Cerpen ini dimuat di harian Pikiran Rakyat hari ini, Sabtu, 2 Februari 2008. Cerpen ini kumaksudkan merupakan petikan dari sebuah cerita panjang. Novel lah. Versi yang dimuat bisa disimak di http://www.pikiran-rakyat.com/index.php?mib=beritadetail&id=10383
GALUH, tahun 582 Saka.
Jalantara melangkah pelan seperti kucing, menyelinap waspada di antara bayangan gelap tiang-tiang ruang tengah. Langkah kakinya seringan kupu-kupu dan telapak kakinya sehalus kapas menapaki lantai kayu.
Yang membuat langkahnya terhambat bukanlah rasa takutnya akan menimbulkan bunyi sepelan apa pun di tengah kesunyian malam yang tengah mencapai puncaknya. Sebagai lelaki yang kemampuannya sudah hampir mencapai sempurna, ia bisa membuat kesunyian tetaplah kesunyian. Yang membuatnya harus berkali-kali menahan langkah adalah bunyi debar di dadanya.
Usianya sudah lewat dari pertengahan tiga puluhan. Namun selalu saja ia tak mampu meredam gejolak di dadanya setiap mengenang wajah Nay Pwahaci Rababu. Sudah belasa tahun. Semenjak ia dengan dada yang membara menatap sang dewi bersanding di pelaminan dengan kakaknya sendiri.
Di pelaminan itu, ia ingat, Pwahaci Rababu tampak bersinar dalam kemudaan dan kecantikannya. Bersinar seperti purnama. Karena itu Jalantara lebih suka menyebut namanya Wulansari. Jalantara membayangkan seperti itulah wajah Sinta. Di sebelahnya, duduk kaku kakaknya sendiri, Sang Jatmika, dengan wajah yang entah kenapa tampak begitu suram dan tua. Jalantara tak tega membayangkan kakaknya sebagai, misalnya, Dasamuka. Namun tentu saja terlampau mengada-ada kalau ia membandingkannya dengan Rama. Bibirnya selalu mengerut seperti lelaki renta. Kakaknya memang sudah kehilangan banyak giginya sehingga nyaris semuanya tanggal. Dan ayah mereka sendirilah yang memanggil kakak sulungnya dengan nama Sempakwaja.
Ah, mengapa bukan dia yang bersanding dengan Pwahaci Rababu? Ia pernah bertanya kepada sekian orang di istana. Jawabannya selalu sama: anak ketiga tak mungkin bersanding lebih dulu.
Mengapa harus dengan Rababu? Apakah ada kesepakatan di antara Sang Rajaresi Wretikandayun dengan Resi Kendan, ayah Rababu? Atau sekadar kecurangan Sempakwaja yang telah menculik sang putri?
Ia tak hendak memuji diri sendiri bahwa dialah yang sesungguhnya pantas dianggap sebagai Ramawijaya, satu-satunya lelaki yang berhak beristrikan Sinta. Jalantara lelaki yang tampan. Orang-orang berkata demikian. Mereka bahkan menyebut bahwa kulitnya bercahaya. Seperti kulit yang diselaputi minyak. Karena itu ia mendapat nama lain Mandiminyak.
Meski hanya sekilas, Jalantara ingat, tatkala duduk di pelaminan, Pwahaci Rababu sempat menatapnya dan ia menatap balik perempuan itu. Mereka bersitatap dan dada Jalantara diselimuti gelenyar yang sangat membahagiakan. Jagat seperti memusat pada diri mereka berdua. Tak ada orang lain, apalagi sekadar Sang Jatmika, kakaknya.
Berapa usia Pwahaci Rababu sekarang? Paling tinggi barulah tiga puluh. Namun, jarak waktu belasan tahun, dan dua anak lelaki yang beranjak remaja, tidak membuat Pwahaci Rababu kehilangan cahayanya.
Di tengah pesta perjamuan utsawakrama tadi, Pwahaci Rababu masih tetap menjadi pusat cahaya yang memancar gemilang ke seluruh ruang. Usia seperti tak pernah beranjak dari belasan tahun yang lalu. Tubuhnya tampak tetap semampai meski dibalut busana yang menutupi hampir seluruh tubuhnya, hanya menyisakan dua bentuk tangan yang langsat dan sejenjang leher yang mengilat, serta rambut separuh mengurai karena hanya sebagian yang diikat dengan pita ungu dan berselip seuntai melati putih.
Pwahaci Rababu seakan memiliki kecantikan abadi. Seperti Dayang Sumbi. Seperti para dewi di langit tinggi.
Duduk berseberangan dalam perjamuan, mata Jalantara tak juga lepas dari wajah Pwahaci Rababu. Berkali-kali pula mata sang Pwahaci menatapnya. Keduanya saling tatap seperti belasan tahun yang lalu. Seperti dulu, dada Jalantara berdebar kencang. Dan seperti dulu, jagat terpusat pada diri mereka.
Bertahun-tahun ia memimpikan perempuan itu. Tentu saja tak mungkin: dia adalah kakak iparnya sendiri. Bertahun-tahun ia berusaha mencari perempuan yang sebanding dengan Pwahaci Rababu. Bukan hal yang sulit baginya, sebagai seorang putra mahkota, untuk menginginkan siapa pun perempuan di segenap pelosok negeri ini. Namun ia tak pernah menemukannya. Pwahaci Rababu adalah satu-satunya di dunia. Karena itu, bertahun-tahun ia belum juga menemukan perempuan yang bakal menjadi istrinya, mendampinginya dalam suka dan duka hingga nanti menjadi raja tanah Galuh.
Jalantara tak pernah membayangkan bahwa mimpinya akan menjadi nyata dengan cara yang begitu sederhana.
Atas persetujuan sang ayah, Rajaresi Wretikandayun, Jalantara mengadakan pesta perjamuan di istana Galuh. Namun secara resmi, ayahnya sendirilah yang menjadi pengundang. Ia memang menyukai pesta. Setidaknya, ia menyukai kegembiraan dan keramaian. Berbeda dengan dua kakaknya, Sang Jatmika dan Sang Jantaka, yang lebih suka hidup menyepi mendalami sisi kehidupan ruhani. Ia tidak tahu apakah kedua kakaknya benar-benar hidup hanya untuk agama atau karena mereka tak lagi punya hak atas takhta karena keterbatasan jasmani mereka. Jatmika cacat karena tak lagi bergigi, sedangkan Jantaka menderita kemir, sebuah penyakit yang cukup membuat nista sebagai pria. Keduanya pun tak mungkin menjadi yuwaraja (putra mahkota) sebagai calon pengganti Sang Wretikandayun. Sempakwaja kemudian menjadi Resiguru di Galunggung, yang membawahkan sejumlah kerajaan kecil, dan mendapat gelar Batara Danghiyang Guru. Adapun Jantaka menjadi resiguru di Denuh, dekat sebuah telaga di kawasan Galuh Selatan, dan mendapat gelar Resiguru Wanayasa atau Rahiyang Kidul.
Jalantara sendiri kemudian tidak hanya menjadi yuwaraja yang hanya menunggu saatnya memegang takhta. Ia sudah menjadi wakil raja, menguasai sejumlah menteri dan pejabat istana, dan menjadi pimpinan angkatan bersenjata Galuh.
Perjamuan diadakan bertepatan dengan bulan purnama. Tiap tahun sebenarnya ia selalu merayakan tanggal ini, tanggal kelahirannya. Ia memang lahir di malam purnama, tiga puluh enam tahun yang lalu. Namun kali ini istimewa, karena ia ingin semua pembesar di negeri ini hadir. Semua pembesar dan pemuka Galuh, termasuk para penguasa kerajaan-kerajaan kecil di wilayah Galuh, hadir dalam perjamuan meriah ini. Semua mendapat undangan resmi, termasuk Sang Sempakwaja. Namun kakaknya itu berhalangan hadir karena sedang sakit. Mengingat undangan itu datang dari ayahnya, Sempakwaja mengutus istrinya untuk mewakili.
Dan Pwahaci Rababu datang sendiri, hanya diiringi beberapa dayang dan pengawal. Dua anaknya, Purbasora dan Demunawan, lebih suka merawat dan menunggui ayahnya yang sakit dibanding datang ke pesta kakek mereka.
Jalantara tak pernah merencanakannya. Barangkali alam semestalah yang telah mengaturnya, pikir Jalantara. Ia tak tahu kakaknya sakit. Ia tak menyangka Pwahaci Rababu akan datang sendiri. Ia juga tidak sengaja menempatkan diri dan semua tamunya sedemikan rupa sehingga ia berhadapan di meja perjamuan dengan Pwahaci Rababu. Dan keduanya berkali-kali bertukar tatap.
Nyaris tak ada kata yang terucap. Mata merekalah yang bercakap-cakap.
Ketika dadanya bergolak oleh sebuah hasrat, Jalantara tak bisa lagi menikmati riuh bunyi gamelan dan lenggok gemulai para penari. Musik dan kecantikan para penari lenyap oleh satu-satunya kecantikan sejati, Pwahaci Rababu.
Jalantara benar-benar terlempar ke masa belasan tahun yang silam. Ia jatuh cinta. Ia tenggelam dalam jalinan asmara. Ia tergila-gila dalam pusaran sebuah smarakarya. Cinta yang tak lagi peduli tatasusila.
Ah.
Istana senyap. Para tamu sudah masuk ke kamar masing-masing. Hanya tinggal beberapa orang yang harus berjaga sembari membereskan bekas-bekas perjamuan.
Di taman yang terbuka, bayangan rumpun cempaka jatuh tegak lurus tertimpa purnama yang bertengger di puncak langit.
Ia sejenak ragu-ragu sebelum mengetuk pintu.
Sangat pelan.
Sekali. Dua kali. Tak ada suara apa pun dari dalam kamar.
Tiga kali.
“Wulan…”
Pintu terbuka perlahan. Mula-mula hanya bidang kecil, makin lama makin lebar, dan seraut wajah memancarkan cahaya dari dalam sana. Wajah yang selama ini diimpikannya.
2
PERJAMUAN itu berlangsung tiga malam, ketika bulan bulat menghias langit. Bukankah pesta tak pernah cukup kalau hanya semalam? Namun Pwahaci Rababu tinggal semalam lebih lama dibanding pestanya.
Mengapa dia tak langsung pulang ketika pesta telah usai? Pwahaci Rababu tak bisa menjawab pertanyaan seperti ini. Atau mungkin dia ingin mengingkarinya. Tak ingin mengakuinya. Dia hanyalah perempuan, dan perempuan tak terbiasa banyak membuat pertimbangan dengan kepalanya.
Apakah hatinya terpikat oleh Sang Mandiminyak? Dia ingin menggeleng untuk membuang perasaan seperti itu. Namun perasaan memang bersumber dari dalam dada, bukan dalam kepala. Belasan tahun lalu, dia sudah terpikat oleh ketampanan dan sorot mata tajam Jalantara. Belasan tahun lalu, ketika dia harus bersanding dengan seorang lelaki asing. Lelaki yang baru saja dikenalnya.
Dia tengah tenggelam hingga separuh dada di telaga bersama kedua teman perempuannya ketika dia baru sadar bahwa pakaiannya sudah tak ada. Apakah kedua temannya itu sedang mempermainkannya?
“Jangan bercanda. Mana bajuku?” tanya Wulansari.
Kedua temannya menggeleng. Wajah mereka tidak menunjukkan bahwa mereka sedang bercanda. Lagi pula, Wulansari pun tahu bahwa sejak semula mereka tak pernah beranjak dari kesejukan air semenjak sama-sama menanggalkan busana dan menyampirkannya di atas gerumbul perdu di pinggir telaga. Hampir satu jam mereka bermain air, menciprat-ciprat, menyelam, saling membandingkan kehalusan kulit mereka, dan menentukan payudara siapa yang paling besar.
Kini busana itu hanya tinggal dua. Tak ada lagi miliknya. Mana mungkin busananya lenyap tanpa sebab? Ketika kedua temannya sudah kembali berbusana, dia masih tenggelam di telaga.
Tiba-tiba dia ingat akan sebuah dongeng yang pernah diceritakan ayahnya, Sang Resi Kendan, tentang si bungsu dari tujuh bidadari yang tertinggal di telaga karena selendangnya dicuri seorang lelaki.
“Tolong carikan, ya,” pintanya memelas. Wajahnya pias.
Kedua temannya hanya bisa berputar-putar di sekitar, tanpa bisa menemukan apa yang mereka cari. Juga ketika mereka mencoba mencarinya lebih jauh dari telaga. Busana itu seperti lenyap di udara. Siapa yang tertarik busana sederhana itu? Bukan selendang warna-warni milik para bidadari. Hanya kain putih tanpa jahitan, yang biasanya pun sekadar dililitkan pada tubuhnya. Sama sekali tak bernilai walaupun sekadar untuk menjadi bahan curian.
Satu jam lebih mereka berputar-putar mencari kain Wulansari.
Gadis itu mengeluh dalam hati. Tentu saja tak mungkin dia pulang tanpa busana. Jarak dari telaga ke rumahnya ada ribuan langkah kaki. Apa nanti kata orang-orang? Dia bukan lagi gadis kecil. Dia sudah merasa dewasa. Payudaranya sedang tumbuh menuju kemekarannya, meskipun bukan yang terbesar di antara ketiga gadis muda itu.
“Duh, Hyang di langit tinggi, tolong hamba ini. Kembalikan kain hamba. Kalau ia perempuan, biarlah ia menjadi saudaraku. Kalau ia laki-laki, aku rela menjadi istrinya,” bisik Wulansari.
Entah dari mana kalimat itu muncul begitu saja di kepalanya. Apakah karena dia terlalu banyak mendengarkan dongeng dari ayah atau ibunya? Dan dia terkejut sekaligus menyesal. Bagaimana kalau yang datang kemudian adalah seekor anjing dengan pakaian di moncongnya? Namun dia tak bisa lagi menarik kata-kata yang sudah terucap.
Wulansari tengah mengusapkan air di wajahnya ketika terdengar sapaan bersuara berat.
“Ternyata tepat dugaanku.”
Wulansari cepat mendongak.
“Cantik sekali.”
Wulansari cepat menutupi kedua dadanya yang terbuka dengan tangannya. Wajahnya memerah, bukan oleh rasa malu, melainkan oleh rasa marah.
“Siapa kamu? Kurang ajar! Kembalikan pakaianku!”
Lelaki itu tertawa dengan suara yang aneh. Di tangannya tergenggam kain putih milik Wulansari.
Wulansari terpana. Mulut lelaki itu sama sekali tak bergigi. Mungkin karena itulah suara tawanya terdengar tak seperti orang-orang lain tertawa.
“Aku akan mengembalikan pakaianmu, dan aku laki-laki.” Lelaki itu tertawa lagi, memperlihatkan gua gelap dalam mulutnya yang mengerikan.
“Lelaki kurang ajar! Aku tadi cuma bercanda.”
“Ha-ha-ha! Bahkan para penghuni langit pun bisa mendengar suaramu. Dan janji seperti itu tak bisa ditarik. Apakah kau ingin menderita seumur hidupmu karena melanggar sumpah terhadap dewata?”
Wulansari mengeluh untuk kedua kalinya. Dia mengakui, manusia memang tak bisa main-main dengan kalimat sumpah.
Kalau saja lelaki itu mirip dengan lelaki dalam dongeng…
“Sudahlah, Nyi. Pakailah kain ini. Aku akan memboyongmu ke tempatku.”
Wulansari sekali lagi menatap wajah lelaki itu dengan sorot penuh penyesalan.
“Tentu saja aku akan lebih dulu melamar pada ayah-ibumu.”
Itu terjadi belasan tahun yang lalu. Ya, kalau saja lelaki yang mengambil kainnya itu adalah Sang Mandiminyak, adik bungsu lelaki yang bersanding dengannya tak lama kemudian…
Tatapan tajam Mandiminyak masih tetap seperti belasan tahun yang lalu, ketika diam-diam dia melirik dari tempat duduk di pelaminan. Dan Wulansari, yang kemudian lebih dikenal dengan nama Pwahaci Rababu, selalu tak bisa menahan gejolak hatinya. Terasa ada sengat aneh yang selalu membiusnya.
Belasan tahun dia tak bisa melupakan sorot mata tajam itu. Belasan tahun dia menghabiskan malam-malam dengan mata terpejam, membayangkan bahwa lelaki yang selalu berada di pelukannya adalah Jalantara.
Oh, para dewi dan pohaci, ampunilah hamba… Mengapa kalian tumpahkan perasaan indah ini dalam situasi yang rumit?
Ini bukan cinta yang seharusnya dan dia tak hendak menyelam di dalamnya. Namun apa daya? Dia selalu luluh seperti kapas tertiup angin. Terbang menuju sebuah tempat asing yang selalu dia dambakan.
Pwahaci Rababu mencoba mengingat-ingat, barangkali dia pernah mendengar kisah, hikayat, atau dongeng seperti yang dia alami saat ini. Dia menggeleng. Dia akui, pengetahuannya akan dunia pasti terlalu sederhana, tapi dia yakin bahwa di negeri ini belum pernah dia dengar perempuan dengan derita asmara seperti yang melandanya.
Boleh jadi, dialah yang pertama.
Ya, dia menderita, sekaligus bahagia.
“Jadilah permaisuriku. Hanya kau yang layak mendampingiku di istana ini,” bisik Jalantara pada malam keempat dia berada di istana Galuh.
Pwahaci Rababu tersenyum dengan sudut-sudut mata yang basah.
“Senang sekali aku mendengarnya…”
“Apakah itu berarti bersedia?”
“Sayang tidak. Aku punya dunia sendiri, dan kau memiliki dunia yang lebih gemilang. Temukanlah perempuan yang lebih pantas menjadi bunga negeri ini.”
“Kaulah yang paling pantas.”
“Bukalah matamu, edarkan tatapmu, lihatlah luasnya langit. Negeri ini jauh lebih luas daripada sekadar sampai aliran Citanduy atau puncak Galunggung.”
Air mata Pwahaci Rababu membasahi dada telanjang Jalantara. Apakah empat malam di istana Galuh akan menjadi dosa asal bagi keturunannya?
Di luar, bulan yang tak lagi bulat tampak pucat.
***
Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Friday, February 1, 2008
Sunday, January 20, 2008
Air Mata Asih
ASIH menangis. Pipi putihnya dibelah sebutir air bening, ada sebagian pupur yang terhapus, menyusuri tepi bibirnya, lalu menggantung sejenak di dagunya yang runcing, mengilat disentuh cahaya neon, sebelum akhirnya menitik di gaun kebaya hitam pengantinnya. Aku yakin, di sisi sebelah sana, sebutir air bening serupa juga bergulir.
Kutatap tepi matanya lembut.
“Kenapa?” tanyaku berbisik.
Asih menggeleng. Ia tak berusaha menghapus jejak aliran air matanya. Ia seolah membiarkannya mengering sendiri. Mukanya tertunduk. Dari pinggir semakin tegas bahwa ia memang memiliki wajah menarik. Saat itu aku barulah tahu, hidungnya panjang dan bagus, mengingatkanku pada ukiran wayang golek. Lekukan dari dagu ke leher makin menegaskan kemudaannya.
Sesaat keringat terasa serentak membasahi kening, kuduk, dan punggungku. Perasaan bersalah mulai kembali mengoyak-ngoyak.
Kuambil saputangan di tempat duduk pelaminan. Kugeserkan tubuhku dan kucoba menghapuskan bekas air matanya. Tapi Asih menghentikan gerakanku dengan tangannya. Dengan telapak tangannya. Telapak tangan yang tak terlalu halus.
Asih menatapku dengan sudut matanya. Hanya sepersekian detik saja, matanya turun lagi. Aku belum bisa menerjemahkan arti sebutir air matanya yang sempat bergulir. Tetapi aku berharap tatapannya yang hanya sepersekian detik bukanlah manifestasi kebencian. Gusti, siapa mau memperoleh bencana kebencian di saat yang justru seharusnya kita mendapat anugerah kebahagiaan?
Hiasan janur dan buah-buahan berdiri solah menjadi pengaping. Satu di kanan dan satu di kiri. Ruang tengah masih pikuk oleh kerabat. Satu dua wajah kukenal baik. Ibu duduk di tikar, berbincang dengan ibunya Asih dan beberapa perempuan sebaya lainnya, membentuk setengah lingkaran, dengan aku dan Asih hampir berada di titik pusat. Beberapa kali kutangkap pandangan ibuku. Beberapa kali pula ia menyiratkan senyum tipis yang berusaha dibagikannya kepadaku dan Asih.
Ah, ibu.
Kamu masih juga ingin mengecewakan ibumu? Masih suka dengan kesendirian? Tanya ibuku dalam suratnya beberapa waktu lalu. Pertanyaan yang selalu diulangnya.
Aku belum siap, jawabku waktu itu.
Ibu tidak pernah memaksamu untuk segera siap. Yang ibu ingin adalah agar kamu tak menjalani hidup tidak secara layaknya orang lain. Ibu tak ingin kamu macam-macam. Ah, apa bedanya, pikirku.
Jangan kecewakan ibumu dan almarhum ayahmu, kata ibu pula.
“Wah, Ibu ini. Kok ya begitu saja menyodorkan calon pasangan buatku,” kataku beberapa waktu kemudian, pada kesempatan pulang yang sebenarnya tidak kurencanakan.
“Lho, apa salahnya jika seorang ibu mencarikan yang terbaik buat anak lanangku si ragil?”
“Tapi Ibu yakin Asih akan menerimaku?”
“Siapa yang berani menolak lamaran pemuda cakap seperti kamu?” Ibu balik bertanya dengan nada gurau.
“Maksudku, apakah kami pantas bersanding? Ingat, Bu, aku tiga puluh dua, sedangkan Asih baru sembilan belas tahun. Ketika aku mulai berpacaran, Asih baru bisa berlari.”
Ibu tertawa.
“Kamu ingin Ibu mencarikan yang sebaya denganmu? Oalah, Le, Le. Kamu pikir stok yang begitu masih ada?”
“Mungkin aku bisa mencari sendiri.”
“Alaaah, omonganmu itu lho, dari dulu Ibu dengar.”
Tak pernah bisa kutemukan jawaban mengapa pada akhirnya aku toh menerima begitu saja calon yang ibu pilihkan. Pada zaman yang sudah lama mengagung-agungkan cinta seperti ini aku justru seolah hidup pada tahun-tahun awal abad kedua puluh. Dari semula, aku ingin menyerahkan segalanya kepada Ibu. Apa alasannya, aku sendiri kurang yakin. Mungkin benar aku tidak mau mengecewakan Ibu. Mas Ario, kakak tertuaku, lalu Mas Yan, menikah pada usia-usia yang “wajar”. Mereka, yang masing-masing berada di Padang dan Banjarmasin, telah mempersembahkan cucu-cucu yang manis-manis buat Ibu. Mungkin pula benar bahwa aku seolah telah melupakan “kewajiban” yang satu ini.
“Kamu masih selalu dibayangi Maryati,” kata Ibu.
Aku tak berusaha menanggapi. Kata-kata Ibu tak sepenuhnya salah. Bukan, Maryati bukanlah cinta pertama. Bahkan aku sendiri tak ingat, apakah cinta pertamaku Tuti atau Nur. Namun Maryati adalah wanita pertama yang banyak memberiku pengertian tentang cinta yang sesungguhnya, menurut pemahamanku. Dia memang lebih tua. Karena itu aku merasa, waktu itu, ia banyak memahami. Tetapi apakah Ibu bermaksud menyindir atau sekadar ingin meneguhkan dugaan demi keinginannya, aku tak tahu. Toh tak akan bedanya.
“Aku ragu bisa mencintai Asih.”
“Cinta?”
Ibu tersenyum. Entah bagaimana, aku seolah menangkap sumber cahaya di wajah Ibu. Mungkin karena rambutnya yang makin banyak diwarnai garis-garis keperakan, atau sorot matanya yang masih tajam, meski di bulatan hitamnya ada titik-titik warna putih.
“Atau, apakah memang pilihan Ibu ini merupakan pilihan terbaik buatku?”
Ibu mendehem.
“Begini, tho, Nak. Ibumu ini sudah merundingkan segala halnya dengan pakde-pakde-mu, juga paman-pamanmu. Bahwa calon jodohmu itu kami teliti, kami nilai dari berbagai segi, ya keturunan, ya kecerdasan, ya penampilan. Sudah kami pertimbangkan bibit, bebet, dan bobot-nya. Percayalah, Asih bakal sangat cocok menjadi sigarane nyawa-mu. Ia masih kerabat juga, meski sudah agak jauh. Baru lulus sekolah perawat tahun ini. Ia akan sangat sepadan dengan kedudukanmu sebagai guru SMA di kota. Nah, coba lihat, bahkan kamu lama-lama bakal bisa menangkap bahwa garis-garis wajah Asih tak jauh berbeda dengan garis-garis wajahmu. Itulah salah satu ciri jodoh, Nak.”
Aku menatap hati-hati wajah Ibu.
“Tapi, Bu, bukankah Asih telah lebih dulu mencintai dan dicintai orang lain? Maaf lho, Bu, cerita ini sempat kudengar. Ini sebenarnya masalah yang paling serius.”
“Si Harso itu? Alaah, ia masih ingusan. Wong, kerjaan saja nggak punya. Lagi pula, mereka tak berani pacaran secara terbuka. Sembunyi-sembunyi di belakang. Apa memang zaman sekarang begitu carana pacaran? Lha, apa yang bisa diharapkan dari pacaran model begitu?”
“Ibu jangan bicara begitu. Justru yang begitulah yang tidak pernah bisa kita duga. Coba, jika mereka benar saling mencintai, apa pun arti cinta di sini, tentu akan sangat sulit nantinya menumbuhkan kasih sayang di antara aku dan Asih.”
“Kamu lagi-lagi ngomong soal cinta. Coba, apa pengertian kamu tentang cinta?”
“Yang lebih gawat, bagaimana jika, misalnya, laki-laki itu punya rencana melarikan Asih?” kataku tak memedulikan pertanyaan Ibu.
“Hush! Jangan sembarangan ngomong kamu. Nanti kedengaran setan, bisa jadi beneran.”
Aku menatap Ibu dengan kening berkerenyit.
Tetapi aku tak tahu apakah Ibu sudah lama menatapku dengan kening berkerut pula.
O, ya, ternyata sudah waktunya untuk potret bersama. Aku tidak sempat menyadari berapa lama aku berdiam diri. Ibu berada di sebelah kananku. Di sebelahnya lagi Mas Ario, sebagai pengganti Ayah. Di sebelah kiri Asih berdiri kedua orang tuanya. Kulihat wajah ibu sumringah, bercahaya, juga wajah kedua orang tua Asih. Tetapi aku tak bisa menebak, apakah senyum Asih adalah penampakan kebahagiaannya. Aku belum bisa menangkap garis-garis yang sebenarnya.
Aku juga turut tersenyum sebelum lampu blitz menyala.
Setelah itu, berturut-turut minta berfoto bersama pakde-pakde-ku, paman-paman, kerabat, baik dari pihakku maupun dari pihak Asih. Bahkan setelah itu turut serta Pak Kepala Desa, Pak Carik, dan beberapa tokoh masyarakat.
Semua kulihat tersenyum.
Hanya kemudian, sekilas, wajah Asih seperti menegang.
**
“KAMU sakit?” tanyaku.
Asih menggeleng.
Matanya menunduk, jemarinya bermain-main di pangkuannya. Rambut yang tadi disanggul kini tergerai di punggungnya, sebagian menutupi pipinya. Tetapi kebaya dan kainnya masih yang tadi.
Aroma melati dan warna putih menguasai kamar pengantin kami. Bungkusan-bungkusan kado bertumpuk di meja dekat pintu. Pintu telah terkunci. Tetapi mulutku juga seperti selalu sulit untuk membuka. Alangkah kikuk malam pengantin seperti itu, peristiwa sangat asing yang tak pernah kubayangkan bakal terarungi.
Keningku basah.
Kutarik napas dan kuusap wajah.
“Kamu pucat.” Kataku.
“Tak apa,” jawabnya. Pelan sekali dan tetap menunduk.
Dari luar kamar, ruang tengah, masih terdengar ramainya kerabat yang turut lek-lekan. Suara tawa, atau bantingan kartu, juga sedikit adu mulut.
Tetapi di luar jendela, bunyi serangga mulai mengantarkan malam.
Jam dinding menunjuk setengah sebelas.
“Tidurlah, kamu pasti lelah.”
Aku beranjak, membuka pintu, menuju ruang tengah, bergabung dengan yang begadang. Tetapi aku tak turut bermain.
Kunyalakan rokok. Aku terbatuk. Beberapa jenak aku baru sadar bahwa aku telah dua bulan berhenti merokok.
Kumatikan rokok.
Tiba-tiba kudengar bunyi seperti daun jendela dipukul. Lalu teriakan dari arah kamar. Asih!
Aku melompat.
“Ada apa? Apa yang terjadi?”
Asih berdiri dekat jendela. Mukanya pias. Matanya menatapku dengan ragu.
Tetapi mendadak ia menubrukku. Tangisnya meledak. Aku memeluknya dengan rasa sayang yang tiba-tiba memancar. Kuelus rambutnya. Kucium wanginya.
Wajah Asih rebah di dadaku.
“Dia, Mas… dia.”
“Dia siapa?” tanyaku lembut.
“Harso.”
Pelan-pelan aku merenggangkan pundak Asih. Kutatap matanya. Basah. Kuhapus dengan punggung jemariku.
“Kenapa Harso.”
“Dia… mengetuk jendela… memaksa ingin masuk…”
Tangis Asih kembali meledak. Aku mendekapnya lagi. Lebih rapat. Dan seperti tiba-tiba aku berjanji, dalam hati, aku ingin menjadi pelindung yang menyayangi dan mencintainya.
Di pintu, orang-orang mengundurkan diri satu per satu.
Nyanyian serangga membawa malam kian larut.
***
(Cerpen ini pernah dimuat di majalah Sarinah, 22 Maret 1993)
Kutatap tepi matanya lembut.
“Kenapa?” tanyaku berbisik.
Asih menggeleng. Ia tak berusaha menghapus jejak aliran air matanya. Ia seolah membiarkannya mengering sendiri. Mukanya tertunduk. Dari pinggir semakin tegas bahwa ia memang memiliki wajah menarik. Saat itu aku barulah tahu, hidungnya panjang dan bagus, mengingatkanku pada ukiran wayang golek. Lekukan dari dagu ke leher makin menegaskan kemudaannya.
Sesaat keringat terasa serentak membasahi kening, kuduk, dan punggungku. Perasaan bersalah mulai kembali mengoyak-ngoyak.
Kuambil saputangan di tempat duduk pelaminan. Kugeserkan tubuhku dan kucoba menghapuskan bekas air matanya. Tapi Asih menghentikan gerakanku dengan tangannya. Dengan telapak tangannya. Telapak tangan yang tak terlalu halus.
Asih menatapku dengan sudut matanya. Hanya sepersekian detik saja, matanya turun lagi. Aku belum bisa menerjemahkan arti sebutir air matanya yang sempat bergulir. Tetapi aku berharap tatapannya yang hanya sepersekian detik bukanlah manifestasi kebencian. Gusti, siapa mau memperoleh bencana kebencian di saat yang justru seharusnya kita mendapat anugerah kebahagiaan?
Hiasan janur dan buah-buahan berdiri solah menjadi pengaping. Satu di kanan dan satu di kiri. Ruang tengah masih pikuk oleh kerabat. Satu dua wajah kukenal baik. Ibu duduk di tikar, berbincang dengan ibunya Asih dan beberapa perempuan sebaya lainnya, membentuk setengah lingkaran, dengan aku dan Asih hampir berada di titik pusat. Beberapa kali kutangkap pandangan ibuku. Beberapa kali pula ia menyiratkan senyum tipis yang berusaha dibagikannya kepadaku dan Asih.
Ah, ibu.
Kamu masih juga ingin mengecewakan ibumu? Masih suka dengan kesendirian? Tanya ibuku dalam suratnya beberapa waktu lalu. Pertanyaan yang selalu diulangnya.
Aku belum siap, jawabku waktu itu.
Ibu tidak pernah memaksamu untuk segera siap. Yang ibu ingin adalah agar kamu tak menjalani hidup tidak secara layaknya orang lain. Ibu tak ingin kamu macam-macam. Ah, apa bedanya, pikirku.
Jangan kecewakan ibumu dan almarhum ayahmu, kata ibu pula.
“Wah, Ibu ini. Kok ya begitu saja menyodorkan calon pasangan buatku,” kataku beberapa waktu kemudian, pada kesempatan pulang yang sebenarnya tidak kurencanakan.
“Lho, apa salahnya jika seorang ibu mencarikan yang terbaik buat anak lanangku si ragil?”
“Tapi Ibu yakin Asih akan menerimaku?”
“Siapa yang berani menolak lamaran pemuda cakap seperti kamu?” Ibu balik bertanya dengan nada gurau.
“Maksudku, apakah kami pantas bersanding? Ingat, Bu, aku tiga puluh dua, sedangkan Asih baru sembilan belas tahun. Ketika aku mulai berpacaran, Asih baru bisa berlari.”
Ibu tertawa.
“Kamu ingin Ibu mencarikan yang sebaya denganmu? Oalah, Le, Le. Kamu pikir stok yang begitu masih ada?”
“Mungkin aku bisa mencari sendiri.”
“Alaaah, omonganmu itu lho, dari dulu Ibu dengar.”
Tak pernah bisa kutemukan jawaban mengapa pada akhirnya aku toh menerima begitu saja calon yang ibu pilihkan. Pada zaman yang sudah lama mengagung-agungkan cinta seperti ini aku justru seolah hidup pada tahun-tahun awal abad kedua puluh. Dari semula, aku ingin menyerahkan segalanya kepada Ibu. Apa alasannya, aku sendiri kurang yakin. Mungkin benar aku tidak mau mengecewakan Ibu. Mas Ario, kakak tertuaku, lalu Mas Yan, menikah pada usia-usia yang “wajar”. Mereka, yang masing-masing berada di Padang dan Banjarmasin, telah mempersembahkan cucu-cucu yang manis-manis buat Ibu. Mungkin pula benar bahwa aku seolah telah melupakan “kewajiban” yang satu ini.
“Kamu masih selalu dibayangi Maryati,” kata Ibu.
Aku tak berusaha menanggapi. Kata-kata Ibu tak sepenuhnya salah. Bukan, Maryati bukanlah cinta pertama. Bahkan aku sendiri tak ingat, apakah cinta pertamaku Tuti atau Nur. Namun Maryati adalah wanita pertama yang banyak memberiku pengertian tentang cinta yang sesungguhnya, menurut pemahamanku. Dia memang lebih tua. Karena itu aku merasa, waktu itu, ia banyak memahami. Tetapi apakah Ibu bermaksud menyindir atau sekadar ingin meneguhkan dugaan demi keinginannya, aku tak tahu. Toh tak akan bedanya.
“Aku ragu bisa mencintai Asih.”
“Cinta?”
Ibu tersenyum. Entah bagaimana, aku seolah menangkap sumber cahaya di wajah Ibu. Mungkin karena rambutnya yang makin banyak diwarnai garis-garis keperakan, atau sorot matanya yang masih tajam, meski di bulatan hitamnya ada titik-titik warna putih.
“Atau, apakah memang pilihan Ibu ini merupakan pilihan terbaik buatku?”
Ibu mendehem.
“Begini, tho, Nak. Ibumu ini sudah merundingkan segala halnya dengan pakde-pakde-mu, juga paman-pamanmu. Bahwa calon jodohmu itu kami teliti, kami nilai dari berbagai segi, ya keturunan, ya kecerdasan, ya penampilan. Sudah kami pertimbangkan bibit, bebet, dan bobot-nya. Percayalah, Asih bakal sangat cocok menjadi sigarane nyawa-mu. Ia masih kerabat juga, meski sudah agak jauh. Baru lulus sekolah perawat tahun ini. Ia akan sangat sepadan dengan kedudukanmu sebagai guru SMA di kota. Nah, coba lihat, bahkan kamu lama-lama bakal bisa menangkap bahwa garis-garis wajah Asih tak jauh berbeda dengan garis-garis wajahmu. Itulah salah satu ciri jodoh, Nak.”
Aku menatap hati-hati wajah Ibu.
“Tapi, Bu, bukankah Asih telah lebih dulu mencintai dan dicintai orang lain? Maaf lho, Bu, cerita ini sempat kudengar. Ini sebenarnya masalah yang paling serius.”
“Si Harso itu? Alaah, ia masih ingusan. Wong, kerjaan saja nggak punya. Lagi pula, mereka tak berani pacaran secara terbuka. Sembunyi-sembunyi di belakang. Apa memang zaman sekarang begitu carana pacaran? Lha, apa yang bisa diharapkan dari pacaran model begitu?”
“Ibu jangan bicara begitu. Justru yang begitulah yang tidak pernah bisa kita duga. Coba, jika mereka benar saling mencintai, apa pun arti cinta di sini, tentu akan sangat sulit nantinya menumbuhkan kasih sayang di antara aku dan Asih.”
“Kamu lagi-lagi ngomong soal cinta. Coba, apa pengertian kamu tentang cinta?”
“Yang lebih gawat, bagaimana jika, misalnya, laki-laki itu punya rencana melarikan Asih?” kataku tak memedulikan pertanyaan Ibu.
“Hush! Jangan sembarangan ngomong kamu. Nanti kedengaran setan, bisa jadi beneran.”
Aku menatap Ibu dengan kening berkerenyit.
Tetapi aku tak tahu apakah Ibu sudah lama menatapku dengan kening berkerut pula.
O, ya, ternyata sudah waktunya untuk potret bersama. Aku tidak sempat menyadari berapa lama aku berdiam diri. Ibu berada di sebelah kananku. Di sebelahnya lagi Mas Ario, sebagai pengganti Ayah. Di sebelah kiri Asih berdiri kedua orang tuanya. Kulihat wajah ibu sumringah, bercahaya, juga wajah kedua orang tua Asih. Tetapi aku tak bisa menebak, apakah senyum Asih adalah penampakan kebahagiaannya. Aku belum bisa menangkap garis-garis yang sebenarnya.
Aku juga turut tersenyum sebelum lampu blitz menyala.
Setelah itu, berturut-turut minta berfoto bersama pakde-pakde-ku, paman-paman, kerabat, baik dari pihakku maupun dari pihak Asih. Bahkan setelah itu turut serta Pak Kepala Desa, Pak Carik, dan beberapa tokoh masyarakat.
Semua kulihat tersenyum.
Hanya kemudian, sekilas, wajah Asih seperti menegang.
**
“KAMU sakit?” tanyaku.
Asih menggeleng.
Matanya menunduk, jemarinya bermain-main di pangkuannya. Rambut yang tadi disanggul kini tergerai di punggungnya, sebagian menutupi pipinya. Tetapi kebaya dan kainnya masih yang tadi.
Aroma melati dan warna putih menguasai kamar pengantin kami. Bungkusan-bungkusan kado bertumpuk di meja dekat pintu. Pintu telah terkunci. Tetapi mulutku juga seperti selalu sulit untuk membuka. Alangkah kikuk malam pengantin seperti itu, peristiwa sangat asing yang tak pernah kubayangkan bakal terarungi.
Keningku basah.
Kutarik napas dan kuusap wajah.
“Kamu pucat.” Kataku.
“Tak apa,” jawabnya. Pelan sekali dan tetap menunduk.
Dari luar kamar, ruang tengah, masih terdengar ramainya kerabat yang turut lek-lekan. Suara tawa, atau bantingan kartu, juga sedikit adu mulut.
Tetapi di luar jendela, bunyi serangga mulai mengantarkan malam.
Jam dinding menunjuk setengah sebelas.
“Tidurlah, kamu pasti lelah.”
Aku beranjak, membuka pintu, menuju ruang tengah, bergabung dengan yang begadang. Tetapi aku tak turut bermain.
Kunyalakan rokok. Aku terbatuk. Beberapa jenak aku baru sadar bahwa aku telah dua bulan berhenti merokok.
Kumatikan rokok.
Tiba-tiba kudengar bunyi seperti daun jendela dipukul. Lalu teriakan dari arah kamar. Asih!
Aku melompat.
“Ada apa? Apa yang terjadi?”
Asih berdiri dekat jendela. Mukanya pias. Matanya menatapku dengan ragu.
Tetapi mendadak ia menubrukku. Tangisnya meledak. Aku memeluknya dengan rasa sayang yang tiba-tiba memancar. Kuelus rambutnya. Kucium wanginya.
Wajah Asih rebah di dadaku.
“Dia, Mas… dia.”
“Dia siapa?” tanyaku lembut.
“Harso.”
Pelan-pelan aku merenggangkan pundak Asih. Kutatap matanya. Basah. Kuhapus dengan punggung jemariku.
“Kenapa Harso.”
“Dia… mengetuk jendela… memaksa ingin masuk…”
Tangis Asih kembali meledak. Aku mendekapnya lagi. Lebih rapat. Dan seperti tiba-tiba aku berjanji, dalam hati, aku ingin menjadi pelindung yang menyayangi dan mencintainya.
Di pintu, orang-orang mengundurkan diri satu per satu.
Nyanyian serangga membawa malam kian larut.
***
(Cerpen ini pernah dimuat di majalah Sarinah, 22 Maret 1993)
Wednesday, January 2, 2008
Malam Tersayat di Indraprasta
GESEKAN rebab terus mengalun, menyayat lengkung malam yang belum lama menyungkup istana Indraprasta, mengiringi suara lembut sang wiraswara yang kadang terdengar melengking, menyilet hening, dalam sebuah irisan yang tipis dan panjang.
Balairung istana memang terus dibekap sunyi. Lengang. Sang Prabu belum juga menjega menuju singgasana yang sudah disediakan untuknya.
**
OH, Ki Dalang rupanya sedang gelisah karena kehilangan Prabu Yudistira. Ia sudah menyiapkan sejak awal, sesuai dengan alur cerita yang bakal dibawakannya. Namun Yudistira seperti lenyap ditelan bumi. Apakah ia masih tergulung di kotak wayang? Tak mungkin, ia yakin sudah mengambilnya, menggeletakkannya tak jauh dari tekukan lutut kanannya. Sebagai pembuka cerita, Yudistiralah yang akan ia ambil pertama kali.
Namun, di mana engkau, Darmakusumah?
Ki Dalang makin terkejut ketika baru disadarinya wayang-wayang seakan berebut tempat di sebelah kanan batang pisang, sementara hanya tinggal beberapa sosok yang masih bertahan di sebelah kiri. Para raksasa, siluman, dan denawa buruk rupa berdesakan dengan para ksatria tampan dan putri-putri raja yang jelita. Para cecunguk arcapada tak malu-malu berjubal di antara para dewa dan bidadari.
Tak ada lagi batas antara yang suci dan yang profan. Para pembela kebenaran berjejalan dengan para pengusung kejahatan.
Mengapa bisa begitu, Ki Dalang tak tahu. Ketika menyusun wayang-wayang itu, ia yakin, sebagaimana seharusnya, para ksatria dan para dewa semua berjajar di sebelah kanan dan para raksasa berbaris di sebelah kiri batang pisang. Semua tersusun rapi, memang bukan menurut derajat kasta, melainkan menurut tinggi badan, dari yang terkecil di depan hingga yang terbesar di paling belakang. Tapi kini susunan sudah tak lagi beraturan. Raksasa bertubuh bukit seenaknya menyelip di antara para dewi yang camperenik.
Siapa gerangan orang yang telah berani mengacak-acak susunan wayang-wayang? Ia yakin bukan orang-orangnya. Ada penyusupkah? Untuk apa? Untuk menghambat kariernya? Peristiwa seperti ini baru pertama kali dialaminya selama ia mendalang tak kurang dari dua puluh tahun.
Suatu saat Ki Dalang yakin sudah meraih Yudistira. Tangan kanannya mantap mencekal gagang, tangan kiri siap memainkan tangkai-tangkai tangan wayang. Ki Dalang sudah siap memunculkan Sang Prabu ketika ia nyaris terjengkang karena terkejut bukan kepalang.
Dia bukan Yudistira, melainkan Dursasana, salah satu ksatria Kurawa berwajah denawa. Bagaimana mungkin ia bisa keliru, tak bisa membedakan Yudistira yang berbadan ramping dan berwajah putih dengan Dursasana yang bertubuh anak raksasa dan berwajah merah?
Ki Dalang menggeleng-gelengkan kepala.
Keringat menjadi sungai di punggungnya.
Ketika dilihatnya Astrajingga tergeletak tak jauh di bawah kecrek, mendadak timbul gagasan improvisasi dalam benak Ki Dalang. Matanya memberikan isyarat kepada penabuh gendang. Dan entakan gendang perlahan-lahan mulai meningkat, baik dalam frekuensi maupun amplitudo, membuat udara malam menjadi hangat.
Namun sesaat sebelum menarikan Astrajingga dalam entakan gendang yang dinamis, Ki Dalang terkesima tak terkira. Yang terpegang di tangannya bukanlah Astrajingga, melainkan Dewi Drupadi. Oh, bayangkan kalau sampai calon permaisuri Indraprasta itu berjaipong di atas pentas…
Yang lebih aneh lagi, walaupun akhirnya Ki Dalang sudah bisa menemukan semua wayang yang dibutuhkan, ia tak mampu lagi mengendalikan jalannya cerita. Alur mengalir, berbelok, berputar, dan berlari di luar kehendaknya. Ia sudah jauh-jauh hari mempersiapkan episode cerita tentang pengukuhan Yudistira sebagai raja Indraprasta, sesuai dengan permintaan si empunya hajat, yakni bupati yang baru diangkat.
Namun cerita mulai berkembang tak tentu arah ketika tiba-tiba Bima menolak pengangkatan kakak sulungnya.
**
JAGAT bergetar ketika Bima mengucapkan kata-kata yang tak pernah terucapkan sebelumnya.
“Kakang Yudistira tak pantas untuk duduk di singgasana. Dosa Kakang masih belum terampunkan. Masa pengembaraan selama tiga belas tahun tak melekangkan kenangan buruk itu, ketika Kakang tega mempertaruhkan hak atas Hastina di atas meja permainan judi. Dan yang paling menyakitkan, tentu saja, adalah bahwa Kakang tega mempertaruhkan istri Kakang sendiri, Ayunda Drupadi, demi sesuatu yang entah apa maknanya.
Aku khawatir cacat perilaku Kakang masih akan membayang-bayangi takhta yang akan Kakang duduki. Maaf, Kakang, aku terpaksa mengajukan diri untuk bersaing dengan Kakang. Biarlah bukan lagi takdir yang menentukan siapa untuk menjadi apa. Zaman terus berjalan dan biarkan rakyat menjadi bagian penting dari kitab-kitab utama, bukan hanya kita para ksatria. Biarkan rakyat yang menilai dan menentukan siapa sesungguhnya yang berhak menjadi raja.
Bukan hendak membanggakan diri kalau aku membuka lembar-lembar catatan kita bahwa akulah yang pertama-tama membuka hutan Wanamerta ini, membanting tulang menumbangkan pohon-pohon raksasa berusia ratusan tahun, berhadapan dengan penghuni lama, para denawa dan siluman yang murka karena kediaman mereka kita usik. Hitunglah berapa kerajaan denawa yang kutaklukkan seorang diri sehingga mereka berbalik membantu kita membangun sebuah kerajaan baru.
Kakang, marilah kita bersaing secara jujur memperebutkan makhkota.”
Balairung istana senyap. Udara membeku.
Semua mata terpusat kepada sosok Bima yang hitam menjulang.
Yudistira menatap Bima dengan tatap lembut namun yang terasa mengandung duka yang dalam.
Ia hendak membuka mulut ketika tiba-tiba Arjuna berdiri dari tempat duduknya.
“Mohon maaf. Benar kata Kakang Bima. Kakang Yudistira tak pantas menjadi raja. Kakang tak bisa begitu saja menduduki singgasana hanya karena garis takdir, dilahirkan sebagai manusia berdarah putih. Selain dosa lama yang belum sirna, aku belum pernah melihat sepak terjang Kakang di medan danalaga. Mungkin benar Kakang punya kebijaksanaan. Namun itu hanyalah baru di atas kertas, baru dalam tataran imajinatif, belum terbukti dalam kenyataan di atas lapangan. Bagaimanapun, pengalaman di medan akan menjadi nilai tambah bagi seorang pemimpin.
Kakang Bima sudah membuktikannya sebagai pembuka Wanamerta dan bukankah sudah terbukti bahwa akulah pemanah yang tak tertandingi? Dengan kemampuanku, bukankah kita selalu unggul tiap ada tantangan untuk berperang tanding dari ksatria mana pun? Bahkan Suralaya pernah meminta bantuanku ketika Batara Surya, Darma, dan Indra pun tak kuasa menahan terjangan Prabu Niwatakawaca.
Nah, bukankah aku juga berhak untuk merasakan empuknya singgasana? Bukan hanya berhak, tapi aku yakin aku pantas duduk di sana.
Marilah Kakang Yudistira dan Kakang Bima, kita berebut secara ksatria untuk menentukan siapa yang paling layak berkuasa di Indraprasta.”
Balairung kembali senyap. Udara lagi-lagi seperti terperangkap.
Kali ini semua tatap memusat pada sang panengah Pandawa.
“Tunggu Kakang semua.”
Dua sosok yang serupa, dengan wajah dan busana nyaris tak berbeda, berdiri hampir bersamaan.
“Kalau Kakang semua sudah memutuskan demikian, bukankah kami juga memiliki hak yang sama?” kata Nakula.
“Mungkin kami tak pernah punya peran yang nyata dalam perjalanan kita selama ini. Namun justru karena itulah kami menjadi sadar bahwa nasib memang ditentukan oleh diri sendiri,” timpal Sadewa.
“Kami tak akan menjadi apa-apa kalau kami hanya berdiam diri, sekadar mengikuti langkah yang telah ditentukan Kakang semua. Karena itu kami juga ingin mengguratkan kisah kami sendiri.”
“Kami siap bersaing dengan Kakang semua.”
Malam yang senyap makin mencekam.
Lalu kisah menjadi makin runyam ketika tak lama kemudian tokoh-tokoh golongan kiri—maksudnya mereka yang biasanya berbaris di sebelah kiri batang pisang—berbondong-bondong mendaftarkan diri untuk menjadi raja di Indraprasta. Dari Jayadrata, Citrayuda, Dadungawuk, Padasgempal, hingga Sarpakenaka beramai-ramai mendatangi istana. Bahkan para brahmana, yang semestinya memiliki darma sendiri untuk antara lain menjadi pemomong dan penyeimbang para penguasa, turun dari pertapaan mereka yang terpencil mendatangi pusat kerajaan, mengadu nasib untuk menjadi penguasa.
**
“STOP! Stop!”
Bupati baru mencelat dari tempat duduknya di barisan terdepan para tamu. Mukanya seperti udang matang, malu, karena ia berdampingan dengan tokoh-tokoh terhormat tingkat provinsi.
“Ki Dalang, kenapa cerita menjadi tak keruan begitu?” semburnya sambil berkacak pinggang di atas panggung.
“Saya sendiri tak tahu,” sahut Ki Dalang dengan keringat membanjir di wajahnya.
“Bagaimana mungkin? Bukankah kamu yang mengatur cerita?”
“Lihat sendiri apa yang terjadi.”
Di atas pentas batang pisang, rupanya wayang-wayang berjalan, menari, dan berbicara sendiri!
***
(Cerpen ini dimuat di Suara Merdeka, 31 Oktober 2004)
Balairung istana memang terus dibekap sunyi. Lengang. Sang Prabu belum juga menjega menuju singgasana yang sudah disediakan untuknya.
**
OH, Ki Dalang rupanya sedang gelisah karena kehilangan Prabu Yudistira. Ia sudah menyiapkan sejak awal, sesuai dengan alur cerita yang bakal dibawakannya. Namun Yudistira seperti lenyap ditelan bumi. Apakah ia masih tergulung di kotak wayang? Tak mungkin, ia yakin sudah mengambilnya, menggeletakkannya tak jauh dari tekukan lutut kanannya. Sebagai pembuka cerita, Yudistiralah yang akan ia ambil pertama kali.
Namun, di mana engkau, Darmakusumah?
Ki Dalang makin terkejut ketika baru disadarinya wayang-wayang seakan berebut tempat di sebelah kanan batang pisang, sementara hanya tinggal beberapa sosok yang masih bertahan di sebelah kiri. Para raksasa, siluman, dan denawa buruk rupa berdesakan dengan para ksatria tampan dan putri-putri raja yang jelita. Para cecunguk arcapada tak malu-malu berjubal di antara para dewa dan bidadari.
Tak ada lagi batas antara yang suci dan yang profan. Para pembela kebenaran berjejalan dengan para pengusung kejahatan.
Mengapa bisa begitu, Ki Dalang tak tahu. Ketika menyusun wayang-wayang itu, ia yakin, sebagaimana seharusnya, para ksatria dan para dewa semua berjajar di sebelah kanan dan para raksasa berbaris di sebelah kiri batang pisang. Semua tersusun rapi, memang bukan menurut derajat kasta, melainkan menurut tinggi badan, dari yang terkecil di depan hingga yang terbesar di paling belakang. Tapi kini susunan sudah tak lagi beraturan. Raksasa bertubuh bukit seenaknya menyelip di antara para dewi yang camperenik.
Siapa gerangan orang yang telah berani mengacak-acak susunan wayang-wayang? Ia yakin bukan orang-orangnya. Ada penyusupkah? Untuk apa? Untuk menghambat kariernya? Peristiwa seperti ini baru pertama kali dialaminya selama ia mendalang tak kurang dari dua puluh tahun.
Suatu saat Ki Dalang yakin sudah meraih Yudistira. Tangan kanannya mantap mencekal gagang, tangan kiri siap memainkan tangkai-tangkai tangan wayang. Ki Dalang sudah siap memunculkan Sang Prabu ketika ia nyaris terjengkang karena terkejut bukan kepalang.
Dia bukan Yudistira, melainkan Dursasana, salah satu ksatria Kurawa berwajah denawa. Bagaimana mungkin ia bisa keliru, tak bisa membedakan Yudistira yang berbadan ramping dan berwajah putih dengan Dursasana yang bertubuh anak raksasa dan berwajah merah?
Ki Dalang menggeleng-gelengkan kepala.
Keringat menjadi sungai di punggungnya.
Ketika dilihatnya Astrajingga tergeletak tak jauh di bawah kecrek, mendadak timbul gagasan improvisasi dalam benak Ki Dalang. Matanya memberikan isyarat kepada penabuh gendang. Dan entakan gendang perlahan-lahan mulai meningkat, baik dalam frekuensi maupun amplitudo, membuat udara malam menjadi hangat.
Namun sesaat sebelum menarikan Astrajingga dalam entakan gendang yang dinamis, Ki Dalang terkesima tak terkira. Yang terpegang di tangannya bukanlah Astrajingga, melainkan Dewi Drupadi. Oh, bayangkan kalau sampai calon permaisuri Indraprasta itu berjaipong di atas pentas…
Yang lebih aneh lagi, walaupun akhirnya Ki Dalang sudah bisa menemukan semua wayang yang dibutuhkan, ia tak mampu lagi mengendalikan jalannya cerita. Alur mengalir, berbelok, berputar, dan berlari di luar kehendaknya. Ia sudah jauh-jauh hari mempersiapkan episode cerita tentang pengukuhan Yudistira sebagai raja Indraprasta, sesuai dengan permintaan si empunya hajat, yakni bupati yang baru diangkat.
Namun cerita mulai berkembang tak tentu arah ketika tiba-tiba Bima menolak pengangkatan kakak sulungnya.
**
JAGAT bergetar ketika Bima mengucapkan kata-kata yang tak pernah terucapkan sebelumnya.
“Kakang Yudistira tak pantas untuk duduk di singgasana. Dosa Kakang masih belum terampunkan. Masa pengembaraan selama tiga belas tahun tak melekangkan kenangan buruk itu, ketika Kakang tega mempertaruhkan hak atas Hastina di atas meja permainan judi. Dan yang paling menyakitkan, tentu saja, adalah bahwa Kakang tega mempertaruhkan istri Kakang sendiri, Ayunda Drupadi, demi sesuatu yang entah apa maknanya.
Aku khawatir cacat perilaku Kakang masih akan membayang-bayangi takhta yang akan Kakang duduki. Maaf, Kakang, aku terpaksa mengajukan diri untuk bersaing dengan Kakang. Biarlah bukan lagi takdir yang menentukan siapa untuk menjadi apa. Zaman terus berjalan dan biarkan rakyat menjadi bagian penting dari kitab-kitab utama, bukan hanya kita para ksatria. Biarkan rakyat yang menilai dan menentukan siapa sesungguhnya yang berhak menjadi raja.
Bukan hendak membanggakan diri kalau aku membuka lembar-lembar catatan kita bahwa akulah yang pertama-tama membuka hutan Wanamerta ini, membanting tulang menumbangkan pohon-pohon raksasa berusia ratusan tahun, berhadapan dengan penghuni lama, para denawa dan siluman yang murka karena kediaman mereka kita usik. Hitunglah berapa kerajaan denawa yang kutaklukkan seorang diri sehingga mereka berbalik membantu kita membangun sebuah kerajaan baru.
Kakang, marilah kita bersaing secara jujur memperebutkan makhkota.”
Balairung istana senyap. Udara membeku.
Semua mata terpusat kepada sosok Bima yang hitam menjulang.
Yudistira menatap Bima dengan tatap lembut namun yang terasa mengandung duka yang dalam.
Ia hendak membuka mulut ketika tiba-tiba Arjuna berdiri dari tempat duduknya.
“Mohon maaf. Benar kata Kakang Bima. Kakang Yudistira tak pantas menjadi raja. Kakang tak bisa begitu saja menduduki singgasana hanya karena garis takdir, dilahirkan sebagai manusia berdarah putih. Selain dosa lama yang belum sirna, aku belum pernah melihat sepak terjang Kakang di medan danalaga. Mungkin benar Kakang punya kebijaksanaan. Namun itu hanyalah baru di atas kertas, baru dalam tataran imajinatif, belum terbukti dalam kenyataan di atas lapangan. Bagaimanapun, pengalaman di medan akan menjadi nilai tambah bagi seorang pemimpin.
Kakang Bima sudah membuktikannya sebagai pembuka Wanamerta dan bukankah sudah terbukti bahwa akulah pemanah yang tak tertandingi? Dengan kemampuanku, bukankah kita selalu unggul tiap ada tantangan untuk berperang tanding dari ksatria mana pun? Bahkan Suralaya pernah meminta bantuanku ketika Batara Surya, Darma, dan Indra pun tak kuasa menahan terjangan Prabu Niwatakawaca.
Nah, bukankah aku juga berhak untuk merasakan empuknya singgasana? Bukan hanya berhak, tapi aku yakin aku pantas duduk di sana.
Marilah Kakang Yudistira dan Kakang Bima, kita berebut secara ksatria untuk menentukan siapa yang paling layak berkuasa di Indraprasta.”
Balairung kembali senyap. Udara lagi-lagi seperti terperangkap.
Kali ini semua tatap memusat pada sang panengah Pandawa.
“Tunggu Kakang semua.”
Dua sosok yang serupa, dengan wajah dan busana nyaris tak berbeda, berdiri hampir bersamaan.
“Kalau Kakang semua sudah memutuskan demikian, bukankah kami juga memiliki hak yang sama?” kata Nakula.
“Mungkin kami tak pernah punya peran yang nyata dalam perjalanan kita selama ini. Namun justru karena itulah kami menjadi sadar bahwa nasib memang ditentukan oleh diri sendiri,” timpal Sadewa.
“Kami tak akan menjadi apa-apa kalau kami hanya berdiam diri, sekadar mengikuti langkah yang telah ditentukan Kakang semua. Karena itu kami juga ingin mengguratkan kisah kami sendiri.”
“Kami siap bersaing dengan Kakang semua.”
Malam yang senyap makin mencekam.
Lalu kisah menjadi makin runyam ketika tak lama kemudian tokoh-tokoh golongan kiri—maksudnya mereka yang biasanya berbaris di sebelah kiri batang pisang—berbondong-bondong mendaftarkan diri untuk menjadi raja di Indraprasta. Dari Jayadrata, Citrayuda, Dadungawuk, Padasgempal, hingga Sarpakenaka beramai-ramai mendatangi istana. Bahkan para brahmana, yang semestinya memiliki darma sendiri untuk antara lain menjadi pemomong dan penyeimbang para penguasa, turun dari pertapaan mereka yang terpencil mendatangi pusat kerajaan, mengadu nasib untuk menjadi penguasa.
**
“STOP! Stop!”
Bupati baru mencelat dari tempat duduknya di barisan terdepan para tamu. Mukanya seperti udang matang, malu, karena ia berdampingan dengan tokoh-tokoh terhormat tingkat provinsi.
“Ki Dalang, kenapa cerita menjadi tak keruan begitu?” semburnya sambil berkacak pinggang di atas panggung.
“Saya sendiri tak tahu,” sahut Ki Dalang dengan keringat membanjir di wajahnya.
“Bagaimana mungkin? Bukankah kamu yang mengatur cerita?”
“Lihat sendiri apa yang terjadi.”
Di atas pentas batang pisang, rupanya wayang-wayang berjalan, menari, dan berbicara sendiri!
***
(Cerpen ini dimuat di Suara Merdeka, 31 Oktober 2004)
Subscribe to:
Posts (Atom)
