gt;Tetapi mendadak ia menubrukku. Tangisnya meledak. Aku memeluknya dengan rasa sayang yang tiba-tiba memancar. Kuelus rambutnya. Kucium wanginya.&lt;br /&gt;Wajah Asih rebah di dadaku.&lt;br /&gt;“Dia, Mas… dia.”&lt;br /&gt;“Dia siapa?” tanyaku lembut.&lt;br /&gt;“Harso.”&lt;br /&gt;Pelan-pelan aku merenggangkan pundak Asih. Kutatap matanya. Basah. Kuhapus dengan punggung jemariku.&lt;br /&gt;“Kenapa Harso.”&lt;br /&gt;“Dia… mengetuk jendela… memaksa ingin masuk…”&lt;br /&gt;Tangis Asih kembali meledak. Aku mendekapnya lagi. Lebih rapat. Dan seperti tiba-tiba aku berjanji, dalam hati, aku ingin menjadi pelindung yang menyayangi dan mencintainya.&lt;br /&gt;Di pintu, orang-orang mengundurkan diri satu per satu.&lt;br /&gt;Nyanyian serangga membawa malam kian larut.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;(Cerpen ini pernah dimuat di majalah &lt;em&gt;Sarinah&lt;/em&gt;, 22 Maret 1993)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5277617973649974022-8865346235437727137?l=hermawan-aksan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hermawan-aksan.blogspot.com/feeds/8865346235437727137/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5277617973649974022&amp;postID=8865346235437727137' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5277617973649974022/posts/default/8865346235437727137'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5277617973649974022/posts/default/8865346235437727137'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hermawan-aksan.blogspot.com/2008/01/air-mata-asih.html' title='Air Mata Asih'/><author><name>Hermawan Aksan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06299037799823191218</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5277617973649974022.post-8280721982477584747</id><published>2008-01-19T03:26:00.000-08:00</published><updated>2008-01-19T03:52:38.816-08:00</updated><title type='text'>Tour de Sastro</title><content type='html'>Kira-kira setengah enam sore, aku menerima SMS dari Mas Kef (panggilan akrab Kurnia Effendi), pengarang yang--bagi kalangan sastra--tak asing lagi. Isi selengkapnya begini: Tour de Sastro dimulai. Kef, kris, sekar, dr yogya ke kudus, melintas turi, secang, magelang, salatiga, semarang, demak. Rumah pelangi, kopi eva, museum kereta api, sampo kong, mesjid demak, menara kudus, museum kretek, jenang 33.&lt;br /&gt;Kurnia Effendi adalah cerpenis dan novelis yang daftar karyanya terlalu panjang untuk ditulis di sini. Cerpen-cerpennya tersebar di berbagai media massa. Buku kumpulan cerpennya antara lain &lt;em&gt;Senapan Cinta &lt;/em&gt;dan &lt;em&gt;Kincir Api&lt;/em&gt;. Kris adalah Gangsar Sukrisno, bos penerbit Bentang Pustaka. Adapun Sekar adalah Desi Sekar dari Forum Indonesia Membaca.&lt;br /&gt;Istilah Tour de Sastro sendiri adalah pelesetan dari Tour de Sastra, yang juga sebenarnya istilah yang terkesan "main-main". Semula maksudnya adalah keliling dengan mobil menyambangi para tokoh sastra, antara lain Ahmad Tohari di Banyumas. Kalau kemudian jadinya mengunjungi berbagai tempat di Jawa Tengah, ya asyik-asyik saja. Bagi para pengarang, acara seperti itu sangat menarik karena kita bisa benar-benar menyerap banyak pengalaman dari berbagai tempat itu, dan pasti akan muncul banyak gagasan untuk ditulis.&lt;br /&gt;Sayang sekali aku nggak bisa ikut atau punya kesempatan untuk ber-Tour de Sastro.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5277617973649974022-8280721982477584747?l=hermawan-aksan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hermawan-aksan.blogspot.com/feeds/8280721982477584747/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5277617973649974022&amp;postID=8280721982477584747' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5277617973649974022/posts/default/8280721982477584747'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5277617973649974022/posts/default/8280721982477584747'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hermawan-aksan.blogspot.com/2008/01/tour-de-sastro.html' title='Tour de Sastro'/><author><name>Hermawan Aksan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06299037799823191218</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5277617973649974022.post-603555814087119365</id><published>2008-01-18T01:51:00.000-08:00</published><updated>2008-01-18T04:28:25.115-08:00</updated><title type='text'>Pulang (2)</title><content type='html'>Menurut perhitungan pahit, kubu adikku diprediksi unggul setidaknya 51 persen. Dari mana sampai tiba pada angka ini? Tim sukses mendata satu per satu pemilik hak pilih. Si A mendukung mana, si B ke mana, si C gimana, dan seterusnya. Para pendukung masing-masing kubu, sekali lagi, sudah seperti air dan minyak, sangat nyata terpisah. Mereka yang diragukan langsung dianggap pendukung lawan. Para perantau yang punya hak pilih pun tak ada yang masuk sama sekali--dengan asumsi tak akan datang. Bahkan warga salah satu dukuh dianggap semuanya mendukung kubu lawan. Dan hasilnya: 51 persen diprediksi kuat menjadi pendukung adikku.&lt;br /&gt;Pada saat kampanye, sekitar 1.500 warga menghadiri kampanye kubu adikku, lebih banyak dibanding ketika kampanye dua kubu lain. Warga desa lain pun memprediksi bahwa kubu adikku bakal menang.&lt;br /&gt;Namun--begitulah selalu ada kata namun pada cerita mana pun--perhitungan di atas kertas kerap berbeda dengan kenyataan. Mengapa? Banyak faktor yang menjadi penentu. Aku sudah menyebut tiga hal yang sebaiknya jangan dilakukan adikku: banyak janji, politik uang, dan kekuatan gaib. Pada penyampaian visi dan misinya, ia tak banyak berucap janji selain janji normatif untuk membentuk pemerintahan desa yang jujur dan bersih. Tak ada rincian akan membangun ini-itu. Entah apakah ia juga berkata demikian ketika mendatangi rumah demi rumah sebagai bagian dari upaya mencari dukungan. Soal politik uang, aku yakin bahwa ia tak pernah memberikan amplop untuk mencoba mencari dukungan. Tak ada "serangan fajar" seperti lazim dilakukan banyak kontestan. Alasannya jelas: dana untuk itu tak ada. Adapun soal kekuatan gaib, memang sulit dibuktikan, apakah benar-benar adikku menjalankan saranku. Mungkin "nasihat-nasihat spiritual" atau apa pun namanya masih bisa diterima. Yang pasti, adikku pernah bercerita bahwa kalau ia menerima semua usulan untuk meminta bantuan paranormal, dukun, kiai, atau apa pun namanya, maka tiap hari ia tak akan sempat mengurusi hal lainnya. Usul untuk itu memang muncul berduyun-duyun. Bahkan tanpa diundang pun banyak orang, baik dari desa sendiri maupun dari desa lain, menyediakan diri untuk membantu dengan kekuatan gaib. Sebagian besar ditolak dengan halus, sebagian lain diterima dengan pertimbangan memelihara dukungan.&lt;br /&gt;Suatu malam, pernah seorang pendukung adikku mengusulkan agar mau menemui seorang pintar saat itu juga, dan adikku menolaknya karena hari sudah terlalu malam. Apa yang terjadi? Setelah pencoblosan diketahui bahwa si pengusul itu berbalik mendukung kubu lain. Seorang pendukung lain bercerita: ia ingin mengusulkan hal yang sama, tapi urung setelah tahu bahwa adikku beberapa kali menolak. Untungnya yang satu ini tidak berbalik mendukung kubu lain.&lt;br /&gt;Konon, pada "Hari-H", dini hari sekitar pukul 01.00-03.00, akan datang seberkas cahaya. Menurut kepercayaan masyarakat, rumah kontestan yang dimasuki cahaya dari langit itu akan muncul sebagai pemenang pemilihan. Namun sampai aku tidur sekitar pukul 03.00, tak ada kabar yang pasti mengenai cahaya ini. Cahaya itu, menurut cerita, memang gaib, sebab hanya orang-orang tertentu yang bisa melihatnya.&lt;br /&gt;Paginya, aku mendengar cerita demikian: kira-kira pukul 03 lebih beberapa menit berembus angin aneh dari pintu belakang rumah ibuku (yang dijadikan markas kubu adikku), yang memang terbuka. Cuaca saat itu panas, dan angin tersebut membuat orang-orang yang saat itu terjaga menggigil. Bulu kuduk meremang. Ada dua orang yang bahkan merasa seperti digelitiki. Sebagian pun merasa ketakutan. Apakah angin itu merupakan salah satu bentuk teror gaib kubu lain? Wallahualam.&lt;br /&gt;Ketika penghitungan usai, dan dipastikan adikku kalah, muncul pengakuan banyak orang bahwa mereka kesulitan ketika mencoblos gambar. Padahal yang mereka coblos adalah selembar kertas tipis seperti umumnya kertas suara, alasnya busa kasur yang dilapisi kain, dan penusuknya sebatang paku besar yang tajam. Ada yang dua kali, ada yang tiga kali baru tembus. Bahkan si pembuat alas itu (seorang guru yang kata-katanya bisa dipercaya), yang tentu sudah mencoba berkali-kali sebelum dipakai, mengaku kesulitan untuk mencoblos. "Saya tusuk sekali, enggak tembus. Dua kali, enggak juga. Tiga kali, baru tembus," katanya heran. Memang belum ada pengakuan dari kubu lain apakah mereka juga kesulitan ketika mencoblos. Namun sulit untuk tidak percaya telah terjadi keanehan. Apakah ini upaya gaib dari kubu lain? Wallahualam.&lt;br /&gt;Ketika dipastikan kalah, aku segera mengumpulkan keluarga kami: adikku dan istrinya, ibuku, kakak perempuanku, dan beberapa orang lain. Aku mencoba membesarkan hati mereka. Dan tak butuh waktu lama bagi kami untuk menerima kekalahan ini dengan lapang dada. Anehnya, yang sulit menerima kenyataan justru orang-orang lain. Bakda magrib, berduyun orang datang sambil menangis.&lt;br /&gt;Salah satu di antaranya malah sampai kesurupan. Baru pertama kali aku menyentuh orang kesurupan. Ia seorang perempuan biasa dan ketika ia kesurupan, empat orang laki-laki nyaris tak mampu menahan amukan tenaganya. "Awas, Kak Iis! Ada orang yang hendak mencelakakan! Cepat sembunyi!" teriaknya sambil menunjuk-nunjuk. Suaranya mirip suara laki-laki, dan biasanya ia memanggil adikku dengan sebutan Pak Iis. Berkali-kali ia berteriak: "Kak Iis salah, kok mau salaman sama orang berbaju kuning dan bercelana hitam itu!" Ketika sadar, ia mengaku tak ingat apa yang terjadi. Lantas, siapa orang berbaju kuning dan bercelana hitam itu? Tak banyak yang tahu. Baru besoknya ada yang ingat bahwa ketika pencoblosan, ada orang berpakaian seperti itu berdiri di dekat pintu masuk tempat pemungutan suara, dengan mulut yang komat-kamit terus. Konon, orang bisa mengirim kekuatan tertentu melalui salaman tangan. Tak hanya satu yang kesurupan, tapi ada tiga atau empat orang, meski dengan intensitas yang lebih ringan. Apakah ini bagian dari teror kubu lain? Wallahualam.&lt;br /&gt;Beberapa waktu kemudian, seorang pendukung datang dan bercerita bahwa ia baru saja menelepon orang pintar kenalannya. Si pendukung itu bercerita bahwa si orang pintar berkata, "Untung Pak Iis kalah. Kalau menang, ia atau salah satu dari keluarganya bisa menjadi korban." Termasuk aku, batinku. Ngeri juga.&lt;br /&gt;Satu-dua hari setelah pencoblosan, mulai terungkap pengakuan sejumlah orang bahwa telah terjadi "serangan fajar" dari kubu lain. Jumlahnya Rp 25 ribu per keluarga. Apa yang disebut "serangan fajar" ini tidak harus dilakukan pada saat fajar, tapi bisa kapan saja, dan dilakukan dengan banyak cara. Misalnya bagi para pemilih yang masih ragu segera disediakan jemputan motor atau mobil, dan saat itulah terjadi "serangan fajar". Dalam hal penjemputan ini, kubu adikku memang kalah start.&lt;br /&gt;Apakah kubu lain memberikan janji-janji? Seorang pendukung adikku mengaku pernah diberi janji lahannya akan diberi pondasi. Beberapa anak muda diberi janji oleh salah satu kerabat pihak lain untuk diajak bekerja di Korea.&lt;br /&gt;Pelajaran yang bisa dipetik: untuk bisa menjadi pemenang dalam pilkades, kontestan sebaiknya melakukan tiga hal, yaitu banyaklah berjanji, gunakan politik uang, dan mintalah bantuan kekuatan gaib.&lt;br /&gt;Aku keliru karena ketiga hal inilah yang kutekankan pada adikku untuk dihindari.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5277617973649974022-603555814087119365?l=hermawan-aksan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hermawan-aksan.blogspot.com/feeds/603555814087119365/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5277617973649974022&amp;postID=603555814087119365' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5277617973649974022/posts/default/603555814087119365'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5277617973649974022/posts/default/603555814087119365'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hermawan-aksan.blogspot.com/2008/01/pulang-2.html' title='Pulang (2)'/><author><name>Hermawan Aksan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06299037799823191218</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5277617973649974022.post-6369534866644273530</id><published>2008-01-17T05:58:00.000-08:00</published><updated>2008-01-17T06:38:08.819-08:00</updated><title type='text'>Pulang (1)</title><content type='html'>Empat hari pulang kampung, ke desa kelahiranku, sungguh empat hari yang melelahkan. Meski demikian, aku menyerap sebuah pengalaman yang sangat berharga. Betapa proses sebuah pemilihan kepala desa begitu meriah, rumit, menegangkan, dan juga mengerikan. Kemeriahannya mungkin bisa disetarai pemilu legislatif, dengan semarak gambar, poster, bendera, dan kaus partai-partai. Namun taraf kengerian pilkades ternyata jauh melampaui jenis pemilihan mana pun di negeri ini, apalagi sekadar pilkada, baik bupati maupun gubernur. Emosi begitu meluap di sini.&lt;br /&gt;Tentu saja. Salah satu calonnya adalah adikku sendiri. Meski pada awalnya aku tak terlalu setuju dia bersedia dicalonkan, mengingat berbagai risikonya, akhirnya seluruh keluarga mau tak mau mendukung juga. Meski tak punya hak pilih, tiga kakakku, masing-masing di Plaju, Bangka, dan Purwodadi, sampai bersedia pulang kampung demi mendukung moral adikku.&lt;br /&gt;Sejak awal, aku mengusulkan tiga hal pada adikku: jangan terlalu banyak janji, jangan menggunakan politik uang, dan jangan menggunakan "orang pintar" melalui kekuatan gaib.&lt;br /&gt;Di antara ketiga calon yang ada, adikku (kontestan nomor 2) paling favorit untuk menang. Menyusul kemudian kontestan no 1 dan 3. Dalam tiga bulan terakhir, mulai setelah lebaran, ketiga pesaing berusaha mencari dukungan dengan bermacam cara. Aku tidak terlalu banyak tahu mengenai usaha apa saja yang dilakukan dua kontestan lain. Salah satu sebabnya, aku memang jarang pulang kampung. Dari sisi adikku, dia telah membentuk tim sukses, yang terdiri dari para "bagong", yang tugasnya mencari massa pendukung. Dibangun juga semacam posko di sejumlah tempat di dukuh-dukuh dan RW tertentu.&lt;br /&gt;Betapa menegangkannya situasi menjelang pilkades tampak dari banyaknya perpecahan di antara warga desa, antartetangga, antarkeluarga, antarsaudara, bahkan antara suami dan istri. Konon, perpecahan di antara warga baru bisa pulih dalam hitungan berbulan-bulan, bahkan hingga setahun atau lebih. Ini pasti efek negatif dari sebuah pilkades yang mestinya diantisipasi banyak pihak yang berwenang, guna dibuat aturan atau apa pun untuk meminimalisasi perpecahan seperti ini. Bahwa di A mendukung calon anu dan si B mendukung calon lain tampak nyata seperti "minyak dan air".&lt;br /&gt;Namun pada kenyataannya tidak sesederhana seperti itu. Seperti tampak kemudian setelah usai pilkades, banyak sekali kejadian bahwa seseorang yang tampak sangat mendukung si A ternyata mendukung kubu lawan. Di sini aku baru tahu bahwa orang-orang desa juga bisa bermain sandiwara dengan sempurna.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5277617973649974022-6369534866644273530?l=hermawan-aksan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hermawan-aksan.blogspot.com/feeds/6369534866644273530/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5277617973649974022&amp;postID=6369534866644273530' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5277617973649974022/posts/default/6369534866644273530'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5277617973649974022/posts/default/6369534866644273530'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hermawan-aksan.blogspot.com/2008/01/pulang-1.html' title='Pulang (1)'/><author><name>Hermawan Aksan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06299037799823191218</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5277617973649974022.post-4714678058463563283</id><published>2008-01-12T00:23:00.000-08:00</published><updated>2008-01-12T00:58:22.962-08:00</updated><title type='text'>Telepon dari Andrea</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp1.blogger.com/_OGfaUEk5vIA/R4iA2ys4p0I/AAAAAAAAABs/6ZJ-0INqX0I/s1600-h/Andrea,+Senny,+Kris,+aku.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5154511452336858946" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://bp1.blogger.com/_OGfaUEk5vIA/R4iA2ys4p0I/AAAAAAAAABs/6ZJ-0INqX0I/s200/Andrea,+Senny,+Kris,+aku.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Beberapa hari lalu, Dhipie menghubungiku, seperti biasa dengan suaranya yang ceria dan enak di telinga. Apa kabar, kabar baik, dan seterusnya, Dhipie kemudian cerita dia dikontak Julius Sumanto atau siapa gitu, dari acara Kupas Tuntas di televisi &lt;em&gt;Trans 7&lt;/em&gt;, yang menanyakan nomor kontakku. Dhipie bilang dia sudah memberikan no dan alamat &lt;em&gt;e-mail&lt;/em&gt;-ku. Menurut Dhipie lagi, pihak Kupas Tuntas hendak mengupas soal "Perang Bubat" atau apa gitu.&lt;br /&gt;Dhipie kemudian menyerahkan telepon ke Andrea Hirata. Ah, Ikal! Sudah lama sekali rasanya tidak mendengar suaranya yang juga renyah dan kata-katanya yang tetap rendah hati. Seperti biasa, Ikal menanyakan kegiatanku, sedang menulis apa, buku apa yang terbaru, dan seterusnya. Ia juga menyarankan agar aku belajar sama Dhipie supaya bisa bicara dengan jelas, tidak menggeram. Ha-ha!&lt;br /&gt;Namun kata-katanya kemudian mengejutkanku. "Aku akan pulang ke Belitung tak lama lagi..."&lt;br /&gt;Aku sungguh hampir kehilangan kata-kata. "Untuk seterusnya?"&lt;br /&gt;"Ya. Ibuku sudah payah. Beliau hanya bisa berbaring, tak mampu berdiri lagi," kata Ikal pelan.&lt;br /&gt;"Tak kembali lagi?"&lt;br /&gt;"Nggak lah. Aku pasti akan berkali-kali lagi ke Bandung, kalau Telkom sedang membutuhkan tenagaku. Sekarang pesawat ke sana kan lebih mudah."&lt;br /&gt;"Kami akan kehilangan kau..."&lt;br /&gt;"Tidak lah, kita kan masih bisa kontak-kontak."&lt;br /&gt;Kali ini, aku benar-benar tak tahu apa yang mesti kutulis lagi.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;(Foto: dari kiri Andrea, Teh Senny, Kris, aku)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5277617973649974022-4714678058463563283?l=hermawan-aksan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hermawan-aksan.blogspot.com/feeds/4714678058463563283/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5277617973649974022&amp;postID=4714678058463563283' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5277617973649974022/posts/default/4714678058463563283'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5277617973649974022/posts/default/4714678058463563283'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hermawan-aksan.blogspot.com/2008/01/telepon-dari-andrea.html' title='Telepon dari Andrea'/><author><name>Hermawan Aksan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06299037799823191218</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp1.blogger.com/_OGfaUEk5vIA/R4iA2ys4p0I/AAAAAAAAABs/6ZJ-0INqX0I/s72-c/Andrea,+Senny,+Kris,+aku.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5277617973649974022.post-7821110273304960102</id><published>2008-01-11T23:49:00.000-08:00</published><updated>2008-01-12T00:01:14.526-08:00</updated><title type='text'>Pram Muda Telah lahir...</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_OGfaUEk5vIA/R4hyUCs4pzI/AAAAAAAAABk/-L7lg18D5ig/s1600-h/Rahasia_Meede.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5154495462173615922" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://bp2.blogger.com/_OGfaUEk5vIA/R4hyUCs4pzI/AAAAAAAAABk/-L7lg18D5ig/s200/Rahasia_Meede.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;BACALAH buku tanpa membaca &lt;em&gt;endorsement&lt;/em&gt;-nya terlebih dulu. Saya yakin ini nasihat yang cukup bijak. Sebab, &lt;em&gt;endorsement&lt;/em&gt; (berarti 1. pengesahan, pengabsahan, persetujuan, 2. dukungan, sokongan.) bisa saja menjebak—meskipun tidak bermaksud begitu. &lt;em&gt;Endorsement&lt;/em&gt; pada buku &lt;em&gt;Rahasia Meede, Misteri Harta Karun VOC&lt;/em&gt; karya E.S. Ito yang ditulis sastrawan dan aktivis M. Fadjroel Rachman berbunyi begini: “Novel yang dahsyat detail sejarahnya dan inspiring. Pram muda telah lahir…”&lt;br /&gt;Kalimat akhir yang singkat itu sangat menggoda sekaligus mengecoh. Saya tergoda, maka saya membaca &lt;em&gt;Rahasia Meede&lt;/em&gt; seraya mau tak mau membayangkan dan membandingkannya dengan karya-karya Pram seperti tetralogi &lt;em&gt;Bumi Manusia&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;Arus Balik&lt;/em&gt;, dan &lt;em&gt;Arok-Dedes&lt;/em&gt;. Saya menduga, seperti karya-karya Pram itu, &lt;em&gt;Rahasia Meede &lt;/em&gt;adalah sebuah novel sejarah, sebuah novel yang bercerita dengan latar waktu zaman VOC, seraya berharap menikmati sebuah karya yang kualitas literernya setara—atau mendekati—Pram.&lt;br /&gt;Ternyata saya terkecoh. Meskipun dibuka dengan prolog peristiwa pada November 1949, peristiwa bersejarah yang kita kenal dengan nama Konferensi Meja Bundar, bab-bab selanjutnya buku ini bercerita dengan latar waktu sekarang, lebih setengah abad kemudian. Dikisahkan, wartawan muda koran Indonesiaraya, Batu Noah Gultom, mencium jejak pembunuhan berantai dengan korban orang penting di Boven Digoel, Papua. Ini melengkapi tiga pembunuhan misterius sebelumnya di Bukittinggi, Brussel, dan Bangka, kota-kota yang berhuruf awal “B”, disertai pesan yang diterima keluarga korban, yakni dosa‑dosa sosial sebagaimana pernah ditulis Mahatma Gandhi dalam majalah &lt;em&gt;Young India&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;Pada saat yang sama, tiga peneliti dari Belanda, Erick Marcellius de Noiijer, Rafael Alexander van de Horst, dan Robert Stephane Daucet, terjebak dalam gairah ilmu untuk menemukan de &lt;em&gt;ondergrondse stad&lt;/em&gt;, kota bawah tanah di daerah kota tua Jakarta. Penelitian yang tekun menuntun mereka untuk mengungkap rahasia berusia ratusan tahun di dalam sebuah terowongan tua.&lt;br /&gt;Sementara itu, datang juga Cathleen Zwinckel dari Belanda. Mahasiswi pascasarjana di Universitas Leiden itu mengaku tengah menyelesaikan tesis masternya tentang sejarah ekonomi kolonial. Tapi diam‑diam gadis cantik itu memiliki agenda lain, yaitu memecahkan misteri Surat Kew yang dikeluarkan William V pada 1795. Surat ini menuntunnya pada misteri terbesar yang selama ini hanya menjadi bisik‑bisik, &lt;em&gt;Het Geheim van Meede&lt;/em&gt; (rahasia Meede). Tapi pekerjaan itu tidak semudah yang dia bayangkan. Dia diculik di Pelabuhan Sunda Kelapa dan terdampar di Banda Neira. Dan orang di balik penculikan itu bernama Kalek, buronan nomor satu karena dianggap dalang di balik peristiwa penyerbuan bersenjata pada 2002. Orang yang bertugas memburu Kalek adalah Lalat Merah, nama sandi untuk seorang perwira muda pasukan Sandhi Yudha Kopassus.&lt;br /&gt;Ternyata, mereka berdua adalah teman karib ketika masih di SMA Taruna Nusantara, tapi kemudian masa depan menyodorkan pilihan pahit dalam persahabatan mereka: satu memburu yang lainnya. Dalam perburuan, Kalek mengirimkan isyarat dalam bentuk dialog Musa dan Khidr. Perlahan Lalat Merah membongkar misteri ini sambil terus berusaha menyelamatkan Cathleen Zwinckel. Pertanyaan-pertanyaan mulai terjawab, tentang peristiwa di tahun 2002, 1949, 1722, hingga masa akhir pemerintahan Daendels di Batavia. Maka, pembunuhan berantai, kota bawah tanah, surat Kew, Monsterverbond, Erberveld, dan KMB berujung pada satu misteri besar: harta karun VOC.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;em&gt;RAHASIA Meede&lt;/em&gt; adalah novel kedua E.S. Ito setelah &lt;em&gt;Negara Kelima&lt;/em&gt;. Seperti novel pertamanya, &lt;em&gt;Rahasia Meede &lt;/em&gt;memang mengambil latar belakang sejarah negeri ini, dengan rentetan data sejarah yang lengkap. Dalam data sejarah itu terdapat misteri dan teka-teki, yang kemudian dirangkai dengan data-data sejarah lainnya sehingga terbentuk bangunan misteri besar, yaitu harta peninggalan VOC berupa batangan emas yang tak terbayangkan banyaknya.&lt;br /&gt;Saya memang keliru kalau membandingkan &lt;em&gt;Rahasia Meede&lt;/em&gt; dengan karya-karya Pram. Tapi saya juga tidak bisa mengatakan novel ini buruk. Sebaliknya, dengan sekian banyak tokoh dan alur cerita yang terjalin secara memikat, &lt;em&gt;Rahasia Meede &lt;/em&gt;merupakan karya yang istimewa di tengah karya-karya anak Indonesia yang sebagian besar tarafnya begitu-begitu saja. Dalam banyak hal, novel ini segera mengingatkan saya pada karya-karya Dan Brown seperti &lt;em&gt;Da Vinci Code&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;Malaikat dan Iblis&lt;/em&gt;, yakni jenis novel &lt;em&gt;thriller&lt;/em&gt; dengan misteri pembunuhan dan latar belakang sejarah yang sangat kuat. Kalau kita merasa begitu asyik memvisualkan latar berbagai lokasi pada &lt;em&gt;Da Vinci Code &lt;/em&gt;dan &lt;em&gt;Malaikat dan Iblis&lt;/em&gt;, misalnya detail museum Louvre dan lukisan-lukisannya, serta lorong-lorong bawah tanah di Vatikan, maka saat membaca &lt;em&gt;Rahasia Meede &lt;/em&gt;kita pun segera tergoda untuk membayangkan sebuah terowongan panjang di bawah tanah Kota Jakarta. Sedemikian meyakinkannya deskripsinya, bisa saja kita menjadi yakin, jangan-jangan terowongan itu benar-benar ada.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Rahasia Meede&lt;/em&gt; jelas tidak mungkin dibuat secara main-main. Menurut kabar, buku ini dikerjakan tak kurang dari dua tahun, dengan puluhan sumber informasi dan berbagai riset lokasi hingga Mentawai, Makassar, Banda Neira, dan Papua. Riset, kita tahu, merupakan faktor penting penciptaan sebuah karya kreatif yang baik. Bukan tak mungkin kita pun akan tercengang manakala tahu bahwa E.S. Ito baru berusia 26 tahun.&lt;br /&gt;Ito, yang bernama asli Eddri Sumitra, lahir 21 Juni 1981. Ia menghabiskan masa kecilnya di Kamang, kampung kecil berjarak 12 km dari Bukittinggi, Sumatera Barat, lalu hijrah untuk sekolah di SMA Taruna Nusantara, Magelang, dan akhirnya berdiam di Jakarta. Ito sempat meneruskan studi di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Namun sejak dua tahun lalu ia meninggalkan bangku kuliahnya dan kini bekerja di sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang mengurusi persoalan sosial politik Papua. Kabarnya, ia memutuskan berhenti kuliah lantaran tidak bisa lagi mengerjakan hal-hal yang bukan menjadi minatnya. Minatnya memang adalah sejarah.&lt;br /&gt;Dan dari minatnya yang kuat itulah lahir &lt;em&gt;Negara Kelima&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;Rahasia Meede&lt;/em&gt;, dua karya yang pantas dicatat dalam perjalanan sastra Indonesia.&lt;br /&gt;Sayangnya, bangunan kisah yang memikat dalam &lt;em&gt;Rahasia Meede &lt;/em&gt;ternoda oleh satu bab yang terkesan mengada-ada. Deskripsi tentang terowongan bawah tanah dari Pelabuhan Sunda Kelapa hingga Monumen Nasional memang meyakinkan (meski ada kejanggalan juga, kenapa di ujung utara terowongan itu menghadap ke laut, artinya terowongan itu sebenarnya tak lagi misterius karena akan mudah ditemukan). Namun ketika tokoh utama Kalek dan Cathleen Zwinckel menemukan apa yang mereka cari di bawah Monas, yang sempat menyebabkan puncak tugu berlapis emas itu melesak ke badan tugunya, bangunan kisah menjadi goyah. Untuk bisa seperti itu, bagian dalam tugu Monas harus berbeda total dari kenyataan yang ada. Lagi pula, dari segi ukuran, api Mona situ lebih besar—setidaknya sama—dengan leher tugu. Jadi, bagaimana bisa api Monas turun hingga lenyap ke dalam badan tugunya? Bab ini bisa dihilangkan tanpa mengganggu bangunan cerita secara keseluruhan.&lt;br /&gt;Ito juga kurang mampu menggali karakter unik tiap tokohnya. Hampir semua tokoh penting dalam &lt;em&gt;Rahasia Meede&lt;/em&gt; memiliki pengetahuan mendalam mengenai sejarah dan bisa bercerita dengan pola kalimat dan tingkat pengetahuan yang serupa. Seperti saat membaca karya Kho Ping Hoo, saya sulit sekali menghafal nama tiga peneliti Belanda itu, Erick Marcellius de Noiijer, Rafael Alexander van de Horst, dan Robert Stephane Daucet. Saya juga tak bisa cepat membedakan Erick, Rafael, dan Robert, karena gaya ungkap kalimat mereka serupa.&lt;br /&gt;Ada kekeliruan seperti berikut ini. Pada halaman 518 ditulis: &lt;em&gt;Tangannya merogoh rokok dari kantong. Sepanjang pertemuan mereka, baru kali ini dia (Kalek) merokok di depan Cathleen&lt;/em&gt;. Padahal di halaman 455 ditulis: &lt;em&gt;Pada pertemuan mereka di Banda, Kalek menahan diri untuk tidak merokok. Sekarang dia tidak tahan lagi. Secangkir kopi pahit dan sebatang rokok untuk sebuah perayaan pertemuan. &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Ito juga terus menggunakan penulisan Deandels, bukan Daendels seperti yang lebih banyak dikenal. Sementara itu, gambaran seorang wartawan juga stereotipe: membawa-bawa kamera dan buku notes.Pram muda, tentu saja, tidaklah harus menjadi duplikat Pram. Jadi, meski sempat terkecoh, saya sepakat bahwa telah lahir pengarang yang, kita harap, kelak bisa setaraf dengan Pram. (*)&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;(Ini versi asli dari tulisan yang dimuat di &lt;em&gt;Pikiran Rakyat&lt;/em&gt;, Sabtu 12 Januari. Di &lt;em&gt;PR&lt;/em&gt;, ada beberapa alinea yang dipotong, mungkin dengan alasan keterbatasan ruang)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5277617973649974022-7821110273304960102?l=hermawan-aksan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hermawan-aksan.blogspot.com/feeds/7821110273304960102/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5277617973649974022&amp;postID=7821110273304960102' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5277617973649974022/posts/default/7821110273304960102'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5277617973649974022/posts/default/7821110273304960102'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hermawan-aksan.blogspot.com/2008/01/pram-muda-telah-lahir.html' title='Pram Muda Telah lahir...'/><author><name>Hermawan Aksan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06299037799823191218</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_OGfaUEk5vIA/R4hyUCs4pzI/AAAAAAAAABk/-L7lg18D5ig/s72-c/Rahasia_Meede.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5277617973649974022.post-1674209648497845127</id><published>2008-01-10T23:38:00.000-08:00</published><updated>2008-01-10T23:46:08.664-08:00</updated><title type='text'>Jangan Sampai Ada Badai Eulis</title><content type='html'>GAJAH Mada, konon, memiliki kesaktian yang luar biasa. Salah satu kesaktian itu adalah ia mampu menciptakan angin puting beliung. Hanya melalui pemusatan pikiran dalam kepalanya, Mahapatih Majapahit itu mampu mengatur kecepatan angin, mengumpulkannya, menciptakan angin lesus, yang makin lama bisa makin besar menjadi angin puting beliung, lalu mengarahkannya sesuai dengan keinginannya. Betapa dahsyat, dan betapa mengerikan, kalau ilmu kesaktian itu disalahgunakan.&lt;br /&gt;Namun itu hanyalah dongeng yang dikisahkan kembali oleh Langit Kresna Hariadi dalam serialnya yang terkenal, &lt;em&gt;Gajah Mada&lt;/em&gt;. Apakah benar Gajah Mada sakti seperti itu, wallahu alam. Yang pasti, angin puting beliung memang mengerikan kalau datang melanda wilayah perkampungan. Beberapa hari belakangan, angin puting beliung menghantam sejumlah daerah di Indonesia. Beberapa waktu lalu, hujan deras disertai angin puting beliung melanda Kampung Sukasirna, Kelurahan Karanganyar, Kecamatan Kawalu, Kota Tasikmalaya, yang mengakibatkan seorang mengalami luka, puluhan pohon tumbang, dua rumah rusak berat, belasan rusak ringan, serta sebuah tempat pemeliharaan ayam ambruk. Tiga hari sebelumnya, angin puting beliung memorak-porandakan sekitar 272 rumah warga di dua desa di Kecamatan Sukaresmi, Kabupaten Cianjur. Seminggu sebelumnya, angin yang serupa menyapu tujuh kampung di Desa/Kecamatan Buahdua, Sumedang, mengakibatkan pohon-pohon tumbang dan genting-genting serta seng atap rumah berterbangan. Pada saat yang hampir bersamaan, angin puting beliung juga menerjang Denpasar dan Gianyar, yang menyebabkan sejumlah rumah dan pura rusak, serta satu orang tewas tertimpa pohon.&lt;br /&gt;Mengapa disebut angin puting beliung? &lt;em&gt;Puting&lt;/em&gt; adalah bagian pangkal pisau yang runcing dan dibenamkan ke dalam tangkai hulu, sedangkan &lt;em&gt;beliung&lt;/em&gt; adalah perkakas tukang kayu, yang rupanya seperti kapak dengan mata melintang (tidak searah dengan tangkainya). Logikanya, puting beliung adalah bagian pangkal beliung yang runcing yang dibenamkan ke dalam tangkainya. Kita juga bisa berpikir bahwa angin puting beliung adalah sejenis angin yang bentuknya mirip puting beliung. Dan memang demikian, angin jenis ini memiliki bentuk yang tajam di bagian bawahnya, mirip pangkal pisau yang tajam. Anehnya, &lt;em&gt;Kamus Besar Bahasa Indonesia&lt;/em&gt; (&lt;em&gt;KBBI&lt;/em&gt;) memberikan pengertian puting beliung sebagai udara yang bergerak dengan cepat dan bertekanan tinggi, sedangkan angin puting beliung adalah gerakan udara (angin) yang berpusing, atau angin puyuh. Jadi, apa bedanya?&lt;br /&gt;&lt;em&gt;KBBI&lt;/em&gt; sungguh membuat bingung ketika memberikan definisi tentang berbagai jenis angin. Pada entri &lt;em&gt;angin&lt;/em&gt;, disebutkan bahwa &lt;em&gt;angin topan&lt;/em&gt; sama dengan angin puting beliung. Namun pada entri &lt;em&gt;topan &lt;/em&gt;disebutkan bahwa &lt;em&gt;topan&lt;/em&gt; sama dengan angin ribut, badai. Kembali ke entri &lt;em&gt;angin&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;angin ribut&lt;/em&gt; didefinisikan sebagai gerakan udara yang kecepatannya antara 32 dan 37 knot (mil per jam). Namun pada entri &lt;em&gt;badai&lt;/em&gt;, dipaparkan bahwa &lt;em&gt;badai&lt;/em&gt; adalah angin kencang yang menyertai cuaca buruk (yang datang dengan tiba-tiba) berkecepatan antara 64 dan 72 knot; topan.&lt;br /&gt;Jadi, apa bedanya? Kalau dijejerkan seperti itu, tampak bahwa jenis-jenis angin kencang itu dibedakan dari kecepatannya--dan tentu saja besarannya, serta tingkat kerusakan yang diakibatkan. Angin puting beliung (angin ribut) melanda kawasan yang tak terlalu luas dan terjadi hanya dalam kisaran jam, sedangkan topan (badai) mampu meluluhlantakkan kawasan yang luas dan bisa bertahan berhari hari, malah boleh jadi lebih dari seminggu.&lt;br /&gt;Di Amerika, dikenal istilah &lt;em&gt;tornado&lt;/em&gt;, ya jenis topan badai pula. Begitu juga dengan &lt;em&gt;hurricane&lt;/em&gt;. Uniknya, entah mengapa, topan badai di dunia diberi embel-embel nama yang bagus. Ada nama &lt;em&gt;El Nino&lt;/em&gt; (yang berarti "Si Bocah"), ada juga &lt;em&gt;La Nina&lt;/em&gt; ("Si Bocah Perempuan"), yang melanda banyak negara beberapa tahun lalu, yang imbasnya sampai pula di Indonesia. Di Amerika, badai yang terkenal adalah Katrina. Bukankah ini nama perempuan juga? Di Bangladesh, badai itu bernama &lt;em&gt;Sidr&lt;/em&gt; (dari kata &lt;em&gt;Sidra&lt;/em&gt;, yang berarti "bintang jatuh").&lt;br /&gt;Tentu kita berharap tidak akan ada badai yang namanya Ujang, Eulis, atau Butet.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5277617973649974022-1674209648497845127?l=hermawan-aksan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hermawan-aksan.blogspot.com/feeds/1674209648497845127/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5277617973649974022&amp;postID=1674209648497845127' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5277617973649974022/posts/default/1674209648497845127'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5277617973649974022/posts/default/1674209648497845127'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hermawan-aksan.blogspot.com/2008/01/jangan-sampai-ada-badai-eulis.html' title='Jangan Sampai Ada Badai Eulis'/><author><name>Hermawan Aksan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06299037799823191218</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5277617973649974022.post-3758638886224684918</id><published>2008-01-09T02:51:00.000-08:00</published><updated>2008-01-09T03:07:51.035-08:00</updated><title type='text'>Buku Baruku: Kembalikan Anakku!</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp0.blogger.com/_OGfaUEk5vIA/R4Sq4is4pxI/AAAAAAAAABU/MVsEHTQ8BRM/s1600-h/Cover_Raisah_Ali2.bmp"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5153431761983153938" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://bp0.blogger.com/_OGfaUEk5vIA/R4Sq4is4pxI/AAAAAAAAABU/MVsEHTQ8BRM/s200/Cover_Raisah_Ali2.bmp" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Aku baru tahu buku terbaruku sudah beredar setelah aku membuka situs &lt;a href="http://www.mizan.com/"&gt;http://www.mizan.com/&lt;/a&gt; hari ini. Beberapa waktu lalu Mas Baiquni dari Mizan memberitahukan bahwa buku yang diberi judul &lt;em&gt;Kembalikan Anakku!&lt;/em&gt; itu sudah dipajang lebih dulu di Jakarta, terutama di toko buku MP Book Point. Dia bilang di Bandung baru Januari ini dan aku belum tahu apakah buku tersebut sudah dipajang di toko-toko di Bandung.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Buku &lt;em&gt;Kembalikan Anakku!&lt;/em&gt; berisi kisah penculikan Raisah Ali, Agustus 2007, yang sempat menggegerkan masyarakat Indonesia, bahkan melibatkan peran Presiden SBY ketika aparat kesulitan menemukan di mana gerangan Raisah.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Aku menyusunnya dari berita-berita yang muncul di berbagai media (koran, majalah, internet) dan wawancara langsung dengan Ali Said, ayah Raisah.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Berikut ini deskripsi tentang buku ini yang kukutip dari situs Mizan:&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Pada 15 Agustus 2007, Raisah, anak perempuan berusia 5 tahun, diculik dalam perjalanan pulang dari sekolah. Sejak saat itu, selama 9 hari, perhatian seluruh Indonesia tertuju pada kasus penculikan paling menghebohkan tahun lalu itu. Berkat kesigapan polisi dan kerja sama keluarga korban, kasus ini dapat dipecahkan dengan cepat dan korban dapat pulang dengan selamat. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Kasus penculikan Raisah Ali penting untuk dikaji karena sesungguhnya ini hanyalah gunung es dari maraknya penculikan di Indonesia. Buku ini memaparkan secara kronologis kasus Raisah Ali dan menggambarkan langkah demi langkah upaya keluarga dan polisi menyelamatkan Raisah. Dilengkapi pula dengan berbagai data tentang penculikan dan tip-tip praktis untuk mencegah dan menghadapi penculikan. Oleh karena itu, buku ini amat penting dibaca oleh orangtua, guru, dan bahkan semua orang yang peduli akan keamanan masyarakat. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;"Buku ini mampu memberikan gambaran kepada kita bahwa anak-anak pada dasarnya mempunyai hak untuk memperoleh perlindungan dari berbagai tindak kekerasan, termasuk penculikan." --Kak Seto, Ketua Komnas Perlindungan Anak &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5277617973649974022-3758638886224684918?l=hermawan-aksan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hermawan-aksan.blogspot.com/feeds/3758638886224684918/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5277617973649974022&amp;postID=3758638886224684918' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5277617973649974022/posts/default/3758638886224684918'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5277617973649974022/posts/default/3758638886224684918'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hermawan-aksan.blogspot.com/2008/01/buku-baruku-kembalikan-anakku.html' title='Buku Baruku: Kembalikan Anakku!'/><author><name>Hermawan Aksan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06299037799823191218</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_OGfaUEk5vIA/R4Sq4is4pxI/AAAAAAAAABU/MVsEHTQ8BRM/s72-c/Cover_Raisah_Ali2.bmp' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5277617973649974022.post-7781656405423493120</id><published>2008-01-08T05:23:00.000-08:00</published><updated>2008-01-10T07:37:38.585-08:00</updated><title type='text'>Sastra Mati Lampu di Unpas</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_OGfaUEk5vIA/R4Y0Ris4pyI/AAAAAAAAABc/-M9dIZTOi4k/s1600-h/Hermawan_Nenden_Lilis4.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp2.blogger.com/_OGfaUEk5vIA/R4Y0Ris4pyI/AAAAAAAAABc/-M9dIZTOi4k/s200/Hermawan_Nenden_Lilis4.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5153864299549599522" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Mulanya terkejut ketika Ian dari Fakultas Sastra Inggris Unpas memintaku menjadi pembicara dalam seminar dengan tema "Sastra Mati Lampu". Lah, sastra begitu riuh rendah dan terang benderang kok dibilang mati lampu. Rupanya, yang mati lampu justru di fakultas mereka. Itu pun lebih kepada langkanya kegiatan sastra dan penciptaan karya di antara mereka. Mereka ingin tercipta sebuah atmosfer yang membuat mereka bergairah dalam bersastra.&lt;br /&gt;Maka hari ini, Selasa 8 Januari, aku tampil di depan para mahasiswa/i FSI Unpas, bersama dengan Nenden Lilis Aisyah. Di jagat sastra Indonesia, nama Nenden tak perlu dijelaskan lagi. Selain mengajar di almamaternya, UPI, ia masih terus menciptakan puisi dan cerpen, serta aktif dalam banyak kegiatan sastra.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;nDilalah&lt;/em&gt;, kata orang Jawa, acara diskusi ini dibuka oleh pembacaan puisi yang antara lain karya (alm.) Beni R. Budiman, mantan suami Nenden. Mungkin sengaja? Wallahualam. Aku sendiri menyampaikan materi dengan mengutip sebuah tulisan Beni mengenai kampus dan para sastrawannya, yang pernah dimuat di &lt;em&gt;Pikiran Rakyat&lt;/em&gt; tahun 2001. Terus terang aku tidak sengaja. Sebab, tulisan Beni itu sesuai dengan tema diskusi sastra, dan namaku disebut dalam tulisan itu.&lt;br /&gt;Diskusi dihadiri sekitar 40-50 mahasiswa. Kupikir ini jumlah yang cukup menggembirakan mengingat tak ada "paksaan" untuk hadir seperti tempo hari ketika Teh Senny (Al Wasilah) mengajakku berbicara dalam program "sastrawan masuk kampus", yang merupakan bagian dari kuliah mahasiswanya.&lt;br /&gt;Pertanyaan yang muncul juga menantang, meskipun masih ada juga soal "bagaimana trik menulis supaya menarik". Tak apa. Yang penting adalah antusiasme mereka.&lt;br /&gt;Di akhir acara, mereka memberikan antologi puisi mereka buatku dan Nenden. Lepas dari kualitas puisi-puisi itu, bahwa mereka sudah bisa bikin antologi, meski dengan bentuk buku yang sederhana, sangat patut dihargai. Salut.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5277617973649974022-7781656405423493120?l=hermawan-aksan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hermawan-aksan.blogspot.com/feeds/7781656405423493120/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5277617973649974022&amp;postID=7781656405423493120' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5277617973649974022/posts/default/7781656405423493120'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5277617973649974022/posts/default/7781656405423493120'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hermawan-aksan.blogspot.com/2008/01/sastra-mati-lampu-di-unpas.html' title='Sastra Mati Lampu di Unpas'/><author><name>Hermawan Aksan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06299037799823191218</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_OGfaUEk5vIA/R4Y0Ris4pyI/AAAAAAAAABc/-M9dIZTOi4k/s72-c/Hermawan_Nenden_Lilis4.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5277617973649974022.post-171673528289748784</id><published>2008-01-06T03:07:00.000-08:00</published><updated>2008-01-06T03:11:10.103-08:00</updated><title type='text'>Enam Jam Sepuluh Pengamen</title><content type='html'>BARANG siapa ingin jadi pejabat atau anggota dewan, sesekali cobalah naik bus ekonomi antarkota. Sebab, kalau sudah duduk di kursi empuk, tak bakallah punya waktu bepergian naik kendaraan seperti itu.&lt;br /&gt;Begini ceritanya.&lt;br /&gt;Dua minggu sekali, saya pulang kampung ke Bumiayu, Brebes. Setelah dua-tiga hari di sana, kembali lagi ke Bandung. Tiap hendak berangkat, saya harus menyediakan recehan, bisa seratusan, dua ratusan, atau lima ratusan.&lt;br /&gt;Benar saja. Baru saja duduk di bus, muncul pengamen. Wajahnya tak asing lagi. Begitu juga prolognya: &lt;em&gt;Selamat pagi menjelang siang, selamat jumpa lagi dengan saya, seniman jalanan, izinkan saya mengganggu sejenak ketenangan Anda&lt;/em&gt;. Lagunya pun itu-itu juga, campur sari, diiringi ukulele. Selesai satu atau dua lagu, si pengamen menemui penumpang satu per satu sambil membuka telapak tangan, mirip pengemis.&lt;br /&gt;Turun pengamen yang pertama, naik pengamen berikutnya. Sama membawa ukulele. Kali ini lagunya pop. Sama seperti sebelumnya, cukup satu atau dua lagu, pengamen pun menyisiri kursi penumpang. "&lt;em&gt;Kami tidak memaksa. Kami hanya mohon keridoan para penumpang. Tapi hargailah keringat kami&lt;/em&gt;," katanya.&lt;br /&gt;Bus melaju keluar dari terminal. Masuk lagi pengamen ketiga. Kali ini membawa gitar. Lagunya "lagu wajib pengamen": &lt;em&gt;daripada nyolong ayam, dihukum tiga bulan kurungan, lebih baik mengamen&lt;/em&gt;, dan seterusnya. Kalau hanya sekali dua kali, rasanya masih ada toleransi. Tapi tiga kali terus-menerus?&lt;br /&gt;Untunglah sampai ke Losari, selama dua jam cukup sunyi. Tapi setelah melewati batas Jawa Barat, tepatnya di Gebang, naiklah serombongan pengamen. Ada penabuh gendang, pemetik gitar, pencabik bas, penabuh tamborin, dan penyanyinya. Alat-alat musik itu disambungkan ke amplifier. Penyanyinya wanita, berpakaian ala biduan, berpupur putih, dan bibir berpulas lipstik merah.&lt;br /&gt;Setelah main, enak juga di kuping, meski pengeras suaranya kemeresak. Ritemnya meniru Rhoma Irama. Bas dan gendangnya berdentam, mengalahkeun suara mesin bus. Suara penyanyina pun merdu. Khas penyanyi dangdut. Mereka ini pengamen atau penyanyi betulan? Boleh jadi, semacam job sampingan daripada menganggur tanpa order. Sayang penyanyinya tak leluasa berjoget seperti di panggung.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Basah basah basah, seluruh tubuh, ah ah ah&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;Sayang cuma dua lagu, tahu-tahu sampai Kanci, sebelum jalan tol Cirebon. Tampaknya penumpang suka. Buktinya, banyak yang memberi seribuan, yang diterima si penyanyi dengan senyum manisnya.&lt;br /&gt;Keluar dari tol di Plumbon, segera naik berbondong tukang-tukang asong dan pengamen. Kali ini pengamennya bocah lelaki kira-kira sepuluh tahun. Tangannya memegang tamborin yang terbuat dari tutup-tutup botol minuman yang dipakukan ke tangkai kayu. Lagunya tak jelas. Suara ke mana, musik ke mana. Ada yang memberi pun mungkin lebih karena kasihan.&lt;br /&gt;Setelah itu, tiap masuk kota, ada saja pengamen yang naik. Di Jatiwangi, Kadipaten, Sumedang. Ada yang serius, ada juga yang sekadarnya, sambil mengancam segala. "&lt;em&gt;Kami hanya mengamen. Kami bukan mau ngerampok. Tapi hargai kami, jangan pura-pura tidur atau melihat ke luar jendela&lt;/em&gt;," katanya.&lt;br /&gt;Keluar dari Sumedang, saya pikir sudah tak ada lagi. Malah sebaliknya. Tak henti-henti sejak menjelang Cadas Pangeran, Tanjung Sari, Jatinangor, sampai Cileunyi sebelum masuk jalan tol. Terus-menerus. Turun yang satu, naik yang lain.&lt;br /&gt;Kadang berpikir, kenapa pengamen makin banyak? Benarkah ini salah satu tanda di negeri ini susah mencari kerja? Lagi pula, cukupkah mengamen di bus sebagai nafkah sehari-hari? Bukankah penumpang bus ekonomi kebanyakan rakyat biasa, orang-orang kampung yang juga mencari nafkah di kota, seperti tukang bakso, pelayan warteg, karyawan pabrik, pedagang kaki lima, dll?&lt;br /&gt;Buat para pejabat dan anggota dewan, nah, persoalan seperti inilah yang harusnya menjadi pemikiran. Jangan malah menginginkan yang tidak-tidak. Mobil baru, kenaikan gaji, atau laptop.&lt;br /&gt;**&lt;br /&gt;Turun dari bus, naik angkot, barulah bernapas lega. Terasa bebas dari tukang asong dan pengamen. Enam jam di jalan, ada setidaknya sepuluh pengamen. Sayang tak lama. Di perempatan lampu merah pertama, sudah menyambut pengamen lagi, tepat di mulut pintu angkot.&lt;br /&gt;Jreng-jreng-jreng! (*)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5277617973649974022-171673528289748784?l=hermawan-aksan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hermawan-aksan.blogspot.com/feeds/171673528289748784/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5277617973649974022&amp;postID=171673528289748784' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5277617973649974022/posts/default/171673528289748784'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5277617973649974022/posts/default/171673528289748784'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hermawan-aksan.blogspot.com/2008/01/enam-jam-sepuluh-pengamen.html' title='Enam Jam Sepuluh Pengamen'/><author><name>Hermawan Aksan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06299037799823191218</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5277617973649974022.post-4626595089839519938</id><published>2008-01-05T03:27:00.000-08:00</published><updated>2008-01-05T03:31:25.076-08:00</updated><title type='text'>Deudeuh Teuing, Eulis</title><content type='html'>&lt;div align="left"&gt;MEH sataun cicing di Bandung, kakara ayeuna aya kasempetan lalajo sandiwara Sunda. Kahiji, pagawean asa weleh teu beak-beak tepi ka peuting unggal poena. Ma’lum atuh, kantor koran anyar, sagalana kudu ti enol wae. Komo salaku redaktur mah, apan kuring kudu miluan mariksa hasil &lt;em&gt;lay out&lt;/em&gt;. Nu kadua, pintonan sandiwara Sunda teh langka pisan. Ceuk beja mah aya sabulan sakali ge geus lumayan.&lt;br /&gt;Teu sabar ngadagoan jam dalapan. Ti mangkukna keneh geus ngajak babaturan lalajo babarengan.&lt;br /&gt;“Aya keneh kitu sandiwara Sunda teh?” ceuk Kang Aom semu keom.&lt;br /&gt;“Di Rumentang Siang, malem Minggu,” tembal kuring.&lt;br /&gt;“Moal ah, geus boga jangji…”&lt;br /&gt;“Acara keluarga nya?”&lt;br /&gt;“… jeung Meti.” Bari ngiceup kituna teh.&lt;br /&gt;Tuluy ngabelengeh, jiga munding keur ngagayem. Emh, eta si akang, boga beungeut kawas kedok bakal ge, bisa we ngajakan ulin jeung nu mencrang.&lt;br /&gt;Ngajakan Deni nya kitu deui. “Pamajikan datang ti lembur,” cenah. Enya ge pada-pada urang Sunda, asa beda Deni jeung Kang Aom teh. Ari nu hiji tipeu salaki satia, nu hiji deui mah, duka tah… Tapi da ketang, euweuh hubunganana antara lalaki Sunda jeung karakter satia atawa henteu.&lt;br /&gt;Satadina mah ukur heureuy ngajakan Lis teh. Minggu ieu manehna giliran asup beurang, ti jam dua belas tepi ka jam dalapan peuting. Teu geulis-geulis teuing, tapi manis. Kulitna beresih, buukna dicet semu beureum, tur eta panonna cureuleuk. Pangpangna mah sorana mani halimpu. Komo mun keur &lt;em&gt;maging&lt;/em&gt; ka saha wae nu dituju: “Kanggo ka bagian redaksi, aya telepon dina &lt;em&gt;line &lt;/em&gt;hiji,” cenah, teu beda jeung sora di supermarket.&lt;br /&gt;Can aya sabulan Lis teh gawe di ieu kantor, di bagian &lt;em&gt;front office&lt;/em&gt;. Cenah mah geus boga salaki tur budak hiji. Ngan aya beja, cenah rumah tanggana keur aya masalah. Wallahualam, da can kungsi nanya soal eta.&lt;br /&gt;“Urang malem Mingguan yu?” cek kuring kamari, bari jongjon leumpang ka luar. Teu ngarep-ngarep. Paling oge diwalon ku imut.&lt;br /&gt;“Hayu. Ka mana?”&lt;br /&gt;Reg we.&lt;br /&gt;Enyaan ieu teh? Teu salah denge?&lt;br /&gt;Kuring ngalieuk.&lt;br /&gt;Panon cureuleuk teh neuteup mani anteb. Nyeh imut. Leuh, enya, ku manis biwir nu imut teh. Apel cina lah.&lt;br /&gt;“Lalajo sandiwara Sunda, kersa teu?”&lt;br /&gt;“Dupi sandiwara Sunda teh naon kitu Pa?”&lt;br /&gt;Euleuh eta geura. Dasar budak ngora, najan geus boga budak ge. Sabaraha kitu umurna teh? Aya 23? Emh, enya meureun, masa kajayaan sandiwara Sunda teh geus pareum lila. Nya kitu deui meureun masa kajayaan kuring? Asa cikeneh ngora keneh. Ayeuna mah pada nyarebut teh lain “A” atawa “Kang”, tapi “Pa”.&lt;br /&gt;“Tingali we geura enjing wengi.”&lt;br /&gt;“Hoyong Pa.”&lt;br /&gt;“Leres?”&lt;br /&gt;Nyeh deui imut. “Moal aya nu bendu?”&lt;br /&gt;Kakara harita mah ngabarakatak. Ras inget ka jaman sapuluh atawa lima welas taun ka tukang, mun ngajak kenalan teh kitu jawabanana. Nanya, tapi teu merelukeun jawaban. Kaasup retoris kitu nya. Kalimah kitu teh teu kudu dijawab, da samalah mah bisa dihartikeun satuju. Nguatkeun kekecapan nu ti heula tea: hayu, ka mana? Teu, teu kudu ngajawab “moal”, lantaran bisa jadi malah ngaruksak suasana.&lt;br /&gt;“Malem Minggu jam dalapan, nya?”&lt;br /&gt;“Oke, Pa.”&lt;br /&gt;Enyaan, teu sabar ngadagoan Saptu peuting jam dalapan. Kacipta duaan lalajo di gedong anu poek, bari pacekel-cekel leungeun. Jiga keur ngora. Teu nanaon meureun nya, angen-angen pecat sawed, najan umur geus meh tunggang gunung.&lt;br /&gt;Meunang beja aya sandiwara Sunda teh ti Dian. Manehna apal da dibejaan ku Kang Moel, kuncen gedong kasenian Rumentang Siang tea. Ngan hanjakal Dian ge teu bisa lalajo. Aya kasibukan pikeun persiapan acara LBSS, cenah.&lt;br /&gt;Ku kabeneran, lalakonna teh &lt;em&gt;Sangkuriang Kabeurangan&lt;/em&gt;. Karesep kuring baheula. Ras inget ka jaman harita, taun mimiti dalapan puluhan. Kuring kakara kelas dua SMP. Harita geus dua minggu leuwih aya rombong&amp;shy;an sandiwara anu minton di lembur kuring, hiji desa anu saenyana mah asup Jawa Tengah, kira-kira 25 km ti wates jeung Jawa Barat, tapi masarakat sapopoena nyarita ku basa Sunda.&lt;br /&gt;Peuting harita rombongan mintonkeun lalakon &lt;em&gt;Sangkuriang Kabeurangan&lt;/em&gt;. Ku lantaran geus lila didago-dago, atuh nu lalajo ngabrul. Kuring ngahaja datang ti sore keneh, ngarah meunang tempat di hareup.&lt;br /&gt;Nu lalajo sarurak eak-eakan basa Miss Titin, minangka sripanggungna, kaluar. Aeh, da di panggung mah lain Miss Titin. Make siger pulas emas dina rambutna, susumping dina cepilna, jeung gelang bahu dina puhu leungeunna, Miss Titin teh estuning ngaleungit, ngajanggelek jadi putri Dayang Sumbi.&lt;br /&gt;Hate ngageter basa neuteup Nyi Dayang Sumbi.&lt;br /&gt;Ngagolak malahan mah.&lt;br /&gt;Hayang pisan jleng ka panggung, ngarah kuring anu jadi Sangkuriangna.&lt;br /&gt;Isukna, wanci carangcang tihang, kuring buru-buru mawa anduk jeung gayung nu dieusian sabun, sikat, jeung odol, indit ka Cidadap. Leumpang gancang dina gang, tuluy bras ka jalan satapak. Ti dinya mapay galengan sawah, memeh tepi ka walungan.&lt;br /&gt;Di palebah wetan, cahaya sumirat ngagembat di beulah katuhu Gunung Slamet, dipapaes ku sesa-sesa bentang peuting tadi, nu can kaburu ngaleungit tina lambar langit.&lt;br /&gt;Walungan Cidadap teh ngamalir ti Gunung Baribis nu ngujur di beulah kulon, ti kidul ka kaler. Hejo poek, dilataran ku langit semu kulawu. Jiga parawan nu weleh tibra dina endahna alam pangimpian. Di beulah wetan, Cidadap ngamuara ka Ciraja, tuluy ka Cipamali.&lt;br /&gt;Walungan teh kira-kira genep meter. Mun keur usum hujan, caina tarik pisan. Komo mun keur caah, euweuh nu wani meuntas cai nu ngagalura. Tapi mun usum halodo kawas harita, walungan saat. Caina ukur sagede curuk. Kari batu-batu we jeung karikil. Najan kitu, walungan teh penting pisan pikeun urang lembur mah. Mun sumur-sumur di imah geus saat, geus cunduk waktuna ngandelkeun Cidadap. Urang lembur nyarieun sumur di sapanjang walungan. Jerona aya kana sameterna, dikurilingan ku batu-batu. Aya oge nu ditambahan ku daun kalapa.&lt;br /&gt;Kuring mandi dina sumur deukeut cadas. Sakumaha umumna lalaki, mandi teh dilaan sagalana. Da geus biasa, jeung deui teu kudu era sagala. Awewe ge sawareh mah aya nu mandi buligir. Tapi aya oge anu disamping nuruban awak nepi ka dadana.&lt;br /&gt;Kitu pamandangan sapopoena teh. Tur biasana ge kuring teu paduli.&lt;br /&gt;Ngan harita, basa geus dibaju tur rek balik ka imah, kuring kasima basa ngalieuk ka katuhu.&lt;br /&gt;Dina sumur cadas, kasampak aya awewe keur mandi buligir. Nyiuk cai bari cingogo, tuluy lalaunan disiramkeun kana buukna nu ngarumbay nepi ka tonggong. Caina sawareh nyuruluk maseuhan taktak, kana leungeun, tuluy nyarakclakan kana cangkeng jeung pingping buligir. Buuk hideung ngarumbay jeung kulit koneng umyang, kakara harita kuring manggihan. Moal aya awewe lembur nu buuk jeung pakulitanana jiga kitu. Awewe di lembur kuring mah buukna lolobana semu beureum, parondok, tur ngahaja dijieun galing model harita. Kulitna karereana soklat, malah mah loba nu semu hideung.&lt;br /&gt;Basa eta awewe rada ngalieuk, moal salah deui.&lt;br /&gt;Dayang Sumbi. Aeh, Miss Titin.&lt;br /&gt;Eta pamandangan teh teu kapopohokeun tepi ka kiwari.&lt;br /&gt;Ti saprak harita, unggal peuting kuring lalajo sandiwara. Pangpangna mah hayang panggih jeung nu geulis, najan manehna mah di panggung, ari kuring cukup lalajo bareng jeung batur. Da mun hayang leuwih ti kitu mah asa ngajul bentang ku asiwung.&lt;br /&gt;Ma’lum kuring teh budak bau jaringao keneh. Can boga kawani ngadeukeutan.&lt;br /&gt;Hanjakal, ngan sabulan rombongan sandiwara teh. Geus lekasan minton di lembur kuring, rombongan teh indit, teuing ka mana.&lt;br /&gt;Les we. Karasa aya nu leungit satutuluyna. Ka mana nya ari Miss Titin? Tepi ka ayeuna, aya kana dua puluh taun, euweuh bejana.&lt;br /&gt;Kuring nuluykeun sakola ka Jogja, tuluy gawe di Surabaya. Kungsi ka Makassar, Batam, Balikpapan, jeung Jakarta. Tah, basa datang ka Bandung, bet asa muncang labuh ka puhu, kebo mulih pakandangan. Asa balik ka lembur sorangan, boh lantaran basana boh kasenianana.&lt;br /&gt;Hanjakal neangan Nyi Sumbi teh weleh teu kapanggih.&lt;br /&gt;Kungsi dua kali lalajo teater Sunda. Tapi beda pisan jeung sandiwara Sunda. Ari teater mah apan make naskah, tur caritana lolobana ngeunaan kaayaan kiwari. Kitu deui blokingna beda pisan. Teu kudu make layar anu digambaran ku rupa-rupa pamandangan atawa korsi nu dipapaesan minangka singgasana.&lt;br /&gt;Harita nu lalajo geus ngantay memeh panto gedong kasenian dibuka. Kuring milu ngantay, sanggeus meuli tiket sapuluh rebuan. Emh, pikareueuseun. Komo nu lalajo rereana barudak ngora. Jigana barudak SMA jeung mahasiswa. Sihoreng loba keneh anu micinta kana kasenian sorangan. Aya eta ge hiji-dua anu pating caletrek kana hape, atawa pating cikikik sorangan, basa teater keur maen. Tapi nya teu nanaon. Nu penting mah korsi di jero gedong teh meh pinuh ku nu lalajo.&lt;br /&gt;Kungsi deui lalajo wayang di gedong YPK, sarua pinuh ku nu lalajo.&lt;br /&gt;Kitu deui basa lalajo reog di festival Jalan Braga.&lt;br /&gt;Ceuk saha urang Sunda teu micinta kasenian Sunda?&lt;br /&gt;**&lt;br /&gt;NGAN hanjakal pisan, Saptu jam tujuh, Lis ngabejaan teu bisa maturan. “Bade ka BSM sareng pun raka,” cenah.&lt;br /&gt;Sawios.&lt;br /&gt;Jam dalapan kurang lima menit, kuring sorangan leumpang mapay jalan di Kosambi.&lt;br /&gt;Patalimarga ngarayap. Jelema lalar-liwat. Ka marana nya? Ka gedong Rumentang Siang kitu? Ras inget kana abrulan urang lembur nu rek lalajo sandiwara Sunda harita.&lt;br /&gt;Bus ka Jalan Baranang Siang. Karasa rada tiiseun. Jalan barecek, urut hujan pasosore. Di sisi jalan mah angger caraang ku nu daragang. Ras inget deui, harita ge di lembur, mun aya pintonan, sapanjang jalan baranang ku patromak nu daragang.&lt;br /&gt;Reg di hareupeun Rumentang Siang.&lt;br /&gt;Olohok.&lt;br /&gt;Ukur aya jelema tiluan keur ngarobrol deukeut panto. Euweuh nu ngantay meuli karcis. Asa-asa basa ngaliwatan gapura ge. Teu kadenge sora nanaon ti jero gedong. Jempling.&lt;br /&gt;“Punten, dupi acara sandiwara teh janten?” kuring nanya ka nu tiluan.&lt;br /&gt;“Mangga Pa, teras we kalebet,” ceuk salah saurang.&lt;br /&gt;Geus maen kitu? Gerentes teh.&lt;br /&gt;Bus ka gedong.&lt;br /&gt;Kuring ngajanteng sawatara jongjongan mah. Asa abus teuing ka gedong naon. Lampu remeng-remeng. Korsi-korsi karosong. Ngan aya genep atawa tujuh urang di korsi hareup. Teuing nu rek lalajo atawa warga grup sandiwara nu rek minton tea.&lt;br /&gt;Gek diuk di tengah. Aya sababaraha urang nu ngareret ka kuring.&lt;br /&gt;Lieuk kuring ka tukang. Kasampak arasup opatan barudak ngora, lalaki dua awewe dua. Jigana SMA keneh, atawa mahasiswa tingkat hiji. Tapi teu lila, kalaluar deui.&lt;br /&gt;Di hareup, kadenge sora rebab, tapi kadengena pales. Sababaraha urang ting cikikik nyeungseurikeun. Enya meureun, maranehna teh warga grup sandiwara tea.&lt;br /&gt;“Geus jam dalapan euy,” ceuk salah saurang.&lt;br /&gt;“Sok der ah,” tembal nu sejenna.&lt;br /&gt;Jam dalapan leuwih dalapan menit, jol hiji awewe di tengah panggung. Rada lintuh, jiga geus tengah tuwuh. Wedakna bodas ngeplak. Dikabaya hejo transparan, ngalapis baju bodas leungeun panjang. Jrut ngadeukeutan para nayaga nu masih keneh ngajaran gamelan. Can katingali tereh prung.&lt;br /&gt;Di jero panggung, di satukangeun layar, kadenge sora barudak lalumpatan.&lt;br /&gt;Jam dalapan leuwih dua puluh dua, kakara prung sandiwara teh, dibuka ku kawih nu dihaleuangkeun ku awewe nu dikabaya hejo tea. Kuring ngitung dina jero hate, teu leuwih 16 urang nu lalajo, kaasup lalaki tiluan nu tadi ngarobrol di luar gedong jeung barudak leutik nu kakara arabus ti panto gigir. Jigana mah barudak nu tadi lalumpatan di panggung.&lt;br /&gt;Basa Dayang Sumbi muncul na panggung, najan tangtu lain Miss Titin eta mah, kuring asa ngalayang teuing ka jaman iraha. Jaman legenda, mangsa keur kuring leutik, jeung waktu ayeuna asa patutumpuk teu puguh. Sono ka nu geulis jungjunan ati. Tapi bet angger teu kahontal.&lt;br /&gt;Sora kacapi nu ngagelik maturan Dayang Sumbi nu keur ninun asa ngageuri kana hate.&lt;br /&gt;Tuh tingali, Dayang Sumbi teh angger geulis kawanti-wanti, teu robah najan ngaliwatan rebuan jaman. Tapi naha urang sorangan nu kacida kejemna ka nu geulis?&lt;br /&gt;Kuring lir ngadawang ngabangbang areuy. Waas pacampur jeung sedih.&lt;br /&gt;Panon karasa panas. Tetenjoan asa aya nu ngahalangan.&lt;br /&gt;Deudeuh teuing, Eulis, deudeuh sandiwara Sunda. Geus cunduk kitu kana waktuna?&lt;br /&gt;Clak, cipanon ngeclak tina pipi kana leungeun.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Bandung, 30 Mei 2007&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;(Dimuat dina majalah &lt;em&gt;Mangle&lt;/em&gt; No. 2145, 29 Nop-5 Desember 2007)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5277617973649974022-4626595089839519938?l=hermawan-aksan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hermawan-aksan.blogspot.com/feeds/4626595089839519938/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5277617973649974022&amp;postID=4626595089839519938' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5277617973649974022/posts/default/4626595089839519938'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5277617973649974022/posts/default/4626595089839519938'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hermawan-aksan.blogspot.com/2008/01/deudeuh-teuing-eulis.html' title='Deudeuh Teuing, Eulis'/><author><name>Hermawan Aksan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06299037799823191218</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5277617973649974022.post-6689221203840399477</id><published>2008-01-03T22:37:00.000-08:00</published><updated>2008-01-03T22:42:23.373-08:00</updated><title type='text'>Mencari Sosok Indung</title><content type='html'>DALAM masyarakat Sunda, kaum perempuan menduduki posisi yang sangat penting dan terhormat. Kaum perempuan ditempatkan sebagai pelindung sekaligus pengasuh yang memandu anak-anaknya. Karena itu pula, kaum perempuan tidak hanya disebut “ibu”, tetapi lebih dari itu mereka disebut “indung”. &lt;em&gt;Indung&lt;/em&gt; berarti tidak hanya perempuan yang telah mengandung dan melahirkan kita. &lt;em&gt;Indung&lt;/em&gt; juga sekaligus memiliki makna tempat berlindung.&lt;br /&gt;Seperti dalam hadis Nabi, yang menempatkan ibu di posisi yang lebih penting dibanding ayah, dalam peribahasa Sunda pun tentu bukan tanpa sengaja penyebutan ibu didahulukan dibanding penyebutan ayah. &lt;em&gt;Indung tunggul rahayu, bapa tangkal darajat&lt;/em&gt;, yang bermakna keselamatan dan kebahagiaan anak bergantung pada keridaan dan doa ibu dan ayah.&lt;br /&gt;Masyarakat Sunda &lt;em&gt;buhun&lt;/em&gt;, yang sangat tergambar dalam cerita-cerita pantun, berlindung kepada sosok &lt;em&gt;indung &lt;/em&gt;bernama Sunan Ambu. Sunan berasal dari kata &lt;em&gt;susuhunan&lt;/em&gt;, artinya yang disembah. &lt;em&gt;Ambu &lt;/em&gt;adalah ibu. Jadi, Sunan Ambu berarti Ibu Kedewataan, Ibu Ilahiah. Di kahyangan, Sunan Ambu memiliki posisi yang penting, yakni sebagai penguasa tempat tinggal para hyang dan roh-roh leluhur itu. Dia berkuasa atas para &lt;em&gt;pohaci &lt;/em&gt;(bidadari) dan &lt;em&gt;bujangga&lt;/em&gt; (bidadara).&lt;br /&gt;Nama Sunan Ambu dapat ditemukan dalam cerita-cerita rakyat seperti &lt;em&gt;Lutung Kasarung&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;Mundinglaya Di Kusumah&lt;/em&gt;. Dalam cerita-cerita tersebut, Sunan Ambu digambarkan sebagai sosok yang penuh cinta kasih, tetapi juga tegas menghukum kalau ada yang melanggar pantangan. Putranya sendiri, Guruminda, dihukum turun ke dunia (&lt;em&gt;buana panca tengah&lt;/em&gt;) karena pernah memandang sang ibu dengan penuh cinta. Guruminda harus menjalani hukuman menjadi seekor lutung. Namun Sunan Ambu tak melepaskan anaknya begitu saja. Dia menghadirkan Purbasari, perempuan yang sosoknya mirip Sunan Ambu sendiri, supaya Guruminda bisa mengawini putri bungsu Kerajaan Pasir Batang itu di dunia.&lt;br /&gt;Sosok perempuan lain sebagai tempat berlindung yang penuh kasih sayang sekaligus tegas dalam bertindak sehingga posisinya menjadi terhormat adalah Dayang Sumbi. Dia memiliki seorang anak lelaki, Sangkuriang, yang sangat disayanginya. Namun ketika si anak melakukan kesalahan, Dayang Sumbi mengusirnya. Ketika bertahun-tahun kemudian Sangkuriang muncul lagi dan ingin mengawini Dayang Sumbi, sang ibu tentu saja menolak dengan tegas dan melakukan berbagai upaya agar keinginan Sangkuriang tak terlaksana.&lt;br /&gt;Dongeng lain di tanah Sunda bercerita tentang Putri Kandita dan sang ibu, Dewi Rembulan, yang terkena guna-guna sehingga wajah keduanya menjadi buruk penuh dengan koreng, bersisik. Mereka pun diusir, keluar dari keraton. Dalam perjalanan, sang ibu wafat sehingga tinggallah sang putri seorang diri. Sang putri berjalan menyusuri pantai selatan. Karena kelelahan, dia tertidur dan bermimpi mendapat petunjuk dari Dewata, yakni jika ingin wajahnya kembali cantik, sang putri harus menceburkan dirinya ke Laut Kidul. Dia kemudian menjelma menjadi ratu makhluk halus dan menguasai seluruh Laut Selatan. Selanjutnya, oleh masyarakat, ia dikenal sebagai Ratu Kidul. Di sini tampak bahwa meskipun terusir dari tanah asalnya, seorang perempuan akhirnya memiliki kekuasaan yang besar di tempat lain.&lt;br /&gt;Anehnya, berbeda dengan cerita-cerita pantun dan dongeng, catatan sejarah tanah Sunda menunjukkan bahwa posisi perempuan nyaris tak kelihatan. Kekuasaan hampir selalu berada di tangan lelaki. Sejak para Dewawarman memerintah Salakanagara, lalu Jayasingawarman, Darmayawarman, Purnawarman, dan seterusnya menguasai Tarumanagara, kemudian Manikmaya sampai Linggabumi menjadi raja-raja Kendan hingga Galuh, lantas Tarusbawa, Sanjaya, dan seterusnya hingga periode Linggabuana, Niskala Wastukancana, dan kemudian Sri Baduga Maharaja sampai Raga Mulya memimpin tanah Sunda, semua raja-raja itu kaum lelaki belaka.&lt;br /&gt;Ada memang catatan yang menyebutkan bahwa Bhimadigwijaya, salah seorang yang pernah berkuasa di Salakanagara, mempunyai anak perempuan, Spatikarnawa, yang kemudian menggantikan ayahnya menjadi ratu. Namun, setelah itu, meskipun seorang penguasa mempunyai anak pertama perempuan, selalu sang menantulah yang meneruskan menjadi raja. Prabu Jayaprakosa, salah seorang raja di Galuh, digantikan oleh menantunya, Prabu Darmasakti. Prabu Hulukujang digantikan menantunya, Prabu Gilingwesi. Dan Gilingwesi pun digantikan oleh menantunya, Prabu Pucukbumi.&lt;br /&gt;Bandingkan dengan sejarah kerajaan-kerajaan di luar tanah Sunda. Maharani Sima, misalnya, puluhan tahun menjadi penguasa Kalingga. Parwati pernah tercatat memerintah Mataram (Kuno). Lalu Sri Isanatunggawijaya di Mamenang. Ratu Sang Luhur Sri Gunapriyadharmapatni pernah menjadi penguasa Bali bersama sang suami, Sri Dharmodayana Warmadewa. Meskipun tidak menjadi penguasa tertinggi, anak perempuan Airlangga, Sanggramawijaya, diangkat menjadi &lt;em&gt;mahamantri i hino&lt;/em&gt; (sebuah jabatan sangat tinggi yang hanya kalah dibanding raja). Dan tentu saja Trbhuwanattunggadewi, yang pernah menjadi ratu Majapahit.&lt;br /&gt;Meskipun tidak memegang kekuasaan, sejumlah perempuan Sunda mencatat sejarah yang cemerlang—kendati jumlahnya bisa dihitung dengan jari sebelah tangan. Dyah Pitaloka, walaupun belum menjadi sosok &lt;em&gt;indung&lt;/em&gt;, menunjukkan karakter yang teguh memegang kehormatan tanah Sunda dengan memilih bunuh diri daripada menjadi upeti untuk Raja Hayam Wuruk.&lt;br /&gt;Dua dari sedikit nama lain dalam sejarah sebagai perempuan yang memiliki karakter &lt;em&gt;indung&lt;/em&gt; adalah Raden Dewi Sartika dan Inggit Garnasih. Dewi Sartika tentu bukan nama asing bagi masyarakat Sunda. Begitu pula Ibu Inggit, sosok yang berperan besar mengantarkan Soekarno ke tampuk tertinggi kepemimpinan Republik Indonesia—dan yang kemudian dengan ikhlas melepas sang suami menikah dengan perempuan lain.&lt;br /&gt;Mengapa sosok &lt;em&gt;indung&lt;/em&gt; sulit dicari di dalam catatan sejarah, pasti menarik untuk menjadi bahan diskusi. Tulisan ini tidak hendak membahasnya, dan juga tidak hendak mencoba menyebutkan siapa saja sosok &lt;em&gt;indung&lt;/em&gt; pada perempuan Sunda masa kini. Selain memang tidak mudah menentukannya, yang jauh lebih penting adalah bahwa baik tokoh dongeng seperti Sunan Ambu dan Dayang Sumbi maupun tokoh sejarah semisal Dyah Pitaloka, Raden Dewi Sartika, dan Inggit Garnasih hendaknya menjadi inspirasi yang tak putus-putus agar kaum perempuan Sunda sekarang dan seterusnya memelihara karakter yang terpuji seperti yang terkandung pada kata &lt;em&gt;indung&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;Selamat Hari Ibu. (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Tulisan ini dimuat di &lt;em&gt;Kompas edisi Jabar&lt;/em&gt;, 22 Desember 2007)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5277617973649974022-6689221203840399477?l=hermawan-aksan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hermawan-aksan.blogspot.com/feeds/6689221203840399477/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5277617973649974022&amp;postID=6689221203840399477' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5277617973649974022/posts/default/6689221203840399477'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5277617973649974022/posts/default/6689221203840399477'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hermawan-aksan.blogspot.com/2008/01/mencari-sosok-indung.html' title='Mencari Sosok Indung'/><author><name>Hermawan Aksan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06299037799823191218</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5277617973649974022.post-8486382261047841206</id><published>2008-01-03T02:06:00.000-08:00</published><updated>2008-01-03T02:09:13.070-08:00</updated><title type='text'>Jing-Tang-Tong!</title><content type='html'>Carpon ini merupakan salah satu pemenang lomba yang diadakan Taman Budaya Jawa Barat:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HANJAKAL pisan teu ti mimiti nyaho saha saenyana Dasmin teh. Kitu tah sipat manusa mah: hanjakal teh sok pandeuri.&lt;br /&gt;Dasmin teh tangtu lain jelema samanea. Moal salah deui, manehna tangtu jelema suci, sabangsaning wali, nu ngahaja dilungsurkeun ku Gusti Nu Maha Suci ka ieu dunya. Hususna ka lembur kuring. Mun lain jelema suci, jang naon manehna bisa aya di ieu lembur kalawan teu percumah?&lt;br /&gt;Sakabeh urang lembur pada nyaho saha Dasmin teh: lalaki ngora nu boga kabiasaan leumpang ngagedig bulak-balik ti tungtung kulon tepi ka tungtung wetan lembur. Sapoena teuing bisa sabaraha kali pulanganting teh. Meh sapanjang jalan leungeun kencana nulak cangkeng, leungeun katuhuna diayun-ayunkeun ka tukang ka hareup, bari sungutna nurutan sora kendang.&lt;br /&gt;“Jing tang tong! Jing tang tong!” cenah.&lt;br /&gt;Ceuk beja mah, Dasmin teh pada ngusir ku urang lembur manehna, kira-kira lima kilometer beulah kidul lembur kuring. Kitu meureun nya sipat urang mah, nu sok ngarasa pangberesihna. Asa aing uyah kidul. Naon wae nu bakal ngotoran diri urang kudu geuwat dipiceun. Jelema model Dasmin ge meureun pada nganggap bakal jadi kokotor lembur, nu matak kudu buru-buru diusir. Ngan teu kacaritakeun naha manehna boga keneh dulur di lemburna.&lt;br /&gt;Anehna, urang lembur kuring mah bet raresepeun ka Dasmin teh, najan teu leuwih pikeun hiburan. Pabeubeurang usum halodo teh panas ereng-erengan, atuh lumayan bisa seuri ningali kalakuan Dasmin.&lt;br /&gt;Ku barudak mah sakapeung pada maledogan ku karikil bari nurutan sora kendang tea. Ma’lum, apan di mana-mana ge nu ngaran barudak mah sok tara ngarasa salah, najan maledogan jelema teh kawas maledogan hayam. “Seuah, seuah, ka ditu!” cenah ceuk barudak teh. Dasmin ukur ngaheheh pada maledogan teh. Katingali gugusina anu beureum kawas tomat asak. Paling oge manehna api-api nyokot batu jiga nu rek maledog. Atuh teu antaparah deui barudak teh paburiak lalumpatan. Ngan tara enyaan maledog Dasmin mah.&lt;br /&gt;Sot deui batu teh, tuluy leungeun kencana kana cangkeng, leungeun katuhu diayun-ayunkeun ka tukang ka hareup, bari sungutna nurutan sora kendang, “Jing tang tong! Jing tang tong!”&lt;br /&gt;“Gatotgaca gelo!” ceuk barudak.&lt;br /&gt;Dasmin ukur ngagerem dikitukeun teh.&lt;br /&gt;“Mmm… jek nong!” cenah, minangka sora kecrek jeung kenong.&lt;br /&gt;Enya, nurutan ngageremna Gatotgaca tea.&lt;br /&gt;Teuing kumaha mimitina, kuring bet resep ka Dasmin. Pedah eta meureun, da Dasmin mah tara maledogan ka barudak. Bisa jadi pedah manehna mah ukur seuri mun pada ngahina ku batur teh. Atawa ieu meureun: Dasmin teh saenyana lalaki kasep tur tara poho meresihan awakna di kamar mandi masigit. Mun seuri ge katenjo huntuna beresih tur bodas. Kitu deui bajuna, sok katingali beresih. Teuing saha nu sok mere baju ka manehna.&lt;br /&gt;Atawa pedah kaayaan ekonomi kitu? Kieu maksudna. Kaayaan ekonomi teh bet asa beuki matak nyekek. Harga beas, minyak goreng, minyak tanah, listrik, naon ku hanteu, beuki ngajul wae. Teu kahontal ku gajih anu tara pipilueun naek.&lt;br /&gt;Kuring ukur setap di kantor kacamatan. Boga budak dua, nu hiji rek asup SMP, nu hiji deui rek asup SD. Geus pada-pada nyaho apan, anggaran nu kudu disadiakeun pikeun asup sakola naon wae ge di urang mah beuki ngaratus rebu, malah mah ngajuta. Leuwih nyekek batan anggaran lebaran. Baju saragam, kaos olahraga, buku-buku, tas, sapatu, naon ku hanteu, can ditambah uang gedung nanahaon. Wajib kabeh eta teh. Geus kitu, pamajikan bet hayoh we kukulutus ngeunaan sagala harga naek. Atuh kudu kumaha deui? Da urang mah teu bisa nanaon. “Nya atuh neangan pangasilan tambahan tina naon wae. Tingali batur mah bisa,” kitu pokna teh.&lt;br /&gt;Tah, dina kahirupan model kitu, teuing ku naon, karasa Dasmin teh jadi salah sahiji hiburan pikeun kuring. Sok resep ningali beungeutna nu teu weleh seuri najan pada ngaheureuyan kaleuleuwihi ku barudak. Leungeun kenca dina cangkeng, leungeun katuhu diayun-ayunkeun, bari sungutna nurutan sora kendang, “Jing tang tong! Jing tang tong!” Kitu sapanjang jalan, bulak-balik ti tungtung kulon tepi ka tungtung wetan lembur. Bangun euweuh kacape.&lt;br /&gt;Mun ningali kuring, ti kajauhan ge geus gugupay, tuluy ngacungkeun curuk jeung jajangkung bari diantelkeun kana biwirna nu dimanyunkeun.&lt;br /&gt;Kuring malik gugupay, tuluy ngodok saku baju, nyokot sabatang, sok dibikeun ka manehna. Sakapeung mah ku kuring nu sok dipangnyeungeutkeun sakalian.&lt;br /&gt;Sok bari peureum-beunta mun manehna ngaroko teh, bangun nu ni’mat pisan. Sakapeung mah mun nyeuseup teh jiga nu moal rek ngaluarkeun deui haseupna. Sanggeus dibekem dina sungutna, kakara haseup teh dikaluarkeun saeutik-saeutik tina irung jeung biwirna.&lt;br /&gt;Geus kitu mah, ngobrol teh ka mana-mendi. Sakali mah nanya boga nomer alus atawa henteu.&lt;br /&gt;“Boga nomer alus mah mending pasangan we ku sorangan,” kitu jawabna teh, bari ngaheheh.&lt;br /&gt;Kalan-kalan nanya soal maenbal. “Kumaha yeuh, Chelsea lawan Liverpool engke peuting?”&lt;br /&gt;“Tah, ieu karesep uing teh. Rame pisan. Hiji-hiji jigana mah. Hanjakal Persib teu jiga kitu maenna. Cacakan mun boga pamaen kawas Gatotgaca, meureun bisa jawara Maung Bandung teh. Ku ajian Brajamusti tea, tangtu sepakanana bisa ngajebol gawang musuh.”&lt;br /&gt;Kuring ngabarakatak.&lt;br /&gt;Mun kuring jeung Dasmin keur uplek ngobrol duaan, euweuh barudak nu wani ngaganggu.&lt;br /&gt;Sok resep ngabandungan caritaan Dasmin nu sakapeung mah teu katepi ku akal. Imajinasina ngapung ka mana-mendi. Cenah mah, jelema model Dasmin teh sok ngadenge sora tanpa rupa teuing ti mana asalna. Jejer caritana ka ditu ka dieu sangeunahna. Keur nyarita sual maenbal, ujug-ujug mengkol kana sual langit bulao. “Hayang hiber euy,” cenah. Geus kitu, ngadadak ngomong sual kadaharan.&lt;br /&gt;“Lapar nya?” ceuk kuring.&lt;br /&gt;Manehna ukur ngabelengeh.&lt;br /&gt;Sok weh sarebu mah. “Cik geura ka warung, meuli kueh atawa naon.”&lt;br /&gt;Hiji waktu, Dasmin nyarita hayang luncat tina sasak.&lt;br /&gt;“Entong atuh,” ceuk kuring rada hariwang.&lt;br /&gt;“Moal nanaon. Pan teu pati luhur…”&lt;br /&gt;Di beulah wetan lembur teh aya sasak anu handapeunana ngamalir walungan kira-kira sapuluh meter rubakna. Tina sasak kana walungan teh aya kana lima meterna. Moal pikahariwangeun kumaha, walungan teh keur saat, nu aya teh ukur batu-batu wungkul sagede-gede munding.&lt;br /&gt;Na eta mah, Dasmin teu bisa diulah-ulah. Kuring ge teu nyaho kajadianana, ngan ukur ngadenge caritaan batur.&lt;br /&gt;“Dasmin rek maehan maneh!” Urang lembur ibur.&lt;br /&gt;Nurutkeun caritaan nu naringali, harita Dasmin naek kana pager sasak beusi, tuluy nangtung. Dua leungeunna dipantengkeun ka sisi, jiga Nabi Isa basa disalib dina tihang kayu. Beungeutna tanggah, panonna peureum, kawas jelema nu keur ngadunga. Geus kitu, lalaunan awakna doyong ka hareup. Teu lila, awak Dasmin ngalayang ragrag ka walungan. Nu ningali pating jarerit. Sawareh mah ngabalieur atawa peureum. Kacipta atuh mun awak Dasmin ninggang kana batu-batu walungan. Ngan sabaraha detik, kadenge sora ngagedebug.&lt;br /&gt;Eta ku ajaib, Dasmin ragrag meneran pisan kana keusik. Padahal di sakurilingna batu-batu wungkul. Teu tatu saeutik ge. Ukur lecet ge henteu. Ngan beungeut jeung bajuna lamokot ku keusik.&lt;br /&gt;Basa panggih jeung manehna di sisi jalan hareupeun imah kuring, handapeun tangkal mahoni, kuring nanya naon tujuanana ngaragragkeun maneh tina sasak.&lt;br /&gt;“Hayang ngabuktikeun yen urang bisa ngalayang kawas dangdaunan,” kitu jawabna.&lt;br /&gt;Kuring olohok. “Nyatana henteu, pan?”&lt;br /&gt;Dasmin balaham-belehem.&lt;br /&gt;“Jek-nong!” cenah.&lt;br /&gt;Hiji poe, kalakuan Dasmin beda ti sasari. Ngagedigna mah angger jiga Gatotgaca. Leungeun kenca nulak cangkeng, leungeun katuhu lempeng bari diayun-ayunkeun ka hareup ka tukang. Biasana mah beungeutna teh marahmay. Tapi harita jiga langit ceudeum. Tarangna kerung, halisna meh ngahiji.&lt;br /&gt;“Mmmmm...” pokna, angger nurutan sora Gatotgaca.&lt;br /&gt;“Jek nong!” tembal kuring.&lt;br /&gt;Ngan manehna harita mah teu seuri teu imut.&lt;br /&gt;“Dumasar kana aji Sapta Pangrungu kaula, aya beja yen ieu nagara teh teu lila deui bakal kiamat. Ku kituna, he sakabeh rahayat Pringgandani, geuwat arandika tatan-tatan piekun mapag datangna musibah. Geuwat laksanakeun upacara beberesih sarta sumerah diri ka Hyang Murbeng Dumadi.”&lt;br /&gt;Kuring olohok ngadenge omonganana.&lt;br /&gt;“Maneh teh boga bakat jadi dalang oge geuningan,” ceuk kuring heureuy.&lt;br /&gt;Dasmin cengkat. Leungeun duanana nulak cangkeng ayeuna mah. Panonna bolotot.&lt;br /&gt;“Eh, dengekeun nya, eta teh wahyuning Sang Hyang Wenang Gusti Allah!”&lt;br /&gt;Kuring beuki olohok.&lt;br /&gt;Jigana ka batur ge manehna ngomong kitu. Da buktina, teu lila ge pada ngaromongkeun. Aya nu nganggap serieus. Tapi leuwih loba nu ukur nyeungseurikeun.&lt;br /&gt;“Nu gelo dipercaya!”&lt;br /&gt;Teu lila, omongan Dasmin teh geus pada mopohokeun. Jigana urusan beuteung leuwih penting batan mikiran omongan nu teu puguh alang-ujurna. Komo deui panas halodo asa beuki ereng-erengan.&lt;br /&gt;Hiji waktu kuring panggih deui jeung manehna. Cara sasari, ngobrol teh teu puguh jejerna.&lt;br /&gt;Ngan teu lila, kadenge sora adan di masigit. Jep jempe Dasmin teh.&lt;br /&gt;“Buruan geura ka masigit, geus cunduk kana waktu, geus ninggang kana mangsa,” pokna, sanggeus adan rengse.&lt;br /&gt;“Ke lah, sakeudeung deui,” tembal kuring.&lt;br /&gt;“Ngadagoan naon deui?”&lt;br /&gt;“Apan kakara adan. Jeung deui, bisa sorangan di imah. Kagok, can mandi.”&lt;br /&gt;“Astagfirullah. Urang teh saha nu nyaho naon nu bakal tumiba, apan? Jing-tang-tong! Ulah sok nunda-nunda sagala hal anu bisa dilakukeun ayeuna!”&lt;br /&gt;Kuring kasima harita mah.&lt;br /&gt;“Tuh tingali, masigit anu sakitu agrengna, nu daratang teh ukur sababaraha urang. Teu cukup jang nyieun hiji saf oge.”&lt;br /&gt;“Euh, apan can baralik, Min. Loba anu masih keneh di kantor, di sawah, di tempat gawe. Loba barudak nu can baralik ti sakola di kota.”&lt;br /&gt;“Ha-ha-ha!”&lt;br /&gt;Enyaan, musibah mah teu bisa diramal. Euweuh nu nyangka dina usum halodo ereng-erengan kitu hujan bisa ngagebret tarik pisan. Hujan angin. Tengah peuting harita teh. Sakabeh urang lembur tangtu keur talibra. Tatangkalan loba nu rarungkad, ninggang opat imah nepi ka ampir rata jeung taneuh. Walungan di palebah wetan lembur caah galura, ngaleakkeun mangpuluh imah.&lt;br /&gt;Nu maot aya lima.&lt;br /&gt;Basa isukna hujan raat, kanyahoan yen salah sahiji nu maot teh Dasmin. Innalillahi. Manehna kapanggih katinggang tangkal mahoni hareupeun imah kuring pisan. Ningali posisi layonna basa kapanggih, kuring boga kacindekan yen manehna nahan tangkal mahoni ngarah teu ninggang imah kuring. Subhanalloh.&lt;br /&gt;Hiji hal nu moal kapopohokeun, basa kapanggih, beungeut Dasmin teh beresih tur biwirna imut.&lt;br /&gt;Layonna dimandian, disolatkeun, tuluy dikubur bareng jeung korban maot sejenna di kuburan lembur.&lt;br /&gt;Sanggeus Dasmin euweuh di kieuna, kuring ngarasa leungiteun nu taya papadana. Resep ngerem sorangan. Tur sok kadenge sora tanpa rupa nu teu nyaho ti mana asalna.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Bandung, Juni 2007&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5277617973649974022-8486382261047841206?l=hermawan-aksan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hermawan-aksan.blogspot.com/feeds/8486382261047841206/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5277617973649974022&amp;postID=8486382261047841206' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5277617973649974022/posts/default/8486382261047841206'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5277617973649974022/posts/default/8486382261047841206'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hermawan-aksan.blogspot.com/2008/01/jing-tang-tong.html' title='Jing-Tang-Tong!'/><author><name>Hermawan Aksan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06299037799823191218</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5277617973649974022.post-3753605550508282818</id><published>2008-01-03T00:49:00.001-08:00</published><updated>2008-01-03T01:00:17.186-08:00</updated><title type='text'>Perang Bubat di Parijs van Java</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp0.blogger.com/_OGfaUEk5vIA/R3yj5is4pwI/AAAAAAAAABM/wE5xTuTR-lM/s1600-h/Cover+baru+DP1.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5151172282767943426" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://bp0.blogger.com/_OGfaUEk5vIA/R3yj5is4pwI/AAAAAAAAABM/wE5xTuTR-lM/s320/Cover+baru+DP1.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Ini tulisan Dika Amelia, yang saya ambil seutuhnya dari blog dikaameliaifani.blogspot.com, atas persetujuan si pemilik blog:&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Menyoroti perdebatan tentang Perang Bubat di berbagai milis memang asyik (menurut sebagian orang) apalagi bagi mereka yang mencintai sejarah atau hendak menguak tabir sejarah yang telah mereka warisi dari para leluhur. Tapi belum lengkap rasanya jika tidak menghadiri diskusi antara &lt;a href="http://www.langitkresnahariadi.com/"&gt;Langit Kresna Hariadi&lt;/a&gt; dan &lt;a href="http://perca.blogspot.com/2007/06/hermawan-aksan.html"&gt;Hermawan Aksan&lt;/a&gt; tentang buku mereka berdua di PVJ (Parijs Van Java) Bandung, 4 Juli kemarin. Acara yang menjadi bagian dari pameran buku seminggu ini memang sengaja dihadirkan, selain untuk mengupas tuntas buku Perang Bubat nya mas Langit Kresna dan Dyah Pitaloka nya Kang Hermawan juga untuk mempersilakan pembaca “mengapresiasi” atau bahkan “menghakimi” kedua penulis.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_yi3Ii2bmScY/RoxM1D4S6GI/AAAAAAAAACw/yGwknHoig0Y/s1600-h/HEAK01.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_yi3Ii2bmScY/RoxNCz4S6HI/AAAAAAAAAC4/mgjnZEV1r74/s1600-h/lkh-gajahmada-2.jpg"&gt;&lt;/a&gt;Di awal diskusi, moderator bertanya pada audiens perihal siapa yang telah membaca novel Dyah Pitaloka atau Perang Bubat. Tersebutlah 2 orang yang mengacungkan tangan sambil malu-malu, salah satu diantaranya adalah saya. Karena itu, saya dan mas galih (salah seorang audiens yang juga mengacungkan tangan) diminta untuk menceritakan kesan terhadap buku tersebut. Deg degan bukan main.Yang saya sampaikan adalah pertama:permohonan maaf pada mas Langit Kresna karena belum sempat membaca bukunya, kedua:lebih suka membaca novel sejarah dibandingkan teori sejarah yang menjemukan, ketiga:ending Dyah pitaloka yang menjadikan Gajah Mada sebagai penguasa yang tidak memiliki cinta nampaknya terlalu emosional, bukankah catatan sejarah Gajah Mada memang misterius? Karena di balik kedigdayaan seorang Patih idola Indonesia itu juga tersimpan cinta, karena fitrahnya adalah manusia biasa?, keempat:dari kisah itu saya baru menyadari bahwa mitos pertentangan “jawa-sunda” begitu mengurat akar, dan butuh waktu hingga ribuan putaran rembulan bertengger di langit malam.&lt;br /&gt;Akhirnya diskusi dimulai dengan penyebaran hand out 3 lembar tentang Perang Bubat. “Hand out ini dibuat oleh &lt;a href="http://3an.blogspot.com/"&gt;Trian Hendro&lt;/a&gt;, dia secara pribadi berdiskusi dengan saya tentang sejarah Jawa-Sunda, beliau bahkan menangis karena tidak bisa hadir disini”, aku Hermawan Aksan. Ck.ck.ck..salut lah.&lt;br /&gt;Langit Kresna dan Hermawan Aksan punya latar belakang yang berbeda tentang tema sentral tulisan. “Mau anda sebut ini novel yang menguras emosi atau catatan tentang politik gajah mada, itu terserah”, tandas mas Langit. Sedangkan kang Her menyebutkan, “Saya hanya mau mengungkapkan makna yang sederhana, yaitu cinta. Dan salah satu faktor perang bubat adalah gajah mada tidak memiliki cinta”. Mas Langit memang sempat mendapatkan kritikan bahwa novel yang dibuatnya mengada-ada, tidak berdasarkan pada riset yang valid. Namun dalam kata pengantar di buku Perang Bubat karangannya, dia mengakui bahwa mempelajari sejarah untuk menelurkan buku tersebut sangatlah membutuhkan waktu dan perhatian ekstra, tidak hanya proses pengerjaan dan risetnya saja.&lt;br /&gt;Mas Langit yang jawa dan beristrikan wanita sunda asli dayeuh kolot mengarahkan pendengar pada 1 pertanyaan, siapakah yang menyerang lebih dahulu? “Yang lebih dahulu tersinggung, dia yang menyerang”,ungkapnya. Dari kalimat itu saya tangkap, Sunda lah yang menyerang duluan. Lalu siapakah yang salah? “Ini bukan persoalan orang jawa atau sunda, atau siapa yang salah dan yang benar, tapi ini masalah sudut pandang. Sudut pandang satu adalah gajah mada jengkel dengan kerajaan sunda yang tidak mau bergabung (menjadi taklukan majapahit) padahal ongkos yang dikeluarkan majapahit untuk mengamankan pertahanan kelautan sangat besar, sudut pandang yang lain adalah kerajaan sunda merasa dilecehkan”, jawab Mas Langit. Sedangkan kang Her, yang ternyata asli brebes itu (lho..?), menjawab bahwa “Secara umum, sunda dan jawa tidak salah. Namun agar alur cerita lebih dramatis, kesalahan ditimpakan pada satu orang”. ”Saya tidak begitu hafal silsilah kerajaan jawa-sunda yang ternyata bersaudara itu, namun yang namanya cerita kan harus ada pemeran antagonisnya agar lebih seru”, tambah Kang Her.Well, ternyata itulah Gajah Mada.&lt;br /&gt;Bagaimana sih komposisi fakta dan fiksi dalam kedua buku ini? Jika ini fiksi, apalah yang diperdebatkan? Perdebatan yang akhir-akhir ini marak di milis adalah seputar peran Gajah Mada. Yang jelas, masing-masing buku menyimpan kekuatan karakter dari setiap penulisnya. Tentunya, pembaca juga menginginkan fakta yang jujur tentang perang bubat itu yang konon tidak tercatat dalam negarakertagama. ”Memang sebagian besar adalah fiksi, namun ada beberapa fakta yang tidak saya ganggu gugat, misalnya Dyah pitaloka kawin lari dengan wirayudha, itu kan gak mungkin”, jelas Kang Her. Ya,yang namanya kisah tidak semua berakhir dengan bahagia, sama halnya kita mengenal Surga dan Neraka.&lt;br /&gt;Stereotip budaya yang berkembang adalah mengenai perkawinan jawa-sunda, bahwa pria sunda jika menikah dengan wanita jawa maka akan awet rajet, bertengkar terus, dan juga sebaliknya. Buku Dyah Pitaloka hadir untuk menumbangkan stereotip tersebut dengan filosofi ”cinta” nya. Tentu saja, mitos ini tidak berlaku bagi kedua penulis karena ternyata keduanya beristrikan perempuan sunda (dengan asal usul kang Her yang ternyata Brebes..lho). Tapi bagi mas Langit, ia harus melampaui 12 bulan untuk diterima di keluarga sang istri, mengharukan.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_yi3Ii2bmScY/RoxGyj4S6CI/AAAAAAAAACQ/IxlI8W32Ah0/s1600-h/cover.jpg"&gt;&lt;/a&gt;Diskusi sudah berlangsung 1 jam hingga akhirnya kedua penulis membeberkan rahasianya. Langit kresna saat ini sedang membuat proyek gila-gilaan, yaitu menerbitkan novel 3 bulan sekali, sebanyak 10 jilid dengan tebal halaman masing-masing 832 halaman. Rumusnya adalah, bangun tidur kemudian menulis 3 halaman lalu berkativitas, lalu istirahat lagi, lalu menulis lagi 3 halaman, begitu seterusnya selama 24 jam seharian di dalam rumah. Sedikit ia membocorkan tema novelnya yaitu tentang beliung dari timur, kisah tentang candi murca. Hermawan Aksan tidak kalah produktif, ia berencana akan menulis novel lagi yang mengisahkan tentang pengembaraan Wastukencana, adik Dyah Pitaloka Citraresmi, menyusuri jawa timur untuk membalaskan dendam keluarganya. Tentunya ini fiksi. Wuih, kami tunggu karya bapak-bapak semua.&lt;br /&gt;Diskusi ditutup dengan pernyataan dari mas Langit tentang pesan dari buku tersebut, ”Saya hendak meluruskan pernyataan Trian bahwa saya tengah menjadikan prajurit-prajurit Gajah Mada sebagai kambing hitam. Menurut saya, secara realistis di sekeliling kekuasaan selalu terdapat penjilat. Mahapatih punya pendukung dan juga penentang. Kemudian jangan ragu jika anda jatuh cinta dengan orang jawa dan sebaliknya”. Hm, pesan yang tidak begitu saja dapat meruntuhkan bangunan paradigma kebuadayaan yang menjulang tinggi, antara tanah jawa dan sunda. Sedangkan Kang Her menutup dengan ungkapan membesarkan hati bahwa buku ini tidak ia buat hanya untuk orang sunda, atau untuk orang jawa tapi untuk rakyat Indonesia.&lt;br /&gt;Begitulah liputan singkat perang bubat di parijs van java. Tidak ada samudra merah yang menenggelamkan mentari senja, atau lautan darah di tanah tegal bubat. Tidak ada kilatan keris yang beradu dengan kujang, atau deru teriakan para kesatria kerajaan. Yang ada adalah pengumuman bahwa tanggal 7 juli Andrea Hirata akan ngobrol bareng Riri Reza tentang ”Aspek Filmis Tetralogi Laskar Pelangi” jam 4 sore, tetap di parijs van java, bandung tercinta. &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5277617973649974022-3753605550508282818?l=hermawan-aksan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hermawan-aksan.blogspot.com/feeds/3753605550508282818/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5277617973649974022&amp;postID=3753605550508282818' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5277617973649974022/posts/default/3753605550508282818'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5277617973649974022/posts/default/3753605550508282818'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hermawan-aksan.blogspot.com/2008/01/perang-bubat-di-parijs-van-java.html' title='Perang Bubat di Parijs van Java'/><author><name>Hermawan Aksan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06299037799823191218</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_OGfaUEk5vIA/R3yj5is4pwI/AAAAAAAAABM/wE5xTuTR-lM/s72-c/Cover+baru+DP1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5277617973649974022.post-196152394194064044</id><published>2008-01-02T20:51:00.000-08:00</published><updated>2008-01-02T20:52:18.809-08:00</updated><title type='text'>Lelaki yang Jatuh Cinta Tiap Hari</title><content type='html'>BUKAN matamu yang seperti bintang pagi kalau menatapku, bibirmu yang laksana gendewa ketika mengatup dan membuka, atau rambutmu yang berkilau bak air terjun di danau, yang membuatku mabuk cinta. Bukan pula langsing tubuhmu atau lembut suaramu. Kata-katamulah, Ni, yang kaususun menjadi bait-bait puisi dan kisah-kisah yang indah, yang melenakanku dalam gairah.&lt;br /&gt;Aku memang selalu tenggelam dalam kebahagiaan oleh lautan kata-kata. Aku rela diempas dan dibanting-banting ombak dan badai samudra kata-kata. Biarlah, meski aku tak tahu lagi arah selatan atau utara.&lt;br /&gt;Entah kapan berawal. Setahun lalu? Sepuluh tahun lalu? Dua puluh? Mungkin ketika aku mulai berenang dalam kata-kata yang dituliskan Lya. Masih sekolah dasar aku waktu itu. Aku ingat, aku meliuk-liuk seperti layang-layang yang dihela oleh tangan lembut ketika menyesap kata-kata yang dituliskannya. Padahal Lya hanyalah mengabadikan kisah anak-anak yang bersahaja. Aku melayang dan menjadi tokoh Sam. Akulah Sam, yang sederhana tapi heroik, seperti Gundala Putra Petir atau Godam si pemberantas penjahat jahanam.&lt;br /&gt;Bertahun-tahun kemudian, aku mulai mabuk tatkala mereguk rangkaian kata-katanya dalam sebuah kisah cinta yang sederhana. Kata-kata dan kalimatnya yang lembut dan santun itulah justru yang membuatku kerap terbanting-banting dalam gairah.&lt;br /&gt;Lya mengalirkan sungai kata-kata yang mengalir tenang. Tenang yang mencekam dan mencebarkan. Dalam aliran kata-katanya, aku menjadi Kang Jan, yang menemukan cinta Enay di Cindulang. Aku membayangkan Lya adalah Enay, atau Enay adalah Lya. Tapi anehnya, meski aku merasa menjadi Kang Jan, aku tak bisa mengenali apakah aku jatuh cinta pada Lya. Dia terlalu indah, terlalu jauh dan tinggi, tak mungkin kugapai. Dari ketinggian langit itu pula, Lya mencurahkan hujan kata-katanya yang lembut. Kuhirup hujan kata-katanya hingga aku basah kuyup.&lt;br /&gt;Kemudian, pada saat yang hampir bersamaan, aku terbuai oleh samudra kata-kata Lei dan Sha. Mereka adalah remaja yang luar biasa, yang bisa membuatku menjadi arca hanya dengan mantra berupa rangkaian aksara. Kata-kata Lei lebih rumit, sedangkan kata-kata Sha sederhana. Namun keduanya sama-sama membuatku selalu terkesima.&lt;br /&gt;Aku tak pernah berjumpa dengan Lei, sebab aku hanyalah remaja yang jauh dari pusat kota, tapi aku menikmati kedekatan dengannya melalui kisah-kisahnya dalam sebuah majalah remaja. Namun dengan Sha aku bertemu berkali-kali, tanpa kusadari. Maksudku, kami, aku dan Sha, pernah sekian kali berada dalam satu ruang yang sama, bertukar kata-kata, tapi baru pada saat-saat terakhir aku tahu bahwa dia Sha. Sha yang selalu kukagumi tiap aku meneguk kata-katanya.&lt;br /&gt;“Kamu Sha yang suka menulis itu?”&lt;br /&gt;Dia mengangguk dengan wajah tersipu. Pucuk pipinya memerah. Aku memandangnya dalam diam seraya berharap agar waktu berhenti.&lt;br /&gt;Namun waktu terus berlari dan Sha pergi.&lt;br /&gt;Sampai sekarang, nama Lei dan Sha tak pernah lekang. Sesekali, aku masih hanyut oleh rangkaian kata-kata Lei meski tak lagi menuturkan kisah-kisah indah tentang cinta. Namun aku tak pernah bisa lagi membaca kata-kata Sha. Ke mana dia? Aku tak rela kalau dia tak lagi menuliskan kata-kata hanya karena waktu yang melesat-lesat seperti peluru. Apakah waktu membungkammu menjadi bisu? Aku berharap suatu saat dari penamu kembali mengalir mata air kata-kata.&lt;br /&gt;Sebab, setelah itu, cukup lama aku seperti melayang di ruang antarbintang yang hampa dan tanpa gravitasi. Tangan menggapai-gapai tak sampai. Apakah aku merindukan Sha? Mungkin tidak benar-benar begitu. Aku merindukan kata-katanya.&lt;br /&gt;Dan kemudian muncul Ty seakan-akan menjelma dari ruang hampa. Dia gadis belia yang membuatku terpana-pana. Segenap pembuluh darahku hangat oleh rangkaian kata-katanya. Aku sangat menikmatinya. Tak puas-puasnya aku berenang di kolam kata-kata yang dia bangun di tamannya. Kau tahu? Kata-kata Ty yang tegas, variatif, dan kerap tak terduga rasanya seperti anggur yang justru selalu membuatku dahaga. Apakah Ty membangun tamannya dalam semalam seperti halnya Sangkuriang membendung Citarum? Orang-orang memang banyak yang dengan sinis menilai bahwa Ty sekadar mengucapkan dan menuliskan kata-kata seseorang entah siapa. Tapi aku tidak percaya. Aku yakin semua itu adalah kata-kata Ty belaka.&lt;br /&gt;Kami pernah berjumpa dan dengan mataku aku menyapanya. Dia benar-benar seperti boneka dengan pahatan-pahatan wajah yang sempurna. Namun aku tidak tahu apakah Ty memahami tatapan mataku. Dan dia tak pernah membalas sapaan mataku sampai kemudian lenyap entah ke mana. Apakah dia dan kolam kata-katanya larut kembali di ruang hampa?&lt;br /&gt;Aku pernah membayangkan ada sebuah sayembara menciptakan karya sastra. Pemenangnya ditentukan apakah ia bisa mengalahkan keindahan kata-kata yang dimiliki seorang putri rupawan, yang tak lain adalah Ty sendiri. Dan aku membayangkan bahwa akulah sang pemenang.&lt;br /&gt;Sampai sekarang aku masih merindukannya. Aku masih yakin bahwa Ty akan muncul kembali dengan kolam kata-katanya yang baru yang membuatku kembali jatuh cinta.&lt;br /&gt;Dan aku masih menunggu Ty ketika datang Yu menyapaku dengan kata-katanya yang mengguncang dada. Bahkan mengguncang dunia. Setidaknya, dunia kata-kata. Seperti kuda bersayap penuh gairah, Yu menerjang menembus batas-batas bisu. Dengarkan kata-katanya: setiap kali aku berhubungan dengan tubuh yang masai tanpa daya itu, menyentuh permukaannya yang kesat, kelaminnya yang menyisakan lembab… Ah, begitu mencekam, mengoyak, sekaligus mengagumkan. Bagaimana mungkin aku tidak jatuh cinta kepadanya?&lt;br /&gt;Seperti halnya Ty, Yu juga digempur oleh sementara orang: bahwa dia hanya mengucapkan kata-kata seseorang di belakang. Kata-kata Yu dan orang di belakang itu serupa belaka, katanya. Ah, aku sekali lagi tak percaya. Gempuran demikian hanyalah disemburkan oleh mereka yang cemburu dan kering oleh kata-kata. Dan Yu tetap mengalirkan kata-katanya yang menghanyutkan, termasuk menghanyutkan para penggempurnya.&lt;br /&gt;Lalu, seperti di udara senja ketika hujan reda, beterbangan laron-laron bersayap serupa menyemburkan kata-kata yang senada. Warnanya memang beraneka, tapi garis-garis sayapnya, mungkin juga baunya, sama belaka. Satu-dua mencoba berbeda, toh muaranya itu-itu juga.&lt;br /&gt;Dan, astaga, aku jatuh cinta. Tanpa ada jeda.&lt;br /&gt;“Wahai kau yang sedang dimabuk cinta, berikanlah padaku setetes apa yang kaureguk. Di kala kau terjatuh nanti, aku akan tahu rasanya limbung tanpa harus terpuruk,” kata Di suatu hari.&lt;br /&gt;Ah, buat Di, apa yang takkan kuberi? Jangankan hanya setetes. Bahkan segelas—atau sekolam—akan kupersembahkan, meski aku akan terperas menjadi hanya kulit dan tulang.&lt;br /&gt;Tiap hari, tiap saat, kemudian kata-kata mengalir dari sumber entah di mana. Mata air menyemburkan kata-kata dari sana-sini. Sungai menjadi tak pernah kering. Dan tiap saat pula aku berenang di dalam kata-kata, berkecipak-kecipak, meluncur, menenggelamkan diri, menyembul menghirup udara, lalu kembali menyelam mencoba menggapai dasar yang tak juga tersentuh.&lt;br /&gt;Tak lelah aku menyelam. Biarlah, meski selamanya aku tenggelam.&lt;br /&gt;Setelah Di, muncul Ning.&lt;br /&gt;Kemudian Sa.&lt;br /&gt;Lalu Cha.&lt;br /&gt;In.&lt;br /&gt;Wi.&lt;br /&gt;Fan.&lt;br /&gt;Lan.&lt;br /&gt;Rie.&lt;br /&gt;Tam.&lt;br /&gt;Dan entah siapa lagi.&lt;br /&gt;Semuanya mengguyurku dengan keindahan kata-kata. Semuanya membiusku hingga tak berdaya.&lt;br /&gt;Dalam kata-kata, ya, aku tiap hari jatuh cinta.&lt;br /&gt;Makin lama memang terasa bahwa kata-kata kian terbuka. Tabu tak lagi menjadi dinding beku. Aurat kian lepas dan cinta bercampur kelamin menjadi objek kata-kata yang menghambur di mana-mana.&lt;br /&gt;Entah cinta macam apa.&lt;br /&gt;Dan salah satu puncaknya memang Nay.&lt;br /&gt;Meskipun dia hanya punya segulung kisah pendek tentang cerita pendek, aku tak pernah berhenti mengerang oleh lesatan kata-katanya. Keningku, lidahku, leherku, dadaku, perutku, pahaku, betisku, berdarah-darah oleh anak-anak panah kata-katanya—yang sesekali memperingatkan: jangan main-main dengan kelaminmu.&lt;br /&gt;Tapi aku bahagia tenggelam dalam darah yang bercampur kata-katanya.&lt;br /&gt;Keindahan tato di punggungnya tak ada apa-apanya dibanding dengan kata-katanya.&lt;br /&gt;Dikepung seribu laron di udara senja setelah hujan reda, aku benar-benar mabuk karena keindahan kata-kata.&lt;br /&gt;Dan kau, Ni, kau mengembalikanku ke wilayah sensasi yang sudah lama hilang. Mungkin kau reinkarnasi seorang putri era Dinasti Ming. Atau bahkan Citraresmi di masa Linggabuana—toh mereka hidup pada masa yang sama.&lt;br /&gt;Lautan kata-katamu klasik belaka, tanpa bercampur dengan visualisasi melalui deskripsi vagina seperti mereka. Namun justru di situlah kekuatan kata-kata yang kautata.&lt;br /&gt;Dan kemudian, ketika tenggelam dalam bait-bait puisi dan prosa-prosa indah yang kaukisahkan, aku ragu apakah aku bisa mencintai yang lain.&lt;br /&gt;Karena itu, teruslah berpuisi, Ni. Lanjutkan kisah-kisahmu. Agar aku menjadi lelaki yang paling bahagia, yang bisa terus tiap hari jatuh cinta—untukmu semata. Setidaknya, sampai ada lagi mata air kata-kata yang lebih indah. Di mana pun sumbernya. Siapa pun dia.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;(Cerpen ini dimuat di &lt;em&gt;Pikiran Rakyat&lt;/em&gt;, Juli 2006)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5277617973649974022-196152394194064044?l=hermawan-aksan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hermawan-aksan.blogspot.com/feeds/196152394194064044/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5277617973649974022&amp;postID=196152394194064044' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5277617973649974022/posts/default/196152394194064044'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5277617973649974022/posts/default/196152394194064044'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hermawan-aksan.blogspot.com/2008/01/lelaki-yang-jatuh-cinta-tiap-hari.html' title='Lelaki yang Jatuh Cinta Tiap Hari'/><author><name>Hermawan Aksan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06299037799823191218</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5277617973649974022.post-390318680516574010</id><published>2008-01-02T20:49:00.000-08:00</published><updated>2008-01-02T20:51:15.467-08:00</updated><title type='text'>Aku Ingin Menulis Tubuhmu</title><content type='html'>AKU sebenarnya malu berterus terang seperti ini. Namun, karena kebugilan makin terbentang di mana-mana, baiklah, aku memang ingin sekali menulis di sekujur tubuh bugilmu. Ingin kutulis kisah sederhana tentang keindahan meskipun aku yakin segenap lekuk tubuhmu lebih indah dibanding jalinan kata mana pun. Aku juga tahu rangkaian kata-kata dalam kisah yang kaususun selalu membuatku seperti tak perlu lagi membaca cerita atau bahkan puisi yang lain. Toh, aku hanya ingin menggoreskan kata-kataku sendiri dengan ujung-ujung jari, lebih dari sekadar untuk meyakinkan bahwa tak ada satu bagian pun dari tubuhmu yang bakal terlampaui.&lt;br /&gt;Aku memang tak yakin apakah waktu kita masih panjang terbentang. Namun aku cukup yakin kita masih punya waktu sebelum jam tanganmu berubah jadi sapu dan kau berubah menjadi abu.&lt;br /&gt;Sebenarnya, aku ingin benar-benar menyapukan ujung pena di sekujur permukaan kulitmu yang telanjang (yang niscaya putih dan lebih lembut daripada sutra cina), agar kata-kataku tak begitu saja hilang, dan kuharap kata-kataku akan memperindah tubuhmu—lebih indah dari sekadar sapuan garis dan warna. Karenanya akan kutulis dengan bermacam warna tinta, tergantung di bagian mana aku menulisnya.&lt;br /&gt;Namun kupikir tulisan yang tak kasat mata akan lebih bermakna daripada sekadar rentetan huruf-huruf yang sudah terlalu banyak berhamburan di lembar-lembar buku dan bahkan di udara sekitar kita, yang kerapkali tak bisa kuikuti alur dan maknanya. Bukankah kau sendiri seperti tak habis-habis merangkai kata-kata yang bercerita tentang gelegak cinta?&lt;br /&gt;Akan kuawali ceritaku lewat goresan jemariku di anak-anak rambutmu, lalu keningmu, terus turun ke lekuk antara hidung dan pipimu, berbelok ke bibirmu, dan terus melintas di dagumu yang sedikit papak di bagian bawah—yang justru menambah sensual wajahmu. Akan kutuliskan dua tiga baris kata-kata bersahaja tentang kecantikanmu: kecantikan yang sunyi namun menyimpan bara yang menghanguskan.&lt;br /&gt;Aku ingin terjun dan hangus dalam rasa bahagia.&lt;br /&gt;Mungkin bara itu bukan yang kaukehendaki. Namun bukankah kau salah satu yang terindah dari barisan sosok jelita yang dengan keteguhan hati bercerita tentang wajah vagina?&lt;br /&gt;“Jangan hanya menilai kata per kata secara harfiah, dong. Aku tidak menulis soal kegiatan seksualitas kok, melainkan hanya ingin mengungkapkan kegundahanku, sebagai perempuan yang masih saja menyaksikan diskriminasi dalam masalah seksual,” katamu, ketika orang-orang menyudutkanmu sebagai perempuan yang menyerupai kuda bersayap sekaligus bertanduk dan terbang di antara bintang-bintang.&lt;br /&gt;Mungkin jemariku akan berhenti sejenak. Kan kutatap matamu yang seperti purnama senja hari. Indah tapi penuh misteri. Kuingin berendam dalam samudra kata-kata yang bergolak dalam matamu.&lt;br /&gt;Setelah itu, ingin kususun kata-kata di jenjang lehermu yang putih, kugoreskan perlahan, huruf demi huruf, melingkar menyusuri garis-garis samar dari belakang hingga depan dan memutar kembali ke belakang: barangkali kau adalah perempuan yang terlahir untuk menjadi pucuk bambu yang meliuk-liuk.&lt;br /&gt;Angin mengelusmu, juga menghantammu. Mentari memujimu dan hujan mengutukmu.&lt;br /&gt;“Padahal, apa yang kutulis sama sekali tidak melebihi dari realitas. Bukankah realitas kita jauh lebih fiktif ketimbang fiksi?”&lt;br /&gt;Ya, tapi bibirmu bukan fiksi. Ingin terus kutatap bibirmu ketika kau bicara. Ketika mengatup dan membuka, bibirmu lebih mengingatkanku kepada gendewa. Ingin kurentang dan kulepaskan tali gendewamu dengan bibirku. Mungkin anak panahmu akan melesat menembus lidahku. Namun aku justru akan bahagia dan mati dengan penuh senyuman.&lt;br /&gt;Ingin kubariskan serangkaian kata menyusuri pundakmu, sebelum mungkin menukik cepat dalam sebuah lengkungan yang indah seperti pualam, hingga lenganmu, dan ingin kurasakan gemetar lenganmu ketika ujung jemariku menyusun kata-kata di lekukan siku. Oh, engkau adalah Dyah Pitaloka yang tak pernah menyerah di hadapan sang maha perkasa mana saja. Siapa bisa menahan ketika kata-kata menjelma pusaka patrem yang mengilat memantulkan mentari di palagan Bubat?&lt;br /&gt;“Jangan bilang bahwa aku pemberani. Aku hanyalah cermin zaman. Seperti halnya aku pasti akan menolak kawin paksa kalau hidup di zaman Siti Nurbaya.”&lt;br /&gt;Ya, pada mulanya aku juga tersentak-sentak ketika kau hamburkan bagian-bagian tubuh baik lelaki maupun perempuan yang mestinya—siapa yang menciptakan kemestian?—tersimpan rapat sebagai aurat. Aku dihantam-hantam rasa jengah dan juga kebingungan. Mungkinkah karena aku terlalu lama menikmati kurungan romantisme zaman yang beradab?&lt;br /&gt;Namun lama-lama aku harus menyadari bahwa kau hidup pada zaman ketika pembedaan perlakuan terhadap perempuan tetap menjadi judul besar. Pasti kami para lelaki merasa seperti ditelanjangi ketika makin banyak perempuan jelita justru menyingkapkan selubung alat-alat vital mereka.&lt;br /&gt;Mungkinkah kami, para lelaki, ribut soal wajah vagina dalam kitab-kitab sastra kita belakangan ini hanya karena yang menuliskannya adalah para wanita? Bukankah kami para lelaki sudah lama biasa menelanjangi diri sendiri?&lt;br /&gt;Maka untuk kali ini, ingin kulanjutkan kisah sederhanaku ketika jemariku mendaki, menuruni, dan mendaki lagi kubah-kubah gunungmu yang pasti kenyal seperti seperti bola karet, di antara helai-helai rambut lurusmu yang halus dan harum. Mungkin sejenak melata di sekeliling lembah, sebelum mendaki dan memutari puncak kepundan, sembari menunggu entakan gempa yang menyemburkan magma.&lt;br /&gt;Nanti, kalau kisahku berakhir, tak lagi ujung jemari, tapi aku ingin mengulum dengan bibirku puting-puting bola karetmu. Bukankah kita senasib? Kau selalu rindu untuk menyusu ayahmu, dan aku senantiasa mendamba menyusu ibuku, yang terus kucari selama beratus purnama.&lt;br /&gt;Bukan tidak mungkin, kau adalah jelmaan ibuku yang hilang beratus tahun lalu. Sebab, sebagaimana ibuku, kau adalah puncak keindahan.&lt;br /&gt;“Aku hanya menulis hal-hal yang kutahu. Aku tak tahu politik atau sains. Aku tak tahu apa yang indah. Aku juga tak bisa mengungkapkan kata-kata penuh etika. Aku menulis hanya yang kurasa.”&lt;br /&gt;Aku memahamimu melalui berbagai kisahmu, termasuk sebuah cerita tentang cinta hanya melalui rentetan pesan singkat di telepon seluler. Sebuah kisah yang aneh, dengan bentuk dan gaya yang aneh, dan aku dicekam oleh sebuah getar yang aneh.&lt;br /&gt;Karena itu aku ingin memasuki pertengahan kisah sederhanaku di permukaan perutmu, yang pasti selembut boneka bayi. Akan kugoreskan ujung jemariku, menyusun kata-kata menurut jalur-jalur yang berpusat pada lekuk pusarmu.&lt;br /&gt;Aku sering mabuk oleh rangkaian kata-katamu.&lt;br /&gt;“Jangan berhenti hanya ketika aku menulis alat kelamin. Kalau demikian, kalian melupakan esensinya.”&lt;br /&gt;Aku tahu, aku tahu. Tapi apakah kami semua tahu? Kami, mungkin masih sebagian besar, masih tercengang, dengan debar menggembungkan dada kami, bahwa kalian, perempuan-perempuan dengan kecantikan yang sulit ditandingi melesatkan alat-alat kelamin kalian seringan anak-anak panah melesat dari busurnya.&lt;br /&gt;Karena itu pula aku hanya ingin menulis bagian kisah sederhanaku di sepanjang punggungmu, menyusur tonjolan kedua belikat, melandai menuruni cekungan, berputar sejenak, dan memanjat kedua bulatan sempurna bokongmu, sembari kutunggu lenguhan dari bibir dan hidungmu.&lt;br /&gt;Ingin kuhirup napas yang kau tiupkan. Ingin kupenuhi seluruh lapisan paru-paruku dengan napas zaman yang kaukibarkan.&lt;br /&gt;“Jangan juga mencampuradukkan sebuah karya dengan penciptanya. Bukankah para pembaca kebanyakan sudah dewasa?”&lt;br /&gt;Ya, ya, apakah karena seseorang mengenakan busana tertutup maka ia tak bisa mengungkapkan perilaku binal penuh kekerasan, juga hubungan badan yang gila antara seorang lelaki dan ibunya, meskipun dalam jalinan kisah berbungkus legenda?&lt;br /&gt;Bukankah kita juga tak pernah membayangkan seorang profesor sastra yang santun adalah lelaki yang liar ketika ia menulis kisah manusia perunggu dalam sebuah kitabnya?&lt;br /&gt;Namun ya itulah kita di negeri ini, negeri yang terus-menerus kekanak-kanakan dalam usia yang seharusnya dewasa.&lt;br /&gt;Hanya saja, tentu jangan lantas kau berkata bahwa kita memang manusia yang bersayap dan bertanduk sekaligus, setia dan berkhianat pada saat yang sama, melantunkan doa dan dosa melalui bibir yang itu-itu juga. Toh, aku tak pernah menganggapmu berwajah ganda, pembual, sok gagah, apalagi skizofrenia.&lt;br /&gt;Maafkan, sebelum masuk ke bagian akhir, ingin aku menyampaikan bahwa, dengan menulis di tubuhmu, aku tidak bermaksud menghinakanmu, apalagi mengutukmu, sebab segala macam kutukan toh tak pernah membuat kata-kata lenyap di udara.&lt;br /&gt;Sebabnya adalah karena aku, sekali lagi, menjadi gila dalam lautan kata-katamu.&lt;br /&gt;Karena itulah, ingin juga kuselusuri dengan rangkaian kata-kata sederhana, permukaan lembut belakang pahamu, melandai hingga tekukan lutut, sedikit mendaki bulir betismu—betis terindah di dunia—berputar di kedua mata kakimu, bulatan tumitmu, telapak kakimu, hingga ke ujung kuku-kuku kakimu.&lt;br /&gt;Kau memang masterpiece.&lt;br /&gt;Lantas, ingin kusapukan kata-kata di sekujur permukaan kulit yang membungkus tulang keringmu—aku pernah membayangkan mengelus kakimu justru ketika aku mengusap punggung pisau yang baru kuasah—menggelegak sejenak di bulat tempurung lututmu, sebelum menjejaki pahamu yang tentu masih kencang seperti tali busur terentang.&lt;br /&gt;Ah, ingin kuakhiri kisah sederhana ini dengan menggoreskan kata-kata melalui ujung jemariku di seputar pusat misterimu.&lt;br /&gt;Aku telah menyiapkan kalimat untuk ending kisahku: Nay, aku rela mati bersamamu di puncak cinta.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;(Cerpen ini dimuat di &lt;em&gt;Pikiran Rakyat&lt;/em&gt;, Januari 2006)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5277617973649974022-390318680516574010?l=hermawan-aksan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hermawan-aksan.blogspot.com/feeds/390318680516574010/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5277617973649974022&amp;postID=390318680516574010' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5277617973649974022/posts/default/390318680516574010'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5277617973649974022/posts/default/390318680516574010'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hermawan-aksan.blogspot.com/2008/01/aku-ingin-menulis-tubuhmu.html' title='Aku Ingin Menulis Tubuhmu'/><author><name>Hermawan Aksan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06299037799823191218</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5277617973649974022.post-2984651154025012643</id><published>2008-01-02T06:22:00.000-08:00</published><updated>2008-01-02T06:23:00.532-08:00</updated><title type='text'>Kiskenda</title><content type='html'>ADAKAH derita yang lebih menyakitkan dibanding kehilangan cinta? Cinta yang kubangun bata demi bata, yang kuperoleh dengan keringat, darah, dan air mata, harus kuserahkan begitu saja.&lt;br /&gt;Dan justru kepada saudaraku sendiri. Saudara kembarku.&lt;br /&gt;Padahal, sungguh, engkau saudara yang tolol, tak mampu membedakan mana buncahan otak dan mana leleran darah putih. Itu adalah jelas-jelas buncahan isi kepala Maesasura dan tunggangannya, Jatasura, yang kubenturkan satu sama lain. Aku tak bakal kalah melawan keduanya meskipun aku tahu mereka sakti mandraguna dan tak bisa mati kecuali secara bersama-sama. Aku tak akan minta bantuanmu karena aku tahu kau tak akan bisa membantu, dan lagi pula itu akan menghancurkan nilai-nilai kesatriaan. Bukankah kita tergolong kaum satria meskipun wajah kita sama-sama kera?&lt;br /&gt;Tapi di sisi lain aku yakin, engkau bukannya tolol, melainkan sebaliknya, kau pintar, cerdik, sekaligus licik. Kau sudah punya rencana sebenarnya bahwa kau mengincar segala yang bakal kutinggalkan seandainya aku perlaya. Kau tidak memeriksanya lebih dulu, siapa sebenarnya yang perlaya, melainkan langsung menutup pintu Gua Kiskenda dengan batu sebesar gajah.&lt;br /&gt;Kita sama-sama mendapat tugas dari Dewa Indra untuk menaklukkan pengacau Suralaya itu, dan hanya aku yang melawannya sendirian di dalam gua. Kau hanya mau menunggu di luar. Menunggu tanpa kepastian siapa yang akan keluar sebagai pemenang pertempuran.&lt;br /&gt;Aku memang sudah berpesan kepadamu, kalau yang mengalir adalah darah merah, berarti musuh yang kalah. Namun kalau yang mengalir itu darah putih, akulah yang perlaya. Namun, sekali lagi, tidak bisakah kau membedakan darah putih dan isi batok kepala?&lt;br /&gt;Baiklah, mungkin aku terlalu kasar menyebutmu tolol. Lebih tepat bahwa kau itu lugu, tak banyak tahu tentang apa pun, sampai-sampai dulu kau ikut-ikutan memburu Cupu Manik Astagina seperti yang kulakukan.&lt;br /&gt;Apa yang kauinginkan dengan cupu itu? Kau menggeleng waktu itu dan aku tertawa. Kau memang selalu tak paham soal apa-apa. Kau hanya bisa mengekor apa pun yang kulakukan.&lt;br /&gt;Dengan cupu itu, Adikku, kita bisa memperoleh apa saja yang kita inginkan di dunia. Apa yang kita kehendaki bisa keluar dari cupu itu.&lt;br /&gt;Cupu Manik itu, kau tahu kemudian, adalah lambang rasa pilih kasih ibu kita, Retna Windradi, kepada kakak kita Retna Anjani. Bukankah ibu memilikinya dari Batara Surya tanpa diketahui oleh ayah kita, Resi Gotama? Entahlah, mungkin cupu itu juga menjadi lambang cinta terlarang antara seorang dewa dan seorang dewi yang boleh jadi tak puas menikah dengan manusia biasa. Yang pasti, bukannya menyimpan rapat-rapat, ibu memberikannya kepada Anjani.&lt;br /&gt;Aku tak bisa tinggal diam, maka aku mengadu kepada ayahanda.&lt;br /&gt;“Aku tak pernah memberikan sebuah cupu kepada Anjani,” tegas ayah dengan wajah yang menegang.&lt;br /&gt;Anjani hanya mengatupkan bibir ketika ayah memanggilnya.&lt;br /&gt;“Kan kusumpah siapa pun yang berkata bohong,” tambah ayah, dengan wajah yang mulai dirambah warna merah.&lt;br /&gt;Anjani pun mengaku dengan kata-kata yang nyaris tak bisa kudengar.&lt;br /&gt;Kini ibulah yang menjadi terdakwa.&lt;br /&gt;“Dari mana kau mendapatkannya?”&lt;br /&gt;Ibu diam. Juga ketika ayah bertanya untuk kedua kalinya.&lt;br /&gt;Tak sepatah pun kata keluar dari bibir ibu. Hanya air mata yang mulai menetes di kedua pipinya.&lt;br /&gt;Ayah bertanya lagi dan ibu tetap saja bungkam.&lt;br /&gt;“Tiga kali aku bertanya, dan kau tetap diam. Kau sungguh seperti tugu saja.”&lt;br /&gt;Tiba-tiba halilintar menggelegar dan cahaya menyilaukan nyaris membutakan.&lt;br /&gt;Ketika sunyi hadir kembali, ibu telah berubah menjadi batu.&lt;br /&gt;Kita semua hanya bisa menggugu.&lt;br /&gt;Namun bukannya menyesali akibat kutukannya yang mengandung ilmu kesaktian tak tepermanai, ayah mengangkat patung tugu ibu dan melemparkannya jauh ke udara seperti melontarkan sebutir kerikil dan jatuh entah di mana.&lt;br /&gt;Ayah juga melemparkan cupu yang masih di genggamannya.&lt;br /&gt;Kita bertiga, aku, kau, dan Anjani, hanya bisa menatap ketika cupu itu melayang membelah udara, meninggalkan kesiur angin yang terdengar seperti menyayat telinga. Tanpa kutahu siapa yang memulai, kita bertiga berlari mengejar ke arah dilemparkannya cupu.&lt;br /&gt;Kita berlari ke arah Ayodya.&lt;br /&gt;Namun tiba-tiba kita menghadapi sebentang permukaan danau yang tenang. Kapan danau itu ada di sana? Ah, aku yakin, cupu itu jatuh ke dalamnya. Maka aku segera menceburkan diri. Di belakangku, kau juga menceburkan dirimu.&lt;br /&gt;Tak ada apa-apa di dalam sana.&lt;br /&gt;Dan aku terkejut ketika kita sama-sama menjelma menjadi sepasang kera.&lt;br /&gt;Oh, kutukan apa lagi yang menimpa kita?&lt;br /&gt;Ketika kita sama-sama muncul di tepi telaga, Anjani pun sudah kehilangan kecantikannya, karena wajah dan tangannya sudah berubah menjadi kera.&lt;br /&gt;Kita menangis menyesali kekeliruan kita. Dan ayah hanya memberikan petunjuk agar kita bertapa di Gunung Sunyapringga.&lt;br /&gt;Aku tahu bahwa aku lebih khusyuk bertapa dibanding engkau maka aku memperoleh kesaktian yang melebihi engkau. Maka wajar pulalah kalau Batara Indra lebih memercayaiku untuk melawan Maesasura.&lt;br /&gt;Ketika aku berhasil membunuh Maesasura, apa yang ada di dalam pikiranmu ketika menutup pintu gua dengan batu?&lt;br /&gt;Oh, aku tahu kemudian.&lt;br /&gt;Aku hancurkan batu raksasa yang menutup gua dan aku berlari menyusulmu ke kaendran. Kau ingat, kan? Sementara kulitku masih kesat oleh darah Maesasura yang mulai mengering dan keringatku masih membanjir, kau malah sedang berasyik masyuk di sebuah istana, dengan Dewi Tara, yang sesungguhnya berhak kumiliki.&lt;br /&gt;Oh, hati siapa yang tak akan tercabik-cabik?&lt;br /&gt;Kutantang kau beradu kejantanan. Namun kau hanya berdiri memandangku dengan tatapan terpana. Kau tak berani melawanku, kan? Kau tahu bakal kalah, kan?&lt;br /&gt;“Ayo, lawan aku! Tentukan siapa sebenarnya yang lebih berhak atas karunia Dewa Indra!”&lt;br /&gt;Aku bersiap membantingmu ketika kau menubruk dan air matamu membasahi kakiku.&lt;br /&gt;“Dengarkan aku, Kanda. Aku melakukan semuanya atas pesan Kanda sendiri. Aku menangis ketika kukira kaulah yang gugur di dalam gua. Aku menutup pintu gua sebagai tanda kesedihanku yang luar biasa, dan agar Maesasura terkurung di dalamnya. Kepada Batara Indra, aku tidak pernah mengatakan bahwa akulah yang menewaskan Maesasura dan Jatasura. Aku juga tak pernah meminta hadiah apa pun dari Dewa.”&lt;br /&gt;Aku tertegun mendengar penuturanmu.&lt;br /&gt;“Karena itu, bantinglah aku, Kanda. Aku rela mati dengan perantara kakak kandungku sendiri.”&lt;br /&gt;Kulepaskan engkau dan aku berlari ke arah semula aku datang. Mungkin bukan peruntunganku. Ya, nikmatilah manisnya cinta. Bangunlah istanamu. Dan aku hanya bisa berlari, terus berlari, hingga nyaris kehabisan napas ketika tiba kembali di Gunung Sunyapringga.&lt;br /&gt;Bukan untuk mencari kesaktian semata kalau aku kemudian memilih kembali bertapa. Aku ingin mengubur cinta. Sedalam-dalamnya.&lt;br /&gt;Bahwa aku kemudian memperoleh Pancasona, itu semata-mata karunia dari para dewa. Dan aku rela menghabiskan waktuku di sana hingga akhir hayatku ketika seorang inang pengasuh Dewi Tara rela datang ke pertapaanku dan berkisah bahwa sang dewi tidak bahagia menjadi permaisurimu di istana Gua Kiskenda. “Dewi mengetahui bahwa yang membunuh Maesasura dan Jatasura bukanlah suaminya, melainkan kakak kandungnya,” kata inang pengasuh.&lt;br /&gt;Darah segera menyembur ke kepala.&lt;br /&gt;Aku sudah rela kekasihku menjadi permaisurimu. Kenapa kau tega memperlakukannya tanpa cinta?&lt;br /&gt;Maka kau terkejut ketika aku muncul di pintu istana dan segera menantangmu. Aku tak perlu lagi kata-kata. Kutarik tanganmu dan kuputar-putar tubuhmu, lalu kulemparkan tubuhmu. Aku yakin kau akan jatuh di utara Gunung Maliawan. Kau baru merasakan Pancasona, kan?&lt;br /&gt;Entah berapa lama, kemudian, aku mereguk cinta dengan kekasih sejatiku, Dewi Tara, di Gua Kiskenda. Aku tak tahu apa yang terjadi di luar sana. Cinta menutup segalanya.&lt;br /&gt;Dan tiba-tiba, langit di luar menjadi redup dan bunyi genderang membahana. Aku berlari keluar pintu istana gua sambil menyipitkan mata untuk mengetahui siapa gerangan yang sudi berkunjung ke istana cintaku.&lt;br /&gt;“Kau tak akan melupakanku, bukan?”&lt;br /&gt;Aku menatapnya. Ah, ya, tentu saja. Tiap memandangmu, aku merasa sedang memandangku di cermin.&lt;br /&gt;Kau berdiri paling depan, bersebelahan dengan dua orang satria yang sama-sama berwajah tampan, sedemikian tampan sehingga surya pun temaram. Siapa mereka? Di tangan salah satu satria itu tampak gemerlap sebuah pusaka. Dan di belakangmu, ribuan—atau laksaan?—laskar kera dan manusia bergabung membentuk pasukan yang menggiriskan.&lt;br /&gt;“Apa maumu datang lagi, Adikku?” tanyaku.&lt;br /&gt;Sebuah pertanyaan yang tolol sebenarnya. Tanpa engkau jawab pun, aku tahu apa kehendakmu. Bukankah kau merasa bahwa Dewi Tara milikmu?&lt;br /&gt;“Baiklah, bukankah kau masih merasa takut sehingga datang meluruk dengan segelar besar pasukan?”&lt;br /&gt;Kau menatapku tanpa berkedip. Dan justru ketika aku berkedip, kau menerjang dengan tangan yang mengembang. Kusambut seranganmu dengan tangan yang juga mengembang. Ah, kau mengalami kemajuan pesat, Adikku. Tenagamu berlipat dan kecepatanmu meningkat. Namun itu belum cukup untuk mengalahkanku. Dalam beberapa jurus kemudian, kuangkat engkau dan kubanting hingga terkapar di hadapan dua satria yang menyertaimu.&lt;br /&gt;Aku tak bisa mendengar apa yang kalian katakan. Aku juga tak berprasangka apa-apa ketika satria itu melingkarkan janur kuning di tubuhmu. Oh, kesaktian jenis apa lagi yang akan kaugunakan untuk melawanku?&lt;br /&gt;Rupanya aku terkecoh. Bukan kesaktian, melainkan pertanda untuk membedakan. Ketika aku berhasil menyambar kaki kanan dan lehermu, dan kemudian membantingmu, serta hendak mengakhirimu, aku baru sadar apa yang terjadi.&lt;br /&gt;Tiba-tiba dadaku panas. Sesuatu menancap hingga tembus ke belakang. Sebatang panah yang mengilap. Aku tak tahu dari mana datangnya.&lt;br /&gt;Aku menoleh. Tangan satria itu tak lagi menggenggam pusakanya.&lt;br /&gt;Darah mulai meleleh dari lubang lukaku. Darah putih. Darah yang kausangka sudah tumpah di Gua Kiskenda dulu.&lt;br /&gt;“Siapa sebenarnya engkau, duhai satria tampan?”&lt;br /&gt;Satria itu tersenyum. “Namaku Ramawijaya. Dan ini adikku Lesmana. Kami putra Prabu Dasarata dari Ayodya.”&lt;br /&gt;Aku membalas senyumnya dengan seringai. “Oh, rupanya engkaulah satria pelindung jagat itu. Aku memang sudah ditakdirkan perlaya di tangan titisan Wisnu. Tapi mengapa harus dengan cara seperti ini? Apa salahku? Mengapa engkau memanahku secara tidak satria? Kalau seorang titisan dewata yang terkenal itu bertindak sedemikian tercela, bagaimana orang bisa membedakan kebajikan dan kejahatan? Lagi pula, aku bertempur dengan adikku sendiri demi urusan pribadi. Mengapa engkau turut campur? Serta datang dengan gelar pasukan tak terkira? Aku tak pernah berpikir melibatkan rakyatku. Aku berharap bahwa setelah salah satu dari kami kalah, selesai pulalah persoalan. Tapi kini…”&lt;br /&gt;Pandanganku mengabur. Darah makin hangat melumuri kedua telapak tanganku. Lututku gemetar.&lt;br /&gt;Dan kemudian hanya wajah Dewi Tara yang tampak di mataku, dengan senyumnya yang paling indah.&lt;br /&gt;Sempurnalah sudah kehilanganku.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;(Cerpen ini dimuat di &lt;em&gt;Media Indonesia&lt;/em&gt;, 10 September 2006&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5277617973649974022-2984651154025012643?l=hermawan-aksan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hermawan-aksan.blogspot.com/feeds/2984651154025012643/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5277617973649974022&amp;postID=2984651154025012643' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5277617973649974022/posts/default/2984651154025012643'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5277617973649974022/posts/default/2984651154025012643'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hermawan-aksan.blogspot.com/2008/01/kiskenda.html' title='Kiskenda'/><author><name>Hermawan Aksan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06299037799823191218</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5277617973649974022.post-9203237168491831522</id><published>2008-01-02T06:20:00.000-08:00</published><updated>2008-01-02T06:21:15.770-08:00</updated><title type='text'>Anak Perempuan yang Mencari Arjuna</title><content type='html'>AKU selalu membayangkan menjadi ibuku—walau hanya semalam—bercumbu dengan engkau, Tuan, merasakan hangatnya dekapan lelaki paling tampan di seluruh jagat.&lt;br /&gt;Ya, Tuan, kalau engkau benar-benar lelanang ing jagat, lelaki paling sejati di alam semesta, akuilah bahwa engkau pernah berkunjung ke sebuah gubuk di padepokan nun di lembah Giriwana. Gunung yang berhutan-hutan, hutan yang bergunung-gunung. Jangan ingkari bahwa engkau pernah terkesima oleh seorang perempuan hutan, perempuan gunung, yang tak kalah kecantikannya dengan bidadari, bahwa engkau kemudian bercumbu dengannya karena perempuan itu pun tak bisa lari dari rasa terpikat oleh ketampananmu. Engkau mencumbunya dan menumpahkan kasih dan benih di rahimnya. Rahim ibuku.&lt;br /&gt;Aku mengerti, dan ibuku lebih mengerti, Tuan memang tak bisa berlama-lama memadu kasih dengan ibuku karena darma Tuan bukanlah untuk itu, berdiam di hutan yang sunyi, melainkan untuk menyerap segala ilmu dari berbagai pertapaan dan padepokan. Dan karena itulah ibuku ikhlas, dan bahkan selalu mendoakan kepergian Tuan demi darma yang lebih besar, menjadi teladan bagi semesta. Ibuku juga berlapang jiwa kalau kemudian Tuan bertemu dengan putri para brahmana dan para resi, kembali menumpahkan kasih dan benih-benih di rahim mereka.&lt;br /&gt;Mungkin karena terlampau lama memendam rindu, ibuku tak tahan lagi. Namun percayalah, dia pergi dengan senyum melumuri wajahnya. Dia pergi dengan wajah yang lebih jelita daripada sebelumnya. Boleh jadi ibuku berharap menjadi salah satu dari seribu bidadari di surga yang kelak mendampingi Tuan di alam nirwana.&lt;br /&gt;Dan inilah aku, yang entah berapa purnama sudah menelusuri jejak yang Tuan tinggalkan, menuruni lembah, menyusuri sungai, bertanya ke selaksa orang, di mana gerangan Istana Madukara berada.&lt;br /&gt;Wajahmu milik separo jagat, kata ibuku. Separo ketampanan lainnya dibagikan ke segenap lelaki di jagat ini. Carilah dia, kau tak akan keliru mengenalinya. Sebab, tak ada yang menandinginya. Dialah satu-satunya.&lt;br /&gt;O, ibuku sangat benar. Kalau saja engkau bukan lelaki yang pernah membuahi ibuku, pasti aku pun akan jatuh cinta. Engkau tetap lelaki tampan yang seakan-akan tak lekang oleh waktu yang melesat-lesat menimbulkan desing seperti jamparing. Engkau masih tampak seperti lajang yang siap menerjang, bukan seorang ayah yang biasanya melangkah dengan susah payah.&lt;br /&gt;Namun sayang, Tuan seperti hendak mengingkari kenyataan.&lt;br /&gt;Aku tak punya anak perempuan, kata Tuan, dengan tatapan yang aneh, menyorot tajam seperti bintang malam yang paling terang. Aku terkesima sekian jenak. Nyaris aku lupa diri bahwa engkaulah yang sekian lama kucari sebagai seorang ayah.&lt;br /&gt;Aku tak mungkin punya anak perempuan, kata Tuan sekali lagi.&lt;br /&gt;Aku terpana. Benarkah kalimat demikian meluncur dari bibir indah lelaki kesayangan dewata?&lt;br /&gt;Oh, apakah seorang anak perempuan menjadi aib bagi ksatria pelindung jagat seperti Tuan? Bukankah kita tak bisa menentukan sendiri keturunan yang kita kehendaki? Dan bukankah tanpa ibu Tuan, yang niscaya seorang perempuan, Tuan tak akan menjelma ke dunia?&lt;br /&gt;Dan, bukankah Tuan punya putri bernama Pergiwa, yang kemudian dipersunting saudara sepupunya, ksatria berotot kawat dan bertulang besi?&lt;br /&gt;Apakah Tuan berkata demikian karena aku perempuan yang tak punya nama, tak jelas asal-usul, dan berpenampilan jelata?&lt;br /&gt;Kita bertemu dalam sebuah kesempatan ketika Tuan mengunjungi Indraprasta untuk sebuah pertemuan dengan saudara-saudara Tuan. Tentu tak jauh dari persiapan menuju sebuah perang besar yang mengerikan. Sebuah perang saudara antara Pandawa dan Kurawa.&lt;br /&gt;Sepanjang perjalanan dari Madukara, semua orang mengelukan Tuan. Semua perempuan berteriak histeris dengan tangan yang menggapai-gapai ingin meraih tangan Tuan yang melambai-lambai. Mereka berteriak parau dengan wajah yang memerah dan air mata yang tercurah, seakan-akan mereka bahkan rela untuk menyerahkan tubuhnya demi merasakan setetes belaka cinta Tuan. Dan Tuan perciki mereka dengan senyum terindah yang makin membuat mereka berteriak-teriak hingga kehilangan suara.&lt;br /&gt;Tak ada jalan bagiku untuk mendekati Tuan, tentu saja. Bahkan sekian tangan yang menggapai pun tak mampu sekadar menyentuh karena Tuan berada di dalam kereta yang cahayanya meredupkan sang surya, dan para pengawal Tuan berjajar dengan wajah-wajah yang keras seperti perunggu. Lebih-lebih aku hanyalah perempuan gunung dengan pakaian sederhana sekadar membungkus tubuh.&lt;br /&gt;Pertemuan kedua terjadi ketika aku nekat mengetuk gerbang istana Madukara. Gerbang berwarna emas yang mengilat memantulkan surya, diapit sepasang pohon cendana yang menguarkan bau harum di udara, sesungguhnya memancarkan sebuah keakraban. Namun semua itu dihalangi para hulubalang dengan pandangan yang melecehkan.&lt;br /&gt;Sekilas kulihat Tuan melintas halaman istana, menggandeng seorang perempuan yang cantik jelita. Ah, tentu dia adalah Dewi Wara Sumbadra yang tersohor itu. Benar, Arjuna dan Sumbadra memang Kamajaya dan Kamaratih yang menitis di arcapada. Aku begitu terpesona sehingga aku menjadi lupa untuk apa aku datang ke sana. Aku mendapat kesan bahwa Tuan melihatku, tapi sayang mungkin itu kesan yang berlebihan.&lt;br /&gt;Besoknya, aku kembali ke istana. Kali ini aku lebih punya keberanian. Sebab, aku makin yakin bahwa Tuan memang ayahku. Masih dengan pandangan melecehkan, para hulubalang sesungguhnya mencoba menghalangi jalanku untuk masuk melewati gapura istana. Mungkin karena aku memang tetap tampil dengan balutan busana yang sederhana. Istana Madukara terlampau gemilang untuk disambangi seorang berpenampilan kumuh dari kampung antah berantah.&lt;br /&gt;Untunglah kali ini pun Tuan lewat di halaman istana, sendirian, dan lebih dari itu melihatku lagi. Bukan sekadar kesan, tapi Tuan benar-benar memalingkan wajah menghadapku dan berhenti sejenak, dan bahkan kemudian menghampiriku.&lt;br /&gt;“Ada apa, gadis cantik?” tanya Tuan.&lt;br /&gt;Sungguh, aku berdebar mendengar sapaan Tuan. Ah, ayahku benar-benar masih kelihatan begitu muda dan tampan. Tubuhnya seakan bercahaya dan harum melati samar-samar menyelinap lubang hidungku.&lt;br /&gt;“Aku mencari ayahku,” jawabku.&lt;br /&gt;Tuan menatapku dengan kening yang sedikit berlipat.&lt;br /&gt;“Dan kalau benar Tuan bernama Arjuna, Tuan adalah ayahku.”&lt;br /&gt;“O, gadis cantik, buktikan bahwa kamu anakku,” kata Tuan, tetap dengan tatapan lembut dan tutur kata yang tenang.&lt;br /&gt;“Aku adalah anak seorang perempuan di sebuah padepokan di Gunung Giriwana, gunung yang berhutan-hutan, hutan yang bergunung-gunung. Tuan tentu ingat pernah menyambangi padepokan kakekku dan menjalin cinta dengan ibuku. Inilah aku, buah cinta Tuan dan ibuku.”&lt;br /&gt;Tuan tersenyum aneh yang tak bisa kuterjemahkan maknanya.&lt;br /&gt;“Itu belum menjadi bukti. Aku mengunjungi berbagai padepokan, gunung, lembah, tepi laut, bahkan negeri siluman dan Suralaya. Itu adalah darmaku sebagai seorang ksatria yang selalu haus menggali ilmu dan menerapkannya di dunia. Aku juga tak pernah menghitung berapa padepokan yang pernah kukunjungi dan berapa pertapa dan brahmana yang menjadi guru tempat menimba ilmu.”&lt;br /&gt;“Dan Tuan selalu bercumbu dengan putri para brahmana dan pertapa itu dan tentu Tuan mengenal nama ibuku.” Aku menyebut nama ibuku.&lt;br /&gt;“Ah, aku tak ingat nama mereka satu per satu.”&lt;br /&gt;Aku mengeluh kecewa. “Namun bagaimanapun, inilah saya, salah satu benih Tuan yang telah tumbuh.”&lt;br /&gt;“Tapi dalam pengembaraan itu aku tak mungkin punya anak perempuan.”&lt;br /&gt;“O, kenapa tidak?” Aku menatap Tuan dengan mulut ternganga. Dada seperti digores ujung keris Pulanggeni.&lt;br /&gt;Tuan terdiam.&lt;br /&gt;“Apakah tidak mungkin dari sekian banyak benih keturunan Tuan adalah perempuan karena memang peluang untuk itu sama besarnya?”&lt;br /&gt;“Kalau begitu, datanglah sepekan lagi.”&lt;br /&gt;Mungkin begitulah cara Tuan untuk meyakinkan diri bahwa aku anak Tuan. Bahkan seorang Wisanggeni pun, seperti cerita yang sampai kepadaku entah angin mana yang mengisahkannya, harus melalui tahap-tahap yang cukup panjang untuk sampai diakui sebagai putra Tuan. Bayangkan, Wisanggeni, anak Tuan dengan seorang bidadari swargaloka bernama Dewi Dreasanala itu, pun harus melalui semacam ujian. Sebab, Tuan tak begitu saja percaya terhadap pengakuan secara sepihak.&lt;br /&gt;Mungkin begitu pula dengan Angkawijaya kalau saja ia lahir bukan di istana. Setidaknya, mungkin Tuan harus mengujinya melalui beberapa jurus atau sekian banyak ajian. Mungkin Tuan harus benar-benar yakin bahwa anak Tuan adalah anak-anak yang takkan kalah digdaya dibanding Tuan sendiri.&lt;br /&gt;Kalau Wisanggeni saja harus melalui ujian yang berat, bagaimana dengan seorang perempuan yang tanpa nama?&lt;br /&gt;Aku membelalak ketika seribu ksatria duduk bersimpuh di paseban. Semuanya lelaki. Semuanya berwajah tampan dengan garis wajah yang mirip Tuan.&lt;br /&gt;Hanya aku yang bukan lelaki.&lt;br /&gt;“Aku adalah anak Arjuna,” kudengar salah seorang ksatria berbicara.&lt;br /&gt;“Aku juga anak Arjuna.”&lt;br /&gt;“Aku juga.”&lt;br /&gt;“Siapa kamu, perempuan?”&lt;br /&gt;“Aku anak Arjuna!”&lt;br /&gt;Semua mata menatapku.&lt;br /&gt;Aku balas tatapan mereka.&lt;br /&gt;Aku meloncat ke tengah alun-alun.&lt;br /&gt;“Siapa berani menghadapiku? Aku akan membuktikan bahwa aku anak Arjuna!”&lt;br /&gt;Aku telah bersiaga dengan segala jurus dan ajian.&lt;br /&gt;Tuan, demikiankah cara yang harus kutempuh untuk menunjukkan bahwa aku anak Tuan?&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;(Cerpen ini dimuat di &lt;em&gt;Media Indonesia&lt;/em&gt;, 23 Juli 2006)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5277617973649974022-9203237168491831522?l=hermawan-aksan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hermawan-aksan.blogspot.com/feeds/9203237168491831522/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5277617973649974022&amp;postID=9203237168491831522' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5277617973649974022/posts/default/9203237168491831522'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5277617973649974022/posts/default/9203237168491831522'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hermawan-aksan.blogspot.com/2008/01/anak-perempuan-yang-mencari-arjuna.html' title='Anak Perempuan yang Mencari Arjuna'/><author><name>Hermawan Aksan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06299037799823191218</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5277617973649974022.post-7125705986744007619</id><published>2008-01-02T06:18:00.000-08:00</published><updated>2008-01-02T06:19:36.030-08:00</updated><title type='text'>Sang Angkara</title><content type='html'>INILAH aku si angkara murka. Sebutkan jenis kejahatan yang kalian ketahui. Aku pasti sudah melakukan semuanya.&lt;br /&gt;Mungkin sebentar lagi aku akan melepas nyawa. Atau terjepit abadi tertimpa Gunung Suwela. Sungguh tak bisa kulawan pusaka Guwawijaya, bahkan dengan Pancasona yang bertahun-tahun menggetarkan jagat raya. Tapi aku puas dengan segala lelakon hidupku. Membuat kekacauan di pelbagai pelataran. Aku bisa tertawa sambil melepaskan nyawa.&lt;br /&gt;Kecuali satu hal yang membuatku menyesal.&lt;br /&gt;Kuakui, warna hidupku memang hitam legam. Lebih hitam daripada malam yang mencekam. Namun, benarkah aku tengah berhadapan dengan lawan yang berwarna putih? Sungguhkah hidup hanya terdiri dari warna hitam dan putih?&lt;br /&gt;Bahwa aku terlahir sebagai angkara, sesungguhnya, bukanlah atas kehendakku. Keangkaraanku hanyalah karma dari perbuatan ayah dan ibuku. Ayahku, Begawan Wisrawa, adalah seorang resi yang tak mampu menilai dirinya secara bijaksana.&lt;br /&gt;Lihatlah hikayatnya yang sudah menjadi legenda. Ia datang ke Alengka, menghadap Prabu Sumali, sahabatnya sendiri, untuk meminang sang putri, Dewi Sukesi, melalui sayembara yang mereka adakan. Bukan untuk dirinya, tentu saja, melainkan bagi anaknya yang tercinta, Danaraja. Namun apa yang terjadi?&lt;br /&gt;Ayahku memang resi yang sangat sakti. Karena itu, dengan mengerahkan segala ilmunya, ia bisa memenuhi syarat pertama sayembara, yaitu mengalahkan Jambumangli, adik Prabu Sumali, yang sebelumnya tak terkalahkan oleh ksatria dan resi mana pun.&lt;br /&gt;Ia pun siap untuk memenuhi syarat yang kedua, sebagaimana diminta Sang Dewi, yakni rahasia ilmu yang terkandung pada ajian Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu.&lt;br /&gt;O, belum pernah ada manusia yang bisa memahami rahasia ajian ini.&lt;br /&gt;Kecuali Begawan Wisrawa.&lt;br /&gt;Dan bahwa sesungguhnyalah Sang Begawan, ayahku itu, enggan menguraikan rahasia Sastra Jendra. Hanya demi sang putra tercintalah ia bersedia melanggar keyakinannya sendiri. Kecuali ayahku, tak ada orang yang mencapai taraf kesempurnaan hidup. Dan ia harus menguraikannya kepada seorang wanita muda yang cantik tak tertara.&lt;br /&gt;Keduanya, Begawan Wisrawa dan Dewi Sukesi, harus berada di dalam sebuah ruangan yang sunyi, tak boleh terganggu hiruk-pikuk dunia di sekitarnya, kalau tak ingin pemaparan rahasia itu menemui kegagalan.&lt;br /&gt;Sunyi, temaram, dengan cahaya yang hanya berasal dari lubang-lubang angin di keempat dindingnya. Keduanya duduk berhadapan, dengan jarak hanya sejangkauan tangan. Sukesi menatap wajah tua Wisrawa, dan sang begawan memandang titik di antara kedua mata cemerlang sang dewi.&lt;br /&gt;Dengan suara perlahan, dibukalah segala rahasia yang terdapat dalam Sastra Jendra.&lt;br /&gt;Ah, aku bukanlah pemilik rahasia Sastra Jendra. Karena itu, pengetahuanku hanyalah sebatas permukaan, yakni bahwa Sastra Jendra adalah ilmu atau pengetahuan tentang rahasia seluruh semesta alam beserta perkembangannya. Jadi, ilmu Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu ialah jalan untuk mencapai kesempurnaan hidup.&lt;br /&gt;Orang yang menguasai Sastra Jendra akan terbebaskan dari segala petaka. Jika mati, rohnya akan berkumpul dengan roh manusia-manusia yang telah sempurna, berkumpul dengan para dewa yang mulya.&lt;br /&gt;Namun, suara pelan sang Begawan ternyata mampu mengguncang Suralaya. Menimbulkan gempa dan angin puting beliung yang memorakporandakan istana para dewa.&lt;br /&gt;Batara Guru, yang paham atas apa yang terjadi, segera turun ke arcapada, diiringi Sang Permaisuri. Sebagai dewa yang mahatahu, ia sadar, Sastra Jendra tak boleh terbuka oleh siapa saja. Kalau manusia bisa memahami intinya, kelak tak akan ada lagi fungsi para dewa, karena manusia akan bisa menjadi setaraf dewa. Takdir mengharuskan hal itu tak boleh terjadi.&lt;br /&gt;Batara Guru dan Dewi Uma segera merasuki Begawan Wisrawa dan Dewi Sukesi, menggelitiki titik-titik lemah keduanya.&lt;br /&gt;Begawan Wisrawa memang pendeta yang sakti, halus budi pekerti, dan waskita. Tapi ia juga manusia biasa, yang ternyata masih menyimpan nafsu lahiriah. Apalagi di hadapannya adalah seorang wanita yang kecantikannya tak tertandingi, dengan kulit seperti pualam dan rambut laksana air terjun, yang menguarkan harum tujuh bunga merayapi kedua lubang hidungnya.&lt;br /&gt;Baik Begawan Wisrawa maupun Dewi Sukesi tak berdaya menghadapi godaan. Dada mereka terbakar oleh nafsu yang makin lama makin membara.&lt;br /&gt;Dan terjadilah apa yang dikehendaki Maharaja Dewata.&lt;br /&gt;Berbulan kemudian, benih nafsu mereka menumbuhkan angkara pada keturunannya. Dan inilah aku, yang ketika lahir membuat ayahku membisu dan ibuku terguguk. Sesuatu yang mengherankan. Bukankah siapa menabur nafsu akan menuai angkara? Aku langsung terlahir dengan sepuluh kepala dan dua puluh tangan, berwujud raksasa yang menggiriskan. Mungkin karena terlampau kecewa, ayah dan ibuku kemudian enggan memeliharaku.&lt;br /&gt;Aku dibuang kepada kakekku, Prabu Sumali, yang justru bisa menerima keadaan fisikku yang berukuran besar di luar nalar.&lt;br /&gt;Beberapa waktu kemudian, aku tahu ayah dan ibuku kecewa ketika lahir anak kedua yang lebih raksasa dariku dan anak ketiga yang juga raksasa meskipun berjenis kelamin wanita.&lt;br /&gt;Ah, benarkah aku terlahir dan kemudian besar hanya untuk mengumbar angkara?&lt;br /&gt;Boleh jadi kalian tak banyak yang tahu. Kakekku, Prabu Sumali, mendidikku agar gemar bertapa dan menjalani pati geni. Ia pernah berbisik bahwa ia ingin aku kelak menjadi satria yang mandraguna tanpa tara, memiliki kelebihan dari siapa pun.&lt;br /&gt;Di puncak Gunung Gohkarna, yang tak pernah diinjak manusia sebelumnya, aku melakukan tapa mati raga. Hitunglah, aku melakukan tapa lima tahun bagi tiap kepala. Jadi, untuk bertapa bagi kesepuluh kepalaku, aku mematikan ragaku tak kurang dari lima puluh tahun. Adakah manusia lain yang menjalani tapa seperti yang aku lakukan?&lt;br /&gt;Batara Guru sendirilah yang turun dari Suralaya ke puncak Gohkarna ketika tapaku tiba pada ujungnya.&lt;br /&gt;“Apa yang kauinginkan dengan mati raga lima puluh warsa?” tanya Batara Guru. Mataku silau oleh pancaran cahaya dari sekujur tubuhnya.&lt;br /&gt;Aku menjawab jujur apa adanya.&lt;br /&gt;“Hamba ingin mendapat kesaktian dan kedigdayaan melebihi siapa pun penghuni arcapada. Bukan hanya yang ada di atas bumi, melainkan juga segala makhluk di bawah bumi, bahkan jauh di Suralaya. Hamba ingin bisa bertiwikrama menjadi sebesar Gohkarna.”&lt;br /&gt;Batara Guru tampak terpana. Namun ia tak bisa menarik kata-katanya. “Kupenuhi segala permintaanmu.”&lt;br /&gt;Nah, apa yang salah dengan jalan hidupku?&lt;br /&gt;Lima puluh tahun aku bersembunyi di gunung yang terlampau sunyi, tak tahu apa pun yang terjadi di bawah sana.&lt;br /&gt;Atau mungkin justru itulah pangkalnya. Aku terlampau lama bertapa dan belum sepenuhnya siap menjelajahi dunia ketika tiba-tiba mataku terkesima oleh sebuah cahaya yang memancar dari wajah jelita. Sangat jelita. Aku yakin, wajah ibuku yang pernah menggemparkan tak kan ada sepersepuluhnya.&lt;br /&gt;Orang memanggilnya Sinta.&lt;br /&gt;Benar, dia wanita yang didamba siapa saja. Salahkah kalau aku juga memendam cinta?&lt;br /&gt;Ya, cinta.&lt;br /&gt;Inilah mungkin yang menjadi pangkal bencana sehingga aku kemudian dikenal sebagai sang angkara.&lt;br /&gt;Padahal, hanya satu kesalahannya: dia sudah menjadi milik Rama. Dan satu kesalahanku: aku dibakar cinta.&lt;br /&gt;Tapi aku memang berhasrat memilikinya. Aku tak peduli apa pun caranya. Sinta harus menjadi bunga Alengka, seperti ibuku dulu menjadi bunga yang memancarkan keindahannya ke seantero dunia.&lt;br /&gt;O putri Mantili, mungkin aku menyesal karena sayembara itu terjadi ketika aku masih mesu diri di Gohkarna sehingga seakan-akan hanya ada satu orang yang mampu mengangkat dan mementangkan Gendewa. Tapi tak apalah. Aku yakin bahwa aku belum terlambat untuk memilikinya. Ayodya hanyalah sepetak tanah kecil dibanding Alengka dan negeri-negeri lain yang sudah kutaklukkan seperti Maespati dan Lokapala, dan bagiku Rama terlampau lemah lembut meski kabar sampai juga kepadaku bahwa ia Sang Wisnuputra.&lt;br /&gt;Aku memang menculik Sinta ketika sang jelita justru ditinggal Rama yang terkecoh oleh sebuah permainan sederhana. Lagi pula, untuk apa dewi secantik dia harus menderita di rimbaraya?&lt;br /&gt;Kalian tahu, Sinta kutempatkan di bagian istana Alengka yang paling indah. Dan kalian tahu, aku tak pernah menjamahnya meskipun bisa saja kalau hanya kuturuti nafsu belaka.&lt;br /&gt;Aku menawarkan cinta.&lt;br /&gt;Lebih besar daripada yang sudah diberikan Rama.&lt;br /&gt;Ah, Sinta, betapa besarnya cintaku, melebihi apa pun di dunia. Aku rela mempersembahkan apa pun yang kau minta, walaupun harus memindahan istana Maharaja Suralaya.&lt;br /&gt;Oh, tak pantaskah aku memendam cinta yang membara?&lt;br /&gt;Tak pantaskah raksasa buruk rupa mencinta wanita yang jelita? Bukan salahku terlahir dengan wajah yang buruk tak terkira. Dan bukan salah Sinta, tentu saja, dikaruniai keindahan luar biasa. Dan apakah aku salah memiliki cinta? Bukankah cinta tumbuh begitu saja, tanpa pernah ada rencana?&lt;br /&gt;Kuhadapi segala tantangan, kutaklukkan segala rintangan, meskipun harus pecah perang yang tak pernah kukira. Perang besar yang menghanguskan separo jagat.&lt;br /&gt;Semua demi cinta.&lt;br /&gt;Dan aku bangga karenanya. Kuhadapi semua bukan demi kemasyhuran atau nama besar. Aku merasa apa yang sudah kumiliki sebelumnya lebih besar daripada sekadar kemasyhuran. Aku lebih perkasa dari siapa pun. Aku lebih digdaya dari semuanya. Aku raja dari segala maharaja.&lt;br /&gt;Hanya satu yang belum kuraih.&lt;br /&gt;Dicinta.&lt;br /&gt;Aku memiliki dan dengan sepenuh hati kuberikan cinta. Karena itu kudambakan juga cinta dari orang yang kucinta. Bukankah itu wajar? Aku mencinta dan aku ingin dicinta. Bukan oleh siapa saja, melainkan oleh Sinta.&lt;br /&gt;Ah, Sinta.&lt;br /&gt;Sayang, demi cinta, aku harus menghadapi nyaris seluruh dunia, bahkan Suralaya. Hanya dibantu rakyatku serta satu adikku, juga anakku, aku menghadapi Rama yang didukung para raja perkasa, bahkan juga salah satu adik kandungku sendiri. Aku, manusia yang meraih taraf kedigdayaan melalui upayaku sendiri, berhadapan dengan lelananging jagat yang memang sudah ditakdirkan untuk menandaskan segala jenis angkara, mendapat bantuan dari para raja, juga resi dan brahmana, serta satria anak-anak dewa, dan bahkan mendapat lindungan dari para dewa sendiri.&lt;br /&gt;Aku bangga. Rakyatku telah bertarung dengan gagah perkasa. Anakku maju dengan dada yang penuh gelora. Adikku pun berlaga dan kemudian perlaya menjadi bunga negeri.&lt;br /&gt;Dan aku maju menadahkan dada dan muka demi keyakinan yang tak juga goyah.&lt;br /&gt;Cinta.&lt;br /&gt;Kuhadapi Rama meski aku tahu bahwa sudah tercatat di garis takdir aku akan perlaya di ujung Guwawijaya.&lt;br /&gt;Hanya saja, sebelum aku melepas nyawa, ketahuilah bahwa tak ada warna putih di atas dunia. Bahkan para dewa, serta maharaja para dewa, menggambar lembar-lembar hidupnya juga dengan goresan nafsu kelabu. Bagaimana mungkin Sang Manikmaya terpikat oleh sang istri di punggung Lembu Andini? Kenapa para dewa juga bisa tergoda oleh wanita-wanita arcapada?&lt;br /&gt;Pahamilah bahwa sang lelananging jagat pun bukanlah satria sempurna. Ia lebih suka mementingkan diri sehingga sang istri dan ayah sendiri tak tahan lagi. Bukankah Dasarata tewas karena kesedihan tak tertahankan oleh kepergiannya ke hutan? Bukankah Rama sendiri tega meninggalkan sang istri demi mengejar sebuah bayang-bayang yang tak nyata? Dan kesalahan yang paling besar, bukankah ia mencurigai sang dewi telah ternoda oleh tangan kasarku sehingga harus menghadapi hukuman tak terkira: terjun ke dalam kobaran api?&lt;br /&gt;Tiap detik, aku memang selalu membayangkan tubuh Sinta seperti membayangkan getaran kepundan Gunung Gohkarna. Namun, aku tak pernah menjamahnya karena aku berharap sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sekadar semburan magma. Yakni cinta.&lt;br /&gt;Karena itu, biarlah aku mati dengan rasa puas di hati. Bahwa sebenarnya keangkaraanku yang terang-terangan tidaklah seberapa dibanding ribuan angkara yang bersaput wajah brahmana. Aku yakin, angkara yang demikian jauh lebih berbahaya dibanding sekadar angkara seorang Rahwana. ***&lt;br /&gt;(Cerpen ini dimuat di &lt;em&gt;Pikiran Rakyat&lt;/em&gt;, 24 Juni 2006)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5277617973649974022-7125705986744007619?l=hermawan-aksan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hermawan-aksan.blogspot.com/feeds/7125705986744007619/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5277617973649974022&amp;postID=7125705986744007619' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5277617973649974022/posts/default/7125705986744007619'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5277617973649974022/posts/default/7125705986744007619'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hermawan-aksan.blogspot.com/2008/01/sang-angkara.html' title='Sang Angkara'/><author><name>Hermawan Aksan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06299037799823191218</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5277617973649974022.post-4378282482962740821</id><published>2008-01-02T06:16:00.000-08:00</published><updated>2008-01-02T06:17:44.872-08:00</updated><title type='text'>Sang Terkutuk</title><content type='html'>TIUPAN angin lirih dari arah hutan Saptarengga yang membawa harum cempaka dan kemudian menyingkapkan kainmu, Dinda, sehingga memperlihatkan putih betismu—betis terindah di mayapada—membuatku sekali lagi harus mati-matian menahan gelegak cinta. Sepanjang hayatku, aku mampu menghadapi sesakti apa pun ajian serta pusaka. Namun, terhadap kecantikanmu, aku selalu terkapar tak berdaya apa-apa.&lt;br /&gt;Derita apa lagi yang lebih berat daripada tidak bisa mengecap cinta justru dari kekasih yang setiap hari mengiringi?&lt;br /&gt;Oh, Putri Mandaraka, apalah arti nyawa dibanding cinta yang kudamba sepanjang masa.&lt;br /&gt;Penaklukan-penaklukanku, boleh jadi, menjadi sekadar darma yang harus kujalani, sebagai seorang ksatria yang menggenggam berbagai pusaka. Telah kulakoni semua kisah yang diguratkan semesta. Namun, mungkin tak ada yang tahu, sepak terjangku sesungguhnya semata-mata pelampiasan berahiku yang tak pernah bisa tersalurkan.&lt;br /&gt;Kau tahu, bahkan semenjak aku baru lahir ke jagat ini, aku harus memikul sebuah kemustahilan. Sebagai bayi merah, aku mesti menghadapi maharaja negeri Kiskenda, Nagapaya yang perkasa, yang ayahku, Kresna Dwipayana, bahkan para dewa, pun tak sanggup menaklukkannya! Aku tak tahu logika jagat raya, tapi aku berhasil menjadi sang pemenang dan kemudian beranugerah pusaka sakti Hrudadali, minyak tala, dan gelar Dewanata.&lt;br /&gt;Darma ksatria pulalah tentu yang membawaku mengikuti sayembara di Negeri Mandura. Sebagai calon pemegang takhta, aku harus memiliki wanita utama untuk menjadi belahan jiwa. Sayang aku terlambat dan putri Mandura telah diboyong ksatria bernama Narasoma. Namun, justru kesombongannyalah yang membuatku memiliki kesempatan menjadi peserta terakhir sayembara.&lt;br /&gt;Ksatria Mandaraka itu menantangku, dan aku melayaninya. Aku bisa mengalahkannya dan berhak atas putri Mandura yang jelita. Ia bahkan rela menyerahkan adik perempuannya, engkaulah Dinda, putri yang tak kalah jelita.&lt;br /&gt;Dan, kalau saja aku mau, bisa saja aku memiliki untukku sendiri Gendari, putri Plasajenar yang parasnya cantik bersinar, yang diserahkan sang kakak Sakuni sebagai tanda takluk setelah mencoba merebut engkau dan ayundamu dari tanganku. Gendari kuserahkan kepada kakakku karena aku toh merasa lebih dari cukup memiliki engkau dan ayundamu.&lt;br /&gt;Namun darma demi darma, pertempuran demi pertempuran, kisah demi kisah, membuatku tak juga bisa memadu cinta dengan dua putri terkasih. Kau tahu, demi kedigdayaan negara, aku mesti menaklukkan Magada, Mantili, Kasi Sumba, Pundra, dan lain-lainnya. Aku bahkan tak bisa menolak setiap permohonan pertolongan. Prabu Basudewa yang dirongrong Gorawangsa, misalnya, tentu aku tak bisa melepas tangan dan memalingkan muka. Aku juga tak bisa berdiam diri ketika kesucian Kaendran diacak-acak Kalaruci.&lt;br /&gt;Di tanganku, negeri ini menjelma menjadi rembulan yang menyinari angkasa raya, yang cahayanya terus memancar sepanjang masa. Negeri-negeri tetangga berbondong untuk menjalin persahabatan yang abadi. Rakyat aman dan sejahtera karena tak ada yang berani mengganggu ketenteraman negeri.&lt;br /&gt;Namun, apalah arti semua itu kalau aku belum juga mengecap setetes pun kebahagiaan cinta? Bayangkan, bertahun-tahun aku harus mengekang diri dari segala berahi sementara setiap malam di sebelah kananku berbaring ayundamu dan di sebelah kiriku engkau, oh, dua putri yang kecantikan dan kemolekannya tak ada bandingannya di negeri ini, bahkan mungkin di jagat ini!&lt;br /&gt;Semua hanya karena kutukan yang tak pernah bisa kupahami. Apa yang telah kuperbuat pada kehidupan-kehidupanku sebelumnya?&lt;br /&gt;Bahkan jauh sebelum aku lahir, aku harus menerima kutukan hanya karena perilaku ibuku. Entah karena ia merasa bahwa ia masih istri raja sebelumnya, entah juga karena ia merasa terlalu jelita dibanding ayahku yang memang berwajah buruk, dengan kulit muka yang legam dan janggut menjalar di sepanjang dagunya, maka ketika sampai pada puncak persenggamaan, wajah ibuku memucat seperti kapas dan berpaling untuk menghindari wajah sang suami.&lt;br /&gt;Maka lahirlah aku dengan wajah yang pucat dan kepala yang tengeng—meski orang-orang tetap menilaiku tampan.&lt;br /&gt;Dan takkan bisa kulupakan, Dinda, peristiwa paling terkutuk itu, peristiwa yang membuatku selalu terayun-ayun di antara penyesalan dan kemarahan. Aku, seorang pemburu yang tak terlawan, yang tak pernah gagal setidaknya membawa pulang seekor menjangan, hari itu tak menjumpai satu pun hewan di hutan yang biasa menjadi tempat perburuan. Sudah kujelajahi berbagai sudut hutan, tapi yang kudengar hanyalah desau angin basah di antara dedaunan. Ke mana para penghuninya yang biasanya mudah kudapatkan meskipun bersembunyi di setiap gerumbul perdu atau pepohonan?&lt;br /&gt;Bahkan hingga batas rimba, aku hanya menemui kesunyian yang menggiriskan.&lt;br /&gt;Ya, bagaimana mungkin di rimba Tundalaya nan perawan, yang pekat oleh berbagai tetumbuhan, tak kudengar bahkan dengung serangga dan kelepak burung kolika? Atau apakah ini bagian kisah yang tengah dituliskan oleh si pemegang takdir manusia? Takdir macam apa yang harus lebih dulu melalui jalan peristiwa yang tak masuk akal?&lt;br /&gt;Akhirnya aku bisa melepas napas lega ketika kulihat sepasang kijang justru di batas hutan. Yang satu tengah masyuk mengunyah rumput, sedang yang lainnya mengusap-usapkan sepasang tanduknya yang indah di tubuh pasangannya.&lt;br /&gt;Aku tahu, dua kijang itu tengah menjalin kasih. Dan sesungguhnya aku juga tahu, tak boleh melepaskan senjata terhadap makhluk yang tengah memadu asmara. Namun, ah, dalam sekian detik itu aku khilaf, barangkali oleh kepenatan dan pertanyaan yang bergulung-gulung di kepala.&lt;br /&gt;Kurentangkan busur dan kubidikkan anak panah, yang kemudian melesat membelah udara dan menembus tepat di tengah leher kijang jantan, menyemburkan darah merah di kedua lubang lukanya. Kubiarkan sang betina tunggang langgang menembus pekatnya rimba.&lt;br /&gt;Dan aku kembali diempaskan ke belantara kesadaran ketika sang kijang jantan yang tengah meregang nyawa menatapku melalui kedua matanya yang muram. “Oh, raja darah Barata, apa dosa yang telah kulakukan sehingga tanpa sebab kau tega melepaskan senjata?” katanya terbata-bata.&lt;br /&gt;Aku mencoba berkilah bahwa tak ada benar atau salah, suci atau dosa, di antara pemburu dan binatang buruan. Bukankah yang ada adalah kekuasaan? Pemburu punya wewenang untuk memburu, dan binatang punya wewenang guna menghindar terhadap bahaya. “Kenapa engkau tidak menghindar kalau tahu ada ancaman?”&lt;br /&gt;Sang kijang membakar dadaku dengan sorot matanya. “Oh, Sang Prabu yang tengah mengumbar amarah. Benar, apa pun isi rimba boleh engkau buru sesuka hati. Itu memang anugerah yang kita terima. Namun engkau pasti tahu kekecualiannya, yakni jangan kau usik mereka yang tengah berkasih-kasihan membangun perkawinan, menikmati indahnya cinta, mencoba meneruskan kelangsungan semesta. Merpati yang saling bercumbu di dahan perdu, bahkan kupu-kupu yang menjalin asmara di langit biru. Ketahuilah, saya Kimindama yang tak pernah berbuat dosa. Karena itu, apa yang saya ucapkan niscaya akan menjelma nyata: mulai hari ini, engkau tak dapat memperoleh kemuliaan cinta. Ajalmu akan datang tiap engkau berhasrat meraih indahnya asmara.”&lt;br /&gt;Aku menjerit mengungkapkan sesal yang menggumpal. Namun Sang Kimindama telanjur muksa, dan kutukan itu harus kupikul detik itu juga. Selamanya.&lt;br /&gt;Dinda, meski terlampau berat, mungkin sebenarnya aku masih akan sanggup menyandang kutukan ini. Bukankah aku bisa mengheningkan batin melalui tapa di berbagai sudut gunung yang sunyi? Di keheningan seperti itu, aku bisa memuja Sang Pemilik Semesta, seraya berharap bisa lepas dari kutuk Kimindama.&lt;br /&gt;Namun kau pasti bisa merasakan, betapa hancurnya hatiku—meski atas nama takdir sekalipun—bila mengingat ayundamu, melalui ajian adityaredaya-nya, tiga kali bercumbu dengan tiga dewa yang berbeda, Batara Darma, Batara Bayu, dan Batara Indra, yang memberinya Puntadewa, Wrekodara, dan Janaka. Oh, Dinda, bukan hanya tiga kali, melainkan empat. Bukankah sebelum menjadi permaisuriku, tatkala masih menjadi bunga di negeri Mandura, ayundamu pernah menjalin asmara dengan Batara Surya, yang membuahkan putra bernama Aradeya—yang untuk menghilangkan nista dan menjaga lambang kesuciannya terpaksa dilahirkan melalui telinga?&lt;br /&gt;Dan kemudian, aku pun harus menutup mata dan mengunci lubang telinga ketika kau sendiri, wanita yang begitu kudamba, entah demi memenuhi guratan takdir entah ada alasan lain, juga melalui mantra adityaredaya yang dibisikkan ayundamu, memadu kasih dengan sang dewa kembar, Batara Aswin, yang kemudian memberimu putra kembar Nakula dan Sadewa.&lt;br /&gt;Lengkap sudah kepedihan hati ini.&lt;br /&gt;Memang benar, kalau tidak begitu, aku tak akan pernah punya keturunan. Kehampaan hati seperti apa yang bisa mengalahkan kehampaan hati seorang ksatria yang tak punya siapa pun yang akan diwarisi segalanya? Siapa yang akan melanjutkan terah Barata demi kejayaan Hastinapura?&lt;br /&gt;Namun, aku hanyalah manusia biasa, yang belum juga memahami mengapa takdirku tak lebih dari kutukan demi kutukan belaka.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;DINDA, lihatlah lebah-lebah yang mencari madu mengerumuni bunga asoka, dengarlah kicau sepasang cucakrawa yang bersahut-sahutan di dahan-dahan pohon parijatha, dan ciumlah wangi teratai yang sedang mengembang di permukaan telaga. Semua itu sungguh membuat wajahmu kian jelita.&lt;br /&gt;Dan ah, embusan angin yang harum itu lagi-lagi menyibakkan kainmu, memperlihatkan betismu yang bercahaya, menjadikan keindahan itu makin sempurna.&lt;br /&gt;Marilah Dinda, jangan ragu, aku sudah memutuskan, aku rela melepas nyawa dan segala kemewahan dunia demi setetes indahnya cinta.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;(Cerpen ini dimuat di &lt;em&gt;Suara Merdeka&lt;/em&gt;, 26 Juni 2005)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5277617973649974022-4378282482962740821?l=hermawan-aksan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hermawan-aksan.blogspot.com/feeds/4378282482962740821/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5277617973649974022&amp;postID=4378282482962740821' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5277617973649974022/posts/default/4378282482962740821'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5277617973649974022/posts/default/4378282482962740821'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hermawan-aksan.blogspot.com/2008/01/sang-terkutuk.html' title='Sang Terkutuk'/><author><name>Hermawan Aksan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06299037799823191218</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5277617973649974022.post-8663326288389296500</id><published>2008-01-02T06:15:00.000-08:00</published><updated>2008-01-23T05:58:41.609-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen'/><title type='text'>Malam Tersayat di Indraprasta</title><content type='html'>GESEKAN rebab terus mengalun, menyayat lengkung malam yang belum lama menyungkup istana Indraprasta, mengiringi suara lembut sang wiraswara yang kadang terdengar melengking, menyilet hening, dalam sebuah irisan yang tipis dan panjang.&lt;br /&gt;Balairung istana memang terus dibekap sunyi. Lengang. Sang Prabu belum juga menjega menuju singgasana yang sudah disediakan untuknya.&lt;br /&gt;**&lt;br /&gt;OH, Ki Dalang rupanya sedang gelisah karena kehilangan Prabu Yudistira. Ia sudah menyiapkan sejak awal, sesuai dengan alur cerita yang bakal dibawakannya. Namun Yudistira seperti lenyap ditelan bumi. Apakah ia masih tergulung di kotak wayang? Tak mungkin, ia yakin sudah mengambilnya, menggeletakkannya tak jauh dari tekukan lutut kanannya. Sebagai pembuka cerita, Yudistiralah yang akan ia ambil pertama kali.&lt;br /&gt;Namun, di mana engkau, Darmakusumah?&lt;br /&gt;Ki Dalang makin terkejut ketika baru disadarinya wayang-wayang seakan berebut tempat di sebelah kanan batang pisang, sementara hanya tinggal beberapa sosok yang masih bertahan di sebelah kiri. Para raksasa, siluman, dan denawa buruk rupa berdesakan dengan para ksatria tampan dan putri-putri raja yang jelita. Para cecunguk arcapada tak malu-malu berjubal di antara para dewa dan bidadari.&lt;br /&gt;Tak ada lagi batas antara yang suci dan yang profan. Para pembela kebenaran berjejalan dengan para pengusung kejahatan.&lt;br /&gt;Mengapa bisa begitu, Ki Dalang tak tahu. Ketika menyusun wayang-wayang itu, ia yakin, sebagaimana seharusnya, para ksatria dan para dewa semua berjajar di sebelah kanan dan para raksasa berbaris di sebelah kiri batang pisang. Semua tersusun rapi, memang bukan menurut derajat kasta, melainkan menurut tinggi badan, dari yang terkecil di depan hingga yang terbesar di paling belakang. Tapi kini susunan sudah tak lagi beraturan. Raksasa bertubuh bukit seenaknya menyelip di antara para dewi yang camperenik.&lt;br /&gt;Siapa gerangan orang yang telah berani mengacak-acak susunan wayang-wayang? Ia yakin bukan orang-orangnya. Ada penyusupkah? Untuk apa? Untuk menghambat kariernya? Peristiwa seperti ini baru pertama kali dialaminya selama ia mendalang tak kurang dari dua puluh tahun.&lt;br /&gt;Suatu saat Ki Dalang yakin sudah meraih Yudistira. Tangan kanannya mantap mencekal gagang, tangan kiri siap memainkan tangkai-tangkai tangan wayang. Ki Dalang sudah siap memunculkan Sang Prabu ketika ia nyaris terjengkang karena terkejut bukan kepalang.&lt;br /&gt;Dia bukan Yudistira, melainkan Dursasana, salah satu ksatria Kurawa berwajah denawa. Bagaimana mungkin ia bisa keliru, tak bisa membedakan Yudistira yang berbadan ramping dan berwajah putih dengan Dursasana yang bertubuh anak raksasa dan berwajah merah?&lt;br /&gt;Ki Dalang menggeleng-gelengkan kepala.&lt;br /&gt;Keringat menjadi sungai di punggungnya.&lt;br /&gt;Ketika dilihatnya Astrajingga tergeletak tak jauh di bawah kecrek, mendadak timbul gagasan improvisasi dalam benak Ki Dalang. Matanya memberikan isyarat kepada penabuh gendang. Dan entakan gendang perlahan-lahan mulai meningkat, baik dalam frekuensi maupun amplitudo, membuat udara malam menjadi hangat.&lt;br /&gt;Namun sesaat sebelum menarikan Astrajingga dalam entakan gendang yang dinamis, Ki Dalang terkesima tak terkira. Yang terpegang di tangannya bukanlah Astrajingga, melainkan Dewi Drupadi. Oh, bayangkan kalau sampai calon permaisuri Indraprasta itu berjaipong di atas pentas…&lt;br /&gt;Yang lebih aneh lagi, walaupun akhirnya Ki Dalang sudah bisa menemukan semua wayang yang dibutuhkan, ia tak mampu lagi mengendalikan jalannya cerita. Alur mengalir, berbelok, berputar, dan berlari di luar kehendaknya. Ia sudah jauh-jauh hari mempersiapkan episode cerita tentang pengukuhan Yudistira sebagai raja Indraprasta, sesuai dengan permintaan si empunya hajat, yakni bupati yang baru diangkat.&lt;br /&gt;Namun cerita mulai berkembang tak tentu arah ketika tiba-tiba Bima menolak pengangkatan kakak sulungnya.&lt;br /&gt;**&lt;br /&gt;JAGAT bergetar ketika Bima mengucapkan kata-kata yang tak pernah terucapkan sebelumnya.&lt;br /&gt;“Kakang Yudistira tak pantas untuk duduk di singgasana. Dosa Kakang masih belum terampunkan. Masa pengembaraan selama tiga belas tahun tak melekangkan kenangan buruk itu, ketika Kakang tega mempertaruhkan hak atas Hastina di atas meja permainan judi. Dan yang paling menyakitkan, tentu saja, adalah bahwa Kakang tega mempertaruhkan istri Kakang sendiri, Ayunda Drupadi, demi sesuatu yang entah apa maknanya.&lt;br /&gt;Aku khawatir cacat perilaku Kakang masih akan membayang-bayangi takhta yang akan Kakang duduki. Maaf, Kakang, aku terpaksa mengajukan diri untuk bersaing dengan Kakang. Biarlah bukan lagi takdir yang menentukan siapa untuk menjadi apa. Zaman terus berjalan dan biarkan rakyat menjadi bagian penting dari kitab-kitab utama, bukan hanya kita para ksatria. Biarkan rakyat yang menilai dan menentukan siapa sesungguhnya yang berhak menjadi raja.&lt;br /&gt;Bukan hendak membanggakan diri kalau aku membuka lembar-lembar catatan kita bahwa akulah yang pertama-tama membuka hutan Wanamerta ini, membanting tulang menumbangkan pohon-pohon raksasa berusia ratusan tahun, berhadapan dengan penghuni lama, para denawa dan siluman yang murka karena kediaman mereka kita usik. Hitunglah berapa kerajaan denawa yang kutaklukkan seorang diri sehingga mereka berbalik membantu kita membangun sebuah kerajaan baru.&lt;br /&gt;Kakang, marilah kita bersaing secara jujur memperebutkan makhkota.”&lt;br /&gt;Balairung istana senyap. Udara membeku.&lt;br /&gt;Semua mata terpusat kepada sosok Bima yang hitam menjulang.&lt;br /&gt;Yudistira menatap Bima dengan tatap lembut namun yang terasa mengandung duka yang dalam.&lt;br /&gt;Ia hendak membuka mulut ketika tiba-tiba Arjuna berdiri dari tempat duduknya.&lt;br /&gt;“Mohon maaf. Benar kata Kakang Bima. Kakang Yudistira tak pantas menjadi raja. Kakang tak bisa begitu saja menduduki singgasana hanya karena garis takdir, dilahirkan sebagai manusia berdarah putih. Selain dosa lama yang belum sirna, aku belum pernah melihat sepak terjang Kakang di medan danalaga. Mungkin benar Kakang punya kebijaksanaan. Namun itu hanyalah baru di atas kertas, baru dalam tataran imajinatif, belum terbukti dalam kenyataan di atas lapangan. Bagaimanapun, pengalaman di medan akan menjadi nilai tambah bagi seorang pemimpin.&lt;br /&gt;Kakang Bima sudah membuktikannya sebagai pembuka Wanamerta dan bukankah sudah terbukti bahwa akulah pemanah yang tak tertandingi? Dengan kemampuanku, bukankah kita selalu unggul tiap ada tantangan untuk berperang tanding dari ksatria mana pun? Bahkan Suralaya pernah meminta bantuanku ketika Batara Surya, Darma, dan Indra pun tak kuasa menahan terjangan Prabu Niwatakawaca.&lt;br /&gt;Nah, bukankah aku juga berhak untuk merasakan empuknya singgasana? Bukan hanya berhak, tapi aku yakin aku pantas duduk di sana.&lt;br /&gt;Marilah Kakang Yudistira dan Kakang Bima, kita berebut secara ksatria untuk menentukan siapa yang paling layak berkuasa di Indraprasta.”&lt;br /&gt;Balairung kembali senyap. Udara lagi-lagi seperti terperangkap.&lt;br /&gt;Kali ini semua tatap memusat pada sang panengah Pandawa.&lt;br /&gt;“Tunggu Kakang semua.”&lt;br /&gt;Dua sosok yang serupa, dengan wajah dan busana nyaris tak berbeda, berdiri hampir bersamaan.&lt;br /&gt;“Kalau Kakang semua sudah memutuskan demikian, bukankah kami juga memiliki hak yang sama?” kata Nakula.&lt;br /&gt;“Mungkin kami tak pernah punya peran yang nyata dalam perjalanan kita selama ini. Namun justru karena itulah kami menjadi sadar bahwa nasib memang ditentukan oleh diri sendiri,” timpal Sadewa.&lt;br /&gt;“Kami tak akan menjadi apa-apa kalau kami hanya berdiam diri, sekadar mengikuti langkah yang telah ditentukan Kakang semua. Karena itu kami juga ingin mengguratkan kisah kami sendiri.”&lt;br /&gt;“Kami siap bersaing dengan Kakang semua.”&lt;br /&gt;Malam yang senyap makin mencekam.&lt;br /&gt;Lalu kisah menjadi makin runyam ketika tak lama kemudian tokoh-tokoh golongan kiri—maksudnya mereka yang biasanya berbaris di sebelah kiri batang pisang—berbondong-bondong mendaftarkan diri untuk menjadi raja di Indraprasta. Dari Jayadrata, Citrayuda, Dadungawuk, Padasgempal, hingga Sarpakenaka beramai-ramai mendatangi istana. Bahkan para brahmana, yang semestinya memiliki darma sendiri untuk antara lain menjadi pemomong dan penyeimbang para penguasa, turun dari pertapaan mereka yang terpencil mendatangi pusat kerajaan, mengadu nasib untuk menjadi penguasa.&lt;br /&gt;**&lt;br /&gt;“STOP! Stop!”&lt;br /&gt;Bupati baru mencelat dari tempat duduknya di barisan terdepan para tamu. Mukanya seperti udang matang, malu, karena ia berdampingan dengan tokoh-tokoh terhormat tingkat provinsi.&lt;br /&gt;“Ki Dalang, kenapa cerita menjadi tak keruan begitu?” semburnya sambil berkacak pinggang di atas panggung.&lt;br /&gt;“Saya sendiri tak tahu,” sahut Ki Dalang dengan keringat membanjir di wajahnya.&lt;br /&gt;“Bagaimana mungkin? Bukankah kamu yang mengatur cerita?”&lt;br /&gt;“Lihat sendiri apa yang terjadi.”&lt;br /&gt;Di atas pentas batang pisang, rupanya wayang-wayang berjalan, menari, dan berbicara sendiri!&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;(Cerpen ini dimuat di &lt;em&gt;Suara Merdeka&lt;/em&gt;, 31 Oktober 2004)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5277617973649974022-8663326288389296500?l=hermawan-aksan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hermawan-aksan.blogspot.com/feeds/8663326288389296500/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5277617973649974022&amp;postID=8663326288389296500' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5277617973649974022/posts/default/8663326288389296500'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5277617973649974022/posts/default/8663326288389296500'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hermawan-aksan.blogspot.com/2008/01/malam-tersayat-di-indraprasta.html' title='Malam Tersayat di Indraprasta'/><author><name>Hermawan Aksan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06299037799823191218</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5277617973649974022.post-6961640226489427137</id><published>2008-01-02T06:14:00.000-08:00</published><updated>2008-01-02T06:15:15.876-08:00</updated><title type='text'>Madirda</title><content type='html'>SUNGGUH malang menjadi perempuan, pun di zaman ketika manusia kadang lebih perkasa dibanding dewa. Lihatlah Retna Anjani, yang terpaksa memencilkan diri di tepi telaga Madirda yang sunyi, menjalani tapa tanpa busana, hanya karena sebuah kutuk yang tak dia pahami. Tapa yang membuat para dewa pun tak tahan memandangnya.&lt;br /&gt;Bayangkan tubuh langsat tanpa cacat, duduk bersila, dengan rambut hitam yang terurai menabiri payudara dan bagian tubuhnya yang paling rahasia. Siapa yang tak tergila-gila oleh pendar yang memancar memantulkan cahaya angkasa?&lt;br /&gt;Dia tak pernah meminta cupu itu. Cupumanik Astagina. Dia menerimanya dari sang ibu, Retna Windradi, sebagai sebuah hadiah bahwa dia telah menjelang usia dewasa. Dia juga tak tahu, dan tak ingin tahu, dari mana sang ibu memperolehnya. Dia hanya merasa senang bukan karena mendapat cupu, melainkan karena dia sudah dianggap dewasa, sudah merasa menjadi wanita sempurna. Pandanglah, dia memang wanita yang sangat jelita.&lt;br /&gt;“Jangan kauperlihatkan kepada siapa pun, apalagi kauberikan,” pinta sang ibu. “Kalau pesan ini sampai terlanggar, suatu kejadian yang tak diharapkan akan terjadi.”&lt;br /&gt;Wanti-wanti seperti itulah yang dia terima ketika Batara Surya memberikannya sebagai tanda cinta.&lt;br /&gt;Sayangnya, mungkin karena cahayanya yang memancar ke sekitar, pusaka kadewatan itu menarik juga perhatian kedua adiknya—adik kembarnya, Guwarsi dan Guwarsa. Bukankah lelaki selalu merasa lebih berhak terhadap warisan para leluhur? Keduanya merebut cupu itu, dan ketiga kakak beradik itu saling berebut, tanpa mereka sadari kemudian bahwa cupu itu tiba-tiba berada di genggaman sang ayah, Resi Gotama.&lt;br /&gt;“Siapa yang memberikan cupu ini kepadamu?”&lt;br /&gt;Anjani tak berkata-kata.&lt;br /&gt;“Kan kusumpah siapa pun yang berkata bohong.”&lt;br /&gt;Anjani pun mengaku dengan kata-kata yang lebih mirip bisikan.&lt;br /&gt;Resi Gotama menatap tajam Retna Windradi. O, ia tahu siapa yang memberikan benda dewata itu. Ia pun tahu apa yang terjadi dengan Windradi saat-saat ia tengah bermesu diri. Sang Resi tahu karena ia bukan manusia biasa, melainkan keturunan Batara Ismaya, yang bisa tahu segala hal. Namun Resi Gotama ingin mendapat pengakuan secara jujur.&lt;br /&gt;“Dari mana kau mendapatkannya?”&lt;br /&gt;Retna Windradi terdiam. Juga ketika Resi Gotama bertanya untuk kedua kalinya.&lt;br /&gt;“Bukankah ini tanda cinta Batara Surya?”&lt;br /&gt;Retna Windradi mengangkat wajahnya sejenak, tapi bibirnya tetap terkatup rapat. Inilah puncak kesedihan seorang Resi Gotama, lelaki tua yang tak pantas bersanding dengan seorang bidadari swargaloka, meski itu hadiah yang layak ia terima sebagai balas jasa dari para dewa.&lt;br /&gt;“Tiga kali aku bertanya dan kau tetap diam saja. Kau sungguh seperti tugu.”&lt;br /&gt;Halilintar menggelegar dan cahaya menyilaukan nyaris membutakan.&lt;br /&gt;Di hadapan mereka, Retna Windradi berubah menjadi batu.&lt;br /&gt;Ah, mengapa perempuan selalu tak kuasa untuk melawan? Bukankah bukan salahnya kalau Dewi Windradi dilimpahi cinta Sang Surya? Dia terlahir sebagai perempuan jelita dan Resi Gotama terlalu renta untuk bisa memberinya cinta. Bagaimana pula dia, seorang perempuan yang mendamba, menolak cinta seorang batara?&lt;br /&gt;Namun Resi Gotama adalah lelaki dan lelaki pantang dikhianati. Maka dengan menyalurkan tenaganya ke satu tangan kanan, ia lemparkan cupu itu ke angkasa, meninggalkan kesiur suara yang menyayat telinga.&lt;br /&gt;Guwarsi dan Guwarsa berebut cepat memburu arah lemparan.&lt;br /&gt;Anjani terseok-seok di belakang. Dia tak mau kehilangan cupu itu. Cupu miliknya. Cupu yang diberikan sang ibu karena saatnya sudah tiba. “Cupu ini mengandung rahasia kehidupan alam nyata dan alam kasuwargan. Dengan membuka Cupumanik Astagina, melalui mangkoknya kita akan dapat melihat dengan nyata dan jelas gambaran swargaloka yang serba polos, suci, dan penuh kenikmatan. Sedangkan dari tutupnya akan dapat kaulihat dengan jelas seluruh kehidupan semua makhluk yang ada di jagat raya. Sedangkan khasiat kesaktian yang dimiliki Cupumanik Astagina ialah dapat memenuhi semua apa yang kauminta dan menjadi keinginan pemiliknya,” kata sang ibu waktu itu.&lt;br /&gt;Namun kini, di depan mereka membentang sebuah telaga, dan mereka menyangka cupu itu jatuh ke dalamnya. Mereka tidak tahu bahwa justru cupu itulah yang telah berubah menjadi telaga.&lt;br /&gt;Guwarsi dan Guwarsa terjun ke dalam telaga, sedangkan Anjani hanya membasuh muka. Ketika muncul kemudian, Guwarsi dan Guwarsa berubah menjadi sepasang kera, sedangkan Anjani hanya berwajah dan bertangan kera.&lt;br /&gt;Ketiganya hanya bisa menangis dengan sesal yang menggumpal.&lt;br /&gt;Tanpa kata, Guwarsi dan Guwarsa menyuruk ke dalam hutan, sama-sama hendak menjalani tapa, menebus rasa sesal dan dosa.&lt;br /&gt;Di tepi telaga, Anjani melepaskan semua busananya, menguraikan rambutnya, dan duduk bersila seraya mengheningkan cipta.&lt;br /&gt;Bagaimana mungkin dia menghadapi dunia dengan wajah mengerikan seperti itu? Dia memilih mati di tepi telaga apabila tak memperoleh kemurahan dewata sehingga wajahnya pulih kembali seperti sedia kala. Maka, hari demi hari lewat, bulan demi bulan pun berlalu, Anjani bertekad meneruskan tapanya hingga penghuni surga mendengar semua doanya. Dia hanya menelan makanan yang jatuh di hadapannya dan dia minum embun yang membasahi bibirnya.&lt;br /&gt;Namun lihatlah, seluruh permukaan tubuh telanjang Anjani tetap memancarkan sinar keindahan yang tiada tara. Apalagi kalau kita memandangnya dari ketinggian dan sudut tertentu di angkasa. Dada siapa tak berdebur menikmati pemandangan yang demikian menggairahkan?&lt;br /&gt;Bahkan Hyang Girinata, dewanya para dewa, pun tak kuasa menahan gejolak dadanya. Padahal, dia datang hanya untuk meluluskan permohonan Anjani, yang doanya sudah memenuhi udara surga. Dia pun datang diiringi Batara Narada dan para dewa lainnya. Namun justru karena itulah, karena kedatangan para dewalah, udara yang menyelubungi tapa Anjani menjadi benderang.&lt;br /&gt;Dan semua dewa terkesima.&lt;br /&gt;Tubuh sempurna Anjani memantulkan cahaya para dewa.&lt;br /&gt;Pahanya yang kuning langsat sungguh sangat memesona siapa pun yang menatapnya. Alangkah indahnya pemandangan itu. Dan tanpa disadari Anjani, alangkah dahsyat akibatnya.&lt;br /&gt;Para dewa belingsatan tak tahu hendak berbuat apa, menimbulkan angin yang membadai di angkasa.&lt;br /&gt;Hyang Girinata pun tak kuat menahan badai berahinya. Dia hanya bisa terpana dan air kelelakiannya memancar seperti permata, jatuh membasahi selembar daun sinom yang tengah melayang jatuh.&lt;br /&gt;Angin masih bertiup kencang dan daun sinom meliuk-liuk sebelum jatuh di paha Anjani.&lt;br /&gt;Anjani mengunyah daun sinom dan menelannya.&lt;br /&gt;Bulan demi bulan, perut Anjani membesar tanpa dia ketahui sebabnya. Dia baru menyadarinya ketika dirasakannya sebentuk makhluk yang menendang-nendang dinding rahimnya.&lt;br /&gt;“Ah, apakah aku mengandung sesosok bayi? Kalau benar, siapakah yang melakukannya? Lelaki mana yang tega mengancurkan hidup perempuan tak berdaya? Oh, apakah ia, siapa pun lelaki itu, melakukannya dalam ketidaktahuanku? Duhai, alangkah terkutuknya aku…”&lt;br /&gt;Lihatlah, mengapa hanya perempuan yang harus menanggung beban? Bukankah peristiwa seperti itu tak akan terjadi tanpa peran serta lelaki? Lalu, di mana tanggung jawabmu, para lelaki?&lt;br /&gt;“Siapa pun engkau, datanglah wahai lelaki, tunjukkan wajahmu. Mungkin aku akan bisa mencintaimu meski aku ragu engkau akan mencintaiku dengan wajah yang seperti ini. Atau mungkin aku hanya sekadar menatap wajahmu sebelum engkau kembali meninggalkanku. Bagaimana mungkin aku kembali ke riuhnya dunia dalam keadaan berbadan dua, tanpa kuketahui siapa ayahnya?”&lt;br /&gt;Air mata Anjani meleleh menuruni pipinya yang berbulu, dan jatuh di betisnya. Hangat air mata tak menghangatkan hatinya.&lt;br /&gt;Tubuh berwajah kera mungkin tak lagi menjadi derita. Tapi mengandung sesosok makhluk tanpa tahu siapa yang melakukannya? Nista ini jauh lebih merobek hati dibanding sekadar wajah dan tangan yang berbulu.&lt;br /&gt;Apa lagi yang tersisa dari arti hidupnya? Dia adalah wanita yang terlupa, tersia-sia, dan bahkan ternista. Apa lagi yang bisa dia pertahankan untuk terus menjalani kehidupan?&lt;br /&gt;“Duhai Dewata, cabutlah nyawa hambamu ini…”&lt;br /&gt;Tak ada jawaban.&lt;br /&gt;Waktu seperti berhenti.&lt;br /&gt;Dan angin pun mati.&lt;br /&gt;Namun tiba-tiba angin bertiup kencang. Pepohonan meliuk-liuk bagaikan tarian gila. Hujan seakan tumpah dari langit yang membelah. Halilintar menggelegar-gelegar. Kilat menyambar-nyambar. Pepohonan bertumbangan dan gunung-gunung menyemburkan api seperti naga raksasa.&lt;br /&gt;Anjani pasrah menyambut nasibnya.&lt;br /&gt;Juga ketika makhluk dalam perutnya menggeliat-geliat dahsyat, seperti mencabik-cabik segenap saraf tubuhnya. Demikiankah pertanda kelahiran sang bayi?&lt;br /&gt;Anjani menjerit-jerit tanpa suara, menahankan sakit yang tak terkira.&lt;br /&gt;Dia juga tak tahu ketika dari surga turun para bidadari untuk membantu kelahiran sang bayi. Anjani menjerit, tubuhnya bergetar, sakitnya tak tertahankan, seperti disayat seribu sembilu, dicabik selaksa badik.&lt;br /&gt;Dan kemudian angin berhenti. Pepohonan diam. Hujan badai reda. Gunung-gunung membisu.&lt;br /&gt;Hanya kesunyian.&lt;br /&gt;Bahkan tak ada tangis bayi.&lt;br /&gt;Anjani menoleh pelahan dengan sisa tenaga. Di sampingnya tergolek sesosok makhluk mungil, putih seperti seonggok kapas. Menggerak-gerakkan kedua tangannya, kedua kakinya, dan ekornya. Oh, dia beranak seekor kera putih.&lt;br /&gt;Anjani memekik membelah langit.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;(Cerpen ini dimuat di &lt;em&gt;Jawa Pos&lt;/em&gt;, 10 Desember 2006)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5277617973649974022-6961640226489427137?l=hermawan-aksan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hermawan-aksan.blogspot.com/feeds/6961640226489427137/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5277617973649974022&amp;postID=6961640226489427137' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5277617973649974022/posts/default/6961640226489427137'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5277617973649974022/posts/default/6961640226489427137'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hermawan-aksan.blogspot.com/2008/01/madirda.html' title='Madirda'/><author><name>Hermawan Aksan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06299037799823191218</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5277617973649974022.post-234373673027673157</id><published>2008-01-02T05:56:00.000-08:00</published><updated>2008-01-02T06:05:38.745-08:00</updated><title type='text'>Manusia Suci</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_OGfaUEk5vIA/R3uYLSs4psI/AAAAAAAAAAM/DBX4PUvTVXQ/s1600-h/HERMAWAN+AKSAN+02.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5150877918594377410" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 133px; CURSOR: hand; HEIGHT: 190px" height="320" alt="" src="http://bp2.blogger.com/_OGfaUEk5vIA/R3uYLSs4psI/AAAAAAAAAAM/DBX4PUvTVXQ/s320/HERMAWAN+AKSAN+02.jpg" width="255" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;(Cerpen ini dimuat di &lt;em&gt;Koran Sindo&lt;/em&gt;, 25 November 2007)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KALAU saja sejak awal kami sadar siapa sebenarnya Dasmin. Ah, begitulah sifat manusia: menyesal selalu kemudian.&lt;br /&gt;Dasmin tentu bukan manusia sembarangan. Tak salah lagi, ia pasti orang suci, mungkin wali, atau semacam itu, yang sengaja diturunkan Allah ke dunia, khususnya ke kampung kami. Kalau bukan orang suci, buat apa ia bisa ada di kampung ini dengan tidak sia-sia?&lt;br /&gt;Memang, tentang Dasmin, hampir semua orang kampung kami tahu belaka: ia laki-laki muda yang punya kebiasaan berjalan bolak-balik dari ujung jalan timur ke ujung jalan barat kampung. Dalam sehari, entah berapa kali ia bolak-balik, mirip seterikaan. Hampir sepanjang jalan, tangan kirinya mencekal pinggang dan tangan kanannya terayun-ayun bebas ke depan ke belakang, sambil sesekali mulutnya menirukan bunyi gendang.&lt;br /&gt;“Jing-tang-tong! Jing-tang-tong!”&lt;br /&gt;Kabarnya, Dasmin diusir dari kampung asalnya, sekitar lima kilometer arah selatan kampung kami. Tahulah, umumnya kita merasa diri paling bersih. Apa saja yang akan mengotori diri kita harus segera dibuang. Orang seperti Dasmin boleh jadi dianggap akan mengotori kampungnya sehingga harus segera diusir. Hanya saja, tidak jelas kabarnya apakah ia masih memiliki kerabat di kampung asalnya.&lt;br /&gt;Tapi anehnya, orang-orang kampung kami rata-rata menyukainya, sekalipun terkesan hanya sebagai hiburan. Di tengah terik siang yang memanggang musim kemarau, lumayan bisa tertawa melihat kelakuan Dasmin.&lt;br /&gt;Anak-anak kecil memang senang melemparinya dengan kerikil sambil menirukan suara gendangnya. Maklumlah, di mana pun, anak-anak tak pernah merasa bersalah, sekalipun menimpuki manusia lain seperti melempari ayam. “Hus, hus, sana!” teriak anak-anak. Dilempari seperti itu, Dasmin hanya tertawa-tawa. Paling-paling ia melakukan gerakan seperti hendak memungut batu, seakan-akan berniat balas melempar. Sontak anak-anak kalang kabut, berlarian tak tentu arah. Tapi Dasmin tak pernah benar-benar balas melempari anak-anak.&lt;br /&gt;Ia hanya memandang anak-anak itu, tersenyum-senyum, lalu kembali mencekalkan tangan kirinya di pinggang, meluruskan tangan kanannya dengan telapak tegak lurus diayunkan ke depan ke belakang dan mulut berbunyi menirukan suara gendang, “Jing-tang-tong! Jing-tang-tong!”&lt;br /&gt;“Gatotkaca gelo!” teriak anak-anak.&lt;br /&gt;Mendengar teriakan anak-anak, Dasmin hanya menggeram. Geraman yang mirip suara Gatotkaca wayang golek ala dalang R. Tjetjep Supriadi.&lt;br /&gt;“Mmmmm… jek nong!” geramnya, diakhiri dengan tiruan suara kecrek dan kenong.&lt;br /&gt;Entah kapan dan bagaimana mulanya, saya menyukai Dasmin. Mungkin karena ia tak pernah benar-benar menimpuki anak-anak. Barangkali karena ia lebih banyak tertawa walaupun orang-orang melecehkannya. Atau mungkin ini: Dasmin sebenarnya lelaki yang cukup tampan dan tak pernah lupa membersihkan tubuhnya di kamar mandi mesjid. Kalau tertawa tampak giginya bersih dan putih. Pakaiannya pun selalu kelihatan bersih. Entah siapa yang suka memberikan baju untuknya.&lt;br /&gt;Atau lantaran keadaan ekonomi? Maksudnya begini. Keadaan rasanya kian mencekik. Harga beras, minyak goreng, minyak tanah, listrik, pokoknya segala macam, terus melambung. Tak terjangkau oleh gaji yang tak pernah ikut naik.&lt;br /&gt;Saya hanya karyawan rendahan di kantor kecamatan. Punya anak dua, yang pertama mau masuk SMP, yang kedua mau masuk SD. Sudah sama-sama tahu kan, anggaran yang harus disediakan untuk masuk sekolah apa saja, di negeri ini, selalu mencapai angka ratusan ribu, malah jutaan. Lebih mencekik dibanding anggaran lebaran misalnya. Baju seragam, kaus olahraga, buku-buku, tas, sepatu, pelbagai macam, belum lagi ditambah uang gedung segala. Semua itu wajib. Sudah begitu, istri saya malah selalu mengomel mengenai segala harga yang melambung. Harus bagaimana lagi? Kita kan tak bisa apa-apa. “Ya, cari-cari lah penghasilan tambahan dari mana saja. Lihat orang lain bisa,” begitu katanya.&lt;br /&gt;Nah, dalam kehidupan seperti itu, entah mengapa, terasa Dasmin menjadi salah satu hiburan bagi saya. Senang melihat wajahnya yang selalu tersenyum meskipun kadang dipermainkan anak-anak secara berlebihan. Tangan kiri tetap di pinggang, tangan kanan lurus diayun-ayunkan, seraya mulutnya menirukan suara gendang, “Jing-tang-tong! Jing-tang-tong!” Begitu terus sepanjang jalan, bolak-balik dari ujung barat sampai ujung timur kampung. Seakan tak kenal lelah.&lt;br /&gt;Kalau melihat saya, biasanya dari jauh pun ia sudah melambai-lambai, mengacungkan telunjuk dan jari tengahnya yang lalu didekatkan ke bibirnya yang mengerucut.&lt;br /&gt;Saya akan balas melambai, lalu merogoh saku baju saya, mengambil sebatang, menyodorkannya ke atas telapaknya yang sudah membuka, dan bila perlu menyulutnya sekalian. Ia akan mengisapnya dalam-dalam sambil terpejam-pejam. Mulutnya akan terkatup seolah-olah tak hendak membiarkan asap rokoknya mengembus lagi keluar. Baru kemudian ia melepaskan asap melalui kedua lubang hidungnya dan kedua tepi mulutnya bergantian.&lt;br /&gt;Setelah itu, kami akan berbincang tak tentu arah. Pernah sekali waktu saya menanyakan apakah ia punya nomor bagus atau tidak.&lt;br /&gt;“Kalau punya nomor bagus, mending dipasang sendiri saja,” begitu jawabnya, sambil terkekeh-kekeh.&lt;br /&gt;Kadang-kadang, saya bertanya soal sepakbola. “Gimana nih, Chelsea lawan Liverpool nanti malam?”&lt;br /&gt;“Nah, ini kesukaanku. Pasti seru. Satu-satu kayaknya. Sayang sekali Persib tidak bisa seperti itu mainnya. Coba kalau punya pemain seperti Gatotkaca, tentu bisa juara tuh Maung Bandung. Sama ajian Brajamusti, tentu tendangannya bisa menjebol gawang musuh.”&lt;br /&gt;Saya terbahak-bahak.&lt;br /&gt;Kalau kami berdua sedang bercakap-cakap, tak ada anak-anak yang berani mengganggu.&lt;br /&gt;Senang rasanya menyimak cerita-cerita Dasmin yang kadangkala tak masuk akal. Imajinasinya melambung tinggi ke mana-mana. Kabarnya, manusia seperti Dasmin kerap mendengar suara tanpa rupa yang entah dari mana asalnya. Topik ceritanya ke sana-kemari seenaknya. Tengah bicara soal sepakbola, tiba-tiba berbelok ke soal langit biru. “Pingin terbang nih,” katanya. Sesudah itu, mendadak ia bicara soal makanan.&lt;br /&gt;“Lapar ya?” tanya saya.&lt;br /&gt;Ia hanya menyeringai.&lt;br /&gt;Saya merogoh saku celana, lalu menyodorkan selembar ribuan. “Sana ke warung, beli kue atau apa lah.”&lt;br /&gt;Suatu kali, Dasmin bercerita ingin terjun dari jembatan.&lt;br /&gt;“Jangan,” cegah saya, khawatir.&lt;br /&gt;“Gak apa-apa. Kan tidak terlalu tinggi.”&lt;br /&gt;Di sebelah timur kampung kami memang ada jembatan yang di bawahnya mengalir kali kecil selebar kira-kira sepuluh meter. Tingginya, dari jembatan ke permukaan sungai, mungkin ada lima meter. Tentu saja saya khawatir, sungai waktu itu sedang surut airnya dan batu-batu sebesar kerbau seperti bermunculan dari tanah.&lt;br /&gt;Dan Dasmin, astaga, tak bisa dicegah. Saya sendiri tak tahu kejadiannya, tetapi mendengar dari cerita orang-orang.&lt;br /&gt;“Dasmin ingin bunuh diri!” Begitu orang-orang berkesimpulan.&lt;br /&gt;Menurut cerita mereka yang melihat, mula-mula Dasmin berdiri di pagar jembatan. Kedua tangannya terentang seperti posisi Nabi Isa ketika disalib di tiang kayu. Wajahnya tengadah dengan mata terpejam, seakan-akan tengah memanjatkan doa. Setelah itu, tubuh bagian atasnya mulai condong ke depan. Tak ayal, tubuh itu pun meluncur jatuh ke sungai. Orang-orang yang melihatnya menjerit. Sebagian memalingkan wajah atau memejamkan mata. Terbayang kalau tubuh Dasmin jatuh menimpa bebatuan sungai. Hanya beberapa kejap, kemudian terdengar suara gedebuk benda jatuh.&lt;br /&gt;Ajaib, Dasmin jatuh tepat di pasir. Padahal di sekelilingnya bertonjolan batu-batu siap memangsanya. Dasmin ditemukan tak kurang suatu apa pun. Bahkan lecet pun tidak. Hanya wajah dan bajunya yang belepotan pasir.&lt;br /&gt;Ketika kemudian kami bertemu di bawah pohon mahoni, di tepi jalan di depan rumah saya, saya menanyakan apa tujuannya menjatuhkan diri dari jembatan.&lt;br /&gt;“Aku ingin merasakan melayang jatuh seperti daun,” jawabnya.&lt;br /&gt;Saya membelalak. “Tapi ternyata tidak, kan?”&lt;br /&gt;Dasmin terkekeh-kekeh.&lt;br /&gt;“Jek-nong!”&lt;br /&gt;Suatu hari, saya menangkap sikap Dasmin yang agak berbeda. Gayanya memang masih tetap seperti Gatotkaca ala Tjetjep Supriadi. Tangan kirinya di pinggang, tangan kanannya lurus di samping badan dengan telapak tangan tegak lurus, yang akan bergerak-gerak ke depan setiap mulutnya bicara. Tapi wajahnya tampak serius. Keningnya berkerut dan alis matanya hampir bersatu.&lt;br /&gt;“Mmmmm...” Suaranya masih keluar dari tenggorokan yang bergetar, meniru geraman Gatotkaca ala dalang Sunda.&lt;br /&gt;“Jek nong!” kata saya, menirukan bunyi kecrek dan kenong.&lt;br /&gt;Tapi saat itu Dasmin tidak tertawa.&lt;br /&gt;“Berdasarkan ajian Sapta Pangrungu yang kumiliki, negeri kita akan kiamat tak lama lagi. Karena itulah aku perintahkan kepada segenap rakyat Pringgandani agar bersiap-siap menyongsong datangnya bencana ini. Terutama segeralah melakukan bersih diri dan berserah diri kepada Hyang Murbeng Dumadi.”&lt;br /&gt;Saya terkesima mendengar kata-katanya. Bukan oleh isinya, melainkan oleh susunan kalimatnya yang teratur dan mengandung persamaan bunyi di tiap akhir kalimat.&lt;br /&gt;“Kamu berbakat jadi pengarang rupanya,” gurau saya.&lt;br /&gt;Dasmin tegak. Kedua tangannya kini di pinggang. Dan bola-bola matanya membesar.&lt;br /&gt;“Hei, dengar, itu wahyuning Sang Hyang Wenang Gusti Allah!”&lt;br /&gt;Saya ternganga.&lt;br /&gt;Dan rupanya ia bercerita pula kepada orang-orang. Buktinya, tak berapa lama kemudian orang-orang membicarakan kata-kata Dasmin. Ada yang menanggapi dengan agak serius. Tapi lebih banyak yang hanya tertawa-tawa.&lt;br /&gt;“Kentir gitu dipercaya!”&lt;br /&gt;Dan ternyata, omongan Dasmin itu dengan cepat dilupakan orang. Tampaknya urusan perut masing-masing lebih membutuhkan perhatian daripada hanya sekadar mengurusi kata-kata yang tak jelas juntrungnya. Apalagi panas kemarau terasa makin membakar.&lt;br /&gt;Lalu suatu hari, kami bertemu lagi di tepi jalan depan rumah saya. Seperti biasa, kami ngobrol tak tentu tema.&lt;br /&gt;Tapi tak lama, terdengar suara azan asar dari mesjid di dekat tikungan. Dasmin langsung terdiam.&lt;br /&gt;“Cepat ke mesjid, sudah waktunya,” katanya setelah surut kumandang azan.&lt;br /&gt;“Sebentar lagi lah,” sahut saya.&lt;br /&gt;“Tunggu apa lagi?”&lt;br /&gt;“Kan baru azan. Lagi pula, bisa sendiri di rumah. Tanggung, belum mandi.”&lt;br /&gt;“Astagfirullah. Bukankah kita tak tahu apa yang akan terjadi, apa yang akan menimpa kita? Jing-tang-tong! Jangan tunda apa yang dapat kita lakukan sekarang juga!”&lt;br /&gt;Lagi-lagi saya terkesima mendengar kata-katanya.&lt;br /&gt;“Lihatlah, mesjid besar begitu, yang datang hanya beberapa gelintir, tak cukup bahkan untuk memenuhi satu saf.”&lt;br /&gt;“Kan belum pada pulang, Min. Orang-orang masih banyak yang di kantor, di sawah, di tempat kerja, dan anak-anak belum sampai rumah.”&lt;br /&gt;“Ha-ha-ha!”&lt;br /&gt;Bencana memang tak pernah bisa diduga. Setidaknya, manusia selalu berpikiran begitu. Tak pernah ada yang menyangka bahwa di bulan kering ini bisa turun hujan deras bercampur angin. Badai. Tengah malam waktu itu. Semua penduduk tentu sedang tidur nyenyak. Begitu dahsyatnya hujan badai itu sehingga pohon-pohon bertumbangan, menimpa empat rumah hingga ambruk dengan tanah. Kali di sebelah timur kampung pun meluapkan airnya hingga menyapu puluhan rumah di kampung kami.&lt;br /&gt;Tercatat lima korban meninggal dan puluhan rumah rusak berat.&lt;br /&gt;Ketika esoknya hujan reda, dan semua korban diidentifikasi, diketahui bahwa salah satu korban itu adalah Dasmin. Ia ditemukan jatuh terimpit pohon mahoni di depan rumah saya. Melihat posisi mayatnya ketika ditemukan, saya berkesimpulan bahwa ia berusaha menahan pohon mahoni itu supaya tidak menimpa rumah saya. Subhanallah.&lt;br /&gt;Satu hal yang takkan saya lupakan, ketika ditemukan, wajah Dasmin tampak bersih dan mulutnya tersenyum.&lt;br /&gt;Kami memandikannya, menyalatkannya, dan menguburkannya sama dengan korban meninggal lainnya.&lt;br /&gt;Entah mengapa, setelah Dasmin tiada, saya merasakan sebuah kekosongan yang tak terkira. Saya lebih suka mengurung diri di kamar. Kadang saya dengar suara-suara tanpa rupa, entah dari mana.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Bandung, 3 November 2007&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5277617973649974022-234373673027673157?l=hermawan-aksan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hermawan-aksan.blogspot.com/feeds/234373673027673157/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5277617973649974022&amp;postID=234373673027673157' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5277617973649974022/posts/default/234373673027673157'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5277617973649974022/posts/default/234373673027673157'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hermawan-aksan.blogspot.com/2008/01/manusia-suci.html' title='Manusia Suci'/><author><name>Hermawan Aksan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06299037799823191218</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_OGfaUEk5vIA/R3uYLSs4psI/AAAAAAAAAAM/DBX4PUvTVXQ/s72-c/HERMAWAN+AKSAN+02.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5277617973649974022.post-201163421378454073</id><published>2008-01-02T05:47:00.000-08:00</published><updated>2008-01-02T05:51:06.129-08:00</updated><title type='text'>Selamat Tahun Baru, Hmm...</title><content type='html'>INI sekadar catatan ringan di awal tahun. Bunyi terompet pergantian tahun mungkin sudah tak terdengar lagi. Kembang api yang melukisi langit malam sudah pudar. Pagi hari, orang-orang pasti kelelahan setelah menghabiskan malam hingga dini hari di tempat-tempat khusus yang dirancang secara istimewa.&lt;br /&gt;Saya selalu saja tak habis memahami bagaimana di negeri yang tak kunjung henti digempur krisis dan bencana ini orang-orang dengan gampang menghamburkan isi kocek dalam-dalam sekadar untuk menikmati &lt;em&gt;dinner &lt;/em&gt;dan &lt;em&gt;New Year Party&lt;/em&gt;. Sebuah hotel bintang lima di Bandung menawarkan paket malam tahun baru hingga Rp 9 juta. Sebuah hotel di Jakarta menawarkan paket yang harganya hampir sama, Rp 9,5 juta. Dan tiket untuk menikmati paket seharga ini sudah habis terjual alias sold out beberapa hari sebelumnya.&lt;br /&gt;Siapa bilang negeri kita sedang dilanda krisis? Kalau Anda tadi malam termasuk dalam deretan orang yang menikmati pergantian tahun di hotel-hotel mewah atau tempat-tempat hiburan kelas satu, yang Anda lihat adalah wajah-wajah kemakmuran. Berbalut busana gemerlap karya desainer-desainer utama, bersepatu mengilat merek Gina, Charles Jourdan, atau setidaknya produk Italia lain nya, berarloji Piazza, Rado, atau Rolex berlapis emas, menyemburkan harum Etienne Aigner, Nina Ricci, atau Estee Lauder, dan menenteng Nokia N96, Motorolla Z8 Ferrari, atau Philips 292, mereka keluar dari Toyota Auris, Mercedes Benz, BMW, hingga Lamborghini.&lt;br /&gt;Ya, ya, saya, dan sekian banyak manusia negeri ini, mungkin bukanlah bagian dari komunitas ini. Mayoritas dari masyarakat kita adalah orang-orang yang tiap hari menghirup udara yang meruap dari timbunan sampah atau genangan banjir, yang menatap mereka adalah bagian dari sebuah absurditas.  Ada batas jelas yang memisahkan dua dunia ini. Maya dan nyata. Masuk akalkah menghabiskan sembilan juta rupiah hanya semalam? Bagi kita, angka ini bisa berarti uang muka kredit rumah, sepeda motor baru, atau belanja sehari-hari selama beberapa bulan. Surga seperti apa saja yang mereka nikmati di dalam sana? Nyanyian dari para diva, sajian ala para raja, uap wangi spa, dan kasur empuk harum cendana? Kita hanya menduga-duga.&lt;br /&gt;Tahun baru, kita tahu, hanyalah hasil kesepakatan manusia. Manusia memilah-milah kontinuitas waktu menjadi detik, menit, jam, hari, bulan, tahun, dan seterusnya. Padahal, tentu saja, tak ada yang berbeda pada tanggal 30 dan 31 Desember serta 1 dan 2 Januari. Tak ada pertanda alam tahunan yang menunjukkan bahwa angka tahun hendak bergulir bertambah satu. Kecuali, ya itu tadi, ritual buatan berupa pekikan terompet yang mencabik udara dan kilatan kembang api yang menggurati langit.&lt;br /&gt;Tentu saja harus ada yang berbeda setelah tahun bergulir. Usia kita bertambah--sekaligus berkurang. Kita sendirilah yang harus membuat pergantian tahun ini bermakna: bahwa tahun sekarang harus lebih baik dibanding tahun kemarin. Kalau hanya sama, apalagi lebih buruk, niscaya kita termasuk orang yang celaka. (*)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5277617973649974022-201163421378454073?l=hermawan-aksan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hermawan-aksan.blogspot.com/feeds/201163421378454073/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5277617973649974022&amp;postID=201163421378454073' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5277617973649974022/posts/default/201163421378454073'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5277617973649974022/posts/default/201163421378454073'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hermawan-aksan.blogspot.com/2008/01/selamat-tahun-baru-hmm.html' title='Selamat Tahun Baru, Hmm...'/><author><name>Hermawan Aksan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06299037799823191218</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5277617973649974022.post-8069768609425228720</id><published>2008-01-02T05:44:00.000-08:00</published><updated>2008-01-02T05:46:37.073-08:00</updated><title type='text'>Selamat Datang di Dunia Maya</title><content type='html'>Akhirnya punya juga aku yang namanya blog. Selama ini memang selalu kudengar kata-kata semacam ini "hari gini ga punya blog!" Aha. Sebagian juga menganggap siapa pun yang tak punya blog berarti dia berasal dari generasi masa lalu entah kapan.Masalahnya bagiku bukanlah bahwa aku generasi eighties atau bukan. Aku adalah jenis orang yang tidak telaten mendokumentasikan segala naskahku. Banyak esai, cerpen (baik yang sudah dimuat maupun yang belum), dan calon novel (tentu saja belum dipublikasikan) yang hilang gara-gara kurang telaten ini.Mungkin dengan membuat blog, sifat buruk ini akan berkurang.Harusnya orang lain (siapa pun mereka) yang menyambutku dengan kata-kata: Selamat datang di dunia maya! Tapi biarlah aku mengatakannya sendiri.Selamat bertemu, dunia maya!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5277617973649974022-8069768609425228720?l=hermawan-aksan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hermawan-aksan.blogspot.com/feeds/8069768609425228720/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5277617973649974022&amp;postID=8069768609425228720' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5277617973649974022/posts/default/8069768609425228720'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5277617973649974022/posts/default/8069768609425228720'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hermawan-aksan.blogspot.com/2008/01/selamat-datang-di-dunia-maya.html' title='Selamat Datang di Dunia Maya'/><author><name>Hermawan Aksan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06299037799823191218</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
